
Aku tau indahnya cinta
Aku tau sakitnya kecewa
Aku tau perihnya luka
Yang aku tak tau
Hatimu untuk siapa ?
▪Anne Lazuardy▪
" Tidak mungkin "
Daniel duduk di sofa yang tadi di tidurinya. Dia mendapatkan notifikasi dari akun @anneL_laz yang menyukai postingan dia, beberapa menit yang lalu. Daniel tersenyum bahagia bukan main.
"Apa ku DM saja ya? Tapi kalau tidak di balas bagaimana ? Tidak, tidak. Aku harus melupakannya, lupakan dia Dan lupakan." Dengan geram, Daniel meremas rambutmya sendiri, ingin rasanya dia berteriak, melepaskan segala beban yang menghimpit di dadanya.
Sementara Anne yang masih bingung dengan perubahan sikap Daniel, hanya bisa bertanya-tanya sendiri. Masa dia harus chat si mesum itu, dan menanyakan perubahan sikapnya ? No way.
Karena penasaran dengan sikap Daniel, Anne melihat-lihat akun Daniel, tanpa di nyana, pria itu baru saja mengunggah beberapa photo. Anne memperhatikan wajah tampan Daniel tanpa berkedip. "Orang ganteng mah bebas ya, pake apa aja tetep ganteng." Anne memperhatikan photo Daniel dan mengusapnya beberapa kali.
Anne memegang dadanya yang berdegup, setiap kali melihat atau berbicara dengan pria itu, rasanya lain.
Tapi Anne tak mau terbawa perasaan, dia masih takut, takut di tolak lagi seperti kemarin. Kan double sial namanya, kalau sampai kejadian lagi.
Biarlah rasa yang dia punya, di simpan dalam-dalam, dari pada di ungkapkan terus kecewa, Anne tidak siap untuk yang satu itu.
Mencintai dia dalam keheningan, mungkin itu lebih baik buat Anne. Maunya simbak sih begitu😌
Menjadi penggemar rahasia, mendo'akannya dalam diam, dan melihatnya hidup bahagia dari kejauhan. Harapannya lho.
"Kenapa harus dengan dia, kenapa bukan pria lain saja haaaaahhhh....." Anne berteriak dengan kesal. "Apa seperti ini rasanya jatuh cinta dan tak di anggap ? Yaa tuhan, maafkan aku." Rasanya Anne sangat frustasi.
•°•°•°•°•°•°•°•°•
__ADS_1
Sejak semalam Daniel tinggal di kantor, bahkan pakaian kerja saja, dia meminta asisten pribadinya, untuk mengambilkannya di rumah.
Sepanjang hari Daniel berkutat dengan pekerjaan, mencoba mencari pelarian dari masalah hatinya.
Daniel merutuki kebodohannya dulu. Dulu dengan percaya diri menolaknya, sekarang kelimpungan mengejarnya. Kalau bukan bodoh, apa coba.
Pukul tujuh malam, Daniel keluar dari kantornya dia sangat lapar, sedari siang dia tidak memakan apapun, hanya meminum kopi yang di sediakan asistennya.
Dia segera melajukan mobilnya, menuju restaurant tempat biasa dia dan teman-temannya makan. Tempatnya sangat ramai, mungkin karena masih agak sore.
Daniel segera masuk dan menempati salah satu meja kosong, yang menghadap pintu masuk resto, dan memesan beberapa menu makanan.
"Boleh aku duduk di sini." Tiba-tiba saja seorang perempuan berdiri di hadapannya.
"Zee. Ck bisakah kau tidak mengikutiku terus?" Ucap Daniel dengan kesal.
"Aku hanya ingin makan Dan, bukan mengikutimu," jawab Zee sedikit emosi.
"Kan masih banyak meja kosong, kenapa harus di sini?"
"Ahh sudahlah." Hampir saja selera makan Daniel lenyap. Akan tetapi sekilas dirinya melihat ke arah pintu restaurant, dan di sana terlihat jelas, Anne sedang mendorong kursi roda Sean. Mereka makan di sini juga, bathinnya.
Daniel menghela nafas berat beberapa kali. "Jangan membenciku Anne." rafalnya dalam hati.
Daniel mengulurkan tangannya, dan menyentuh tangan Zee. "Makanlah Zee, jangan bengong terus." Ucapnya dengan senyuman manisnya, dan suara yang lembut tapi terdengar jelas, sampai ke meja di belakangnya.
Anne yang menemani Sean makan di sana, mendengar dengan jelas, suara Daniel, diapun menoleh, dan mendapati pemandangan yang membuat jantungnya serasa mau lepas. "Daniel, dengan wanita itu." Anne berusaha menetralkan debaran di dadanya, sesak dan sangat sakit rasanya.
Walaupun dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan memendam perasaannya, tapi melihat secara langsung begini, hatinya sangat hancur.
"Aku mau ke toilet sebentar." Anne pamitan pada Sean, karena air matanya sudah bisa di tahan lagi. Dia berjalan dengan cepat, melewati meja yang di tempati Daniel dan Zee.
Daniel yang melihat Anne berjalan melewatinya, menatapnya dengan penuh tanya, apakah gadis itu menangis, sampai berjalanpun dalam keadaan tertunduk begitu.
Tapi biarlah, bukankah itu yang dia mau, supaya gadis itu menjauh dari dirinya, walaupun harus dengan cara menyakitinya.
__ADS_1
Anne menangis terisak, ternyata dia tak sekuat itu, hatinya tetap rapuh dan merasakan sakit, di saat melihat orang yang sudah mengisi kekosongan di hatinya, begitu mesra dengan wanita lain.
Anne berusaha sekuat tenaga, meredam tangisannya, dia tidak boleh larut dan terpuruk dalam kesakitan. "Ayolah Anne, dia bahkan hanya pernah mengatak rindu, bukan mengakui padamu kalau dia juga cinta." Anne tersenyum getir di sela isak tangisnya.
Setelah agak tenang, Anne segera keluar dan membersihkan wajahnya yang sembab. Anne kembali ke mejanya, sekilas di lihatnya, Daniel masih berada di sana dan masih duduk berdua, tertawa dan bercanda. Rasanya Anne ingin menghilang saja ke dalam tembok, dari pada harus jadi penonton drama percintaan seperti ini.
Sean menatapnya dengan heran "Kamu kenapa Anne?" Tanya nya.
Anne hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. "Ayo kita makan, dan segera pulang."
"Apa kau yakin tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja Sean, lihatlah" Anne berusaha bersikap senormal mungkin, dia tak mau kalau sampai Sean curiga. Walaupun selera makannya sudah hilang, Anne berusaha makan seperti biasa, sambil sesekali menjawab pertanyaan Sean.
"Apa kamu lelah ? Atau makanannya tidak enak?" Sean memperhatikan Anne yang duduk manis di hadapannya.
"Tidak tidak, semua makanan di sini enak. Apa kamu melihatku dengan jelas?" Tanya Anne, dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kalau dekat, masih terlihat." Anne menghela nafas lega.
"Mau ku pesankan makanan lainnya Sean?"
"Bukankah ini juga masih banyak, apa kamu masih kurang yaa?"
"Hehee...nggaklah, sudah cukup." Anne terkekeh mendengar ucapan Sean. Sesekali sudut matanya menoleh ke arah Daniel, yang masih duduk dengan tenang di sebelah mejanya.
"Anne" suara panggilan Sean menariknya dari lamunan.
"Iya ?"
"Kamu baik-baik saja kan?" Sean menyentuh lembut jemari Anne.
"Euhmm yaa, sangat baik"
"Andai kamu tahu Sean, aku juga sakit, sangat sakit." bathinnya.
__ADS_1