
Happy Reading ya readerss♡
Jangan lupa kasih jempolnya👍
Biar makin mantul bacanya🙇♀️🙇♂️
Oke thanks you all yang udah like + rate🙏
°~°
"Brian... aku takut..." bisik Zara yang tidak mau ditinggal Brian.
Padahal yang datang hanya anak itik yang ingin bermain-main dengan Brian. Brian sendiri tidak takut siapa saja yang akan dilawannya nanti.
Apakah musuh Brian atau musuh Zara? Semua Brian harus membiarkan Zara bersembunyi sebelum mereka menangkapnya. Dan Brian akan melawan semuanya.
"Brian..." mulut Zara tak bisa diam saat Brian menyuruhnya tetap di tempat dan jangan pergi.
Dari dalam lemari besi yang terkunci, Zara bisa mendengar suara tebasan bahkan jeritan seorang pria. Dan untunglah Zara kenal sekali dengan suara Brian.
'Bukan! Itu bukanlah suara Brian!' Kekeh Zara dalam hatinya yang berdegup kencang.
Ingin sekali ia berada di luar menemani Brian namun, seorang gadis pasti akan selalu menjadi tawanan.
"Siapa yang menyuruh kalian ke sini?" Tanya Brian tajam menghunuskan samurai hias yang berada di dinding tembok Zara.
"Kami tidak akan membocorkannya!" Teriak penyusup satu.
Karena Brian sudah emosi tanpa segan-segan dia menebas kepala penyusup satu dengan keras dan mengganti menghunuskan pedangnya ke mangsa selanjutnya.
"Siapa?" Tanya Brian emosi menancapkan ujung samurai di dada penyusup kedua.
Dan lagi-lagi Brian harus membunuhnya karena kesal tak bisa mendapat jawaban.
Sekarang tinggal penyusup ketiga yang tersisa. Memang, mereka semua ada tiga orang dan betapa bodohnya pengawas 10 elite mafia yang ia perintahkan untuk melindungi Zara.
"Aku... aku tak bisa..." kesal, Brian kini hanya menedang wajahnya dan seketika membuatnya hanya pingsan untuk diintrogasi nanti di sel milik Brian.
"BRIAN!!" Kepala Brian langsung menengok ke arah lemari besi yang sengaja ia kunci supaya para penyusup tak bisa membukanya apalagi membobolnya.
Setelah Zara keluar cepat-cepat Zara memeluk Brian kuat-kuat tak ingin Bian kenapa-kenapa karena harus melindungi Zara.
__ADS_1
"Sudah... cup. Kau jangan kayak bayi Zara," kekeh Brian mengelus rambut Zara.
"Aku khawatir!" Jawab cepat Zara membuat hati Brian kian menghangat. Lihatlah betapa besar pengaruh Zara di dalam hatinya.
"Kan aku baik-baik saja...?"
"Tapi kan kau melawan mereka! Sendiri! Bagaimana aku tak khawatir jika kau... jika.. kau.. huaaa Brian pria mesum brengs*k!" Racau Zara masih memeluk erat leher Brian.
Zara seperti tak mau melepas dari Brian malam ini. Jadi Brian putuskan akan tidur bersama Zara di lantai 3. Di sana ada satu double bed. Jadi nyaman untuk mereka berdua.
"Tidurlah, kau pasti mengantuk?" Tanya Brian mengusap-usap pipi Zara yang tengah memelukknya dan memejamkan matanya.
Brian pikir Zara tidak akan takut dengan yang ia lakukan. Tapi sebaliknya dia persis seperti kelinci ketakutan di dalam sangkar.
Brian harus berterima kasih pada para pengusup karena dengan kehadiran mereka.
Brian bisa menikmati ekspresi imut yang Zara tunjukkan hanya saat dia tertidur. Huft... rasanya saat Brian marah tadi siang itu sungguh tak tahan. Ingin sekali mengobrol dengan si kelinci.
***
"Mmh..." Zara menggeliat duduk di ranjang mengumpulkan nyawanya.
"Aaish kenapa kemarin aku begitu penakut?" Racau Zara malu sendiri teringat betapa Zara erat memeluk tubuh kekar Brian kemarin malam.
"Untung saat aku bangun dia sudah pergi..." Zara mengelus-elus dadanya pelan mengira dia bernasib baik hari ini. Dasar penyusup sialan!
Crekk...
"Selamat pagi manis..." sapa seseorang dari pintu yang Zara yakini itu adalah Brian.
Mata Zara bertemu dengan mata Brian. Mata bulat bertemu mata sipit. Itulah kenyataannya. Bisa Zara cium bau harum dari apa yang ada di atas nampan yang Brian pegang.
"Breakfast?" Senyum Zara melebar manatap lapar piring berisi roti bakar dengan olesan coklat kesukaannya. Brian juga tak lupa kalau setiap sarapan Zara hanya akan meminum jus.
"Makanlah di balkon bersama," ajak Brian pergi meninggalkan Zara yang masih ngiler kelaparan.
Ish bukannya dikasih makan kek malah ditinggal dasar pria tua mesum!
"Enak?" Tanya Brian setelah menatap lama karena terlihat begitu nikmatnya Zara memakan roti bakarnya.
__ADS_1
"Hm, wenake puol Brian... kau yang terbaik!" Jari jempol Zara arahkan pada batang hidung Brian.
"Mau ke danau? Piknik bersama?" Tawar Brian menghabiskan susu vanilla-nya.
Dengan semangat Zara mengangguk cepat karena bosan juga di rumah mulu. Sama aja dong kalau dia liburan tapi cuman diam di villa? Lebih baik piknik lumayan bisa sambil foto-foto di sana.
"Mandilah... aku akan siapkan semuanya di bawah. Cepatlah turun manis..." Brian mengusap pelan kepala Zara sebelum memberesi piring gelas untuk dibawanya ke dapur.
Pipi Zara kini merona menatap punggung bidang Brian yang kian berjalan menjauh darinya. Aduh, Zara wus wus pergi kau rasa suka! Zara pasti akan dapet yang lebih dari Brian.
***
"Gimana Brian?" Tanya Zara setelah dia memilih baju sangat lama hingga Brian mengantuk di sofa ruang tamu.
Dan ketika Brian membuka matanya perlahan terlihatlah Zara dengan penampilannya yang imut.
Penampilan Zara:
"Zara kita mau piknik bukan ke mall..." walau perkataan Brian berbanding terbalik dengan hatinya yang saat ini bergejolak ingin mencubit gemas pipi gembul Zara.
Dia juga harus memperhatikan keadaan Zara nantinya. Bukit tempat mereka akan piknik jalanannya tidak bisa pakai high heels!
"Nggak papa ayuk meluncur!" Zara menarik tangan Brian dan menyeretnya hingga ke mobil. Saat di mobil Brian tak henti-hentinya melirik Zara. Apa lagi paha Zara yang sedikit terekspos.
'Brian alihkan pandanganmu jangan kau berpikiran mesum! Fokus nyetir...' batin Brian berkeringat panas dingin.
Zara yang memergoki arah pandang Brian hanya tertawa kecil.
"Hm Brian... matamu nakal yah?" Goda Zara makin membuat Brian malu kepayang.
"Apaa? Aku nggak... nggak ah aku fokus kok dari tadi," elak Brian tapi matanya masih saja tidak mau beralih dari paha putih mulus.
TBC
Terima kasih telah memberi jempol👍
Dan kalau dibaca juga semoga terhibur👌
Juga ini udah aku revisi...
__ADS_1
Semoga aja minim kesalahan oke doakan aku menurut kepercayaan masing-masing...🙏
Luv kalian readerss♡