
Happy Reading ya readerss♡
Jangan lupa kasih jempolnya👍
Biar makin mantul bacanya🙇♀️🙇♂️
Oke thanks you all yang udah like + rate🙏
°~°
"Sayang, kau boleh kok berlibur ke villa mommy di puncak," dari sini mula Zara tertarik dengan puncak.
Karena puncak adalah daerah yang sejuk dan mampu membuat Zara berefresing sebentar menikmati indahnya pegunungan.
"Ya mommy aku ingin tapi masa sendirian?" Semangat Zara kembali lesu setelah apa yang ia katakan barusan sangatlah benar.
"Untuk apa Brian di sampingmu jika kau tak menggunakannya?" Omel Agaist pada anaknya yang sangat bodoh.
"Yah, sama cowok?" Tanya Zara.
"Iya lah dia kan bukan bencong Zara..." desus Agaist meratapi betapa bodoh putrinya.
Zara memilih berpikir terlebih dahulu apakah dia akan pergi dengan Brian atau tidak.
Kalau dipirikan lagi jika Zara mengajak Gigi pasti dia tidak mau dan memilih belajar di rumah saja.
Dan jika mengajak Popi dia pasti menolak juga dengan alasan malas keluar. Lalu hanya ada pilihan Brian saja yang tersisa.
"Baiklah mom, aku akan pergi bersama Brian ke puncak. Dannn~ kapan mommy akan pulang. Bukankah Zara sebentar lagi lulus?" Tanya Zara yang sudah sangat rindu pada kedua orang tuanya.
"Hm mungkin dad masih lama, Zara..." kata Agaist lembut sebelum terdengar helaan nafas putrinya.
"Ya udah Zara mau bilang sama Brian kalau pergi ke puncak bareng," putus Zara.
Zara berlari turun ke bawah dan menemui Brian yang sedang membuat sesuatu di dapur.
Brian yang mendengar suara langkah kaki menengok yang tangannya masih fokus mengutak-atik sesuatu.
"Brian!" Teriak Zara dari belakang, hey Zara sebelum kau panggil dia sudah duluan melihatmu gembira turun dari tangga.
"Hm?" Gumam Brian melanjutkan pandangannya pada masakkan.
Zara mendekat ke samping Brian dan tersenyum seutas menatap Brian.
Brian hanya bisa merasakkan bulu kuduknya berdiri dan sialnya hanya bulu di bagian sebelah Zara saja yang naik.
"Mommy menyarankan kita pwrgi ke villa mommy di puncak, ayo kiya pergi?!" Semangat Zara berada dekat dengan Brian.
Brian hanya diam masih ingin fokus pada makanan di depannya dari pada melihat ke arah Zara yang terlihat sesuatu di sana...
'Brian! Sabar... terlalu cepat untuk menikammm sabar dulu yah!!' Batin Brian meneguk saliva.
"Gimana?" Tanya Zara di depan Brian yang terlihat masih menimbang-nimbang.
__ADS_1
Sebenarnya di sisi Brian masih ada Clara yang harus diurus. Tapi demi Zara apapun akan Brian lakukan.
"Baiklah aku akan ikut, berangkat sekarang?" Ajak Brian yang kemudian diangguki oleh Zara.
Brian hanya menghela nafas lalu mengambil satu mangkuk kecil memasukkan sup buatannya dan menyerahkannya pada Zara.
"Apa ini?" Tanya Zara bingung. Bukankah Zara tak meminta ini? Dan Zara paling benci sup.
Jika ini untuknya maka seperti biasa Zara akan memberinya diam-diam ke pembantu supaya tidak mubazir.
"Makanlah, sebelum ke puncak, kau harus makan dulu... aku akan berbenah sebentar." Ucap Brian menggiring Zara duduk diam di meja makan sambil menyuruhnya untuk memakan sup.
Zara yang menatap sup hanya bisa merinding jijik dengan sup. Kenapa ada sih makanan begini yang diminum? Ini mah bukan sup makannan tapi obat minuman.
Setelah mata Zara menelisik seluruh ruangan dan mengetahui bahwa Brian telah pergi. Zara memanggil chef di dapur untuk memakan sup buatan Brian.
"Tapi non... ini kan buat non--"
"Udah bibi makan aja nggak papa... eh minum aja nggak papa yang buat aja nggak marah," buru Zara cepat sebelum Brian turun ke sini.
Bibi hanya pasrah segera menghabiskan sup buatan Brian sebelum pamit undur diri karena Brian terdengar sedang melangkah mendekat. Zara juga langsung berpose layaknya makanannya habis.
Brian kini tengah menatap Zara... rasanya ada yang aneh, bukankah Zara benci sup?
Iya Brian sudah tahu itu makanya Brian mau mengganti pola makan Zara yang hanya mau makan mie atau pasta lainnya.
"Sudah habis?" Seringai Brian tahu di balik sana masih ada bayangan sosok bibi.
Brian akhirnya tahu kelicikkan apa yang sedang Zara lakukan bersama chef-nya.
Jadi Zara asal bicara saja. Yang penting sekarang Brian tak tahu jika dirinya berbuat curang.
"Benarkah? Tapi sepertinya bibi dapur yang menghabiskannya?" Tebak Brian menghalangi Zara.
"Hah. Aku makan sendiri. Lihat kan audah habis!" Elak Zara tidak mau menatap mata Brian.
"Aku tahu kau benci sup Zara... aku membuatkan itu agar tubuhmu tak mudah terkena sakit. Dan kebetulan kita akan pergi ke puncak.
Di sana bakalan dingin Zara... dan kau malah memberi sup gizi itu yang aku buat khusus untukmu ke seorang bibi dapur?" Cerca Brian menatap lekat manik Zara yang tak mau menatapnya.
"Kata siapa bibi dapur yang habiskan itu?" Zara mengecilkan matanya menatap ke arah Brian curiga jangan-jangan Brian tidak pergi malah mengintip Zara melakukan kecurangan.
"Terlihat dari sendokmu yang belum berbekas dan masih rapih di ujung sana," tunjuk Brian.
"Ah, itu aku kan meminumnya dari mangkuk langsung..." ucap Zara lirih, ketahuan sudah.
"Cukup Zara, kau ini sungguh keras kepala susah diatur!" Brian pergi meninggalkan Zara sendiri di tempat makan.
Tubuh Zara rasanya mau melonjak melihat sikap baru Brian padanya tadi. Hanya karena dia tidak mau meminum sup, Brian jadi marah padanya?
***
Selama di perjalanan, Brian sama sekali tak melirik Zara atau bahkan berbicara. Kalau ditanya gadis itu, dia hanya perlu menjawab sekenannya seperti 'hm.'
Zara sama sekali tak biasa dengan sikap Brian yang cuek. Ingin sekali Zara meminta maaf lalu berbaikkan lagi dengan Brian.
__ADS_1
Ada rasa aneh di hati Zara saat dia tanya panjang lebar dan Brian berdehem menjawabnya.
Kuku Zara ingin sekali mencakar wajah tampan Brian saat ini. Sudah hampir sampai saja masih cuekkin Zara. Aduh, Zara harus lakuin apa biar Brian mau ngomong sama dia?
Grek...
"Ah udah nyampe aja... rasanya nggak nyangka cepet banget," gumam Zara mencoba melirik Brian yang tak bergeming memilih mengangkat koper mereka lalu masuk begitu saja.
Lagi-lagi Zara hanya dibuat menghela nafas, baiklah cara apa yang harus Zara lakukan lagi? Apakah dia harus bersujud baru bisa berbicara padanya. Dasar aneh!
"Cowok dingin nyebelin!" Desak Zara menginjak bumi keras-keras sebelum berjalan mengikuti Brian masuk ke dalam villa.
Saat Zara masuk, villa ini begitu besar, ada 4 lantai untuk yang paling atas adalah balkon bisa di lihat dari luar villa tadi.
Lantai 3 terdapat bath tub sejenis pemandian air hangat dan juga kamar tidur satu namun dilapisi kaca.
Lantai 2 seperti villa-villa biasa yang mempunyai dua kamar tidur, dua kamar mandi, dan ruang keluarga.
Sedangkan lantai satu hanya ada dapur yang luasnya minta ampun beserta ruang makannya. Tidak lupa ruang tamu dan kamar mandi lalu ada lorong tangga isinya kamar pembantu.
"Apakah hanya kita berdua di villa ini, Brian?" Tanya Zara penasaran apakah di sini ada pembantu.
"......" tidak terjawab mohon hubungi lagi nanti.
"Aishh... kau ini Brian baperan banget. Maafin deh yang tadi siang..." Zara akhirnya memulai untuk meminta maaf pada Brian.
Brian yang dari tadi duduk dan bermain ponsel setelah semua barang tertata rapih kini hanya melirik Zara sekilas lalu fokus lagi pada apa yang sedang ia lihat.
"Brian..." Zara mendekati Brian duduk di samping Brian dan menghadap Brian dekat.
"Maaf... maafin aku pliss," lanjut Zara.
Yes! Brian mau menatap Zara sekarang. Walau Brian menatap Zara namun pandangannya datar dan dingin tidak seperti biasanya.
"Briaaan... maafin aku, aku janji deh nggak bakalan sia-siain makanan kamu pliss~" mode manja on dari Zara.
"Brian~" manja Zara lagi memegang lengan Brian dan menggoncangnya pelan.
"Mau makan sup?" Tanya Brian bangkit berdiri melepas tangan Zara dari lengannya. Zara yang matanya berbinar mengangguk setuju dengan apa yang barusan Brian tawarkan.
"Tunggu 10 menit," ujar Brian meninggalkan Zara menuju dapur.
Sedangkan Zara menelan salivanya keras bagaimana jika nanti Zara tak tahan dengan sup nya?
TBC
Terima kasih telah memberi jempol👍
Dan kalau dibaca juga semoga terhibur👌
Juga ini udah aku revisi...
Semoga aja minim kesalahan oke doakan aku menurut kepercayaan masing-masing...🙏
Luv kalian readerss♡
__ADS_1