
" Syaratnya hanya....
Daniel melepaskan ciuman panasnya. Dan menatap liliput imut di hadapannya, terlihat wajah imut itu merah merona.
" Iya apa katakan? Cepat berikan benda itu. Apa pun akan ku sanggupi ."
" Kamu ikut aku pergi ."
" Haah, pergi ? Kemana ?"
" Kemanapun, itu adalah syaratnya ."
" Haahhh......
Anne melongo. " Enak saja, nggak - nggak ." Sahutnya sambil berjalan mundur.
" Bukannya tadi kamu sendiri, yang bersedia menyanggupi apapun syarat yang ku ajukan ? Kenapa sekarang bilang nggak hm?" ujar Daniel dengan smirk di wajahnya.
Anne berdecak kesal. Sepertinya kesialan dia berkepanjangan.
" Berikan dul....
Drrttt....drrrtt...drrttt....
Ponsel yang di pegang Daniel bergetar, menghentikan ucapan Anne.
" Tuh kan bunyi, cepat berikan padaku." Anne menyambar benda pipih di tangan Daniel.
" Ya hallo....ouhh daddy "
" sekarang kamu berada di mana ?" Terdengar suara kesal daddy nya di seberang sana.
" Di pantai " jawab Anne sekenanya.
" Pantai apa, dan di daerah mana atau kamu sedang berada di negara mana Anne ?"
"Manly beach, Sidney ." Anne menghela nafas. Sementara Daniel memperhatikan setiap gerak gerik liliput di hadapannya.
" Kamu ini, di suruh pulang kerumah? malah ngeluyur ke mana - mana!"
__ADS_1
" Dari kemarin di rumah terus, kan bosan dad ." Anne manyun, mendengar ucapan daddy nya. "daddi juga aneh, sudah tahu aku ada di sini masih nanya. Lagi pula, daddy kan sudah blokir seluruh rekening aku, iya kan ? Jadi tidak usah khawatir. Aku kan tidak suka belanja juga, jadi uang daddy tidak akan berkurang."
" Sudah tau masih nanya, kamu ini anak perempuan, tapi kelakuan melebihi anak laki-laki, daddy dengar kamu menghajar orang sampai pingsan, apa itu benar?"
" Nah daddy sudah tau, masih tanya lagi. Dad, aku kan membela diri, dia yang mulai, daddy ini mengkhawatirkan anaknya, apa orang lain sih ?" Anne sedikit kesal, karena sepertinya daddy nya tidak khawatir sama sekali padanya.
" Hehh" terdengar desahan nafas daddy nya di seberang sana. " jadilah anak perempuan yang semestinya Anne, jangan barbar begitu, kamu ini buat mommy kamu khawatir saja!"
Sekarang Anne yang mendesah kesal.
"Kalau aku jadi perempuan lemah gemulai, semalam udah celaka kali, dad, jadi cuma mommy yang khawatir ? Daddy enggak?" Daniel yang berada tak jauh dari Anne menajamkan pendengarannya. " semalam, celaka ?". Daniel mengulang kata-kata Anne dalam hatinya.
" Ya sudah, salam buat mommy sama grandpa, aku mau nyari kerjaan, karena daddy udah gak mau nafkahin anaknya lagi, bye ."
Tuuttt
Anne mematikan panggilannya sepihak.
Anne berbalik, niatnya mau kembali ke hotel saja. Brukk....tubuh mungilnya nabrak pohon, Ehh bukan, badan orang. Anne mengelus kening dan dada nya bergantian.
" Apa liat-liat ." Dengan ketus dia melewati Daniel, yang tidak bergeming dari tempatnya berdiri.
♡♡♡♡♡
Daniel mengikuti langkah Anne dari kejauhan, entah apa yang ada di pikirannya.
Sesal kah ? Mungkin saja.
Dia merasa sangat senang saat berdekatan dengan gadis mungil itu. Tetapi......bukankah kemarin dia sendiri yang menolak gadis itu. Menolaknya dengan lantang, bahkan dia sempat mengejek Sean, saat saudaranya itu akan menggantikan perjodohan dirinya dengan Anne.
Debaran itu selalu datang, dari pertama dia melihatnya, rasa nyaman dan perlahan menjadi suka, padahal dia baru beberapa kali bertemu. Itupun bukan pertemuan yang mereka rencanakan, hanya pertemuan yang tidak di sengaja, tetapi selalu membuat mereka berdekatan satu sama lain, seperti sekarang ini.
Daniel melihat Anne memasuki sebuah kamar, ternyata bukan kamar mewah yang di tempatinya, hanya kamar biasa saja, untuk ukuran seorang Lazuardy. Daniel mengerutkan dahinya, teringat pembicaar Anne saat menelphone tadi 'rekeningnya di blokir semua'. Apa dia tidak memiliki uang, bathin Daniel heran.
Anne memasuki kamarnya dengan perasaan teramat sangat kesal dan bingung. Dia tidak memiliki uang, ada pun hanya cukup untuk beberapa hari saja.
Sepertinya memang harus mencari pekerjaan. Tapi kerja apa ? Boro - boro kerja, setiap kali mau ikut ke kantor, sama kakaknya selalu tidak di perbolehkan, apa lagi mencari pekerjaan di luaran.
Mereka selalu bilang, untuk apa bekerja, toh segala kebutuhannya selalu tercukupi.
__ADS_1
Anne membereskan pakaian nya, dia harus segera keluar dari hotel ini, uangnya tidak akan cukup kalau terlalu lama di sini. Walaupun kamar yang di pesannya, bukan kamar mewah, tapi dia harus betul-betul berhemat mulai sekarang.
Anne keluar dengan menyeret kopernya, sampai di depan lift, Anne di hadang arca hidup yang selalu mengganggunya sejak pagi tadi. "Mau kemana kamu, siapa yang mengijinkanmu keluar dari sini ?"
" Ck, bukan urusanmu, sebaiknya kamu minggir." Anne melewati Daniel.
Tapi kopernya terasa berat. Anne menoleh dan melihat Daniel menahan kopernya.
" Cepat kembali ke kamarmu ." Desis Daniel di telinganya.
" Tidak mau ."
" Dengar anak kecil, kamu bisa menempati kamar itu, sampai kapan pun yang kamu mau ." Anne mendelik, di panggil anak-anak oleh Daniel.
" Tidak, tidak mau, aku mau keluar saja ."
" Tch, dasar keras kepala ." Daniel dengan cepat mengangkat badan mungil Anne seperti karung beras, dan membawanya. Bukan kembali ke kamar yang Anne tempati, tapi Daniel membawanya ke kamar lain, yang lebih luas dan nampak mewah.
" Ini kamar siapa ?" Anne bertanya pada Daniel.
" Kamar kita "
" Haahhh " Anne melotot. Daniel hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh.
Daniel mendekati Anne.
Anne mundur menjauhi Daniel. " Mau apa ?"
" Menurutmu ? Kalau pria dan wanita tinggal dalam satu kamar, mereka melakukan apa ?"
Anne menautkan alisnya, dia terlihat sedang berpikir. Kemudian menggelengkan kepalanya.
" Benar-benar polos "
Anne menunduk, dan memperhatikan sekujur tubuhnya, polos dari mananya coba, pakaiannya masih melekat lengkap dari atas kebawah.
Daniel mengusap wajahnya kasar, sepertinya dia memang salah faham dengan liliput satu ini.
" Bagaimana bisa kamu keluyuran sendirian, dengan otakmu yang seperti itu ?"
__ADS_1
" Apaa ? Bicara dengan perempuan itu, sopan dikit napa ."