
...~ cobalah menerima setiap hal yang telah ditakdirkan untukmu, terima dengan senyuman meskipun tak selalu hal indah yang akan kamu terima ~...
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Flashback
Rumah Yuni
" Ga usah lama-lama izinnya dan Lo juga ga perlu ganti seragam Lo, inget gue ga mau nunggu lo lama-lama ngertikan " ucap Ghaza pada Yuni.
" Iya kak. "
" Udah cepetan. "
Yunipun masuk ke rumahnya dan disambut oleh sang ibu.
" Ibu Yuni mau izin pergi ke rumah sakit ya Bu. "
" Rumah sakit ? kamu sakit nak ? " sahut Nilam dengan wajah kawatir menatap sang putri.
" Ga Bu Yuni ga sakit kok, tapi Gia Bu Gia sakit dan Yuni mau kesana atau ibu mau ikut sama juga. "
" Astaga Gia sakit nak, kenapa tiba-tiba kemaren bukannya Gia baik-baik aja ya. "
" Iya Bu Yuni juga kepikiran tapi sekarang Gia beneran di rumah sakit bu, ohh iya Yuni juga langsung pamit aja sama ibu buat ke rumah sakit bu. "
" Boleh nak, ibu ga bisa ikut kayaknya titip salam aja sama Gia ohh iya kamu pergi kesana naik apa nak, itu ga mau ganti dulu seragamnya ?. "
" Ga usah bu Yuni pakai seragam aja kesananya, ohh iya Yuni juga mau bilang kalo Yuni kesananya sama kak Ghaza ibu kakaknya Gia Bu, dia ada diluar Bu. "
" Ghaza ? kakaknya Gia ?. "
Saat itu Nilam kembali mencoba mengingat hal di masa lalu, dan ia ingat jika benar Ghifari dan Gina memiliki seorang putra anak pertama mereka.
' kenapa semuanya bisa kebetulan seperti ini, dan kenapa harus mereka semua dekat dengan putriku aku tidak menginginkan ini semua terjadi. '
" Kenapa tidak disuruh masuk dulu. "
" Kak Ghazanya ga mau Bu, ohh iya kak Ghaza itu senior Yuni di sekolah bu, yaudah kalo gitu Yuni pamit ya Bu ibu hati-hati di rumah. "
__ADS_1
" Iya nak. "
Nilam mengikuti Yuni keluar menuju rumah, tetapi tidak sampai pada keluar dia hanya melihat dari balik jendela depan rumahnya.
Nilam tak melihat begitu jelas seperti apa wajah Ghaza, karena saat itu Ghaza tetap memakai helmnya.
" Lama banget sih lo, tapi lo diizininkan yaudah cepat naik. "
" Iya kak. "
Kembali ke Rumah Sakit
Yuni masih membiarkan Gia tenang dalam pelukannya, dan Yuni tak lupa untuk mengelus lembut punggung Gia dan bergumam menenangkan Gia.
' Sepertinya keadaan Gia sekarang ada hubungannya dengan kak Ghaza. '
Beberapa menit kemudian akhirnya Gia tenang bahkan ia sampai tertidur kembali dengan pipi yang telah basah oleh air matanya.
Yuni dengan telaten menidurkan Gia dan menghapus air mata Gia dengan lembut dan tenang agar Gia tak terbangun.
Setelah selesai Yuni meninggalkan Gia kemudian memilih keluar menghampiri Ghaza.
" Kak aku mau ngomong sama kakak. "
" Gimana adek gue baik-baik ajakan, lo mau ngomongin apaan mau pamit pulang yaudah lo pulang sana, dan jangan harap gue anterin lo bisa pulang sendirian. "
' uhhh kak Ghaza punya hati ga sih, dia masih aja pertahanin ego dan kesombongannya, bahkan ini soal adeknya sendiri. '
" Kak aku mau ngomong sama kak tapi jangan disini. "
" Terus lo mau dimana ?. "
Setelah berjalan cukup jauh mereka memilih untuk duduk dan beribacara di taman rumah sakit.
" Lo mau ngomong apa ga usah buang-buang waktu gue bisakan, gue juga takut nanti Gia bangun dan nangis-nangis lagi nyariin lo. "
" Gia kenapa kak ? kenapa dia bisa demam tinggi dan harus sampai dirawat di rumah sakit kak, aku juga mohon kali ini sama kak bicara jujur ke aku, ini soal adek kakak sendiri bukan aku kak " ucap Yuni memohon dengan memohon sememohonnya pada Ghaza.
Saat itu Ghaza terdiam melihat permohonan Yuni, ia tentu tidak munafik melihat manik mata Yuni yang kawatir dan peduli pada Gia dan juga dirinya.
__ADS_1
" Yahh gue minta maaf, udah teledor ninggalin Gia sendirian di rumah semalam dan gue juga lupa nanyain soal Gia ke mang Johari " jawab Ghaza dengan perasaan bersalah.
" Ninggalin Gia sendirian di rumah kak ? " ucap Yuni terkejut.
" Gue kan udah minta maaf lo ga usah ngomong ngebentak juga " Ghaza kembali ke mode kerasnya.
" Aku ga tau mau gimana lagi ngomong sama kakak, ini itu soal Gia kak Gia itu adek kandungannya kakak sendiri, kak. "
" Gue tau Lo ga usah ngajarin dan ngingetin gue soal itu. "
Uhhh, Yuni tidak tau harus bagaimana lagi agar bisa membuat Ghaza menyadari kesalahannya.
Yuni memilih berdiri dari duduknya dan meninggalkan Ghaza sendirian, tetapi sebelum itu Ghaza lebih dulu menarik tangannya.
Namun Yuni dengan cepat melepaskan genggaman Ghaza dari tangannya.
" Gia itu beruntung sama kehadiran Lo, Lo sayang banget sama dia dan dia juga ngerasa nyaman dan bahagia sama lo. "
" Tapi coba lihat gue, gue itu cuma sehat kelihatan diluarnya aja didalam gue hancur lo harus tau itu. " ucap Ghaza dengan emosional.
Tidak hanya sampai disitu, Ghaza juga seakan melepaskan bebannya dengan terus bercerita tentang apa yang ia rasakan.
Mulai dari dia yang tidak mendapatkan kasih sayang dari mama dan papanya, ia juga bercerita pernah diposisi Gia ketika dia sakit bahkan sampai dirawat di rumah sakit mama dan papanya masih tidak peduli, dan membiarkan dia sendiri dan hanya ditemani oleh pembantu dan orang suruhan orang tuanya.
Dia juga merasa jika dalam hidupnya tidak ada orang yang peduli dengan dirinya, termasuk kedua orang tuanya bahkan teman-temannya karena mereka hanya akan menghabiskan dan menikmati kekayaan yang mereka miliki.
Tapi tidak memiliki seseorang yang menyayangi dan mencintainya, dan sosok yang mau mendengarkan cerita dan beban yang ia tanggung.
" Gue cuma mau ngajarin Gia buat ga manja dan lemah, karena dia juga bakalan ngerasain apa yang udah gue rasain, dan buat lo lo ga ada hak buat ngatur hidup gue dan adek gue. "
" Aku ga ngatur kalian kak. "
" Lo itu sama aja sama orang-orang diluar sana jadi ga usah munafik " ucap Ghaza akhir kemudian tertunduk karena lelah meluapkan emosinya.
' aku juga ngerasain apa yang kakak rasain, aku juga ga dapat kasih sayang ayah sama saudara aku kak, aku juga harus berjuang buat bertahan hidup berdua sama ibu kak. '
' dan aku juga ga punya tempat cerita selain ibu, tapi aku beruntung karena punya ibu buat cerita kak dan aku kuat bisa ngehadapin semuanya juga karena ibu kak. '
Yuni juga tidak tega melihat keadaan Ghaza saat ini, dia juga merasa sekarang bukan waktu yang telah untuk kembali berbicara dan menasehati Ghaza karena yang ia butuhkan sekarang adalah sosok teman yang mendengarkan ceritanya dan juga hal terpenting sebuah pelukan.
__ADS_1
Yuni kembali duduk dan memeluk Ghaza, Ghaza sempat terkejut kemudian membalas pelukan Yuni.