Zara Mahesti

Zara Mahesti
Ep.5 Nomor Palsu!!


__ADS_3

Happy Reading ya readerss♡


Jangan lupa kasih jempolnya👍


Biar makin mantul bacanya🙇‍♀️🙇‍♂️


Oke thanks you all yang udah like + rate🙏


°~°


"Napa lo senyum-senyum?" Tanya Popi yang baru saja datang dan duduk bersebelahan dengan Zara.


Apakah ada hal yang dilewatinya saat belum berangkat? Harusnya Popi hari ini berangkat pagi tapi ada masalah jadinya dia harus sedikit terlambat dan menulis list terlambat di absen siswa.


Zara yang sedari tadi tersenyum menatap Popi dan nyengir tanpa dosa menyenderkan kepalanya di atas tangannya.


Hari ini hari yang sangat spesial bagi Zara, pasalnya hari ini Rey memberikannya nomor ponselnya pada Zara. Zara juga sempat melihat ada rona merah di telinga laki-laki yang dia suka.


"Dia gila Pop, abis diterima sama Rey," jawab Gigi cepat menimpali Popi yang hanya menjadi angin lalu saja bagi Zara saat ini.


Kondisinya kritis, mungkin hati Zara saat ini sedang berkobar menyulut api yang lain untuk ikut masuk ke dalamnya.


"OMG?" Popi memiringkan kepalanya lalu mendudukkan bokongnya keras sebelum meletakkan punggung tangannya di kening Zara.


"Lo nggak sakit kan Ra?" Tanyanya, Zara yang tadinya sedang asyik membayangkan ini itu berbalik menatap dingin Popi.


"Gue baik kok," jawab Zara tersenyum tiba-tiba dan membuat kedua sehabatnya merinding disko.


"Oh ayolah, tidak mungkin si dingin Rey mau menerimamu bayik," ujar Popi terkekeh lalu mengusap pelan punggung Zara.


"Apa maksudnya? Kak Rey tadi nulis nomor kontaknya di hp gua!" Elak Zara tajam dan menatap nomor di ponsel yang dari tadi Zara pegang.


Masa sih seorang pria dingin Rey mau memberikan nomor telfonnya kepada si cerewet Zara?


"Nih liat!" Kata Zara menyodorkan layar ponselnya, di situ tertulis bahwa ada nomor kontak berjudul 'Reyhan' yang lihat pun tak kalah terkejutnya.


Pasalnya sekarang dia yakin Rey pasti sudah muak dengan Zara hingga memberikan nomornya sia-sia karena tak mau diganggu.


"Lo yakin Ra?" Tanya Popi dan Gigi bersamaan melotot ke arah ponsel Zara.


Ish, Zara mulai dengan mode marahnya. Kenapa sih mereka nggak percaya sama Zara. Perasaan selama hidupnya Zara tidak pernah berbohong.


Dengan yakin Zara menekan tombol panggil, mata Popi dan Gigi terdiam pada manik Zara dengan rasa penasaran yang menggebu.


Setelah lama Zara menunggu jawaban, tiba-tiba saja telfon berbunyi bahwa itu berhasil terhubung.

__ADS_1


Dengan semangat Zara mengatakan, "Kak Rey! Hai apa kabar? Aku mau tanya soal-soal boleh?"


Sedangkan di sebrang telfon, "Maaf? Apa anda butuh seorang penyedot wc?" Tanyanya dari sebrang yang membuat mata Zara melebar bulat.


Bukannya suara Kak Rey yang gagah, malahan suara bapak-bapak yang terlihat sekali profesinya sebagai penyedot wc.


Tawa meledak di antara Popi dan Gigi. Jadi, Rey memberikan nomor ponsel penyedot wc bukan nomor ponselnya?


Tawa keras menjadi bahan tertawaan kedua sehabat Zara. Menepuk-nepuk meja dengan semangat mengaproki kegilaan Zara yang terbuai dengan Rey tadi pagi.


Jelas-jelas tadi Zara terus tersenyum hanya karena nomor ponsel penyedot wc?


"Bwahahahha! Ra lo dibohongi," kata Popi mengusap air matanya yang keluar karena terus tertawa puas melihat ekspresi Zara yang langsung menutup telfon cepat.


"****!" Umpat Zara kesal membanting hp nya hingga remuk hancur. Itu membuat kedua sehabat Zara terdiam sejenak.


"Kau harus mengurangi menonton drakor palsu Ra," saran dari Gigi membuat setetes air mata Zara turun.


Kedua sehabat Zara yang tadinya masih menahan tawa kini merasa bersalah. Apakah Zara marah kepada Rey karena diberi nomor palsu?


"Nggak papa Ra, mending lo sama si bodygard lo yang gans abis itu..." Gigi berusaha menenangkan Zara..


"Iya sama si Brian ganteng, gagah, dan mapan aja Ra... gua setuju banget sama hubungan kalian. Dari pada sama si kutub Rey yang jahatin lo terus," kini Popi yang berusaha keras menenagkan Zara.


"Apaan sih? Kan gua nangis gara-gara hp gua. Hp gua kena banting tangan gua huaaaa!" Tangis deras membanjiri wajah imut Zara yang tadinya diolesi sedikit make up menjadi luntur kayak hantu.


"HAH HP?!?!" Ucap Popi dan Gigi bersamaan. Bukankah Zara bisa beli lagi segudang penuh aja dia mampu? kenapa harus nangis soal hp?


"Napa lo jadi nangisin hp sih?" Popi mendesah pelan merutuki nasibnya bersama Gigi karena perjuangan tadi sia-sia.


"Ya kan ada foto-nya Kak Rey di situ..." dengus Zara memunguti hpnya satu persatu karena terpaksa harus remuk di lantai depan.


"Anjay kita kira lo..."


***


"Brian, bagaimana keadaan Zara?"


"Baik om, harus saya akui anak om sangat cantik dan imut."


"Oh benarkah? Ha..ha..ha.. syukurlah kalau kau suka dengannya. Aku tahu aku akan mempercayaimu."


"Tenang saja om, saya pasti akan melindunginya seperti istri saya sendiri."


"Hahhaha... kau memang pria yang baik hati, tapi jangan sekali-kali kau menyentuhnya yah?! Atau kau akan tamat di tanganku Brian."

__ADS_1


"Om anda harus percaya sama saya dong, saya anak baik-baik kok. Tapi maaf kalau saya tak bisa menjaganya 24 jam."


"Tak masalah, aku sudah menyuruh 10 pengawal elit bersenjata menjaga Zara dari jarank jauh supaya dia aman saat kau bekerja Brian."


"Anda tahu? Saya juga sudah menyiapkan 10 pengawal elit bersenjata untuk menjaga Zara saat saya ada di kantor."


"Kurasa aku sudah tepat memberikan Zara kepadamu bukan Brian?"


"Yah, kurasa cepat atau lambat saya dan Zara akan membaik dalam komunikasi."


"Haha, berusahalah Nak Brian, karena sebentar lagi Zara akan masuk kerja. Kau terimalah dia di perusahaanmu."


"Tergantung dengan prestasinya om."


"Aku yakin Zara pasti akan memuaskanmu saat melamar kerja di tempatmu."


"Baiklah om saya akan menantinya."


Panggilan Berakhir.


Saat ini Brian bersender pada kursi kebesarannya menatap foto Zara yang ia jadikkan sebagai wallpaper layar ponselnya.


Sudah berapa kali Brian mengkhawatirkan Zara, bahkan mengutus 10 anggota terbaiknya untuk berjaga di sekitar Zara yanpa sepengetahuan Zara dan saat Zara tidak sedang bersamanya.


Jujur hati Brian sempat kesal dikarenakan harus menjaga Zara yang masih kuliah. Penginnya Brian adalah cepat-cepat Zara lulus kuliah.


Brian sangat butuh keturunan saat ini. Semoga saja tuhan berikan keturunan padanya saat waktunya dia menikahi Zara...


"Zara Mahesti, sudah kuputuskan. Kau akan menjadi ibu dari anak-anakku nanti." Gumam Brian bertekad kuat di hatinya menatap foto Zara yang cantik.


TBC


Terima kasih telah memberi jempol👍


Dan kalau dibaca juga semoga terhibur👌


Juga ini udah aku revisi...


Semoga aja minim kesalahan oke doakan aku menurut kepercayaan masing-masing...🙏


Luv kalian readerss♡


Bonus Foto Brian:


__ADS_1


__ADS_2