
Setelah menemui dokter, Daniel kembali ke ruang rawat Sean. Dia tidak masuk, hanya berdiri di luar, menatap nanar pemandangan di dalam.
Cemburu ? Tidak, bukan saatnya memikirkan perasaannya, yang harus di pikirkan adalah kesembuhan saudaranya.
Derap sepatu orang-orang yang berjalan terdengar memenuhi lorong rumah sakit, semakin lama semakin mendekat.
" Dan, Daniel...
Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan beberapa orang lainnya, berlari menghampiri Daniel.
" Aunty ."
" Di mana Sean ?"
Daniel menggenggam jemari Mira, dan menuntunnya ke dalam ruang rawat Sean, Mira memekik tertahan.
Melihat putra semata wayangnya, tergolek lemah. Dengan beberapa peralatan medis terpasang di tubuhnya.
Mira berjalan, Perlahan tangannya mengelus pipi pucat Sean, air matanya meleleh tanpa bisa di tahan.
"Sayang bangunlah, ini mama nak"
Anne yang tertidur di sebelah Sean terbangun, dia mendengar suara tangisan Mira yang sangat pilu.
"Tante,...Sean....
Anne berdiri dan menghampiri Mira. "Maaf tante, maaf tidak memberi tahukan tante sebelumnya." suara Anne terdengar lirih.
"Bukan salahmu, tante yang salah, Sean sakit, tapi tante tidak pernah tau sama sekali. Ibu macam apa aku ini Anne." Suara tangisan Mira semakin memenuhi ruangan tersebut. Antara sedih dan kebingungan harus berbuat apa, Anne hanya terdiam, membiarkan tubuh kecilnya di peluk dan guncang-guncang Mira.
"Aunty, sebaiknya tenang dulu, kasihan Sean kalau aunty seperti ini terus." Daniel mendudukan aunty nya di sofa, dan menyodorkan air minum padanya.
Anne masih mematung di tempatnya, sesekali matanya melirik ke arah Daniel.
Rasa itu masih ada, rasa kesal entah rasa rindu, semua menjadi satu.
Anne menggelengkan kepalanya, sekarang yang dia inginkan hanya kesembuhan Sean saja. Anne berbalik dan menatap Sean yang masih betah tertidur lelap.
"Bukalah matamu Sean, jangan tidur terlalu lama. Kalau tidurmu lama, aku mau pergi sama Ken saja." Ocehnya tak jelas. Daniel yang mendengar kata-kata Anne, hanya menatapnya tanpa bersuara.
__ADS_1
"Bangunlah, kalau kau terbangun, aku akn mengabulkan semua permintaanmu padaku. Apa kau mendengarku Sean ? Bukalah matamu, kumohon." Isakan Anne kembali terdengar, walaupun pelan, tapi Daniel masih mendengarnya, dan melihat pundak gadis itu yang bergetar.
Daniel menghampiri Anne, hatinya terasa sangat sakit, melihat gadisnya menangis ketakutan, takut akan kehilangan.
Biarlah sekarang dia diam dan mengubur segalanya dalam-dalam. Daniel mengsugesti dirinya sendiri, sekarang ini yang harus di utamakan adalah kesembuhan Sean, bukan lagi perasaannya.
"Anne, aku akan mengantarmu pulang." Anne menggelengkan kepala. " Kalau dirimu seperti ini, yang ada ikutan sakit jadinya."
Anne mendesah pelan. "Kalau di rumah, tidak tenang juga."
"Tapi kau harus istirahat, jangan sampai nanti sakit." Daniel menangkup wajah mungil Anne, dan merapikan helaian rambutnya yang berantakan. Anne merasa dejavu dengan perlakuan Daniel padanya. Jika saja tidak ada insiden di peternakan, mungkin Anne melompat bahagia.
Tapi kejadian itu, masih terbayang jelas di matanya, bahkan suara Daniel masih terngiang di telinganya. "Aku tidak apa-apa". Anne menurunkan telapak tangan Daniel dari wajahnya. Dia tidak mau terbawa perasaan, dengan perlakuan manis Daniel.
Iya, Anne harus kuat, tidak boleh berharap seperti dulu lagi. Walaupun sakit, dia harus melawan rasa itu, biarlah....mungkin Daniel memang bukan jodohnya. Anggaplah dia hanya mengenalnya sebagai saudara sahabatnya, bukan calon tunangannya.
"Sayang" terdengar Mira memanggil, Anne sangat terkejut, dia sampai lupa, kalau di sana, bukan hanya dia dan Daniel saja, tapi ada Mira dan juga Sean. Anne menggaruk tengkuknya yang tidak gatal smaa sekali.
"Iya tante, apa tante butuh sesuatu?" Anne menatap Mira dengan senyuman yang di paksakan.
"Pulanglah dulu nak, biar tante di sini, nanti ada om sama kakek datang kesini, lagi pula, dokter tidak memperbolehkan kita terlalu banyak di dalam sini kan."
"Pulanglah, istirahat. Nanti kan bisa ke sini lagi, biar Daniel yang mengantarmu pulang."
Anne memejamkan mata, lelah.
Kenapa harus di antar Daniel, pikirnya.
"Anne minta di antar Ken saja tan."
"Anne, tadi Ken sudah pulang." Daniel menjawab dengan cepat.
Anne memijit keningnya sendiri, kenapa jadi seperti ini. Di saat mau menghindar, malah selalu berdekatan.
Sedangkan Daniel, yang sedari tadi menatap setiap gerak geriknya, kembali terdiam.
"Dan, kamu antar Anne pulang dulu ya." Perkataan Mira menyadarkan lamunan Anne.
"Iya aunty." Akhirnya Anne hanya bisa menurut.
__ADS_1
"Baiklah tante, Anne pulang dulu. Kalau ada perlu apa-apa, tante tlphone saja ya." Anne menghampiri Mira, dan mengecup kedua pipi wanita paruh baya tersebut.
Anne berjalan melewati Daniel tanpa sepatah katapun, dia sangat malas, berdekatan dengan pria itu. Danielpun hanya diam, dan berjalan mengikutinya.
Mereka berjalan menuju parkiran, sebelum betul-betul keluar Daniel menarik tangan Anne, dan menyeret gadis itu ke toilet. Anne yang bertubuh mungil, tidak bisa berbuat apapun. Dengan terseok-seok dia mengikuti langkah kaki Daniel.
"Cuci wajahmu dulu" bisik Daniel ditelinganya. Anne terkejut. Dan segera berjalan ke dalam toilet, dia memperhatikan dirinya di cermin besar. Pantaslah Daniel menyuruhnya cuci muka, lhaa wajahnya udah mirip korban KDRT. Mungkin laki-laki itu takut, takut di kira melakukan penganiayayaan. Anne tersenyum geli memikirkan hal itu.
"Ish, ayolah Anne, jangan memikirkan pria seperti itu, yang bisanya tebar pesona kemana-mana". Bathinnya.
"Aku tau, kamu memikirkan kesembuhan Sean sampai stres, tapi jangan senyum-senyum sendiri di depan kaca toilet umum. Kau membuatku takut." Anne melotot mendengar suara Daniel yang tiba-tiba ada di pintu masuk toilet wanita, dan secara tidak langsung, menyebutnya gila.
"Aku masih waras." Bentaknya.
"Yang bilang kamu tidak waras siapa?" Anne memutar bola mata jengah. Percuma berdebat dengan arca hidup satu ini, buang-buang energi. Kalau energen masih mending, bikin kenyang.
Daniel menghampiri Anne, yang masih setia, berkaca di toilet umum sambil mengikat rambut berantakannya tinggi-tinggi. Dengan cepat Daniel memeluknya dari belakang dan mencium leher Anne, bukan hanya mencium, tapi dia meninggalkan jejaknya di sana.
" Eunghh " tanpa sadar Anne melenguh. Daniel tersenyum, dan menariknya keluar dari toilet.
" Kau menyukainya ?"
" Apaa ?"
Daniel terbahak melihat wajah Anne yang merah merona, Dan menghindari tatapannya. Daniel mengenggam jemari lentik Anne dan membawanya keluar.
"Ck, parkir di mana sih, dari tadi jalan gak sampai juga." Anne menggerutu.
"Di depan." Jawabnya singkat. "sudah sampai, silahkan masuk tuan putri." Anne hanya mendelik tajam.
Mereka duduk bersebalahan. Canggung, itulah yang di rasakan Anne, sedangkan Daniel acuh saja, duduk di belakang kemudi.
Daniel masih terdiam.
Tanpa diduganya, Daniel menarik tengkuknya, mencium dan ******* bibir mungil miliknya.
"Euhmmppp.... Dhhaann...
Anne mengerang, merasakan sensasi yang berbeda, ada gelenyar aneh yang di rasakannya.
__ADS_1