
Happy Reading ya readerss♡
Jangan lupa kasih jempolnya👍
Biar makin mantul bacanya🙇♀️🙇♂️
Oke thanks you all yang udah like + rate🙏
°~°
Apaan sih. Kenapa dia bersikap begitu. Padahal diakan bodygard kenapa bisa beli ponsel dua. Diberi cuma-cuma gitu aja ke aku??
Saat ini Zara sedang berguling ke sana ke mari di atas kasur. Dia menutup matanya dengan kedua matanya lalu berguling kembali seperti anak kecil yang sedang ngambek pada orang tuanya karena tak diberi permen coklat.
Zara berhenti dan bangkit duduk di tengah-tengah kasur.
"Ha! Pasti dia sudah dapet gaji sama dad?" Gumam Zara sambil menengadahkan kepalanya ke atas.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi mana mungkin gaji bodygard lebih besar dari uang jajan yang dijaga?
"Arrrghhh! Apaan sih kenapa jadi mikirin dia lagi?!" Teriak Zara cemberut dan mengacak rambutnya kasar lalu berbaring kembali membanting tubuhnya.
Saat ini keadaan Zara seperti orang gila baru keluar dari rumah sakit jiwa.
"Terus siapa yang mau pake ponsel itu?" Pikir Zara lagi menatap ke samping nakas yang terdapat dua ponsel yang satu milik Zara dan yang satu juga milik Zara tapi...
That's gift from my bodygard? Hah lucu sekali kehidupan ini. Tapi Zara pasti akan salut pada Brian kalau dia bisa membeli dua ponsel dengan pekerjaan menjadi bodygard.
Zara kembali menatap ke atas terlentang membuka lebar-lebar matanya berpikir keras. Kenapa juga dia harus memikirkan tentang Brian?
Mungkin dad yang meminta Brian memberi ponsel? Baiklah anggap saja begitu, sungguh Zara tak bisa konsentrasi sekarang.
..ring..ring..ring..
Dengan cekatan Zara mengambil ponsel barunya dan melihat satu panggilan dari Popi, memang Zara tadi saat menyetel ponsel.
Dia sekalian menyimpan nomor ponsel milik Popi dan men-tc-nya dan meminta mengesave nomor barunya Zara. Zara mengangkat panggilan tersebut lalu menempelkannya di telinga.
"Hai Popi uwu kangen..." cerca Zara langsung memancungkan bibirnya ke depan dengan tangannya yang mengepal ke atas bersemangat.
"Paan sih? Baru aja lo banting tuh hp lo langsung beli? Anak sultan~" sindir Popi dari sebrang yang sedang berbaring santai di ranjang.
Seperti biasa bermalas-malasan adalah hal yang wajib Popi lakukan.
"Ish! Kau mau hp gua? Gua ada dua nyebelin." Tanya Zara langsung bersemangat mengambil hp pemberian Brian tadi dan membukanya pelan.
Ternyata Brian tahu rasa sukanya pada warna pink? Uwu ini sungguh imut bagi Zara. Jadinya Zara berpikir ulang, mmm...
"Nggak usah, gue sama nokia aja," pasrah Popi bangkit duduk di ranjang lalu melihat kuteknya yang baru berwarna biru malam dan ada bintang yang siap berkilau jika petang tiba.
"Oh oke, emang tadi mau bilang nggak jadi hehe," tawa Zara sebelum mengutak-atik ponsel pemberian Brian.
Warnanya berbeda bukan dengan Brian seingat Zara. Brian warna hitam kebiru-biruan kan. Atau Zara salah liat? Ah tak tahu...
"Hm, lo udah ngerjain tugas akhir Ra?" Tanya Popi kepo karena Popi belum mengerjakannya padahal tugas kapan juga tak tahu.
__ADS_1
"Udah gue tuntasin semua kemarin," dengan tenang Zara meletakkan ponsel pink-nya kembali ke nakas.
"Oh... lo belum hubungin Gigi? Ntar marah lho." Ujar Popi berusaha menakut-nakuti Zara.
Zara yang mendengar langsung tak bergeming dan memukul keningnya pelan. Aduh, saking ribut dengan pikiran sendiri Zara malah melupakan Gigi. Gara-gara Brian tengik ini!
Zara bangkit berdiri dan mematikkan panggilannya dengan Popi dan langsung mengetikkan nomor ponsel Gigi.
Dengan cepat Zara menelfon Gigi... menunggu sebentar hingga panggilan tersebut terangkat oleh Gigi.
Setelah sambungan terangkat,
"Gigi! Astaga, lo tahu gua hampir mau jantungan gara-gara Popi takutin gua kalo lo nanti marah!"
Zara langsung nyerocos tanpa membiarkan Gigi memberi sapaan dari sebrang.
"Wah-wah lo udah punya hp aja..." kekeh Gigi sambil memperbaiki tata letak kaca matanya. Gigi memanglah berkacamata.
Walau terlihat cupu seperti yang kemarin Popi bilang, tapi Gihi tuh orangnya cantik banget kalau dibuka semuanya.
Maksudnya dibuka kacamatanya dan ikat rambutnya. Dia cantik banget, bahkan yang tahu kalau Gigi cantik hanya Zara.
Saat itu Zara tak sengaja ingin mendandani Gigi dan Gigi pun tak mempermasalahkannya asal tak menyebarkannya.
"Hm... nggak betah kalau nggak ada hp Gi," jawab Zara menegakkan tubuhnya dan bangkit berjalan bertujuan ke bawah mengambil beberapa cemilan di dapur.
"Haha bener juga yang lo bilang Ra, gue aja kecanduan sama tablet gede ini..." tawa Gigi dari sebrang.
Zara hanya ikut tertawa menikmati suasana sepi di rumah Zara. Yakinlah rumah sebesar ini hanya ada Zara sebagai keluarga di sini.
Dari sebrang terdengar ada teriakkan mama Gigi dan Gigi menjawabnya lalu pamit memutus telfonnya dengan Zara seketika.
Zara hanya mengulum senyum geleng-geleng dengan perilaku sehabatnya. Saat Zara sampai di depan lemari cemilan dan membukanya dia mengambil banyak sekali jajanan di sana.
Mulai dari popcron, talo, cukacuka, singkong, dan 4 lainnya dengan minuman dingin.
Malam ini Zara ingin menonton tv karena ada jadwal konser online BTS malam hari ini. Umur Zara juga sudah cukup umur. Zara melangkah berjalan menuju ke ruang tv.
Di sana Zara mendudukkan bokongnya di sofa lembut berwarna merah menyala. Di sana ada televisi yang gueeedenya minta ampun. Biasanya Zara dan sepupu Zara sering bermain bersama di sini.
"Kim Namjoon!
Kim Seokjin!
Min Yoongi!
Jong Hongsoek!
Park Jimin!
Kim Taehyung!
Jeon Jungkook!
BTSSS!!"
__ADS_1
Teriakkan semangat Zara layangkan untuk member idolanya. Bahkan Zara saat lulus SMA dia mendatangi jumpa fans dengan para member.
Dia juga berencana mengundang para member saat ia menikah nanti. Berapa pun biayanya Zara tak perduli itu keinginan Zara yang nantinya akn dikabulkan oleh daddy sultan.
***
"Tuan, dia terus menerus merengek meminta bertemu denganmu," kata seorang sekretaris kepada bos besarnya yang saat ini hanya duduk diam menatap sebuah ponsel hitam yang Farhan yakini itu puluhan juta rupiah.
"Hm, bawa salah satu dokter ke sini dan periksa apa dia mengatakkan yang sebenarnya?" Titah Brian yang tak juga mengalihkan pandangannya dari ponsel couplenya dengan Zara.
"Baik tuan, apakah anda akan pulang malam ini?" Tanya Farhan menunduk hormat saat Brian berdiri memasukkan ponsel hitamnya di saku.
"Hm, urus dia dengan baik sampai hasilnya keluar. Jika dia bebohong bunuh dia," ingat Brian berjalan pelan meninggakan ruangan itu namun sebelum dia menghilang dia berkata dengan mata tajamnya ke arah Farhan.
"Tidak. Aku sendiri yang akan menyiksanya Farhan." Kemudian berjalan keluar dari ruangan.
Keringat Farhan saat ini sudah mencerocos kemana-mana karena aura tegang yang barusan ia rasakan. Sungguh kejam juga bosnya. Orang dunia mafia begitu semua pastinya.
Brian menancapkan gasnya full dengan mobil sport pribadinya berwarna emas murni melaju kencang di atas jalanan yang ksosong. Dia merutuki dirinya sendiri kalau buktinya dia akan menginap di rumah Zara.
Karena perasaan Brian saat ini tak mau jauh-jauh dari pemiliknya. Tapi, betapa sialnya Brian masih belum mengenali apa itu cinta. Dia pria dewasa yang sudah siap menikah kapanpun. Hanya butuh sedikit waktu untuk ini.
Saat Brian turun dari mobilnya yang sudah pas terparikir di dalam garasi rumah Zara, kaki Brian langsung berjalan lebar ingin melihat sosok Zara yang tertidur pulas di ranjang serba pink itu.
"Huft... Apakah dia sudah tidur atau belum?" Gumam Brian cemas jika Zara belum tertidur lalu dia masuk mengintip akan sangat canggung dan juga memalukkan bukan?
Baiklah dia seorang pria. Biarkan Brian membukanya sebentar saja... biarlah alasan apapun yang akan Brian ucapkan nantinya.
Saat Brian membuka kamar Zara, mata Brian tak melihat di mana tubuh mungil itu berada.
Dia sudah mengedarkan matanya di mana-mana. Tapi alhasil tak menemukkan apapun di kamar pink itu.
Lantas dengan sangat panik Brian mengecek cctv di hpnya yang sudah terpasang khusus untuk rumah besar ini. Ketika sadar Brian akan keberadaan Zara di ruang tv Brian bernafas lega dan segera melangkahkan kakinya menuju ke sana dengan cepat.
Dan terbukti dengan kedua mata Brian kalau Zara ada di sini bersender dengan tenang di sofa melihat televisi. Brian melangkahkan kakinya lagi mendekat ke arah Zara dan duduk di samping Zara tanpa menatap Zara
"Nona, sudah malam sebaiknya kau tidur saja di kamar. Dan apa ini? Kau menonton seorang pria di tengah malam?" Oceh Brian tanpa melihat Zara. Zara hanya diam saja mematung tak bergerak sama sekali. Brian tebak ini...
"Astaga, kau tertidur nona kelinci?" Papar Brian lalu berniat menggendong Zara ala bridal style menuju ke kamar Zara.
Brian meletakkan tubuh mungil gadis itu pelan di ranjang supaya Zara bisa tidur nyanyak tanpa terganggu Brian sama sekali. Setelah lama Brian memandangi wajah Zara...
Dia pun mengecup kening Zara dan meninggalkannya begitu saja namun sebelum dia menjauh, tangan Zara menyeret tubuh kekar Brian hingga tidur di samping Zara.
Astaga, Brian sekarang berkeringat dingin...
TBC
Terima kasih telah memberi jempol👍
Dan kalau dibaca juga semoga terhibur👌
Juga ini udah aku revisi...
Semoga aja minim kesalahan oke doakan aku menurut kepercayaan masing-masing...🙏
__ADS_1
Luv kalian readerss♡