
Happy reading...
Oh ya mau ngingetin pake filter putih aja yah...
"Zara... buka pintunya sayang..." ujar Agaist dari luar membuat mata Zara yang tadinya terpejam menjadi terjaga seketika.
"Ada apa ma?" Tanya Zara setelah membukakan pintu untuk mamanya. Dengan segera Agaist menyeret tangan Zara turun ke lantai dasar.
"Ada apa sih ma malem-malem Zara ngantuk!" Tutur Zara membuat Agaist menoyor kepalanya pelan.
"Jangan lupa kalau mami itu lagi hamil yah jangan kurang ajar!" Astaga Zara lupa kalau pertukaran sifat maminya dengan papinya.
"Ada apa?" Siap Zara buat melakukan apapun jika disindir adik.
"Beliin mama nasi goreng sana!" Titah Agaist.
"Buat sendiri aja ma. Zara ngantuk!" Ucap Zara mengelak lalu berbalik berjalan naik tangga menuju kamarnya. Sebelum Zara melanjutkan langkahnya Agaist berteriak.
"Brian, nggak jadi... Zaranya nggak mau." Pekik Agaist membuat mata kantuk Zara kini terjaga. Astaga, Brian ada di sini kah?
Segera kaki Zara menuruni tangga dan melihat tubuh jangkung Brian yang menjulang dari pada mamanya. Brian melihat ke arah Zara dan tersenyum manis membuat hati Zara mencair. Ahh... betapa beruntungnya dia bisa dapat laki-laki begitu.
"Kenapa?" Tanya Agaist sebelum berbalik menatap arah mata Brian. Oh, kepancing juga kan anakku. Hehe sekalian aku tambah aja porsinya.
"Lho Mas Brian kapan datengnya..." tanya Zara menghampiri Brian dan tidak memperdulikan mamanya.
"Baru, soalnya tadi tante pengin dibeliin apa katanya ngidam." Jelas cepat Brian membuat kepala Zara mengangguk semangat.
"Ayok!" Ajak Zara berbinar memegang tangan Brian dan hendak keluar dari rumah. Namun suara kekehan Agaist membuat Zara lagi-lagi berhenti. Ada apa sih dengan mamanya. Dikit dikit serius dikit dikit balik ke usul.
"Kamu yakin mau keluar bareng Brian malem malem pake baju itu?" Lirik Agaist tajam menatap gelegat Zara yang gugup. Ah benar juga Zara sekarang kan memakai baju tidur.
Zara merenges lalu bergegas masuk ke dalam kamar mengenakkan hoodie tebal berwarna pink campur putih lalu kembali menggandeng tangan Brian. "Udah mas, ayo jalan..." sebelum Brian berjalan Agaist menghentikan mereka.
"Kan belum tahu mami pesen apa aja kan?"
"Ah ya apa aja ma? Katanya nasi goreng doang?" Sindir Zara sinis. Lagi lagi Agaist terkekeh dibuatnya.
"Mm berhubung malem nasi goreng enak terus sama udang krispy sama ice vanilla sama mie ramen dann kentang goreng plus saus yah sayang..." Bukan hanya Zara yang dibuat melongo tapi Brian juga. Kenapa porsi makan tantenya ini menjulang naik?
"Udah cepet sana. Yan jagain anak mami yah?" Kekeh Agaist dimengerti Brian. Aishh... tidak disuruh saja Brian akan menjaganya.
Di dalam mobil.
"Mas kenapa mas mau aja dateng sih?" Tanya Zara.
"Berbuat baik kepada calon mertua sayang..." jawab Brian tersenyum.
"Elah..ngomong aja pengin cepetan nikah," benar Brian ingin cepat-cepat menikah. Rasanya susah sekali mengendalikan diri kalau bersama Zara.
"Kamu selalu benar yah dasar bocil!" Tutur Brian mengelus pucuk kepala Zara.
Setelah sampai di restaurant 24 jam. Zara masuk dengan menggandeng tangan Brian. Pria yang selama ini dia cintai dengan segenap hati. Zara selalu dibuat tersenyum jika bersama Brian.
"Silahkan anda mau pesan apa?" Tanya pegawai kasir tersenyum ramah kepada Zara. Dia seorang laki laki yang mirip dengan artis korea atau idol kpop.
"Aaa you're like oppa..." gemas Zara mencubit tangan si kasir. Mata tajam Brian langsung mengarah pada tangan kasir itu. Berani sekali memegang wanitanya mau mati yah?
Author: "Tapikan Zara yang pegang ogeb..."
Brian: "Sama aja sentuhan tangan!"
Yang ditatap merinding disko. Tapi tidak apa apa pasti pria yang di samping mbak cantik ini adalah pamannya atau kakaknya. Aduhh perasaan si kasir yang malang... hatinya tercubit oleh mata binar yang Zara tunjukkan untuknya, kasihan juga.
__ADS_1
Dia jomblo kan? Boleh dong minta nomornya nanti?
"Saya pesen-"
"Aku aja mas... mas duduk aja noh di sono tunggu Zara aja biar nggak capek." Ujar Zara dan Brian terpaksa melakukannya.
Aduh niatnya Brian mau nolak duduk nunggu. Tapi hatinya nggak bisa nolak. Gawat kalau udah jadi suami istri masa iya Brian adalah salah satu suami yang takut istri?
"Iya udah..." pasrah Brian duduk, walau dia duduk dia memperhatikkan pergerakkan si kasir setengah nyawa itu tajam. Mengamati dari jauh Zara mau bertindak apa di sana memintanya pergi.
Sementara itu di hati Tetet si kasir yang setengah mau mati di tangan Brian memilih untuk tersenyum senang saja menulis list pesanan Zara.
"Nasi gorengnya tiga pedes semua, udang krispynya empat set, burger big cheasenya satu, ice vanilla satu, thai tea original satu, kentang gorengnya empat juga. Udah oppa gitu aja." Zara terus tersenyum di depan Tetet.
Aduh nih cewek boleh gue karungin terus bawa rumah nggak sich gemes liatnya duh!
"Ada tambahan lagi mbak?" Tanya Tetet lembut pada Zara lalu melirik Brian sekilas.
"Mm apa yah ada brownis coklat nggak kak?" Tanya Zara manis membuat hati Tetet kasian kalau mau berebut.
"Ah... ada kok mbak mau berapa?" Tanya Tetet siap mencatat kembali.
"Satu tapi yang big size yah kak isinya harus keju tapi itu brownis coklat kan? Taburin juga kejunya... banyakin hehe," kekeh Zara membuat Tetet juga ikutan terkekeh.
Sedangkan pria yang tengah duduk bersandar meremas ponselnya keras mencoba untuk bersabar karena melihat Zara dan si tengik itu terlihat sangat akrab.
Dasar bocah tengik sialan. Mau rebutan sama Brian Arnando? Mimpi aja sana di neraka!
Setelah memesan. Zara harus menunggu dan memilih duduk di samping Brian. Saat Zara duduk Brian sengaja mendekatkan duduknya dengan Zara.
Tangannya juga perlahan naik ke punggung sofa. Mencari celah bila Tetet melihatnya maka Brian akan menyentuh bahu Zara romantis.
"Ada apa mas? Apa mas lelah mau dipijat kah?" Tawar Zara melihat aura gelap membayangi tatapan Brian. Sikap bos Brian Arnando Stevian mulai terlihat membentuk saat Brian bersitatap dengan Tetet.
#Tetet nama yang lucu nggak...
Tetet hanya menghela nafas pelan berusaha mengacuhkan pandangan kemenangan dari orang yang ditujukkan untuknya.
Huh cowok pengecut!
"Ada apa mas?" Tanya Zara lagi sebelum bangkit berdiri dan mengambil pesanannya di kasir. Sedikit mengobrol lagi dengan Tetet secara harmonis.
Mata Brian panas melihatnya, ingin rasanya Brian membawa Tetet oh tidak, menyeretnya saja sampai ke penjara bawah tanahnya. Lalu menyiksanya pelan pelan.
"Ayo mas..." ajak Zara melihat lapar nasi goreng yang dibungkus. Namun Brian hanya berdiri lalu berjalan terus meninggalkan Zara yang bingung.
Mas Brian kenapa sich?
"Aneh..." gumam Zara lalu berjalan mengikuti Brian dari belakang. Bahkan Brian tidak menggandeng atau membukakan pintu mobil untuk Zara. Rasa aneh terus menggerayangi Zara. Dia wanita susah untuk peka.
"Mas?" Panggil Zara.
"Hm." Jawab Brian tidak melirik Zara.
"Kenapa sama kamu?" Tanya Zara lagi menatap Brian.
"Sakit." Jawab Brian begitu saja.
"Lah sakit sebelah mana mas?" Tanya Zara menyentuh bahu Brian.
"Nggak usah!" Brian menepiskan tangan Zara pelan.
__ADS_1
"Lho gimana sih mas katanya sakit, dipegang nggak mau dicek juga nggak mau. Terserah mas aja lah!" Kesal Zara yang kini memilih untuk menatap ke luar jendela.
Lah kok jadi aku yang salah?
***
Setelah sampai di rumah Zara. Agaist sudah menunggu mereka berdua dengan senang. Saat melihat Zara turun dari mobil lalu melirik ke arah kantong plastik, dengan lantang bersuara.
"Siniin kantongnya Ra." Ujar Agaist lalu mengambil kantung plastik itu ke dalam rumah.
Zara masih berdiri di luar melihat mobil Brian yang mau berputar. Zara langsung menghentikannya sebelum Brian pergi.
"Mas!" Teriak Zara dari luar mobil sayangnya Brian tidak mendengarnya dan membuat teriakkan Zara sia sia. Mobil Brian sudah jalan begitu saja keluar gerbang.
"Hiks..Mas Brian kenapa sich, udah dibeliin nasi goreng juga..hiks..." isak Zara pelan mengusap air matanya pedih sebelum masuk ke dalam rumah.
"Lho mana Brian?" Tanya Agaist yang sudah menyiapkan tiga piring saji.
"Dia pulang duluan ma." Jawab Zara duduk di kursi.
"Terus kenapa kamu nggak ngajak ke sini kamu beli tiga nasi gorengkan?" Tanya Agaist duduk.
"Ishh..nggak tahu mi dia tuh udah aku bilangin-"
"Bilangin apa?" Sambung orang di belakang kursi Agaist.
"Mas Brian?" Tanya Zara kaget dan bahagia. Brian hanya tersenyum. Mungkin dia ditakdirkan menjadi suami yang takut istri nantinya.
"Maaf yah tante mie ramennya kelupaan~"
"Ah! Makasih Brian..ayo duduk sini sini.." tawar Agist menepuk kursi di kursi yang berlawanan dengan Zara.
"Mama mau siapin mangkuk dulu yah..." pamit Agaist tahu membiarkan dua sejoli itu mengobrol dan dirinya akan menguping hehe...
"Kenapa mas tadi pergi sendiri?" Intimidasi Zara.
"Mas kira kamu udah masuk?" Mengedikkan bahu.
"Seneng banget buat orang nangis yah.." Zara.
"Lho kan mas cuman beli ramen sebentar di depan sana.." elak Brian.
"Kirain apa mas kenapa kesel sama Zara atau gimana." Sedih Zara.
"Yah awalnya sih cemburu aja kalau kamu deket sama si kasir nyebelin itu." Jujur Brian.
"Astaughfirullah mas..dia tuh suka sama mas bukan sama Zara." Zara mengaduhkan tangannya ke dahi lebarnya. Sementara Brian hanya bingung harus melakukan apa.
"Iya mas dia suka sama mas, apa mas nggak tahu kalau dia ngelirik mas mulu? Dan dia tuh akrab sama aku bukan akrab mau deketin Zara tapi dia tuh modus minta nomor ponsel Mas Brian. Dan terpaksa boong kalo nggak hafal nomornya."
Astaga berarti selama ini Brian salah paham dong? Gara gara si banci jadi cuekkin Zara? Lain kali Brian tidak mau lagi ke restaurant itu lagi kapok sudah.
"Hayhoo ramennya buat mama sama papa yah Ra?" Kekeh Agaist membawa tubuh suaminya.
"Ya udah sini mas, mas duduk sini aja sama aku." Pinta Zara dituruti Brian dan segera duduk di samping Zara.
"Jadi kayak satu keluarga.." ucap Firman yang duduk di kursi utama. Dan memakan ramennya lalu mengobrol sedikit dengan Brian soal pernikahan.
Keinginan Brian sih minggu depan tapi Zara menolaknya dan memilih lusa saja. Dan Agaist berpesan agar pernikahan diadakan besar besaran.
TBC
Jangan lupa like and comment yah?😄
__ADS_1
Bonus foto couple Zara X Brian: