Zara Mahesti

Zara Mahesti
Ep.3 Bodygard Baru


__ADS_3

Happy Reading ya readerss♡


Jangan lupa kasih jempolnya👍


Biar makin mantul bacanya🙇‍♀️🙇‍♂️


Oke thanks you all yang udah like + rate🙏


°~°


(Zara Prov_3 Hari Kemudian)


Hari ini langit terlihat begitu cerah berbanding terbalik dengan suasana hatiku hari ini. Aku sedang duduk di bangku penumpang mobil yang disopirkan khusus oleh bodygard baru.


Bodygard yang lumayan menyebalkan, dia masih muda, tampan, dan juga tinggi. Kenapa semua pria tampan itu dingin?


Seperti saat ini aku hanya berdua dengannya. Dia yang hanya fokus dengan keadaan di depannya dan aku yang sibuk memandangi keluar jendela.


Biasanya juga kepala pelayan yang antar kenapa sekarang bodygard baru? Apakah dad yang mengirimnya untuk mengawasiku saat tidak ada mereka?


Entah sejak kapan aku tak tahu pasti kenapa bodygard ini mengikutiku. Sepertinya dad yang memberi titah untuk menjagaku 24 jam. Sampai aku masuk kamar pun dia duduk di sofa melihatku aman atau tidak.


Sungguh pria datar yang g*la. Aku sempat bertanya namun tak ada jawabannya yang terdengar logis. Aku akan coba bertanya satu kali lagi apakah akan berhasil atau tidak tergantung moody-nya.


"Hi cowok, namamu siapa?" Tanyaku hati-hati memandangnya dari belakang meminta jawabannya.


Matanya memancarkan ketajaman melalui spion mobil, aku yang tak sengaja melihatnya hanya memalingkan wajah melirik ke jendela samping.


"Brian Hamungkas, nona..." katanya pelan sambil mengangguk hormat menatap jalanan lagi.


Oh, Brian... aku harus memanggilnya Brian atau Mas Brian? Lagi pula sepertinya dia sedikit lebih tua dariku.


"Mm Brian atau Mas Brian?" Tanyaku bersender lalu mengambil hp di dalam tas.


"Terserah," cueknya terus menatap jalan sebelum dia memberhentikkannya tepat di depan universitas. Dia melirikku sekilas sebelum memberitahuku untuk segera turun dari mobil.


"Terima kasih Brian~" kataku tersenyum padanya dan apa yang ia tunjukkan padaku? Sebuah tatapan datar biasa saja. Sudah lah muak dengan wajah tripleknya.


"ZARAAA!!!" Sebuah teriakkan datang menghampiriku, Popi dan Gigi mereka memelukku erat sebelum mengajakku masuk ke dalam.


"Pelajaran Pak Bambang loh..." ujar Popi sambil menyunggingkan senyumannya menatapku penuh harap.


Dan seperti biasa aku berhenti melangkah sejenak sebelum membuka tas dan mengambil buku tugas.


"Nih," kataku memukul kepala Popi keras menggunakkan buku itu.


"Nggak ikhlas banget nih???" Tanyanya yang malah membuatku menyubit perutnya keras.


"Aduh!" Desisnya keras sebelum nyengir tanpa dosa berlari menuju kelas lebih dulu dari Gigi dan aku. Aku yang melihatnya dibuat tertawa pasalnya Popi meninggalkan pulpennya di sini bersama kami.


Gigi yang melihat tingkah Popi hanya bisa geleng-geleng lalu menempelkan tangannya di dada mengusap pelan memang harus sabar dengan sehabat bloon sebloon-bloonnya Popi.

__ADS_1


Selang bel pulang, seperti biasa Zara dan kedua sehabatnya pergi ke kantin terlebih dahulu untuk mengisi perut.


"Siapa yang traktir?" Seru Popi menatap kami berdua yang juga menatapnya penuh arti.


"Wah? Gue yah yang kedapetan mengtraktir?" Tanya Popi lesu dan lagi-lagi aku dan Gigi hanya mengangguk tersenyum


"Ya sudahlah aku bakal traktir kalian!" Sebelum Popi memanggil pelayan. Aku lebih dulu memanggil seseorang yang aku kenal.


"KAK REYY!!" Teriakkanku dapat memicu banyak bahan gibah mahasiswi lain. Namun seperti biasa aku tidak akan memperdulikannya.


Wah, Kak Rey ngapain tuh di kantin hehe?


Namun setelah memanggilnya keras pun dia tidak menjawab atau bahkan menengok sekedar ingin tahu siapa yang memanggil.


"Udah lah Ra, btw siapa yang tadi pagi nganter lo? Ganteng juga dia!" Popi mencoba mengganti suasana hatiku.


Tapi... aku melirik sekilas ke arah Kak Rey yang tiba-tiba dihampiri oleh Anggita.


Dia pasti bakalan modus sama Kak Rey! Dasar rubah betina. Kurang ajar beraninya berebut denganku? Zara Mahesti.


Yang merupakan putri dari keluarga terpandang, terkaya, dan terhormat?!


"Ra! Udah jangan dilihatin dia pasti cuman gengsi mau ngakuin cinta sama lo." Bisik Gigi menenangkanku.


"Siapa dia Ra?" Kepo Popi setelah aku memutuskan untuk fokus pada makan.


"Siapa?" Tanyaku.


"Oh dia? Bodygard baru." Aku menjawabnya cepat supaya mereka tidak salah paham.


"Owhh... kok bisa yah ganteng banget kayak gitu? Kalo dibuka pasti gagah bercetak roti." Pasti bayangan Popi udah ke ABS-nya si Brian kan.


"Brian tuh disuruh bokap gue buat jadi bodygard gue, kayaknya..."


"Ohh Brian namanya?" Tanya Popi kepo dan aku hanya menganggguk setuju.


"Buat gue Ra!" Tegas Popi.


"Nggak, bodygard gue nggak boleh pacaran!" Kekehku langsung membuat Popi cemberut.


"Elahh... lu mah! Ya udah gue sama Jojo aja!" Kesalnya BT terlihat dari raut wajahnya.


Aku dan Gigi hanya mampu tertawa bersama melihat betapa patah hatinya Popi tidak boleh berpacaran dengan bodygard baruku.


***


Setelah menunggu Brian sebentar akhirnya Brian datang juga kali ini menggunakan jas layaknya seorang pria kantoran.


"Lama banget," ujarku tertawa lalu memasukki mobil dan memintanya menjalankan mobil sesuai setandar saja.


Aku menempelkan keningku di kaca mobil dan membayangkan jika saat ini aku bersama dengan dad & mom. Pasti sangat menyenangkan bukan?

__ADS_1


Setelah sampai di rumah, Brian tiba-tiba mendekat lalu menatap mataku. Aku yang ditatap pun semakin gugup.


Kenapa Brian seperti ini. Kekurangan oli kah untuk bicara seperti orang normal. Bicara saja susah banget kayaknya.


"Apa... yang kau... lakukan?" Tanyaku terbata-bata. Hingga dia semakin mendekat ke arahku. Aku yang merasa sangat gugup akhirnya memalingkan wajahku darinya.


"Mau makan apa?"


Hah apa katanya tadi?


"Apa?" Tanyaku masih belum memahami situasi.


"Mau makan apa, aku akan memasakkannya untukmu," ujarnya berjalan menjauh ke dapur mengambil celemek bergambar hello kitty milikku dan membuka lemari es begitu saja.


"Ha?" Aku mendudukkan bokongku di kursi bar menatapnya heran, apakah lelaki ini bisa masak?


"Aku ingin spagetti bento pedas," ucapku tanpa sadar masih menatapnya tak percaya apa yang sedang Brian kenakkan saat ini.


"Tunggu 10 menit," kali ini aku hanya mengangguk memperhatikkan apa yang akan ia lakukan saat ini.


Brian mengambil semua bahan-bahannya seperti lidi spageti, saus tomat, saus sambal, merica bubuk, dan irisan daging.


Aku masih menatapnya kagum saat dia memasukkan mi-nya ke campuran bumbu-bumbu saus. Lalu dengan gerakan ala chef dia mengoseng mi-nya dengan ahli.


"Waw, kau pintar masak?" Tanyaku tiba-tiba menyebabkan Brian mengangguk tanpa melihat ke arahku dan hanya berdehem menjawabku.


Setelah selesai menaburi hiasan di mi, dia mengangkat piring itu lalu menyodorkannya di depan kepalaku.


"Bau yang harum," kataku menerima piring saji berisi spagetti itu.


"Bagaimana rasanya?" Tanyanya melepas celemeknya dan kebetulan setelah itu aku mengunyahnya pelan.


Astaga, ini benar-benar lezat. Dari mana datangnya pria ini. Kenapa bisa lelaki bisa memasak seperri chef ahli?


Batinku terus dilanda pertanyaan-pertanyaan atas nama Brian ini. Sungguh lelaki langka yang bisa memasak dengan status perfect seperti spagetti ini.


TBC


Terima kasih telah memberi jempol👍


Dan kalau dibaca juga semoga terhibur👌


Juga ini udah aku revisi...


Semoga aja minim kesalahan oke doakan aku menurut kepercayaan masing-masing...🙏


Luv kalian readerss♡


Bonus Foto Zara saat menanti Brian memasak:


__ADS_1


__ADS_2