YUNI LORENZA

YUNI LORENZA
Bagian 24


__ADS_3

...~ orang-orang terdekat mampu memberikan kita semangat dan kebahagiaan, tapi tidak menutup kemungkinan juga untuk menjadi seseorang yang akan menyakiti kita ~...


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Gia berlari ke ruang tamu dan saat sampai ia berteriak.


" Oma, kenapa Oma bisa ada disini ? " teriak Gia lalu berlari menghampiri Rumi.


" Oma ? " Yuni dan ibunya ikut heran begitu juga dengan Nisa.


" Gia, kenapa cucu oma bisa ada disini sayang " ucap Rumi membalas pelukan kecil Gia.


" Ehhmm Gia tinggal disini, karena mama papa lagi kelja kelual kota oma " ucap Gia yang masih sulit mengucapkan huruf rrrr.


" Bang Ghazanya kemana ? dia ga mau ya jagain Gia. "


" Ga oma, Gia juga ga mau kalo dijagain bang Ghaza kalena dia suka jail, juga suka ninggalin Gia sendiri di rumah " jawab polos Gia.


" Ghaza ? kak Ghaza ? " ucap Nisa hanya dengan gerakan mulutnya tanpa suara, sembari menatap wajah Yuni.


Yuni hanya membalas dengan anggukannya, dan Nisa masih ingin tau lebih tentang semua yang terjadi sekarang.


" Cerita ke aku " ucap Nisa kembali dengan gerakan mulutnyanya.


Yuni kembali mengangguk untuk menjaga ucapan Nisa, tapi ia tidak bisa menjelaskannya sekarang.


" Yuni buatkan minuman dulu untuk nenek. "


" Tidak perlu repot-repot, nenek hanya sebentar disini " ucap Rumi.


" Tidak merepotkan nenek hanya air minum saja, kalo begitu Yuni kebelakang dulu. "


Nisa dan Gia mengikuti Yuni menuju dapur.


" Cerita sekarang Yuni aku penasaran pokoknya harus ceritain semuanya " desak Nisa.


" Iya nanti nis. "


" Kakak mau celita apa sih Gia mau ikut boleh " celetuk Gia.


" Ehmm Gia, Gia kedepan aja ya temanin ibu sama Oma didepan nanti malam kakak dongengin maukan. "


" Oke mau kak " sahut Gia dengan senyumannya.

__ADS_1


Ruang Tamu


" Mama ada apalagi datang kesini, ma " ucap Nilam dengan pelan.


" Seharusnya saya marah pada kamu Nilam, kenapa cucuku bisa terluka seperti itu jika begini terus aku akan mengambil cucuku " jawab Rumi dengan eksperesi marah.


" Ini musibah ma, bukan karena aku yang membuat dan membiarkan putriku terluka, dan satu hal yang harus mama ingat aku tidak akan memberikan dan membiarkan mama membawa putriku tidak akan pernah, ma. "


" Hai ibu, Oma " sapa Gia mengehentikan perdebatan mereka berdua.


" Hai cucu oma kesini " ucap Rumi memangku Gia.


" Gia ini, anak bungsunya Ghifari dan Gina masih ingat siapa mereka ?. "


' Ghifari ? Gina ? '


Tentu saja Nilam mengingatnya, mereka berdua adalah rekan kerja Reno, mereka juga keluarga yang kaya dan terpandang di kota ini.


" Ibu, kenal dengan mama papa Gia, benar ibu ? " ucap Gia.


" Ehhmm iya Gia, ibu pasti tau tapi tidak terlalu kenal dengan mama papa Gia, ibu cuma tau kalo mama papa Gia punya perusahaan besarkan disini " sahut Nilam tak ingin membuat Gia terlalu bertanya-tanya.


" Iya benar, Bu. "


" Yun, kamu bawa Gia ke kamar ya kayaknya dia ngantuk " ucap Nilam dituruti sang putri.


" Seperti saya juga harus pulang Nilam, satu hal yang pasti cepat atau lambat saya akan memberitahu siapa saya pada cucu saya " ucap Rumi lalu pergi.


" Sudahlah ma, aku tidak ingin Yuni tau semua kebenarannya cukup mama menjadi nenek yang baik untuk dia kenal, bukan menjadi nenek yang pada kenyataannya. "


" Tidak Nilam, saya bisa memberitahunya kapan saja jangan halangi saya untuk menyayangi cucu saya, saya permisi. "


' Sayang ? dulu mama kemana, mama tidak pernah peduli pada kami ma dan kamipun tidak berharap akan kehadiran mama aku dan putri kecilku sudah terbiasa dengan semua kepahitan dan kehidupan yang menderita ini. '


Nilam menuju kamarnya, dia belum bisa tertidur karena setelah mengetahui kenyataan tentang siapa keluarga Gia.


Sekarang mungkin dia bisa menghindari, tetapi dia juga tidak ingin jika keluarga Ghifari mengetahui siapa Yuni dan kehidupan mereka nantinya.


Mungkin tidak akan ada hal terlalu mengkhawatirkan, Nilam hanya ingin ia benar-benar jauh dan lepas dari kehidupan orang-orang yang tidak pernah peduli dan mengharapkan keberadaan mereka.


🌻🌻🌻🌻🌻


Keesokan paginya, seperti biasa mang Johari akan menjemput Gia untuk berangkat ke sekolah.

__ADS_1


Sekarang hanya tingga Yuni dan sang ibu yang baru saja selesai sarapan.


" Perbanya udah mau dibuka nak, yakin ga sakit lagi nantinya takut infeksi kalo dibiarin terbuka nak. "


" Gapapa bu inikan udah agak kering, rutin dikasih salep yakin kok bekasnya bisa hilang ya walaupun ga total. "


" Ohh iya Bu, kita jadi pergi ke rumah Gia ibu maukan ?. "


' aku harus jawab bagaimana, untuk sekarang Ghifari dan Gina memang tidak ada di rumah tapi tetap saja aku tidak ingin datang kesana ' batin Nilam bimbang.


" Ibu kayaknya ga bisa nak, kamu saja yang pergi ibu mau di rumah aja bersih-bersih rumah sama peralatan buat kita dagang, rencananya ibu mau dagang besok kalo kamu masih sakit yaudah ibu jualan sendirian aja. "


" Ga Bu, Yuni temanin aja kan lukanya udah mendingan tapi untuk ke rumah Gia aku harus pergi Bu takut Gianya marah nanti. "


" Iya gapapa, tapi kalo bisa kesananya sekali ini aja ya nak ibu ga ada maksud apa-apa cuma ya jangan terlalu sering aja buat datang sama deket sama Gia ya, nak " pesan Nilam pada sang putrinya.


' kenapa ibu ngomong gitu ya, semoga ga ada apa-apa. '


" Iya Bu. "


Sekolah


Hari ini cuaca sangat bersahabat tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas.


' gue rasa dua hari ini ga lihat dia ya ' batin Zio dalam lamunannya.


" Woii bro ngelamun aja mikirin tu junior lo ya " sindir Fero menepuk bahu Zio.


" Jelaslah kalo dilihat dari wajah ni anak, tapi ngomong-ngomong beberapa hari ini gue ga lihat dia sih di sekolah sakit atau udah pindah sekolah mungkin, mungkin ya " ucap Gani.


" Ga mungkin dia pindah sekolah, kalo sakit bisa jadi sih " sahut Zio.


" Tapi sumpah bro gue masih penasaran kok lo bisa suka sama dia sih, gimana kalo lo sama Keylina aja lebih cantikan key kemana-mana sih " celetuk Gani.


" Gue tau and sadar kalo Key cantik, tapi ga tau kenapa gue ga ada perasaan lebih aja sama dia kalo sama dia (Yuni) ga tau kenapa tenang and nyaman aja gitu " jelas Zio sembari tersenyum manis.


" Udah gila lo karna tu junior, gue bilang sih karma ya dan itu dateng ke lo dari benci ikutan ngehina ehh tau-tau suka aja sama tu junior " ucap Fero.


Saat itu Ghaza hanya diam, dan terus memperhatikan serta mendengarkan percakapan teman-temannya.


Ada rasa sedikit tidak suka dengan pembahasan mereka, terutama pada Zio tetapi Ghaza mencoba menepis dan mengelak untuk perasaan aneh yang ia rasakan.


' bukannya dia nanti mau datang ke rumah gue ya ' batin Ghaza.

__ADS_1


__ADS_2