Zara Mahesti

Zara Mahesti
Ep.17 Marah


__ADS_3

Happy Reading ya readerss♡


Jangan lupa kasih jempolnya👍


Biar makin mantul bacanya🙇‍♀️🙇‍♂️


Oke thanks you all yang udah like + rate🙏


°~°


"ZARAAA!" Teriakan Brian melengking di seluruh sudut villa milik Agaist.


Sekarang Brian sudah siap dengan pakaiannya. Dia telah menunggu berjam-jam untuk persiapan Zara ke kebun teh.


Rencana awal Brian, mereka akan pergi ke kebun teh pagi-pagi. Zara juga sudah setuju kemarin. Tapi lihatlah jam di dinding sekarang.


Tepat mengarah pukul sembilan pagi. Makanya Brian berteriak seperti itu memanggil Zara dengan emosi. Tapi yang dipanggil tidak menyahut dari kamar.


'Ada apa dengannya. Sudah pukul 9 pagi, harusnya dia sudah siap bukan?' Batin Brian ingin sekali mendobrak pintu berwarna pink di depannya.


"Mmm ada apa Brian?" Teriakkan itu membuat Brian naik darah. Apa sih yang terjadi dengan Zara di dalam?


"Zara! Buka pintunya, apa kau lupa kita akan ke kebun teh?!" Ujar Brian yang terus berusaha mengetuk pintu mungil itu dengan keras.


"Hah? Kebun teh apaan?" Tanya Zara dari dalam yang masih setia di ranjangnya, rebahan kayak di pantai seperti tidak berdosa telah mempermainkan Brian.


"HAH?!?!" Brian yang kaget akhirnya memilih mendobrak kamar Zara. Terlihat Zara yang sedang memejamkan matanya memeluk guling dengan nyenyak.


'Astaga... ini anak masih molor jam segini?' Ucap Brian di dalam hati merasa pusing dengan tingkah Zara. Ke mana Zara yang dewasa?


Brian tidak mau memakai kekerasan jika dihadapkan dengan singa betina di depannya ini. Bisa-bisa Brian akan dicuekki berminggu-minggu.


Brian melangkahkan kakinya mendekat ke ranjang Zara tempat gadis itu bersemedi. Brian mendudukkan bokongnya tepat di samping tubuh gadis mungil itu.


Sedangkan Zara tidak tahu apa yang sedang pria dewasa lakukan saat ini. Gadis itu memilih tidur dibandingkan dengan melihat dunia.


"Apakah tidurmu nyenyak?" Bisik Brian mendekatkan bibirnya ke wajah Zara. Gadis itu awalnya menggeliat dan berbalik dari Brian.


"Oh, jadi kau memilih dihukum yah?" Gumam Brian ikut membaringkan badannya tepat di belakang tubuh Zara.


Gadis itu sungguh bodoh, kenapa membiarkan seorang pria dewasa yang lajang masuk ke kamar gadis itu?


"Kau yakin Zara?" Tanya Brian dan sekali lagi gadis itu tak menjawab apapun. Brian yakin dia akan menghukum Zara untuk menjadi wanita dewasa lagi.


Brian mendekatkan tubuh mereka hingga pria ini melingkarkan tangannya di perut Zara. Dan reaksi gadis itu tidak ada bedanya dengan tadi hanya diam dan tertidur memejamkan matanya nyaman.


Brian mengecupi seluruh leher Zara dengan penuh kehati-hatian supaya gadis yang sedang ia cumbu tidak bangun dan memarahinya.


"Mmh... wangimu harum sayang..." gumam Brian tepat di telinga Zara. Gadis itu bergerak mengahdap Brian dengan mata yang masih terlelap di alam bawah sadar.


"Siapa?" Gumam Zara mengedipkan matanya mencoba melihat wajah siapa yang ada di depannya.


"Suamimu..." celutuk Brian membuat Zara bangkit duduk dan melotot ke arah depan. Mungkin dia syok terapi karena setahu gadis itu dia masihlah perawan.


"Su...suam..suami?" Perlahan Zara menengok ke sampingnya dan melihat Brian ada di sana. Gadis itu tidak kaget sama sekali. Malah kembali tidur dan memeluk Brian bak guling empuk.


"Hei... apa yang--"


"Suamiku... aku mencintaimu," gumam Zara memeluk erat dada lelaki di depannya ini. Seutas senyum Brian layangkan pada gadis di depannya yang mengira bahwa ini mimpi.


"Oh... kau mencintaiku Zara. Sebesar apa?" Tanya Brian mencoba menyelidiki pikiran Zara selama ini.


"Mm. Apa maksudmu. Kau suamiku dan aku istrimu... kenapa tidak mencintaimu sayang~" Zara bangkit dan mengecup bibir Brian yang ia kira sebagai suami dengan lembut.


'Menarik,' ucap Brian dalam hati.

__ADS_1


"Uuu bibirmu sangat manis baby..." pria mana yang tidak mencuri keuntungan saat seorang wanita sedang dalam keadaan lemah.


"Mm gombal!" Racau Zara terkekeh.


"Aku pengin masuk Ra..." Brian mode online.


"Apaan sih? Udah ah aku ngantuk..." Zara membalikan tubuhnya membelakangi Brian.


Brian yang terlanjur mode on melihat betapa gemasnya wajah gadisnya saat ini. Mengingat hal yang menguntungkan bagi Brian.


Brian sengaja menindih tubuh mungil Zara sampai-sampai gadis yang berada dalam renguhannya menggeliat menatap Brian.


"Sayang, biarkan aku memasukki mu itu." Bujuk Brian layaknya seorang suami yang membutuhkan belaian seorang istri. Brian hendak mencium bibir ranum itu panas. Namun apadaya dia tidak bisa melakukannya.



"Nggak ah, aku capek banget tahu nggak sih?" Elak Zara mendorong tubuh Brian.


"Ya udah nggak masuk tapi 'nganu' oke?" Seringai Brian menakutkan bagi seekor kelinci di bawahnya.


Senyum Zara mengembang dan tangannya mulai bergerak merayap ke leher kokoh sang suami di mimpinya.


"Lakukan apa saja sayang..." ujar Zara mengecup sekali lagi bibir Brian.


Namun Brian tak membiarkan kecupan itu, ia rubah menjadi lumatan-lumatan dalam. Berperang lidah di mulut Zara menyecap rasa manis yang ada pada diri gadisnya.


Aroma Zaralah yang membuat Brian kecanduan akan rasanya. Gadisnya mampu menarik perhatian lawan jenis hanya dalam satu kali senyum.


Sungguh istri idaman para lelaki. Jangan sampai gadisnya menampakkan senyuman mautnya pada pria lain selain dirinya. Dia tidak akan segan-segan membunuh siapapun yang berurusan soal gadisnya nanti.


"Mmmm... berhenti...mmm" racau Zara menikmati rasanya berciuman.


"Berhenti huh?" Brian membuka kancing piyama Zara dengan tergesa-gesa. Terlihat dua gundukan besar yang sangat pas di tangan Brian teebungkus bra berenda.


Sang gadis hanya bisa menikmatinya dengan mata terpejam. Gadis itu merasa kalau mimpi ini terlalu nyata baginya sekarang. Seperti kata pepatah,


'kau takkan bisa terluka ketika kau berada di alam mimpi.'


Zara membuka matanya pelan saat Brian ingin membuka kaitan bra-nya. Dengan deru nafas yang sangat menggebu, pria itu harus merasa kesal ketika Zara bangun.


Mata Zara melotot ke arah Brian. Namun, Brian hanya menganggapnya angin lalu dan menginginkan lebih dari tubuh Zara saat ini.


Hampir saja bra berenda Zara terlepas. Gadis itu langsung menangkupnya dari depan supaya pria di depan ini tidak makin tersulut birahi.


"Brian! Apa yang kau lakukan kau brengs*k hidung belang! Aku membencimu kau dengar?!?!" Dengan panik gadis itu beranjak bangun dan memakai pakaiannya lagi.


"Zara... aku... aku tidak akan meminta maaf!" Brian langsung pergi begitu saja ke kamarnya.


Bukankah ini salah Brian?!


Kenapa Brian yang marah?!


***


Hari ini setelah kejadian tadi pagi. Brian tak lagi keluar dari kamar. Zara yang awalnya juga tak menghiraukannya malah sekarang sangat khawatir karena siang dan malam Zara memasak dan makan sendiri.


Malam, 21:30


Zara masih terjaga di kamarnya memikirkan Brian. Kenapa lelaki itu tiba-tiba menghilang tidak mau bertemu dengan Zara?


Akhirnya setelah menimbang-nimbang, Zara beranjak bangun untuk mengantarkan makan malam buatannya untuk Brian.


Saat gadis berambut kuncir dua itu berada di depan pintu kamar Brian. Nyali yang tadinya berkobar menjadi ciut seketika tidak mendapat jawaban dari dalam kamar.


Apa yang terjadi dengannya?

__ADS_1


Apakah ada penyusup lagi?


Apa dia sedang mandi lalu terpleset?


"Brian..." panggil Zara dari luar.


"....."


"Maafkan aku Brian, aku bukan bermaksud begitu padamu tadi pagi. Kau mengagetkanku saat aku terbangun.


Bahkan aku melihat diriku sendiri hampir telanjang... aku... aku sangat panik Brian!" Unek-unek Zara masih tersimpan jelas di dalam hatinya.


"....."


"Brian... jangan buat aku makin takut kalau kamu kenapa-kenapa di dalam..." gedoran pintu mulai berbunyi nyaring di lorong.


Prangg!!


"BRIAN!!"


***


"Ya ampun Brian maafin aku yah... aku panik banget waktu tahu itu bukan mimpi..." jelas Zara memandang wajah Brian yang tidak ingin melihatnya.


"Apa kamu hanya terpikir itu saja?" Tanya Brian.


"Hah maksudnya?" Zara.


"Kebun teh? Apa kamu sama sekali tidak ingat? Saat aku menunggumu berjam-jam kamu tak ingat? Saat aku masuk ke kamarmu kamu tak ingat? Saat kau menyebutku suamimu kamu tak ingat? Aku sekarang yakin bahwa kamu egois." Cuek Brian.


"Brian..."


"Keluar!"


"Tapi Brian..."


"KELUAR SEKARANG!"


"Baiklah..."


Zara keluar dari kamar Brian dengan perasaan sesak di dada. Ya ampun Zara benar-benar lupa kalau dia hari ini akan ke kebun teh bersama Brian.


Tetesan air mata tak mampu Zara bendung kembali... rasa hampa saat ini menyelimuti diri Zara. Betapa Brian setia menunggunya di nawah tapi apa yang dia lakukan? Tidur seperi b4bi.


Apakah Zara sudah tua melupakan hal yang barusan terjadi kemarin malam?


"Hiks... hiks... Brian... maafin aku huaaa... aku.. aku aku tidak sengaja Brian.... hik hik..." kilasan tangis Zara menggema di seluruh sudut kamar gadis itu.


Dia meringkuk di punggung ranjang lama sekali hingga tengah malam ada percik-percik suara yang membuat gadis yang tengah menangis memberanikan diri untuk keluar.


"Siapa di sana...?" Dengan nada bekas isakkan Zara memberanikan diri pergi naik ke balkon atas. Sepertinya ada orang di atas. Sedangkan pintu kamar Brian masih sama...


Tidak mungkin kalau itu adalah Brian. Brian sedang kesal untuk apa dia ke balkon malam-malam?


TBC


Terima kasih telah memberi jempol👍


Dan kalau dibaca juga semoga terhibur👌


Juga ini udah aku revisi...


Semoga aja minim kesalahan oke doakan aku menurut kepercayaan masing-masing...🙏


Luv kalian readerss♡

__ADS_1


__ADS_2