(Bukan) Pengantin Impian

(Bukan) Pengantin Impian
3


__ADS_3

" Anne ? Dia sangat manis." Bathin Daniel.


Dia terlihat beberapa kali mencuri pandang pada Anne.


Mira tersenyum melihat tingkah keponakannya itu. " Ehmm Dan, bagaimana dengan pekerjaanmu?" Tanya Mira, sukses membuat Daniel terkejut.


" Lumayan lancar aunty " Daniel menjawab dengan datar. Dia masih berusaha menghilangkan rasa terkejutnya, saat ketahuan mencuri pandang ke arah Anne.


Bukan Anne namanya, kalau tidak acuh dan masa bodo. Walaupun tau, dia akan pura - pura tidak tahu saja. Gak penting, bathinnya.


Daniel segera menyudahi acara sarapan paginya, yang pagi ini suasananya cukup berbeda. Ada seseorang yang tanpa permisi dan tanpa notifikasi, tiba-tiba saja berada di sudut hatinya. Diapun berpamitan pada aunty dan juga sepupunya. sementara Anne hanya di lewatinya begitu saja. Bukan tidak sopan, tapi Daniel tidak tahan kalau terlalu lama dekat dengan gadis itu. Jantungnya terasa mau melompat keluar. Sepertinya Daniel mau ke dokter spesialis saja, demi menetralkan debaran di jantungnya yang semakin menjadi, dia takut kalau tiba - tiba dokter mendiagnosa mengidap penyakit jantung.


Anne yang melirik sekilas ke arah Daniel, mengerutkan dahinya, saat di lihatnya pria itu begitu intens menatapnya. Anne segera memutuskan kontak mata di antara mereka, dan menatap Sean yang tengah menikmati omelet buatan mamanya.


Hari yang sangat berat, itulah yang di rasakan Daniel. Entah kenapa, bayangan gadis yang menjadi teman sepupunya terus saja berputar di kepalanya, seperti gasing. " Anne " tanpa sadar dia menyebutkan sebuah nama. " Jangan-jangan, Gadis itu ? Apa Anne yang itu ?" Daniel menggelengkan kepalanya, sambil sesekali menjambak rambutnya.


Sepanjang hari Anne menemani Mira, mamanya Sean. Mereka menghabiskan waktu dengan berbelanja dan makan-makan. Mira sangat menyayangi Anne, sedari pertama dia mengenal Anne. Saat itu Sean dan Anne satu sekolahan, hanya beda kelas saja. Dan mereka berteman sampai sekarang.


Mira berharap, semoga Sean dan Anne berjodoh ☺.


Dan saat mengetahui ayah mertuanya hendak menjodohkan Daniel dan Anne, dia sangat kecewa, walaupun tak di ungkapkan. Semesta berbaik hati pada Mira, Daniel menolak mentah-mentah perjodohan itu.


Tetapi...dia tidak tahu menahu, tentang kedekatan Anne dan juga putranya.

__ADS_1


Sekarang Anne dan Mira berada di salah satu pusat perbelanjaan ibu kota, Plaza Indonesi*. Mereka sedang memilih pakaian di salah satu butik ternama di sana. Mira sangat antusias, dia memilihkan banyak pakaian untuk Anne, hadiah katanya.


" Udah tante, ini udah banyak banget."


" enggak sayang, ini bagus-bagus, cobalah " Mira menyuruh Anne untuk mencoba beberapa pakaian lagi.


Akhirnya Anne hanya bisa pasrah.


Puas berbelanja, merekapun mampir ke salah satu restoran cepat saji yang berada di sana. Sesekali makan junkfood tak jadi masalah kan, itu kata Mira.


Anne menurut saja, percuma menolak. Anne hafal betul sifat Mira, yang anti penolakan.


" Kita mau kemana lagi tan?" Anne bertanya pada Mira.


" Kamu mau kemana?" Mira malah balik bertanya pada Anne.


" Baiklah, kita langsung pulang. Yakin gak mau beli apa-apa lagi ?"


" No tan, ini sudah sangat banyak."


Mereka berjalan berdua, layaknya ibu dan putrinya. Sesekali terdengar suara tawa di antara mereka.


Banyak orang yang memandang takjub pada Anne dan Mira. Yang mereka sangka adalah ibu dan anak.

__ADS_1


♡♡♡♡♡


Waktu menunjukan pukul delapan malam, Anne berpamitan pada Mira. Walau dengan berat hati, akhirnya Mira mengizinkan Anne pulang.


Anne menolak halus saat Mira akan meminta sopir untuk mengantarnya pulang. Sedangkan Sean masih ada kerjaan di kantornya. Anne lebih suka pulang sendiri, dari pada merepotkan orang lain.


Saat keluar dari kediaman Luchester, tanpa sengaja Anne berpapasan dengan Daniel. Anne acuh tak acuh saja, malah dia pura-pura tidak melihat pria itu.


Dalam hatinya Anne berdo'a semoga pria itu tidak menyapanya.


Anne pura-pura mengutak atik ponsel, dan berjalan melewati Daniel.


Setelah melewati Daniel, Anne bernafas lega. Dan segera berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke arah gerbang. Anne sudah memesan taxi online tadi, dan sekarang sedang menunggunya di luar gerbang.


Tanpa Anne sadari, taxi yang dia tumpangi, di ikuti sebuah sedan mewah. Mobil tersebut mengikuti taxi yang membawa Anne sejak dari kediaman Luchester tadi, hingga sampai di depan mansion keluarga Lazuardy.


Mobil mewah tersebut berhenti agak jauh dari mobil di depannya, sang sopir menatap intens Anne yang baru saja keluar dari taxi, hingga si gadis memasuki gerbang mansion tersebut.


Dia masih setia memperhatikan punggung gadis itu dari kejauhan. Bahkan lambat laun bayangan gadis itu sudah tidak terlihat. Tetapi Daniel masih setia terpaku di tempatnya.


" Benar-benar gila, apa yang  kulakukan?" Daniel memukul stir mobilnya dengan kencang. Dia telah mengikuti seorang gadis, yang nota bene adalah teman saudaranya, yang kemarin dia tolak mentah-mentah.


Daniel menjabak kasar rambutnya sendiri, apa dirinya sudah gila. Ntahlah hanya dia dan author yang tau 😏

__ADS_1


" Apa benar dia putri bungsu Lazuardy ?" Bathinnya. " Tapi tidak seperti yang di beritakan media . Apa cuma berpura-pura saja ?!" Sejuta tanya memenuhi kepalanya.


" Kalau benar dia hanya berpura-pura demi mendekati Sean, kau akan kubuat menyesal anak kecil."


__ADS_2