(Bukan) Pengantin Impian

(Bukan) Pengantin Impian
4


__ADS_3

" Kalau benar dia hanya berpura-pura demi mendekati Sean, kau akan kubuat menyesal anak kecil ".


Setelah mengikuti Anne diam-diam, Daniel memutar balik kendaraannya, dan kembali ke kediaman Luchester.


Saat memasuki rumah, Daniel tanpa sengaja melihat Sean yang sedang meremas bungkusan plastik, sekilas tulisan di plastik terlihat seperti logo sebuah rumah sakit. Daniel mengerutkan keningnya, ingin bertanya, tapi hatinya ragu. Akhirnya dia segera berlalu meninggalkan sepupunya itu.


Malam semakin larut, bukan kantuk yang menghampirinya, tetapi yang datang malah bayang-bayang Anne dan suara tawanya yang riang. "Dasar setan kecil, kenapa tak mau pergi " desis Daniel frustasi.



Di sebuah kamar nampak terbaring seorang gadis manis, yang hanya mengenakan kaos oblong kebesaran. Dia terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya.


" Heeehh nasib-nasib, udah mah jomblo sejak lahir, baru mau dapat pasangan, ehh di tolak duluan." Gumamnya sambil menghela nafas kasar. Anne segera bangun dari acara telentangnya dan memperhatikan sepasang cicak yang kejar-kejaran, kemudian beralih ke arah cermin besar, dekat meja rias.


" Wajah udah cantik, walaupun tidak secantik kak Linzy, body udah mulus, duit yaa banyak. Walaupun daddy yang punya. Masih teteup di tolak." Lanjutnya dengan wajah yang di buat memelas. " Cicak aja berpasangan, lha gue....melas amat."


" Gak mungkin kan, kalau gue jadi cicak, biar dapat pasangan. Nganan gue liatin kalian pacaran cak."


Anne kembali manaiki tempat tidurnya, mengambil guling untuk di jadikan bantal, dan bantal menjadi guling, serta menutupi badannya dengan selimut. " waktunya bobok syantiieeekkk."


♡♡♡♡♡

__ADS_1


Mentari pagi datang menghampiri, sinarnya menelusup melewati celah jendela, membuat sepasang mata cantik itu mengerjap perlahan.


" Udah pagi aja, perasaan baru aja merem " ucap si gadis, tanganya menyibak selimut yang kini hanya menutupi kakinya saja.


" Waktunya mandi, dandan yang cantik, dan..... apa lagi yaa."


" Mengunjungi kantor Sean, mendatangi tempat praktek Ken, atau tidur lagi ?"


Jomblo mah bebas



Sementara Daniel yang nampak terlihat sudah rapi dan tampan tentunya, segera keluar dari kamarnya dan menuruni tangga, menuju ruang makan.


Daniel menyapa kakek dan juga aunty nya, dia kemudian duduk bersebelahan dengan Sean. " Semalam aku melihatmu memegang bungkusan berlogo RS Sean, apa kamu sakit ?" Ucap Daniel pelann.


Sean hanya menoleh sekilas pada saudaranya, dan menggeleng acuh tak acuh. Daniel yang melihat Sean seperti itu, hanya mengangkat sebelah alisnya, dan memulai acara sarapan paginya.


Pikirannya kembali melayang, pada sosok yang kemarin menemani mereka sarapan. Di kepalanya di penuhi tanda tanya, yang tak bisa dia ungkapkan. Ingin bertanya, tetapi gengsinya melarang untuk berucap. Akhirnya dia hanya menghela nafas kasar.


segala tingkah dan ekspresinya tak luput dari penglihatan sepasang mata tua, yang sedari tadi memperhatikannya.

__ADS_1


♡♡♡♡♡


Moodnya yang sudah anjlok, membuat Daniel semakin menjadi, sepanjang hari dia hanya marah-marah tak jelas, dan jadi suka membesar-besarkan masalah yang sebetulnya hanya sepele saja. Bahkan Sean sendiri sampai angkat tangan saat melihat saudara seperti itu. " Mungkin lagi PMS " begitu kata Sean, ketika beberqpq bawahan mereka bertanya tentang oerubahan sikap Daniel yang mendadak.


Jarum jam sudah menunjukan ke arah angka lima, Sean pulang terlebih dahulu, dengan alasan sangat lelah. Daniel berpikir mungkin Sean akan menemui gadis yang kemarin.


Pukul tujuh malam Daniel keluar dari kantornya, dan segera meminta sopirnya untuk mengantarkan dia ke salah satu restaurant di bilangan Jakarta Pusat.


Daniel menuju restaurant Bar at The Rooftop & ROC* Restaurant, dia ada janji dengan salah satu teman wanitanya di sana.


Saat dia berjalan dan hendak memasuki raestaurant, tanpa sengaja dia menabrak anak kecil, ehhh bukan, gadis kecil manis yang beberapa hari ini berkeliling manjah di otaknya. Sampai membuatnya tak enak makan, tak nyenyak tidur. (Lebay amat siabang🙄)


" Kamu, kamu sedang apa di sini." Pertanyaan terbodoh yang pernah keluar dari mulut seorang Daniel.


Gadis di hadapannya hanya memutar bola mata malas.


" Ck, ini kan tempat makan umum, memang kenapa kalau aku ada disini? Lagian kalau jalan itu pake mata, jangan asal nyelonong aja, mentang-mentang punya badan keker gede, gak menghargai yang kecil." Setan imut di hadapan Daniel terus saja nyerocos, panjang lebar.


Debaran itu kembali terjadi, Daniel sampai merasa takut, jangan-jangan dia memang mengidap sakit jantung akut.


" Ni manusia, kenapa jadi patung batu begini ? Tolong minggir yaa, jangan menghalangi jalan, kyak arca aja." Tubuh tegap Daniel di dorong sepasang tangan mungil supaya minggir. Daniel yang merasa dadanya ada yang menyentuh, segera tersadar dan memandang sepasang tangan cantik yang kini memegang dadanya.

__ADS_1


Bukan hanya debarannya yang semakin menjadi, kini badannya pun semakin kaku, jangankan menggeser kakinya, sekedar menjawab ocehan liliput di hadapannyapun dia tidak bisa.


" Jantungku semakin parah saja rasa - rasanya" bathinnya.


__ADS_2