
Happy Reading ya readerss♡
Jangan lupa kasih jempolnya👍
Biar makin mantul bacanya🙇♀️🙇♂️
Oke thanks you all yang udah like + rate🙏
°~°
Normal Prov
Saat ini Zara berada di dalam kamarnya menatap ke arah tumpukkan kertas tugasnya di meja belajarnya. Dia memikirkan Brian saat ini, bodygard barunya yang teramat sangat dingin.
Sedingin es di kutub utara walau Zara tak pernah merasakkan dinginnya es kutub utara. Maka Zara terangkan dinginnya Brian seperti kutub utara.
Zara menghela nafas kasar lalu kembali fokus dengan pekerjaannya saat ini. Jangan-jangan dia menyukai Brian? Tidak-tidak, Zara yakin masih menyukai Kak Rey.
"Aaaishhh! Kenapa pikiranku kemana-mana?!" Decit Zara meletakkan pulpennya kasar ke atas meja.
Zara nampaknya selalu dibayangi dengan sosok Brian saat ini. Dalam pikiran Zara, Brian mengantar jemput Zara lalu bisa memasakkan spagetti untuknya.
Apakah Brian mempunyai segala sertifikat keahlian. Zara berpikir ulang dan mencoba menghilangkan wajah Brian yang sedang serius memasak tadi sore.
Alhasil, Zara mengambil hpnya yang berada di nakas lalu menekan beberapa nomor untuk ia hubungi saat ini.
Namanya adalah 'Popi' karena menurut Zara, Popi pasti bisa menghilangkan stress-nya saat ini.
Gadis itu menempelkan benda pipih itu di telinganya lalu menunggu si pemiliknya mengangkat telfon dari sebrang.
Menunggu lama Zara hampir pasrah namun panggilan itu terjawab oleh sehabatnya.
"Hallo... ada... apa kau panggil-panggil gua Ra?" Tanya Popi dari sebrang dengan suara yang berat, tepatnya mengantuk.
"Hallo Pop, gua butuh hiburan!" Jawab Zara langsung duduk di tepi kasur dengan semangat karena sehabatnya mengangkat telfon.
"Apaa...an?" Kini suara Popi sudah semakin berat dan seram seperti suara zombie di film-film.
Zara saja saat ini sedang merinding mendengar apakah ini suara asli Popi.
"Hei, bangunlah jangan seperti b4bi tidur mulu..." ujar Zara menyemangati Popi dari rasa kantuknya.
"Aissh, kau ini malam-malam begini masih mengganggu tidur tuan putri yang cantik ini?!" Protesnya semangat dari sebrang mendengar ocehan Zara.
"Nah kan nggak ngantuk lagi Pop?" Kekeh Zara pelan lalu membaringkan tubuhnya menghadap ke atap dan menghembuskan nafasnya pelan.
"Ada apa Ra?" Tanya Popi masih dengan matanya yang merem melek berusaha untuk tetap terbangun.
"Bodygard gua Pop," kata Zara lesu memiringkan tubuhnya menghadap nakas.
Dari sebrang telfon terdengar helaan nafas kasar lalu bunyi orang berdiri dari ranjangnya.
"Ra, kenapa dengan bodygard lo? Apa lo suka atau dia cabulin lo?" Tebak Popi yang mengacak rambutnya gusar berharap tak ada apa-apa dengan Zara saat ini, mengingat saat ini bulan lah yang berada di langit.
"Nggak, bukan itu." Elak Zara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya cepat-cepat menolak pernyataan Popi.
"Nah terus..."
"Gue selalu mikirin dia, tadi saat gue belajar. Gue kebayang mukanya lagi masakkin spagetti buat gue!"
"Hah?! Lo belajar malem-malem?"
__ADS_1
"Iya... emangnya lu yang molor dijam dini."
"Aishh, lo tuh butuh refresing diri, jangan mikirin pelajaran aja. Tahu kan Pak Bambang baik sama lo pasti nggak bakal kena marah lah?"
"Ihh kok jadi ke Pak Bambang? Gua kan nanya soal Brian!"
"Brian?"
"Bodygard gua Popi!"
"Ouhh... soal dia, lo terlalu lebay deh, pikirin aja si Rey."
"Lo ngomong sih gampang, lakuinnya yang susah malah makin ingat!!"
"Tapi kan si bodygard tuh cuman jagain lo waktu bonyok (bokap-nyokap) lo pergi."
"Ya juga sih yah... napa jadi gua yang baper?"
"Ya udah, gue mau lanjut bocan (bobo cantik.)"
"Elah, molor mulu. Belajar kek bentar lagi skripsi!"
"Gue kan mulut manis..."
"Awas ntar kalo lo nggak lulus gua tinggal lo di uni hhhaaha!"
"*Kejam*nya ya udah gue mau belajar deh."
"Nah gitu dong... semangat yap?" Kekeh Zara sebelum ia mengakhiri panggilan.
Setelah tenang dengan percakapan mereka tadi, Zara meletakkan ponselnya di nakas lalu bangkit berdiri ingin mengambil air dingin di bawah.
"Hufft..." desah Zara melihat lorong luar kamarnya yang gelap gulita. Dia memberanikan diri melangkahkan kakinya di lorong tersebut.
Zara tidak meminumnya langsung karena ingin menyimpannya di kamar. Zara pun beranjak ingin naik tangga sebelum sebuah tangan mendarat di bahunya.
"Siapa?!" Teriak Zara histeris. Lalu lampu yang tadinya padam sekarang menjadi terang dan terlihat sosok gagah seorang lelaki di hadapan Zara.
"Brian?" Lirih Zara lalu membuat poker face mirip dengan ekspresi yang ditunjukkan Brian sekarang.
"Hm." Gumam Brian mengangkat satu alisnya sebelum pergi melangkahkan kakinya menaiki tangga.
"Hiss, pria kentut!" Gumam Zara menatap sinis bodygard-nya sebelum ikut naik ke atas menuju kamarnya sendiri. Ternyata kamar Zara dan Brian berjejeran.
Bukankah dia hanya seorang bodygard? Kenapa berada di lantai atas milik keluarga Zara. Zara tak ingin malam ini terus-terusan memikirkannya.
Akhirnya Zara memutuskan masuk meminum minumannya sebelum tidur berbaring di ranjang dengan posisi nyaman.
Sedangkan di sisi lain, "astaga kukira ada pencuri masuk ke dalam rumah, ternyata dia." Desah Brian di dalam kamarnya menatap langit-langit kamar dengan raut wajah datar.
Sejak kapan pria romantis ini menjadi dingin seperti saat ini? Hanya dialah yang tahu kenapa dirinya dapat berubah drastis seperti saat ini.
Di benak Brian saat ini, ingin melupakan semuanya dan lanjut berjalan tanpa menengok ke belakang. Kemudian rasa kantuk Brian muncul lagi setelah Brian menutup matanya berusaha untuk tidur.
***
"Kau kenapa kemarin, apakah si cabul menyentuhmu?" Tanya Gigi setelah Zara tiba di kampus.
"Hei kalau bilang, liat-liat situasi dong!" Lirih Zara mencubit lengan Gigi keras sambil melirik Brian yang menyuruhnya untuk cepat masuk.
Zara hanya tersenyum lalu menganggukkan kepala sebelum menyeret Gigi masuk ke dalam.
__ADS_1
"Apaan sih?" Tanya Gigi melepas cengkraman maut Zara.
"Lo kalo ngomong, bisa nggak kalo nggak ada orangnya?" Zara memutar bola mata jengah menatap marah ke arah Gigi.
Gigi yang ditatap begitu hanya nyengir lalu memberenggutkan bibirnya pelan sok imut demi diampuni Zara tercinta.
"Hehe maap, karna kemarin si boncel telfon gua, katanya lu dicabulin sama bodygard lu yang namanya...." ucap Gigi terpotong karena tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Kenapa di saat genting seperti ini ingatan Gigi menguras cepat?
"Brian," kata Zara menimpali ucapan Gigi.
"Nah bener!" Gigi memberikan jempolnya pada Zara. Sudah Zara duga, pasti Popi menceritakannya dengan kalimat hiperbola.
Zara hanya menggeleng pelan lalu segera berjalan meninggalkan Gigi yang bengong di tempat. Apa salahnya kali ini pada Zara?
"Ah, Kak Rey?" Teriak Zara melihat punggung Rey dari belakang yang sedang berjalan di depan Zara.
Rey yang merasa dipanggil langsung menengok ke belakang. Zara lagi Zara lagi. Tidakkah cewek ini capek mengejarnya.
"Zara?" Ujar Rey masih menatap gerak-gerik cewek satu ini.
"Ada apa Kak Rey?" Tanya Zara mengguncangkan badannya sendiri karena kesenangan bisa mendengar Kak Rey memanggilnya akrab.
"Apa kau tak lelah?" Ucap Rey menelisik Zara lalu berjalan santai diikuti Zara yang masih setia tersenyum.
"Ciee kakak perhatian," Zara menutup mulutnya karena malu mengatakan apa yang ia katakan barusan.
Rey hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, mengapa hanya Zara yang memanggilnya begitu?
Dengan embel-embel, 'kak' apakah dia terlalu tua untuk gadis mungil di sampingnya ini?
"Hufft... kenapa kau memanggilku?" Tanya Rey berdiri di depan kelasnya sendiri, sedangkan Zara masih juga setia menatap Rey dengan binar-binar mencurigakan.
"Minta nomor Kak Rey dong... buat tanya soal-soal sulit kan bingung." Ujar Zara modus menodongkan ponsel apel kroaknya ke dada Rey.
Rey yang diperlakukan seperti itu sebenarnya tak terbiasa. Tak terbiasa dekat dengan cewek maksudnya...
Tanpa bicara Rey menangkap hp Zara lalu menuliskan nomor ponselnya di kontak Zara.
"Nih," ujarnya kepada Zara.
"Aww makasih kakak, nanti kalo aku ada soal yang sulit kan bisa tanya-tanya kakak?"
Semangat Zara menampilkan senyum lebarnya pada Rey. Lalu Zara pamit dan berjalan sendiri menuju ke kelasnya.
Asalkan kalian tahu, Rey saat ini sangat malu pada Zara, mukanya tadi pasti sangat aneh. Apakah ini memalukan?
Aaaakh benar-benar malu Rey mengakuinya. Zara hari ini sangat imut menurutnya. Bagaimana tidak?
Zara mengikat rambutnya kuncir dua lalu memakai bando kucing berwarna pink dengan pakaian yang menarik hati Rey. Seperti pakaian anak kecil tapi tetap elegan.
TBC
Terima kasih telah memberi jempol👍
Dan kalau dibaca juga semoga terhibur👌
Juga ini udah aku revisi...
Semoga aja minim kesalahan oke doakan aku menurut kepercayaan masing-masing...🙏
__ADS_1
Luv kalian readerss♡