(Bukan) Pengantin Impian

(Bukan) Pengantin Impian
22


__ADS_3

"Euhmmppp.... Dhhaann...


Anne mengerang, merasakan sensasi yang berbeda, ada gelenyar aneh yang di rasakannya.


Daniel nyengir.


"Bisa tidak, jangan asal peluk, asal cium saja. Kamu sudah ambil ciuman pertamaku, kedua, ketiga. Kamu pikir aku ini apaan?"


"Tapi kamu menyukainya kan?"


"Haahh kamu bilang suka? Hellooo....kalau di cium mendadak begitu bukan suka, kaget iya."


"Oh, jadi lain kali kalau mau mencium kamu hatus kasih tahu duli, begitu kah?"


"Heumm" Anne mengangguk.


"Aku minta izin mencium kamu yaa?"


"Iya." Entah sadar, entah tidak, Anne meng'iyakan semua ucapan Daniel.


Daniel menangkup wajah mungil Anne, daaann.....menciumnya lagi.


Anne terbeliak kaget.


"Emmppfttt....


"Kan tadi udah izin dulu."


"Dasar gila."


"Orang gilanya ganteng ya?"


"Iyaa." Anne melotot ke arah Daniel "Ehh apaa, barusan ngomong apa?"


Daniel sampai terpingkal-pingkal, melihat Anne yang sepertinya bingung.


"Kamu tahu...? Rasanya senang sekali, bisa menjadi yang pertama." Daniel menatap Anne, dengan tatapan, yang tak bisa di artikannya. (Enenk lemot kalau urusan nganu bang)


"Ohh, jadi kamu senang yaa, jadi orang pertama di rumah, yang mengetahui penyakit Sean." Anne menatap Daniel dengan tatapan sendu.


Jgeerrrr...


Daniel sampai mengusap dadanya berulang kali. Sabar sabar sabar, rafalnya dalam hati.


"Pake seatbell nya."

__ADS_1


Daniel menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali dia melirik Anne yang fokus menatap gadjet di tangannya.


"Ekheemm" Daniel berusaha menarik perhatian Anne. "Apa isi gadjet itu begitu menarik ya, sampai fokus begitu."


"Ohh ini....melihat foto kemarin, waktu pergi bareng Sean." Anne menunjukan photonya pada Daniel.


"Heumm, apa kalian sering bepergian, maksudku....berlibur bersama atau lainnya?"


"Lumayan sering, tapi biasanya Sean hanya ikut  sebentar saja, dia kan banyak kerjaan".


"Pasti menyenangkan yaa"


"Yaa begitulah. Apa kamu belum pernah bepergian ke pedesaan atau perkampungan gitu?"


Daniel menggeleng. "Tidak pernah"


"Sayang sekali, padahal sangat menyenangkan, udaranya juga sangat segar." Anne tersenyum, sambil membayangkan suasana pedesaan yang asri. "Lain kali ikut ya, pasti kamu suka." Anne menatap Daniel dengan senyuman manisnya.


"Manisnya." Desis Daniel hampir tak terdengar.


"Heumm ? Ngomong apa barusan?"


"Hahaa tidak ada."


"Lho..lho..lho...kenapa kita ke sini, ini bukan jalan ke rumahku lho?"


"Iya sih" Anne nyengir kuda.


Mereka berdua mampir di salah satu restaurant cepat saji, dan memesan beberapa makanan. Lebih tepat Anne yang pesan makanan banyak, dia teramat sangat lapar. Selain lelah karena menempuh perjalanan jauh, dia juga lelah karena menangis terus 😩.


"Makanlah perlahan Anne, di kunyah, jangan langsung di telan." Daniel sampai harus mengucapkan kata-kata itu berulang kali. Anne sepertinya takut, kalau makanan di hadapannya akan di ambil orang. Biasanya anak gadis kalau makan suka jaga image, tapi ini liliput, kyak nya belum kenalan sama si jaim.


Selesai makan, mereka berdua kembali ke mobil. Daniel mengantar Anne pulang ke kediamannya.


Sampai di mansion keluarga Lazuardy. Demi menjaga sopan santun, Daniel turun dari mobil, dan mengantar Anne langsung ke dalam.


Walaupun hatinya dag dig dug seer, secara dia kan pernah menolak pertemuan penting dengan sesepuh Lazuardy, dan sekarang dia harus mengantar liliput imut ke sana.


Daniel di sambut nyonya Rosaline, wanita paruh baya, yang masih terlihat muda dan cantik, dan juga si cantik Linzy. Daniel hanya berdo'a semoga mereka tidak barbar seperti Anne. Gak kebayang kan, kalau perempuan-perempuan di keluarga Lazuardy seperti Anne semua, habislah Daniel.


Keringat dingin mulai terasa di punggung dan dada Daniel, sepertinya bulirannya gede-gede, Daniel sampai merasakannya menetes ke perut. 🤣


"Duduk dulu." Anne mempersilahkan Daniel dusuk di ruang tamu.


Daniel mengusap tengkuknya yang terasa sangat dingin.

__ADS_1


Tak lama Anne datang membawa nampan berisi minuman dingin, nampaknya segar, pikir Daniel.


"Silahkan di minum dulu." Nyonya Rosaline mempersilahkan Daniel minum.


"I iyaa tan." Daniel tergagap. Andai minuman itu sudah di campur arsenik atau sianida gitu, bisa mati muda dia, lhaa dia pan belum kawin, ehh nikah maksudnya kawin mah udah sering.😒


"Hallo ipar tidak jadi." Celetuk Linzy. Yang di balas pelototan sang mommy. Daniel meneguk ludahnya dengan seret. Sementara Anne......sepertinya dia rada ngantuk.


"Apa kamu sakit nak ? Kenapa sampai bercucuran keringat begitu." nyonya Rosaline bertanya pada Daniel, dia heran, padahal ruang tamunya berAC, dan suhunya rendah, tapi tamunya yang sebiji ini, masih saja bercucuran keringat.


Daniel hanya tersenyum kaku.


"Mungkin Daniel kelelahan mommy, tadi kan harus mengurus keperluan Sean." Anne yang pin pin bo menjawab ucapan mommy nya. Sambil matanya merem melek, nahan kantuk.


"Ouh iya, bagaimana keadaannya sekarang?"


"Belum sadar tan." Jawab Daniel, dia bersyukur, karena Anne membantunya menjawab pertanyaan nyonya Rosaline.


"Apa sudah boleh di jenguk Dan?"


"Boleh tan, hanya saja, yang boleh masuk terbatas. Paling satu orang saja."


"Minumlah dulu nak, kamu juga harus banyak istirahat, jangan sampai kelelahan. Sekarang kan cuma kamu yang membantu perusahaan kakekmu kan?"


Daniel mengangguk, mendengar ucapan nyonya Rosaline. Ada benarnya juga, sekarang Sean sakit, dia harus berjuang sendirian. Sedangkan kakeknya hanya memantau saja, dan pamannya juga hanya sesekali membantu, karena mempunyai usaha sendiri.


"Iya tan, terima kasih nasehatnya."


"Anne, kamu jangan tidur di sini." Terdengar suara Linzy berteriak. " Badanmu kecil, tapi sangat berat, cepat pindah ke kamarmu, sebelum kupindah dengan cara di seret."


Nyonya Rosaline menghela nafas. "Maaf, mereka memang begitu."


Anne langsung berdiri, dan berjalan sempoyongan, menaiki tangga. Rasanya Daniel ingin berlari saja, dan menggendong tubuh mungil yang kelelahan itu. Kaki dan tangannya sampai gatal.


"Tan, saya pamit pulang dulu..." Daniel akhirnya berpamitan.


"Hati-hati di jalan nak".


"Lin, saya balik dulu" pamitnya pada Linzy. Linzy hanya melambaikan tangannya.


Keluar dari mansion keluarga Lazuardy, Daniel menarik nafas dengan rakus, seolah di dalam kekurangan oksigen. Sampai beberapa penjaga dan maid, menatapnya terheran-heran.


"Baru berhadapan dengan tiga orang sudah begini, bagaimana kalau formasinya lengkap." gumamnya. "Bisa mati berdiri." Daniel bergidik ngeri.


Daniel menyentuh bibirnya, sambil tersenyum miring. "Bibirnya sangat manis, seperti wajahnya."

__ADS_1


"Apa aku boleh, mengambil sesuatu yang sudah ku tolak sebelumnya."


__ADS_2