
...~ terkadang kita tidak perlu mencari kebahagiaan, tetapi kita bisa menciptakan kebahagiaan untuk diri kita sendiri ~...
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Kringgggggggg kringggggg
" Halo den Ghaza " sahut mang Johari.
" Mamang dimana lagi sama Gia ga ? " ucap Ghaza sedikit kawatir dengan adiknya.
" Maaf den, mamang masih di rumah sakit non Gia ada di rumah tetangganya mamang den in sya Allah non Gia baik-baik aja den. "
" Mungkin baik, tapi mamang kirim alamatnya ke aku sekarang. "
" Baik den. "
Saat ini disebuah rumah sederhana dua orang gadis sedang sibuk membersihkan rumah, dan juga beberapa tanaman di halaman rumah.
" Yun, ibu pamit ya mau besuk istrinya mang Johari di rumah sakit kamu sama Gia di rumah aja " pamit Nilam.
" Kalo kita ikut ga boleh emangnya ibu. "
" Iya Bu, Gia juga mau ikut besuk istrinya mamang " ucap polos Gia.
" Ga usah putri ibu yang cantik-cantik ini di rumah aja ya, kalo gitu ibu pamit. "
" Iya hati-hati ibu. "
" Kak " panggil Gia.
" Iya, Gia udah capek ya yaudah biar kakak aja yang lanjutin nyiram tanamannya. "
" Gia ga capek kak tapi Gia mau minum, ambilin " ucapnya sembari tersenyum.
" Huuhhhh kakak pikir Gia capek ternyata minta diambilin minuman yaudah kak masuk dulu. "
Meskipun rumah Yuni terbilang sederhana, tetapi rumahnya memiliki pagar dan juga bersih.
Di rumah inilah ia hidup dengan penuh perjuangan bersama ibunya seorang, tanpa kehadiran ayah serta saudaranya.
' bukanya ini gang rumah dia, jangan-jangan ga ga mungkin. '
Beberapa menit kemudian motor sport itu berhenti di depan rumah Yuni.
" Abang......... " teriak Gia berlari mendekati pagar.
" Kenapa sendirian di luar ? orang yang jagain kamu kemana " ucap Ghaza sedikit kesal karena melihat sang adik dibiarkan diluar sendirian.
" Ada Abang, Gia ga bisa buka pagarnya. "
" Gia ini minumannya. "
__ADS_1
Pandangan mereka saling bertemu dengan keterkejutan yang cukup kuat, namun tatapan itu hilang seketika mendengar seseorang kembali berbicara.
Salah satu dari mereka menatap heran dan sedikit kasihan dengan sesuatu yang telah terjadi.
" Kak Yuni tolong bukain pagarnya, ini Abang Gia kak dia masuk. "
" Iya kakak bukain, ohh iya ini minumannya diminum dulu " sahutku.
Pagar terbuka
" Silahkan masuk kak " ucapku takut.
" Ayo Abang kita ngobrol di rumah, ohh iya mama sama papa udah pulang belum bang ? " tanya Gia sembari merengek pada Ghaza.
Namun saat sekarang ini Ghaza lebih fokus menata Yuni, lebih tepatnya menata beberapa perban yang ada ditubuh Yuni.
" Belum Gia, mama papa baru pergi kemaren jadi belum pulang dan masih lama " sahut Ghaza sedikit ketus karena menghadapi sang adik.
Ruang tamu
" Kakak mau minum apa, kak ? " tawarku padanya.
" Ga usah gue cuma liat Gia aja dan gue cuma ga habis pikir adik gue tinggal sama lo " sahut Ghaza.
" Abang kok ngomong gitu ke kakak Yuni ga boleh kak " sela Gia menatap dua orang didepannya.
" Pasti lo kan yang ngajarin adek gue biar berani ngelawan sama gue yakan " marah Ghaza tidak berkejelasan.
" Kak saya tid- "
" Udah ahh Gia mau ke kamar aja " ucap Gia lalu berlari menuju kamar.
" Lo kenapa ? " ucap Ghaza melupakan percakapan mereka terakhir.
' apa kak Ghaza sedang bertanya bagaimana keadaanku. '
" Lo bisa ga usah kepedean, gue cuma heran aja kenapa lo bisa kayak gini " ucap Ghaza malas.
Yunipun memilih untuk duduk terlebih dahulu.
" Kemaren aku ga sengaja diserempet mobil pas mau pulang kak, makanya jadi begini. "
" Ohhh " sahut Ghaza.
***************
" Gue cuma mau adek gue lo jaga baik-baik, dan jangan pengaruhin dia lo ngertikan " tegas Ghaza sebelum pergi dari rumah Yuni.
" Iya kak, aku tau dan aku ngerti semua ucapan kakak " sahutku.
" Mau aku panggillin Gia dulu kak."
__ADS_1
" Ga usah gue mau langsung cabut aja " ucap Ghaza lalu pergi.
Sebelum kembali masuk ke rumah, Yuni membersihkan kembali halaman depan dan menyimpan alat-alat yang dipakai tadi.
" Gia " ucap ku menuju kamar.
" Bang Ghaza udah pulang ya kak ? " tanya Gia dengan ekspresi sedih.
" Ehmm udah, kenapa sedih " sahutku lalu duduk disampingnya dan memeluk Gia.
" Gia sayang sama bang Ghaza, tapi bang Ghaza itu jail, nyebelin, dia juga jahat ga sayang sama Gia " jawab Gia dengan polos.
" Gia, Gia ga bolong ngomong gitu karena setiap kakak itu sayang sama adiknya, buktinya bang Ghaza datang kesinikan mau lihat adiknya yang cantik ini sampai kakak tadi dimarahin. "
" Itu berarti bang Ghaza jahat sama kakak, Gia ga suka lihatnya. "
" Gia, bang Ghaza marah ke kakak karena dia takut kalo kakak jahatin Gia, kakak ga kasih makan, dan kakak suruh Gia ini itu jadi ya pas datang kak Ghaza marah sama kakak itu karena bang Ghaza sayang sama Gia " jelasku dengan lembut dan senyuman.
Gia hanya mengangguk dan masih nyaman dalam pelukan Yuni.
🌻🌻🌻🌻🌻
Pagi harinya
" Yun " ucap Nilam lalu masuk ke dalam kamar.
" Iya Bu. "
" Hari ini kamu jangan sekolah dulu ya, ibu kawatir nanti kalo kejadian lagi luka kamu juga belum sembuh, izin aja ya buat 2-3 hari ini biar ibu yang izinin nanti ibu minta tolong ke Nisa " jelas Nilam dengan raut wajah kawatir.
" Ehhmm iya Bu, aku ikut kata ibu aja tapi buat 2 hari ini aja bu lagian luka aku juga udah hampir kering. "
" Yaudah ibu ke rumah Nisa dulu ya, kamu bangunin Gia emang dia ga mau sekolah kemaren mang Johari bilang mau jemput Gia pagi ini. "
" Iya bu. "
****************
Jam istirahat
" Lo celingak-celinguk aja gi, lagi cariin siapa si Gani ya ? " goda Key.
" Ga, ga kok " sahut Gigi.
" Gue rasa tu junior jelek parah deh lukanya, lihatkan sekarang dia ga nongol di sekolah hahaha " celetuk Chelsea.
" Bener juga ya hahaha, mampus deh syukurin siapa suruh belagu sok cantik jadi junior " ucap Key.
Gigi hanya terdiam mendengar dan melihat kesenangan dari kedua temannya, ia benar-benar dihantui rasa bersalah atas ulahnya.
" Lo kenapa sih gi, jangan bilang lo masih kepikiran dan kasihan soal junior itu " ucap Chelsea sembari menepuk bahu Gigi.
__ADS_1
" Tau tu justru lo yang ngasih tau kita berdua soal si junior jelek itu, apalagi soal dia yang deket sama Zio udah lah santai aja " ucap Key menyunggingkan senyumannya.
" Iya gue tau, ini semua awalnya dari gue tapi gue cuma kepikiran sama kondis dia Chel, Key gimanapun dia juga cewe sama kayak kita " sahut Gigi membuat kedua temannya mengernyit dahi mereka.