
Happy Reading ya readerss♡
Jangan lupa kasih jempolnya👍
Biar makin mantul bacanya🙇♀️🙇♂️
Oke thanks you all yang udah like + rate🙏
°~°
Zara Prov
"Argh..." keluhku saat aku merasakkan sebuah tangan menggenggam erat tanganku. Saat aku membuka mataku perlahan, aku terkejut melihat seorang pria yang sekali melihatnya langsung kenal siapa dia sebenarnya.
Kenapa dia ada di sini?
Lalu tanganku menggenggam erat tangannya di tengah-tengah kami.
Aku langsung bangkit duduk melepaskan genggamannya lalu menenangkan diri sebentar sebelum melihat ke arahnya lagi.
Wajahnya yang tenang membuatku menatapnya lekat-lekat dan juga merasa tenang. Wajahnya juga tampan, harus aku akui dia pria tua yang tampan.
Tak menunggu lama dia sedikit mengedipkan matanya sebelum aku bangkit berdiri dengan cepat dan berpura-pura menyibak tirai jendela.
Semoga saja dia tidak melihatku saat aku tadi menatapnya lama. Aku menghadapnya dengan bersidekap lalu berkata.
"Kenapa kau di sini dan tidur di sampingku, Brian?"
Dia bangkit duduk di ranjang sambil mengucek kedua matanya pelan sebelum mendongakkan kepalanya menghadapku.
"Hm?" Gumamnya menatapku dari atas sampai bawah lalu ke atas lagi melihat wajahku yang ganas. Kulihat dia nampak biasa-biasa saja.
"Anggaplah sebagai latihan," lanjutnya bangkit dari ranjang dan pergi begitu saja dari kamarku.
Astaga semalam bukankah aku berada di ruang tv? Kenapa tiba-tiba berada di ranjang dan bersama Brian pula.
Untung saat aku bangun aku masih sama dengan kemarin memakai kaos pelangi dan juga celana pendek berbahan kain semua warna pink.
"Baiklah Zara, kau harus tenang..." gumamku pelan mengatur nafas sebelum berjalan ke arah kamar mandi dan melakukan ritual mandiku.
Setelah 15 menit, aku sudah siap dengan pakaian informal lalu turun ke bawah untuk sarapan. Di sana sudah bertengger seorang pria yang lagi-lagi adalah Brian.
Mendengar suara langkah kakiku Brian menengok ke belakang dan menyuruhku ke sana untuk makan bersamanya. Bukankah dia bodygard kenapa ikutan makan di meja keluarga?
"Kau kenapa duduk di sini?" Tanyaku pelan semoga tak menyinggung perasaannya.
__ADS_1
"Nona, menurut anda siapa lagi yang boleh mengizinkan saya untuk duduk di sini kecuali ayah anda?" Ucapnya pelan sebelum meneruskan makannya yang mendahuluiku.
Aku hanya cuek dan memanyunkan bibirku ke depan, heh kenapa pagi-pagi harus bertengkar dengan pria ini?
Setelah selesai sarapan, seperti biasa Brian mengantarku ke kampus dengan selamat. Dan juga kedua sehabatku sudah menunggu di depan sana.
Aku berteriak memanggil mereka sambil tersenyum ke arah mereka. Namun sebelum aku sampai di sana.
Aku melihat seseorang yang telah membuat hatiku kosong. Kak Rey dasar laki-laki nggak peka seumur hidup aku benci padanya.
Dia tersenyum padaku dan berhenti sejenak menyuruhku ke sana. Tapi langkahku tak menghiraukan perintahnya dan lanjut berbalik ke arah kedua sehabatku yang setia menunggu.
Memang langkahku tepat sekali, hanya berjalan ke jalan yang benar dan menghindari segala apapun yang akan membuatnya hancur saja.
"Woi! Lu mau senyum-senyum terus?" Tanya Popi melirikku, aku tahu lirikan tugas. Aku tersenyum dan menyerahkan tugasku padanya.
Gigi yang melihat hanya geleng-geleng kepala mungkin kemarin dia belajar hingga tak perlu menyalin tugasnya lagi.
"Pop! Jangan lupa traktir gua sama Gigi lagi nanti yah!!" Teriakku dari belakangnya yang sedang lari-lari hendak menyalin tugas.
"Haha ya nanti easy men!" Balasnya yang tak kalah seru dariku hingga semuanya melihat kami lalu ikut tertawa dengan tingkah Popi. Aduh, Popiku sangat lucu.
"Oh ya kenapa sama nyokap lo Gi?" Tanyaku teringat kemarin mamanya Gigi terlihat khawatir saat memanggil nama Gigi.
Kulihat kantung mata Gigi tambah jelas. Apakah dia kemarin menangis tapi untunglah dia memakai kacamata jadi tidak terlalu terlihat jika jauh.
"huft... kau ini. Oh ya kau sudah punya ponsel baru uwihh keren tuh bisa dilipet-lipet!"
Gigi sedang mengganti topik?
"Nih, kau bisa melihatnya aku sedang ngambek padamu." Kataku bersidekap menyerahkan ponselku.
"Ya sudah kalau gitu ini aku bawa kaburr!!!" Gigi berlari kencang.
Sial aku memakai high heels!
"GIGIII!!!" Teriakku mengejarnya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Zara Prov End
"Tuan, Nona Clara terus menerus mengganggu saya tuan. Apa anda benar-benar tidak percaya padanya tuan?" Tanya Farhan hari-hati pada Brian yang saat ini serius dengan pekerjaannya.
"Kau tanya itu sungguh sudah berani sendirian di rumah ya?" Hei, Farhan berani bertanya itu karena melihat suasana hati Brian.
Lihat, saat Brian sampai di kantor banyak orang yang memandangnya bingung pasalnya dulu setiap kali ditanya sapa dia akan cuek kayak bebek tapi tadi pagi dia menjawab semua sapaan bawahannya.
__ADS_1
Farhan kira Brian saat ini sedang dalam suasana yang bagus. Dan Farhan bertanya Clara tepat waktu bukan? Tapi sekarang Farhan malah diancam dipecat.
"Tidak tuan, maksud saya..."
"Kalau memang anak yang dikandung Clara memang anakku... maka aku akan ingat kapan aku berhubungan dengannya. Karena aku tak pernah lupa aku masih perjaka, Farhan. Tolong kau panggil Juan ke sini dan kau cuti selama setahun."
Glek! Apa dia cuti setahun?!
***
"Ada apa kau memanggilku sobat?" Tanya seorang pria blesteran Asia dan Eropa. Kulitnya putih memiliki rambut pirang dan bermata hitam khas Asia.
"Kau akan menjadi asistenku sementara Juan," jawab Brian yang sama sekali tak memperdulikan kehadiran pria tampan tersebut.
Ohh, memang kalau di kantor Brian akan sangat rajin bekerja. Sampai-sampai sehabat oroknya ini dicuekki.
"Kau tahu aku tidak 100% bisa diandalkan," jujur saja Juan tak ingin berada dekat dengan si dingin Brian.
Dari kecil sampai besar Brian selalu saja seperti menganggapnya biasa saja.
"Terserah mau atau tidak," cuek Brian lagi-lagi hanya fokus pada kertas-kertas di atas mejanya.
"Huft... baiklah kau akan menggajiku berapa? Jangan kau samakan aku dengan si bodoh Farhan!" Baiklah biarkan Juan mengalah pada si lemari es ini untuk kali ini.
"100 juta per bulan," ucap Brian yang membuat mata Juan melebar sebulat-bulatnya mata bisa membulat.
"Deal!!" Seru Juan semangat entah berapa nol dibelakang angka satu. Dan ini termasuk pengorbanan Juan pada calon istrinya nanti.
"Oh calon istriku kau takkan makan nasi dan garam jika kita menikah huhu..." Juan bersemangat menelfon calon istrinya itu.
Sungguh bodoh di mata Brian. Juan bukankah anak orang kaya? Kenapa setelah menikah akan makan garam dan nasi?
TBC
Terima kasih telah memberi jempol👍
Dan kalau dibaca juga semoga terhibur👌
Juga ini udah aku revisi...
Semoga aja minim kesalahan oke doakan aku menurut kepercayaan masing-masing...🙏
Luv kalian readerss♡
Bonus Foto Juan:
__ADS_1