
Happy Reading...
Part Sebelumnya
"Aaaah... mmmh... sssh!"
Begitulah yang terdengar dari luar. Aku risau jika Mas Brian sedang apa-apa dengan seseorang di dalam. Rasa takutku terus mengejar hingga aku memberanikan diri membuka pintu. Namun seseorang menahannya.
"Sayang?!"
"Ah Mas Brian... kenapa mas ada di luar, bukannya mas ada di dalam yah?" Tanya Zara mengerutkan alisnya. Beruntung bukan seperti yang Zara perkirakan tadi.
"Hah... mas barusan dari dapur ambil coffe ini. Mau nggak?" Tawar Brian menatap aneh Zara.
"Ada apa?" Tanya Brian lagi.
"Nggak mas... terus yang di dalem tuh siapa?" Tanya Zara ingin sekali membuka pintunya.
"Jangan dibuka yah sayang, nanti kita pasti lakuin juga. Udah yuk kita berangkat maafin tadi lama nunggu pasti?" Tebak Brian langsung diangguki Zara.
Jadi kalau bukan Mas Brian siapa?
"Mas." Panggil Zara saat di dalam lift. Dan Brian memandang mata Zara apa yang mau ditanyakan padanya seperti siap dia jawab.
"Siapa yang ada di ruangan mas tadi?" Tanya Zara mengambil coffenya mencicipi hangatnya kopi di dalam lift. Brian nampak seperti berpikir dua kali sebelum menjawab dengan benar jangan sampai Zara tahu kalau di ruangan itu ada dua sejoli yang melakukan hal itu di ruangan kosong.
"Siapa? Mm kayaknya Juan sekretaris baru aku dia tuh lagi sama istrinya dan pas sekali aku mencegahmu membuka pintunya." Jawab Brian berkeringat dingin. Sia-sia Brian menggaji makhluk halus itu. Jika Brian tidak memberi cuti satu tahun pada Farhan. Maka 10 juta tidak akan dia berikan begitu saja pada Juan.
Makan nasi sama garam apanya?! Malah mantep-mantep di kantor lagi!
Zara kembali bertanya saat pintu lift terbuka.
"Mas kenapa kantor mas ngijinin orang buat begitu sih?" Polos Zara membuat Brian kembali bingung ingin menjawab apa.
Awas saja Juan! Potong gaji bulan ini...
"Mm.. nanti aku jelasinnya yah, sekarang kita ke restaurant kan?" Alih-alih Zara tidak bertanya maka itu salah. Zara tetap ingin mendengarnya sekarang. Zara takut kalau Brian tahu seperti itu di kantor. Walau sebelum atau sesudah hubungan mereka di buat.
"Mas... aku pengin tahu apa kamu juga pernah begitu di kantor?" Tanya Zara menelisik sebuah kebohongan di manik mata Brian. Namun nihil dia tidak menemukkannya.
"Nggak, mas belum pernah. Maunya sama istri mas aja!" Jawaban seperti itu belum cukup memuaskan Zara. Pasalnya ekspresi yang ditunjukkan Brian agak aneh.
"Yang bener mas..." intimidasi Zara pada Brian yang tengah membukakan pintu mobil untuknya. Lalu Zara menjeda sebentar memasukki mobil sebelum Brian memutari mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Mas!" Desak Zara membuat Brian menghentikkan kakinya sebentar. Brian melirik Zara yang juga tengah meliriknya dengan raut wajah kepo.
"Nggak sayang, percayalah mas itu masih lajang. Kalaupun sudah menikah ya sama kamu aja yuk. Kamu mau malam pernikahan di kantor?" Kekeh Brian menjalankan mobilnya pelan menuju ke restaurant.
"Yah... bukannya nggak percaya sih mas, cuman mau tanya aja mas harus jawab jujur. Tadi aja pas mau buka pintu aku udah deg degan banget siapa tahu itu Mas Brian sama cewek lain kan berbabe mas." Jelas Zara.
"Iya-iya kita ke mana sayang?" Tanya Brian membuat Zara kembali tenang. Sekarang sudah tidak lagi memikirkan alasan.
"Ke mekdi mas?" Usul Zara membuat Brian menggeleng pelan tersenyum manis walau matanya tidak menatap Zara.
"Yahhh!" Kesal Zara.
"Kalau di perahau mau nggak?" Ajak Brian.
"Boleh tuh di mana?" Tanya Zara berbinar.
"Di hati kamu mau?" Kekeh Brian.
"Heh gombalannya kurangin dikit!" Ujar Zara.
"Kenapa emangnya nggak suka?" Tebak Brian.
Zara menggeleng pelan lalu berkata.
__ADS_1
"Kamu udah tua jangan banyak gombal mas."
Lalu Zara mendapat satu cubitan di pipi kanan dari Brian. Gemas melihat tawa Zara yang mengejeknya tua. Padahal hanya berjarak bisa dihitung jari saja sudah belagu anak muda anak muda...
***
"Waaah cantik banget mas perahunya." Ujar Zara.
"Cantikkan kamu kok..." Gombal Brian.
"Udah dibilangin jangan gombal masih saja gombal!" Dengus Zara kesal.
"Kenapa nggak suka?" Timpal Brian.
"Nggak, suka kok aku sama gombalannya hehe." Ucap Zara.
"Ya udah ayo pegangan tangan?" Brian mengulurkan tangannya.
Zara menerima uluran tangan tersebut dengan sangat bersemangat menaiki perahu dan duduk di bangku love yang di tata rapi. Ada beberapa pasangan lain yang juga sedang menikmati malam hari yang penuh lentera ini.
"Waah mas ada lenteranya yah?" Ujar Zara.
"Hm, sayang... kamu cantik," satu kata dari Brian mampu membuat hati Zara bergelisir hebat. Menatap ke arah Brian lekat dan tersenyum manis, semanis-manisnya.
Bayangan Brian:
"Kenapa sih kamu cantik banget?" Brian mencubit pipi Zara lagi.
"Ya mana aku tahu mas." Bahu Zara dinaikkan.
"Hm, tapi nggak papa hati mas masih bisa nampung kecantikkan kamu kok." Gombal Brian dia juga terkekeh pelan menyadari betapa gonbalnya dia hari ini.
"Hm.. ada beberapa dokumen yang harus dituntasin buat proyek sayang." Jawab Brian.
"Ohh, terus kenapa nggak di ruangan kamu?" Aduhh Zara bertanya seperti ini membuat Brian kembali berpikir apa lagi yang harus dia lakukkan untuk bersembunyi.
"Mas?" Panggil Zara.
"Yah, mas sih mau jujur aja sama kamu. Sebenarnya mas bukan manager... tapi presdir," lirih Brian membuat Zara harus mendekatkan dirinya lagi. Setelah mencerna Zara berekspresi oh ria saja.
"Lho kamu nggak marah?" Tanya Brian.
"Nggak, emang Zara udah tahu kalau Mas Brian tuh presdir perusahaan mas." Enteng Zara.
"Dari mana kamu tahu?" Tanya Brian kagum.
"Yah, sebenernya mau ngetes Mas Brian boongnya sampai kapan."
Waduh gaswat to the hell...
"Kan niatnya mau suprise..." jawab Brian.
"Ya udah ah males bahas bisnis di sini." Zara mengiris tipis daging steaknya. Lalu memandang ke sekitar. Semuanya pasangan.
"Gimana masih kelewat cantik?" Ujar Brian.
"Hm. Semua pasangan, mas cari di mana tempat ini?" Tanya Zara.
"Di mana yah? Juan yang berikan alamatnya." Jawab Brian.
"Oh..."
Setelah percakapan mereka, mereka hanya memperdulikan makanan. Sebelum Brian memecah keheningan dengan menggenggam tangan Zara yang memakai cincin tunangan mereka..
__ADS_1
"Sayang..." panggil Brian membuat Zara menatap manik Brian.
"Hm?" Jawab Zara.
"Bila kita menikah kamu harus percaya semua yang aku katakan yah. Jangan sekali-kali percaya orang lain. Meski kenyataannya seperti sungguhan. Tapi percayalah itu hanya tipu muslihat yang mereka gunakan untuk menghancurkan hubungan kita. Kamu harus percaya mas sepenuhnya." Ucap Brian panjang lebar kali tinggi dan alas.
"Bagaimana?" Lanjut Brian yang tidak mendapat jawaban apapun dari Zara.
"Mas tenang aja... aku bakalan percaya sama mas kok. Dan lagi siapapun itu jika ada kenyataan dan bukti. Pasti itu bukan mas. Jadi mas harus percaya juga dengan apa yang Zara lakukan." Jawab Zara membuat Brian menatap lekat manik Zara.
"Baiklah... hadapi bersama okey?" Bujuk Brian.
"Iya mas kamu terbaik." Kekeh Zara dan Brian tersenyum puas.
***
Setelah mereka menghabiskan makan malam romantis. Zara dan Brian sekarang berada di mobil bersama. Seperti tadi hening yang ada sebelum Zara mendekatkan diri kepada Brian sangat dekat. Memilih mengecup pipi Brian lembut sebelum dia balik lagi seperti tidak terjadi apa-apa.
Brian yang mendapat kecupan hanya bingung lalu memilih menghentikan mobilnya sekejap. Menatap ke manik Zara. Zara saja saat ini sudah berdegup keras tidak berani menatap Brian yang mendekatinya.
"Sayang, masa kamu cium-cium nggak mau tanggung jawab?" Tanya Brian di telinga Zara.
Stop di sini bagi yang masih kecil takut dosa kalo yang lagi puasa okey? Oh ya selamat berpuasa...🙏🙏
"Hm?" Jawab Zara menjauhkan wajahnya dari Brian hingga dekat dengan jendela mobil.
"Ya sudah kalau nggak mau." Putus Brian kembali ke tempatnya lagi.
Namun tiba-tiba dengan perasaan kaget Zara mengecup bibir Brian. Zara ingin melepaskannya tapi Brian menarik tengkuknya dan membuat lumatan-lumatan kecil di bibir Zara. Meminta Zara ikut berpartisipasi di dalam ciuman itu.
"Masss~ udahhan..." racau Zara sebelum Brian menampakkan senyumannya. Lalu Brian melepas ciumannya dan kembali ke tempatnya mengemudi menjalankan mobilnya.
Zara hanya bisa tersenyum malu dengan apa yang sudah brian lakukan kepadanya.
Setelah sampai di rumah. Brian membukakan pintu dan mengangkat tubuh Zara karena Zara sudah memejamkan matanya.
"Dasar anak kecil masih saja kecup-kecup orang dewasa." Desah Brian menggelengkan kepalanya berkali-kali sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
Bukan rumah Zara tapi rumah Brian. Nanti saja Brian akan menelfon Firman, ayah Zara. Brian menaiki tangga dengan gontai, dia juga lelah tapi ia akan usahakan Zara tepat di ranjang yang lembut.
"Hm.." Zara menggeliat sebelum memeluk Brian erat seperti guling.
Brian hendak membaringkan tubuh Zara, namun mendapatkan perilaku itu membuat Brian merona merah. Untung saja Zara sekarang sudah terpejam. Jika belum maka Zara akan tertawa melihat Brian merona merah seperti saat ini.
zara direbahkan di ranjang Brian. Karena sudah lelah Brian gontai dan bermaksud keluar karena mungkin Zara tidak mau tidur bersama dengannya.
Sebelum Brian keluar kamar, Brian menyelimuti tubuh Zara dan melepas sepatu Zara. Ingin Brian melepas dress Zara pula. Tapi takut nanti Zara akan mengkulitinya jadi tidak usah. Brian berjalan ke bawah karena mansion ini buatan Brian yang petama dengan hanya ada satu kamar di lantai dua dan satu kamar di lantai bawah.
Sebelum Brian berjalan ke kamar tamu. Brian ingin meminum susu dulu sebelum tidur. Rasa kantuk Brian hilang saat Brian tidak menemukan apapun di lemari esnya.
Astaga, aku lupa aku belum belanja untuk mansion ini... sial aku harus ke mini market depan sebentar.
"Halo jaga Zara dari jendela mansionku lantai atas dan juga depan manison kedua samping mansion dan belakang mansion. Lalu siapkan helikopter untuk penjagaan di atas atap."
Sebegitu ingin Zara aman Brian memerintahkan pengawalnya menjaga mansion ini dengan ketat hingga ke atap-atapnya.
Dengan begitu Brian bisa lega akhirnya Zara akan aman!
TBC
Karena khusus bulan Ramadhan maka aku akan minimin sedikit keintiman.
Lalu untuk itu aku akan buat yang Zara dan Brian berpuasa. Hehe...
Semoga kalian suka part selanjutnya yah.
__ADS_1
😘😘😘😘😘