
Happy Reading ya readerss♡
Jangan lupa kasih jempolnya👍
Biar makin mantul bacanya🙇♀️🙇♂️
Oke thanks you all yang udah like + rate🙏
°~°
Malam Hari...
"Ish kenapa Mas Brian susah dihubungin sih?!" Risau Zara saat dia sudah selesai berdandan. Cukup lama juga karena dia harus ke salon untuk kencannya malam ini bersama tunangannya. Kata Brian dia harus berdandan dulu karena memang Zara kalau mau pergi lamanya di dandanannya doang.
"Ya udah deh nunggu di kantor Mas Brian aja." Putus Zara lalu berjalan ke arah mobil dengan anggun. Zara mendudukkan bokongnya di kursi penumpang dan menatap layar ponselnya Kenapa sih di saat genting kayak gini Brian harus susah dihubungin?!
"Kita ke kantor Pak Brian non?" Tanya sang sopir diangguki oleh Zara sebelum mobil ini berjalan dengan kecepatan standar membelah dunia malam hari. Seharusnya Brian yang datang ke rumah bukan Zara yang datang ke kantor bukan?
"Apa Mas Brian lagi sibuk yah?" Gumam Zara sebelum memutuskan dia membuka kamera dan mempotret dirinya yang dibalut dengan gaun apik gemerlang di mobil.
#begini nasib cewek punya cowok dingin yah:(
💖 | 69.6969696969
💬 | 57.84320076
Best Comment:
gustiawan_hr44 :
Mending sama aku neng, hoki deh ke mana-ana aku temenin janji nggak boong neng!
arikusuma_real :
Sama gue aja mbak, dari pada sama cowok dingin nggak peka mending sama cowok playboy yang peka kwkwkwkw...
hartonoaji :
Gue mah nggak nawarin diri tapi kalau minat dm aja yah dek... siap sedia paspor KUA deh...
***
Itu mampu membuat senyuman Zara kembali terbit menampakkan cahaya di sana. Namun Zara kembali cemberut akibat panggilan sang sopir yang meminta Zara untuk turun karena sudah sampai di depan kantor Brian.
Zara Prov
Aku berjalan seirama dengan ketukkan sepatu high heels ku. Menekan angka di tombol lift dan menunggu terbukanya pintu lift kembali. Saat terbuka aku melangkahkan kakiku menuju ruangan manager. Semoga saja Mas Brian nggak lembur malam ini.
Namun, setelah aku sampai di depan pintu tanganku yang menggenggam kenop pintu terhenti mendengar sesuatu dari dalam sana. Ada suara aneh di dalam. Ingin aku mengintip tapi takut bila itu salah satu klien Mas Brian jadi aku akan berdiri di sini sebentar.
Tapi karena suara itu semakin keras membuatku agak risau. Pasalnya sejak tadi hanya ada suara wanita dan pria saja.
"Aaaah... mmmh... sssh!"
Begitulah yang terdengar dari luar. Aku risau jika Mas Brian sedang apa-apa dengan seseorang di dalam. Rasa takutku terus mengejar hingga aku memberanikan diri membuka pintu. Sedikit demi sedikit kubuka pintunya dan terlihat seorang tubuh wanita yang polos tanpa sehelai kain pun. Duduk di pangkuan seorang pria.
Aku tidak melihat siapa mereka. Karena mataku sudah terbendung kilatan cahaya-cahaya. Rasa sakit di hatiku menusuk berkali-kali. Melihat mereka saat ini membuatku sakit. Tidak berdarah memang namun itu akan menjadi satu-satunya lara terdalam dalam hidupku.
Masih berharap bila pria yang sedang berada di bawah wanita itu bukanlah Mas Brian. Tuhan tolong aku... aku tidak ingin melihat apa yang aku duga. Aku perlahan memasuki ruangan remang-remang itu dengan hati-hati.
__ADS_1
Sepertinya mereka belum menyadari kalau aku sudah masuk ke sini. Dan sekali aku lihat pria itu memejamkan matanya mengeraskan rahangnya memegang erat pinggang wanita itu sambil mengikuti irama yang wanita itu tempokan.
Sedikit demi sedikit air mataku turun melihat itu, Mas Brian...
Tangisku tidak berhenti... tidak berhenti mengalir deras menutup mulutku dengan kedua tangan tidak percaya. Apakah aku sudah salah lihat atau buta wajah?!
TUHAN... TOLONG AKU SAAT INI! BIARKAN AKU MELIHAT SECARA JELAS SIAPA PRIA ITU! TOLONG JANGAN BUAT AKU BUTA WAJAH!!!
Hatiku bergejolak ingin rasanya aku menangis terisak di sini. Dan tanpa diduga mereka mendesah bersama. Pria itu... Mas Brian! Benar-benar dia. Orang yang selama ini selalu melindungiku dan kini bermain di belakangku?!
saat maniknya melirikku sekilas dia nampak kaget. Ekspresinya yang tadinya sangat puas menjadi ekspresi kaget. Tidak bisa kubendung aku menangis keras dan berlari keluar dari ruangan. Aku tidak ingin melihat ke belakang. Pilih saja dia yang kau permainkan jangan hatiku yang tulus mencintaimu!
Buru-buru aku menekan tombol lift dan mengusap buliran air mataku.
"ZARA!! TUNGGU DULUU!" Teriak Mas Brian dari belakang. Dengan cepat dan panik aku terus menerus menekan tombol itu hingga akhirnya terbuka juga.
Bergegas aku masuk dan memencet tombol lantai 1. Namun aku dibuat kaget saat tangan Mas Brian menahan pintu liftnya. Aku kembali terisak, kenapa Mas Brian mengejar ke sini?! Tidak ada gunanya mas!
Aku memencet terus tombol turun dan terbuktilah pintu lift itu tertutup. Meski aku sedikit mendengar Mas Brian menjerit kesakitan aku tidak perduli. Biarlah Mas Brian bersama wanita itu... dia pasti akan peduli kan dengan Mas Brian?
saat aku berada di lantai satu atau lobby buru-buru aku keluar sebelum akhirnya tangan kekar seorang pria menahanku.
"Dengerin mas Zara..." cengkramannya di tanganku semakin keras membuatku makin terisak. Untung saja di sini hanya ada aku dan Mas Brian. Semuanya sepertinya sudah pulang.
"Nggak perlu mas... udah ikhlas kok kamu sama dia." Ujarku pelan tanpa melihat matanya. Sedangkan dia mengangkat daguku dan bertanya dengan wajah serius.
"Nggak! Mas cinta sama kamu bukan sama dia sayang..."
"Stop panggil gue sayang, Brian!"
"Zara... mas nggak bermaksud-"
"Apa?! Karena gue nggak secantik dia kan? Yah gue paham sekarang, sebaik-baiknya orang ke gue pasti bakal ada maunya. Contohnya kayak lo sekarang. MEN JI JIK KAN!"
"Gue nggak perduli. Udah hubungan kita sampai sini aja. Gue nggak mau sama cowok brengs*k kayak lo!"
"Zara mas cuman cinta sama kamu... dan berhenti manggil gue-lo. Mas tunangan kamu Zara..."
"Gue udah bilang ini. Lo dan gue bukan kita. Dan lepasin tangan gue!"
"Nggak Ra... mas tunangan kamu dan ingat. Mas tadi khilaf bukan bukan! Wanita itu jebak mas sayang... mohon-"
"Berisik! Gue muak dengernya. Lo kembali aja sana sama cewek matre itu!"
PLAK!
Sakit... rasanya sangat sakit. Tapi tidak sesakit jika Mas Brian yang menampar. Tadi tamparan dari cewek murahan. Aku menatap remeh cewek itu dan mulai memandangnya rendah. Walau air mataku masih berada di ujung mata. Namun aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis.
PLAK! PLAK! PLAK!
Bukan aku yang ditampar. Tapi aku yang menampar. Ku tampar tiga kali tanpa ampun. Dia meringis kesakitan dan mengadu pada Mas Brian. Mas Brian hanya melihatku tidak percaya.
"Cocok sekali. Jal*ng dengan brengs*k ish ish jangan lupa undang gue ke pernikahan kalian yah?" Kekehku masih menahan air mataku melihat Mas Brian memeluk wanita itu dari pada diriku.
"Mas... wanita ini menamparku tiga kali tanpa alasan... dan aku memukulnya karena dia memanggilku matre mas..." rengeknya di dada Mas Brian. Kulihat mata itu berpura-pura menangis dan tersenyum menang di balik dada Mas Brian.
"Sayang... kamu kenapa menampar dia?" Tanya Mas Brian.
"Karena dia JA LA NG!" Teriakku keras hingga menggema di seluruh lobby.
"Dengarkan dia hanya rekan kerjaku dan yang tadi hanya..."
__ADS_1
"Diem lo Brian. Mulut lo lain sama perbuatan lo. Lo milih JA LA NG ini atau gue?!"
"Zara... jangan buat mas memilih sayang..."
"Bacod!"
"Mas wanita ini kasar banget aduh sakit..."
"Heh diem lu kutu berak!"
"Masss~"
"Udah buruan milih lo kelamaan gue cabut. Mending gue ke ****** pesen satu yang mirip JK gue bayar dia 1 milyar tiap malam."
"ZARA!"
"APA?!"
"...."
"Udah lah gue mau ke ****** aja. Ketimbang di sini ketemu sama JA LA NG..."
Aku terpaksa berbicara kasar karena tidak ingin dianggap lemah. Aku berbalik menatap sayu dress yang aku kenakan. Berapa jam aku menghabiskan ini di salon hanya untuk dia yang berkhianat?
Aku kekeh berjalan dan berlari karena mengetahui Mas Brian mengejarku dari belakang. Aku terus berlari karena tidak menemukan mobilku. Aku berlari ke jalan raya dan tidak sengaja terpleset. Lalu...
TIIIIINNNNNN!!!
"ZARAAAA!"
BRAK!
Suara... hening... telingaku tidak menangkap apapun. Hanya berdenging kencang menatap sayu langit malam ini. Hari tersial yang aku bayangkan akan menjadi kado terindah.
"Zara! Buka mata kamu sayang... mas salah hik maafkan mas sayang...!!"
"Jangan tutup matamu sayang!" Teriakkan itu terasa seperti bisikkan di telingaku. Seperti ada kapas yang menghalangi pendengaranku.
Pusing melanda memutar di kepalaku. Perlahan aku merasakkan tetesan air mata di wajahku. Melihat Mas Brian menangis membuatku ikut menangis terenyuh bersama.
"Zara! Zara kamu kamu jangan menutup mata kamu yah hik..." Mas Brian terisak memegangi tanganku dan menggendong tubuhku yang lemah.
Bahkan untuk berdiri saja rasanya susah. Apalagi menggerakkan tangan dan kaki. Semua aku pasrahkan saja pada Mas Brian yang menangis sesenggukkan.
Darah bercucur di mana-mana. Nampak mataku mulai kabur. Namun Mas Brian membuatku tetap terjaga. Dengan segala cara seperti mencubitku dan menciumi wajahku agar aku terganggu dan tetap terjaga.
Kuusap sedikit pelan pipinya yang dibanjiri tangisannya. Agak perih menggerakkan tanganku. Tapi tak apa dia sedang berusaha menolongku. Aku berpikir kenapa Mas Brian melakukan itu dengan perempuan lain? Kenapa...
***
Sulit untuk tidak terpejam, mataku. Saat ini aku berada di pangkuan Mas Brian, mataku mulai meredup seiring waktu. Aku hanya menggumamkan sesuatu.
"Mas... maafin Zara... uhuk! Mas... Zara ikhlas mas menikahi wanita... lai..lain...kok... tapi jangan... wanita... iii..itu.." perlahan mataku mulai terpejam.
Mas Brian yang melihatku hanya bisa memeluk erat tubuhku. Dia berteriak sangat kencang... aku hanya tersenyum, ternyata hati Mas Brian hanya untukku...
Seketika aku terpejam tubuhku tidak bergerak sama sekali tanganku jatuh begitu saja dari paha Mas Brian.
"ZAAAARRRRAAA!" Teriakkan itulah yang terakhir aku dengar dari Mas Brian.
Terima kasih mas...
__ADS_1
#gimana guys hehe😂 aku bingung banget gimana konfliknya ya udah sih gini aja aku lagi badmood soalnya... maaf kalau kurang ngèh okey?🙏
Tinggalin like and comment!!💖