(Bukan) Pengantin Impian

(Bukan) Pengantin Impian
7


__ADS_3

Setelah hampir tengah malam, akhirnya Sean mengantarkan Anne ke kediaman keluarga Lazuardy.


" Kurasa ada mommy dan daddy menungguku di dalam, sebaiknya kamu pulang dan istirahat."


" Baiklah, aku akan datang besok pagi."


Sean mengecup pipi Anne dan mengusap rambutnya yang lembut.


" Hati-hati "


Anne menunggu sampai mobil yang di kendarai Sean menjauh. Dia segera memasuki rumah orang tuanya.


" Anne, kamu tau ini sudah jam berapa ?"


Terdengar suara bariton dari belakangnya. Anne langsung menoleh, dan menarik nafas berat.


" Iya dad " jawabnya singkat.


" Apa tidak bisa bersikap manis dan nurut, seperti saudara-saudaramu Anne ?"


Anne hanya tertunduk diam, menjawabpun percuma, yang ada semakin di ceramahin panjang lebar.


" Sudahlah sayang, ini sudah malam, biarkan dia istirahat." Anne tersenyum tipis, mommy nya memang pengertian banget.


Anne segera berlalu, tanpa menghiraukan ocehan daddy nya lagi. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Anne mengeluarkan ponselnya. Membuka akun media sosialnya dan memeriksa beberapa komentar di aplikasi instagram. Ada komentar dari kakak iparnya Dewa di postingan fotonya.


Tak lama di lihatnya, beberapa akun gosip yang memposting foto dirinya dan Sean beberapa hari lalu. Dan juga ada gosip si playboy yang sudah menolaknya. Antara kesal dan penasaran, akhirnya Anne melihat juga foto pria itu. Anne meng klik nama akun yang di tag akun gosip itu. @daniel_lhu, dan ada sebuah foto yang di unggah beberapa hari lalu di sana. " Tampan" bisiknya, dan jarinya tanpa sadar menekan gambar love.


             


" Aishh apa sih, mulut-mulut " ucapnya sambil memukul-mukul pelan bibirnya.


" Jangan terpesona jangan terpesona, dia itu playboy kampret " lanjutnya lagi. Anne menyimpan ponselnyanya di nakas, dan segera membaringkan tubuhnya, yang terasa lelah. " Tidurlah tidurlah tidurlah" gumamnya, memaksa sepasang matanya untuk terpejam, tapi sayang kantuk tak jua datang, akhirnya Anne hanya menatap langit-langit kamarnya yang temaram pikirannya melayang entah kemana.

__ADS_1


♡♡♡♡♡


Perbedaan waktu antara Jakarta dan New York, hampir dua belas jam. Di saat Anne berusaha untuk terus memejamkan matanya. Daniel justru berusaha mati-matian menyingkirkan bayangan dirinya yang membuat pria itu semakin frustasi.


Bukannya menghilang, tapi malah semakin terbayang. Semakin berusaha malah semakin tampak nyata. Akhirnya Daniel hanya terlentang memandang langit-langit ruangan kerjanya.


Mau keluar tapi moodnya sangat buruk, bahkan sekedar makan siang saja, dia sangat malas. Daniel mengeluarkan ponselnya, dan melihat beberapa notifikasi dari akun media sosial instagram, dia segera bangun dari acara tidurannya, saat di lihatnya ada sebuah akun yang menyukai postingan dirinya beberapa hari lalu. Akun dengan ID @anneL_laz menyukai fotonya beberapa menit lalu.


Ada perasaan bahagia di hatinya. Apaah ? Bahagia ?. Hellooo baang. Padahal dia hanya menyukai fotonya, tapi kenapa rasanya seperti ini. Daniel pun tak tahu. Dengan sigap jari-jarinya melihat akun tersebut, rasa kepo nya semakin menjadi.


Tidak banyak postingan di akun itu, foto  terakhir yang di unggahnya pun, hanya foto kakaknya, Andara Lazuardy, dengan caption 'ma lovely sister'. " Kenapa dia jarang unggah foto ".


Daniel melihat satu persatu unggahan Anne, hanya foto saat yoga, dan beberapa foto bersama temannya. Daniel memperhatikan wajah Anne dengan teliti.


     


" Hidung tak begitu mancung, badan mungil, dadapun biasa saja, wajahnya judes. Tidak ada yang menarik, tapi bikin gila ". (Hayoloh bang 😏, emang wanita yang menarik itu kudu cantik dan bohay bin sexy gtu 🙄)


Benar - benar seperti orang tidak punya pekerjaan pikirnya.


♡♡♡♡♡


Pagi-pagi Anne sudah mendengar keributan di dekatnya, ehh tunggu, dekat, Anne menajamkan pendengarannya, dan berusaha membuka matanya, yang terasa enggan untuk terbuka.


"Aunty, wake up, auntyyyy......" jeritan cempreng terdengar nyata dan jelas di genderang telinganya.


Anne langsung duduk, dan menoleh. Tampak Kai cengengesan di sebelahnya.


" Kenapa Kai teriak?"


" Tadi gak teriak, tapi aunty gak bangun-bangun " jawabnya polos.


" Jadi, ada apa bangunin aunty ?"

__ADS_1


" Ada uncle Sean di bawah "


" Biarkan saja, aunty mau tidur lagi, mommy Kai mana ?"


" Mommy mau buat dedek baby lagi sama daddy ". Mendengar jawaban dari keponakannya Anne melotot.


" Apaaahhh, Daddy ? Jadi daddy Kai ada di sini ?"


" Iya ." Senyum jahil terlihat di wajahnya.


" Kai, ke kamar mommy lagi sana, bilang di suruh grandma turun semua, cepat sana." Kai menurut, dan segera berlalu dari kamar Anne.


Tak lama terdengar suara gedoran di pintu kamar sebelah, dan tentu saja suara cempreng Kaivan yang memanggil mommy dan daddy nya, yang belum juga keluar dari kamar.


Anne terbahak mendengar suara teriakan Kaivan di sebelah kamarnya. " Lagian mau buat dedek aja, pake bilang-bilang, emang enak di gangguin."


Dia segera beranjak dari tempat tidurnya, dan memasuki kamar mandi. Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Anne keluar dari kamarnya.


Di depan kamarnya dia celingukan, mencari keponakannya, tapi sudah tidak terlihat lagi.


Anne menuruni tangga dan menuju ruang makan, tampak Sean sudah duduk manis di sana, sambil menikmati teh dan omelet kesukaannya.


" Morning mom, dad. Hai Sean." Sapanya dengan riang.


" Apa kakak belum bangun mom ?"


" Mereka baru saja pergi, kamu yang terakhir bangun "


Anne hanya ber 'oh' ria mendengar jawaban mommy nya.


" Jadi...semalam kalian pergi kemana saja ?"


Anne dan Sean saling tatap, tak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


__ADS_2