Zara Mahesti

Zara Mahesti
Ep.25 Pulang


__ADS_3

Happy reading...


Pagi yang cerah dan harum makanan tercium oleh rangsangan yang Zara miliki. Sebuah kilauan cahaya Zara rasakan saat cahaya memasuki ruangan. Zara mendudukkan dirinya dan menatap sekitar. Ada Brian di sampinya. Namun kamar ini bukanlah milik Zara.


"Selamat pagi~" sapa Brian tersenyum mendekatkan wajahnya ke arah Zara. Mengecup pipi Zara pelan hingga membuat Zara tersenyum.


"Di mana mas?" Tanya Zara membuat Brian mengambil satu gelas susu strawberry kesukkaan Zara.


"Di rumah mas gimana? Ini rumah pertama mas yang mau ditempati kamu dan mas saat sudah menikah." Ucap Brian memberikan gelas kepada Zara.


Zara meminumnya dan mengangguk menjawab pernyataan yang Brian omongkan. Tidak sengaja perut Zara berbunyi meminta diisi. Dengan sigap Brian memberi sepiring roti selai pisang keju untuk Zara.


Kalau udah jadi suami istri sih aku malu yang masak suami hehe.


"Makasih mas." Uhar Zara sebelum menggigit roti itu sedikit. Brian hanya tersenyum lalu duduk di samping Zara.


"Gimana udah nggak capek?" Tanya Brian mengelus rambut Zara berkali-kali.


"Iya mas, udah sehat kok makasih yah..." Zara tersenyum sambil mengunyah dengan semangat roti di dalam mulutnya.


"Bagus, hari ini orang tua kamu pulang..." Kata Brian.


"Wah beneran mas?" Tanya Zara gembira.


"Iya, kemarin pas di market. Mas telfon sama orang tua kamu kalau kamu menginap di rumah mas. Dan mereka memberitahukan kalau mereka akan pulang hari ini." Jelas Brian membuat Zara mangguk-mangguk.


"Mau mas anterin?" Tawar Brian langsung mendapat jempol Zara sebelah kanan yang mengacung jelas di depan Brian.


"Siap-siapnya nggak usah kelamaan yah..." peringat Brian.


"Iya mas." Lesu Zara.


***


Di bandara sekarang cuacananya sangat dingin. Apalagi di bandara ada banyak pendingin membuat Zara menggigil. Beruntung Brian pengertian dan memeluk erat tubuh Zara hingga Zara nyaman berada di pelukkannya.


"Kapan sich datengnya. Lama banget?" Racau Zara tidak sabaran karena sudah lama sekali dia menanti sudah hampir setengah tahunan saja. Dan sebentar lagi Zara akan lulus.


"Sabar sayang... bentar lagi kok." Sabar Brian menghadapi Zara. Harus ekstra bersabar Brian menghadapi Zara.


"Ish lama... nanti beliin aku kopi panas yah mas," manjanya mendekat ke arah Brian semakin erat. Dan Brian hanya tersenyum mengelus punggung Zara pelan sebelum terdengar pengumuman di bandara.


"Tolong perhatiannya, Bapak dan Ibu. Para penumpang sudah berada di kompartemen kabin. Harap bagi yang menunggu silahkan jika tidak maka jangan berikan harapan palsu kepada para penumpang kami, terima kasih."


Kata seorang pramugari yang dengan langsung membuat semua orang terkekeh dibuatnya. Lalu disusul dengan bahasa inggrisnya yang fasih.


"Attention please, ladies and gentlemen. The passengers are already in the cabin compartment. Please those who wait please, if not, then don't give false hopes to our passengers, thank you."


Zara masih tetap saja terkekeh membuat tubuhnya berguncang di dada Brian.


"Lucu banget sich mbak pramugarinya... jadi pengin kenalan tahu!" Kekeh Zara membuat Brian ikutan tersenyum.


"Aaaaasssh! Zaraku sayangg~" teriakan itu melengking begitu saja membuat tubuh Zara merinding dan langsung bangkit berdiri mencari sumber suara.


Ternyata Agaist sudah keluar bersama Firman di belakangnya. Sedikit miris Firman membawa banyak koper di tangannya dan Agaist sama sekali tidak mebawa koper. Hanya membawa tas kecil miliknya.


"Mamii!!" Teriak Zara bergantian merentangkan tangannya ke arah maminya. Dengan sigap Firman menghentikkan aksi putrinya.


"Pa?" Tanya Zara kebingungan.


"Nggak usah kenceng-kenceng!" Peringat Firman melindungi istrinya.


Aelah papa nyebelin banget!


"Ya udah papa nggak daper pelukkan dari Zara cih!" Decih Zara membuat Brian menahan tawanya sejenak sebelum terharu dengan apa yang Zara lakukan.


"Mami! Zara kangen banget sama mami..." ungkap Zara memeluk maminya erat.


Lalu Agaist juga memeluk balik putrinya.


"Mami juga kangen banget sama anak mami yang manja..." jujur Agaist saat ini gemas dengan Zara.

__ADS_1


"Oh ya mi, kenapa ganjel yah?" Tanya Zara polos. Lalu Agaist tersenyum malu. Maksud dari 'ganjel' tuh Agaist lagi hamil.


"Udah jangan kelamaan. Kayak anak kecil aja. Di perut mamimu ada anak papi!" Walau Firman bermaksud memeluk Zara. Zara segera menjauh dan menarik maminya pergi dari Firman.


"Ayo mi, pergi aja biar yang bawain koper tuh pembantu mama." Sindir Zara karena kesal diduakkan oleh calon adikknya. Baru aja calin seneng banget gitu sampai zara diacuhkan?


Hm jangan biarin Zara musuhin adik Zara pi!


"Halo om..." sapa Brian.


"Oh haha Brian yah? Udah gede aja kamu?" Tawa Firman menepuk bahu Brian sebelum memeluk Brian.


"Heh! Itu laki Zara jangan diambil!" Sindir Zara lagi dan cukup membuat Firman tidak jadi memeluk Brian. Padahal dia hanya ingin memeluk bro and man saja bukan yang seperti Zara pikirkan.


Anak kurang ajar... awas papa sita semua atm mu mau ke mana kau?


"Ada Mas Brian yang punya seratus atm! Zara balikin kalau papa pelit!" Ucap Zara lagi.


"Kamu kalau udah ada backingan jago nyindir orang tua yah?!" Gemas Firman.


"Om." Panggil Brian.


"Ntar dulu... Zara oleh-olehnya dari papi mau nggak?! Katanya lamborgini?!" Teriak Firman terkekeh sumbang membuat Zara berdecak kesal.


"Om..." panggil Brian lagi.


"Bentar dulu Yan," Firman menyambut Zara yang mendekat menentengkan telapak tangannya. Meminta kunci lamborgininya.


"Mana?" Tanya Zara.


"Apa?" Firman mau mengerjai putri kecilnya saja ah.


"KUN CI MO BIL LOM BOR GI NI!" Eja Zara kesal.


"Haha nggak jadi. Papa belinya kunci mobil Veneno Roadster nih?" Firman mengeluarkan kunci mobilnya menatap jenaka ke arah Zara.


"Veneno tuh sama aja sama lamborgini pa!" Desak Zara ingin menggapainya namun Firman segera meninggikkan lagi kuncinya.


"Om.." panggil Brian.


"Ada apa Yan?" Tanya Firman terkekeh melirik Zara yang kesal.


"Om, izin nikah minggu depan yes?" Pinta Brian polos.


"Astaughfirullah Brian, om baru pulang dan kamu minta nikah sama Zara?" Tanya Firman menengadahkan kepalanya.


"Yes! Dapet kuncinya... makasih Mas Brian!" Dadah Zara menenteng kuncinya di atas.


Astaughfirullah ini anak sama menantu juga suka banget bikin orang tua emosi.


"Sabar pa, kita kan mau punya anak lagi!" Kekeh Agaist diangguki Firman.


"Iya bener. Udah lah biarin aja, ayo kita pulang." Kata Firman menyusul zara di depan.


***


"Brian kamu selalu jadi supir anak saya?" Kekeh Firman menatap jenaka Zara yang berada di depan, samping Brian.


"Bener om, tapi nggak masalah sih kalau berduaan," kekeh Brian mendapat amukan tangan Zara.


"Mau nikah kapan?" Tanya Firman.


"Secepatnya om. Udah saya lamar anak om secara romantis di kapal. Dan ini dia." Brian mengambil tangan kiri Zara dan memunculkan cincin di jari manis Zara. Zara yang malu hanya bisa berpura-pura.


"Hm, bagus Brian. Jadi calon anak om nanti ada yang nemenin." Unar Firman diangguki begitu saja oleh Brian.


"Oh, papa sama mama pergi ke luar negeri di Amerika cuman karena mau hamil lagi dan kasih Zara adek?" Zara menatap ke belakang dengan jelas mengintimidasi kedua orang tuanya.


Agaist dan Firman hanya nyengir tanpa dosa. Ditambah lagi Firman sedang mengekus perut Agaist yang sudah membuncit sedikit.


"Wah-wah gercep yah?" Kesak Zara.

__ADS_1


"Kan Zara mau nikah dan mami sama papi pasti bakalan kesepian!" Alasan Agaist diangguki Firman.


"Ya ya aku mah iya in aja buat yang mau jadi orang tua lagi:v"


"Sayang nggak boleh gitu dong..." peringat Brian.


"Ah! Mas Brian kan udah janji bakalan minum kopi dulu!!" Tiba-tiba keringat mulai menjalar di leher Brian. Astaga dia lupa itu.


Aha aha aha! Brian sedang diomelin Zara. Sial juga punya anak cerewet kayak dia. Tapi untunglah Brian akan membawa pergi nanti hehe...


Author: "Dasar laknat juga orang tuanya..."


"Ya ini, om tante kita ke kedai kopi dulu yah?" Bujuk Brian.


Saat mobil berhenti di depan kedai kopi langganan Zara. Mereka semua turun bergandengan tangan dengan pasangannya. Dan mereka duduk di satu meja bundar.


"Hm, kopinya anget yah mas?" Tanya Zara.


"Iya anget... kamu ndusel ke mas ya anget." Jawab Brian.


"Mwehehee!" Tawa Zara.


"Dasar udaha besar juga masih kayak anak kecil!" Sindir Firman.


"Ish pa! Biasanya juga Zara yang debat sama mami. Kenapa sekarang sama papa yang nyebelin sih?!" Tanya zara makin mengeratkan pelukkannya.


"Belum sah! Jangan deket-deket belum muhrim!" Sindir Firman tidak mengindahkan Zara.


"Biasa kalau mami hamil, ntra papi yang bereaksi." Ujar Agaist yang santuy-santuy saja meminum kopinya tersenyum.


"Hm! Dasar papi nyebelin banget kita musuhan aja." Kesal Zara kayak anak kecil.


"Udah yuk pulang." Bujuk Brian dianggukki semuanya.


***


"Mas pulang dulu yah yang?" Brian mengusap rambut Zara pelan.


"Ya hati-hati mas..." Brian emngangguk dan menjauhkan langkahnya.


"Yahh si backingan pergi! Katanya musuhan sama papa kenapa nggak nginep di tempatnya backingan?" Sindir Firman dari belakang membuat Zara menginjak bumi kesal.


"Hey bumi cinta kita kenapa kamu hentak-hentakkin?"


"Bodo!" Zara langsung masuk ke kamar.


Anakku lucu juga yah? Semoga calon anakku laki-laki jadi nggak pergi ke mana mana huft...


Sedangkan di dalam kamar, Zara terus terusan mengomel tiada henti sebab papanya yang nyebelin sesaat.


TBC


Like and comment jangan lupa yah...


See you tomorrow!!๐Ÿ˜‰


Ah iya, kalau ada yang nggak mudeng atau nggak paham bisa tanya kok.


Karena jujur mau buat sad ending tapi nggak jadi wkwk๐Ÿ˜‚


Aduh maaf-maaf...


Like and comment tinggali jejak.


Kalau ada yang mau promosi karya boleh kok!


Aku bakalan mampir tenang aja.


Sekalian bibirku ini pengin rasanya kritik saran.


Aku juga mau buka di sebelah tp nggak pd.

__ADS_1


Ikutin kisahnya terus yah...


Aku berharap banget jadi 100 eps lebih tp kayak nggak bisa๐Ÿ˜‚


__ADS_2