
Tok..tok..tok....
Anne melompat dari pangkuan Daniel, dan matanya menatap tajam ke arah pintu.
Daniel dengan santai melepas kemeja serta kaus yang dia pakai, dan meletakannya, kemudian dia berlalu ke arah pintu.
Tok tok...
"Dan, apa kau ada di dalam?" Terdengar suara parau memanggil dari luar
Anne menatap Daniel dengan bingung, ahh sekarang dia baru menyesal, kenapa berlama-lama di dalam kamar pria mesum itu.
"Itu Sean," bisik Anne. Daniel menatapnya penuh selidik.
"Iya memang! Kamu ini, seperti istri yang ketahuan selingkuh saja." Jawabnya. "Iya, aku ganti pakaian sebentar." Daniel menjawab panggilan Sean.
"Oh, baiklah."Terdengar suara kursi roda menjauh dari pintu kamar.
"Aku harus pulang," Anne segera merapikan pakaiannya yang berantakan, dan menyisir rambutnya dengan jari-jari.
Belum sempat memegang knop pintu, tangannya sudah di sambar Daniel. "Ku antar pulang saja, sudah malam."
Anne hanya menghela nafas, tak ada salahnya menerima tawaran pria mesum ini. "Baiklah."
"Tunggulah di bawah, aku akan menemui Sean sebentar."
"Iya"
Anne segera berlalu meninggalkan Daniel.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tiga puluh lima menit.
Anne menunggu Daniel, yang katanya cuma sebentar, menemui Sean. Tapi sampai dia hampir lumutan, yang di tunggu tak juga turun.
"Sebentar apanya, ini sudah lewat setengah jam, kalau pulang udah nyampek rumah mungkin." Gerutunya.
"Maaf menunggu lama." Daniel menghampirinya dengan tatapan dingin. Anne kebingungan, ada apa dengan pria ini. Sebentar ramah, sebentar mesum, dan sekarang seperti kulkas empat pintu, Dingin dan datar.
Anne mengikuti langkah Daniel dalam diam.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sayu menatap kepergian mereka, dari balik jendela kamar. "Maaf, maaf kalau aku egois." Gumamnya sambil menatap kepergian sepasang manusia si bawah sana.
Sepanjang perjalanan hanya kesunyian yang menemani mereka.
__ADS_1
Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit berkendara, Daniel sudah berada di kediaman Lazuardy, seperti kebiasaannya, dia akan turun dan langsung mengantar gadis itu ke dalam rumah.
Tetapi yang membuat Anne bertanya-tanya adalah sikapnya yang mendadak berubah, beberapa kali Anne melirik ke arah Daniel, ingin bertanya, tapi dia merasa sungkan. Akhirnya sama-sama terdiam.
Setelah berbincang dengan tuan Evander dan istrinya, Daniel berpamitan pulang. Walaupun Anne mengantarnya sampai depan pintu, tapi sikap dinginnya tak jua mencair.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang, maaf jadi merepotkan." Anne melirik Daniel, berharap pria tersebut tak mendiamkan dirinya seperti ini.
"Iya, tak apa."Singkat padat.
Anne menghela nafas kasar, salah dia apa, sampai pria itu berubah dalam sekejap saja.
•°•°•°•°•°•°••°•°•
Daniel menatap pantulan tubuh mungil Anne dari kaca mobilnya. "Maafkan aku." Desisnya.
Flash back on
Daniel memasuki kamar Sean, di lihatnya Sean duduk di atas kursi rodanya, di temani Mira, mamanya.
"Aunty, Sean"
"Hai bro, akhirnya kau kembali."
Daniel tersenyum melihat saudaranya sudah kembali banyak bicara.
"Kalian ngobrolah dulu, mama ke bawah sebentar yaa, Dan tolong temani Sean sebentar ya."
"Iya aunty"
"Maaf kemarin tidak ikut menjemputmu."
"Tak apa, ada orang tuaku yang menjemput, dan juga Anne dan Ken."
"Jadi..mereka ikut menjemputmu?"
"Ya, Anne hampir setiap hari mengunjungiku, kau tahu...aku sangat senang, dia selalu mwnwmaniku. Walaupun banyak kegiatan, dia akan menyempatkan diri m2ngunjungiku."
Daniel menatap wajah bahagia Sean dengan perasaan nano-nano.
"Syukurlah, berarti mereka sahabat terbaikmu, yang tidak pergi saat kau susah."
"yaa bisa jadi. Kalau boleh aku berharap, semoga dia tak hanya menganggapku sahabatnya saja." Sean menatap photo-photo dirinya di atas nakas, di sana juga ada beberapa photo Anne." Dia sangat manis bukan ?"
Degg
Daniel memalingkan wajahnya, menyembunyikan rasa kagetnya, yang bisa saja akan terlihat oleh Sean. Walaupun dia sudah menduga dari sebelumnya, kalau Sean.menyimpan rasa pada Anne melebihi sahabat.
__ADS_1
"Aku mau keluar sebentar, apa kau mau pindah ke atas tempat tidur?"
"Tidak. Nanti saja, kalau mau pergi, pergilah."
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu." Daniel menepuk pelan bahu Sean, dan meninggalkan kamar tersebut.
Flash back of
"Apa yang harus aku lakukan ? Mengalah demi Sean, atau berlaku egois?" Daniel menjabak rambutnya sendiri, dia sangat frustasi.
'Ting'
Notifikasi di smartphone nya berbunyi. Daniel memeriksanya, chat dari Zee rupanya, dengan malas Daniel melemparkan benda pipih tersebut ke bangku penumpang.
Daniel hanya berkeliling dengan mobilnya, tanpa arah dan tujuan. Setelah berputar-putar tanpa arah, akhirnya dia memutuskan pergi ke kantornya saja.
Security guard di kantornya sampai heran, malam-malam begini boss mereka datang ke kantor, dalam keadaan lesu dan kuyu. Udah kyak suami yang di usir istri saja, mungkin begitu pikirannya mereka. Ehh tapi boss mereka kan jomblo.
Daniel merebahkan tubuhnya di atas sofa, dia hanya menatap nyalang langit-langit kantornya.
"Anne, maafkan aku. Semoga kamu tidak semakin membenciku kelak. Kau tahu, aku sangat merindukanmu, sangat." Tanpa terasa air matanya meleleh.
Dulu dengan bodohnya dia menolak perjodohannya dengan Anne, tapi sekarang....dia yang blingsatan mengejar-ngejar gadis itu, dan setelah berada dalam jangkauannya, harus kah dia melepaskannya lagi ? Atau berlaku egois, dengan tidak mempedulikan perasaan orang lain?.
Daniel mengeluarkan smartphone nya, dan melihat-lihat media online. Lagi-lagi, yang di lihatnya adalah gadis manis itu, yang selalu menjadi santapan para pemilik akun gosip.
Ada beberapa akun gosip yang mengatakan kalau gadis itu tukang clubing, ada juga yang mengatakan tukang foya-foya dan lain sebagainya, tapi ada juga beberapa akun yang membelanya.
"Kenapa banyak sekali yang penasaran denganmu hmm." Gumamnya.
Drrtt...drrttt... benda pipih yang di genggamnya bergetar, dan nama Zee terpampang di sana. Dengan malas Daniel menjawab panggilan tersebut.
Daniel hanya menjawab 'oh, ya' dan kata-kata singkat lainnya, kalau boleh jujur, Daniel sangat berharap mendapat chat dari orang yang teramat dia rindukan.
Tapi apalah daya, realita tak seindah khayalannya.
Selesai menerima panggilan dari Zee, Daniel kembali berkutat dengan media sosialnya, walaupun dia sangat sibuk, tapi dia narsis dan up to date.
Akhirnya dia mengunggah beberapa photo dirinya, ada juga yang bersama teman-temannya.
Mungkin dengan begini, dia bisa melupakan kegundahan hatinya sejenak.
'Ting'
Beberapa notifikasi kembali masuk di akun medsosnya, dengan malas-malasan Daniel memeriksanya. Daniel melonjak bangun dari sofa.
" Tidak mungkin "
__ADS_1