
"Gak usah genit "
Teriakan nyaring Anne lagi-lagi membuat Daniel harus mengelus telinganya, yang berdenging.
"Yang genit ya siapa" ucapnya santai.
Anne mendelik tajam.
Tiba-tiba dari kejauhan datang seorang perempuan yang lumayan cantik. Yang langsung berlari ke arah Daniel, dan memeluknya.
Anne melotot melihat kelakuan perempuan tersebut. "Gak punya malu" pikirnya. Anne berlalu meninggalkan pasangan yang sedang berpelukan mirip telethubies itu, dia lebih semangat mencari sapi.
Melihat Anne berlalu Daniel segera mengurai pelukannya.
"Maaf Zee, aku harus menemani dia "
"Kenapa, kamu tidak kangen denganku ? Dan siapa anak kecil itu ?"
"Aku harus segera menyusulnya."
"Siapa dia Dan ?"
"Teman Sean "
"Teman Sean ? Atau buruanmu ?"
"Bukan urusanmu."
"Tentu saja menjadi urusanku Dan, semua orang tau, kita ini pasangan....yang serasi!"
"Serasi? serasa dirimu sedang berhalusinasi." Jawab Daniel pelan.
Daniel menghela nafas berat. Niat hati membuat liliputnya senang, ehh malah di ganggu silicon berjalan.
Daniel berlalu meninggalkan Zee. Wanita silicon adalah panggilan dari Sean untuk wanita tersebut.
__ADS_1
•
Anne yang kesal berjalan tak tentu arah. Dia menyusuri jalan setapak dekat padang rumput, di kejauhan nampak sapi - sapi dan domba masih berkeliaran.
Mungkin karena Australia sebagian daerahnya mirip gurun, jadi para peternak lebih mudah beternak sapi dan domba. Dan mereka melepaskannya begitu saja di hamparan rumput yang terbentang luas.
(Setiap peternakan, mempunyai lahan rumput sendiri-sendiri, jadi bukan di lepas sembarangan)
"Dasar laki-laki, gak bisa ya...kalau gak deket-deket wanita sebentar saja." Anne masih menggerutu kesal melihat tingkah laku Daniel.
Anne celingukan, saat tersadar dia sudah sangat jauh dari tempatnya tadi, meninggalkan Daniel. Anne mengusap tengkuknya, karena rasa kesalnya, dia sampai tak tahu tadi berjalan dari arah mana, dan tujuannya kemana
" *Aiih, kualat betulan ini ma*h....duhh, sekarang malah nyasar di padang savana, mana hari udah hampir gelap. Gegara playboy cap kampret, kalau mau ketemu pacarnya kenapa harus ngajak gue, udah aja atuh pergi sendirian, pan udah tahu gue jomblo. Dasar buaya gurun, kampret!"
Anne memutar balik arah tujuannya, kemanapun nanti akhirnya, yang penting jalan saja dulu, pikirnya begitu, dari pada diem, ye kan.
Kedua kakinya sampai kebas, di tambah tenggorokannya terasa kering kerontang, udah mirip savana di sebelahnya yang gersang, akan tetapi hatinya masih kalah gersang. 😌
Anne melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, sudah pukul tujuh belas lewat. Dia jadi teringat ucapan mommy nya, kalau bepergian harus bawa air minum katanya, sekarang Anne menyesal, karena suka malas bawa air minum. Bawa tas, tapi isinya cuma dompet sama handphone saja.
Apa mau nelphone si sapi juga ? 😒
Yang benar saja.
Samar-samar dari kejauhan, nampak seseorang berlari ke arahnya. Semakin lama semakin jelas terlihat, Daniel berlari menghampirinya. Entah Anne harus senang atau bagaimana, tapi rasa kesal di hatinya masih ada.
"Anne, kamu kemana saja, aku mencarimu kemana-mana ?" Anne hanya diam, bukan tak mau menjawab, tapi dia sedang menghemat energi, yang terkuras akibat nyasar sedari tadi.
Daniel yang masih ngos-ngosan menghampirinya dan memeluknya. Anne semakin lemas di buatnya, ini walang keke, sebentar-sebentar meluk perempuan se enak udelnya saja.
"Jangan pergi sendirian, bahaya." Hanya kata-kata itu yang terdengar jelas di telinga Anne. Lainnya masuk telinga kiri bablas keluar dari telinga kanan. Efek lelah dan lapar juga kehausan.
"Heumm."
"Aku khawatir Anne, dan jawabanmu hanya heum."
__ADS_1
"Aku bukan anak kecil, yang harus di khawatirkan, lagi pula kenapa harus repot - repot nyusul aku ke sini?"
"Sudahlah, ayo kita kesana, pasti kamu lapar kan!" Nah, kalau ini Anne mendengar dengan jelas. Ngajak makan kan 😏
"Ayo" jawabnya dengan antusias, tenaganya tiba-tiba saja bertambah, hanya dengan mendengar kata 'makanan'.
•
Pukul tujuh malam, Anne ikut berkumpul di ruang makan, entah siapa yang ada di sana, Anne masa bodo saja, toh Daniel juga tidak repot-repot memintanya berkenalan kan.
Yang Anne ingat hanya perempuan menor tadi sore saja, yang sekarang duduk manjah di hadapan mereka.
Daniel mengambilkan beberapa makanan untuk Anne, dan segala gerak geriknya di perhatikan seseorang di seberang mejanya, dengan tatapan tak suka.
"Dan, kamu tidak makan ? Dia kan bukan anak kecil yang harus di layani srperti itu!"" ketusnya, dengan tatapan mengintimidasi Anne.
"Ya, nanti" singkat padat, jawaban Daniel.
Dasarnya Anne yang acuh tak acuh, dia anteng saja dengan makanan di hadapannya. Yang penting perut kenyang, mau ngajak 'war' tunggu dia tuntaskan isi piringnya dulu, sekarang slow ajah dulu!"
Daniel melirik ke arah Anne, takut-takut kalau dia akan tersinggung dengan ucapan perempuan di hadapannya tadi. Tapi ke khawatirnya hilang, saat di lihatnya Anne seolah tak perduli dengan sekelilingnya.
"Kenapa lihat - lihat ? Aku cantik ya ?"
Daniel melongo mendengar ucapan Anne, kemudian senyumnya mengembang, dengan gemas Daniel mengacak rambut Anne.
Tau wanita di depannya menatapnya tak suka, Anne malah sengaja, semakin membuatnya murka.
Anne balas tersenyum manis pada Daniel.
Zee yang melihat pemandangan di depannya seperti itu, terlihat wajahnya merah padam. Zee menaruh sendok di tangannya dengan keras, dan segera meninggalkan meja makan.
Anne hanya melirik sekilas, dan kembali focus pada hidangan di hadapannya.
"Dasar gadis brengsek, masih kecil sudah bertingkah"
__ADS_1