(Bukan) Pengantin Impian

(Bukan) Pengantin Impian
26


__ADS_3

"Andai kamu tahu Sean, aku juga sakit " bathinnya


Anne cepat-cepat menyelesaikan acara makan malamnya, dia ingin segera pergi dari sana, dari pada hatinya bertambah sakit.


"Tidak mau pesan makanan lainnya Anne?" Tanya Sean.


"Tidak, ini sudah malam, kita harus segera pulang."


"Andai aku tidak begini, mungkin kita masih bisa pergi jalan-jalan ya." Anne menatap wajah Sean yang sendu.


"Kita bisa pergi jalan-jalan lain kali, sebaiknya sekarang kita pulang."


"Baiklah"


Setelah membayar bill, Anne segera membawa Sean keluar dari restaurant, sekuat hati dia berusaha, untuk tidak melirik ke arah Daniel.


Walaupun hatinya tidak yakin, tapi dia akan berusaha melupakan pria itu. "Mungkin kita memang tidak berjodoh." Rafal Anne dalam hatinya.


Anne menghela nafas panjang, dan tersenyum manis.


Sementara Daniel hanya sekilas melirik kepergian Anne dan Sean, sakit dan kecewa, itulah yang dia rasakan. Tapi mau bagaimana lagi, hanya inilah jalan yang dia anggap terbaik.


"Dan, nanti temani aku ke club ya" ucapan Zee menyadarkan Daniel dari lamunannya.


"Maaf Zee, aku tidak bisa. Saudaraku sedang sakit, aku harus segera pulang."


"Ayolah Dan, sebentar saja."


"Aku bilang tidak, ya tidak"


Daniel memanggil pelayan dan meminta bill, setelah membayarnya dia berlalu meninggalkan Zee sendirian.


"Dasar aneh, sebentar lembut, sebentar ketus" Oceh Zee.


Daniel tidak mempedulikan ocehan Zee, dia segera berjalan meninggalkan restaurant itu.


Yaa Daniel memilih pulang, dari pada menambah masalah di hidupnya, yang sudah membuatnya kelimpungan.


Sesampainya di mansion keluarganya Daniel langsung memasuki kamar Sean, dia melihat saudaranya sedang meminum beberapa obat, Daniel menghampirinya dan duduk di dekatnya.


"Kau baru pulang Dan?"


"Iya, bagaimana  keadaanmu?"


"Beginilah, pandanganku kabur, tadi aku seperti mendengar suaramu, saat makan di restaurant, apa kau juga di sana?"


Deg


Daniel sangat kaget mendengarnya, jadi sedari tadi saat di restaurant, Sean tidak melirik sama sekali ke arahnya, karena pandangannya yang mulai tak jelas.


Daniel menyodorkan air minum pada Sean. Setelah selesai dia membantunya naik ke atas tempat tidur. Dia bisa merasakan kalau tubuh Sean yang dulunya tinggi besar, sekarang terasa sangat kurus, dengan kulit yang pucat.


"Istirahatlah, sudah malam" Daniel menyelimuti Separuh badan Sean.


"Dan"

__ADS_1


"Ya, kau menginginkan sesuatu?"


"Tidak, tidak ada, selamat malam"


"Selamat malam" Daniel meninggalkan kamar Sean.


"Maafkan aku Dan, aku tahu, aku sangat egois" Lirihnya sambil berusaha memejamkan matanya.


Daniel segera memasuki kamarnya, dan membersihkan dirinya. Berharap semoga semua masalahnya pun ikut mengalir bersama air, dan meninggalkan dirinya.


Malam semakin larut, tapi matanya tak mau terpejam juga, Daniel membuka smartphone miliknya, dan melihat beberpa photo di sana, dia tersenyum sambil jarinya mengelus photo seorang gadis. "Gila, bagaimana bisa jadi seperti ini ? Aku bahkan sudah tak berminat berdekataan dengan perempuan lain." Daniel mengerang frustasi.


•°•°•°•°•°•°•°•°•


Anne menatap pantulan dirinya di cermin. Perasaannya mendadak minder, apa segitu tidak pantasnya kah dia, untuk sekedar di cintai lawan jenis, apa begitu banyak kekurangannya, sampai pria yang di sukainya pun menjauhinya.


Tanpa terasa air matanya menetes, dia betul-betul down.


Akhirnya Anne menangis sendirian di dalam kamarnya, Sampai terasa lelah dan tertidur, dengan mata sembab.


Malam berganti siang, hari demi hari mereka lalui dengan sangat berat, berat bagi Anne dan Daniel, yang harus berusaha mati-matian meredam perasaan mereka sedalam mungkin.


Yang mereka pikir jalan terbaik, justru malah saling menyakiti satu sama lain.


Hari ini Anne pergi menemani Sean ke rumah sakit lagi, setelah kondisinya kembali memburuk, tanpa di sangka Danielpun ada di sana, menemani saudaranya. "Tentu saja dia ada di sini, dia kan saudaranya bodoh" Anne merutuki kebodohannya sendiri.


Kecanggungan sangat terasa di antara mereka berdua, saling menjauh, dan saling mengacuhkan.


Anne beranjak, niat hati ingin menghindar dari jangkauan mata Daniel, yang sedari tadi, mencuri-curi pandang padanya.


"Eh, itu...mau beli minuman, iya minuman tan." Anne gelagapan saat di tanya Mira.


"Oh iya, tante sekalian beliin kopi yaa, biar nanti Daniel yang antar"


Anne tersenyum, menutupi rasa kagetnya, saat Mira meminta Daniel untuk mengantarnya ke cafe.


Daniel beranjak dari duduknya. "Iya aunty." Sambil menjawab ucapan tantenya.


Anne hanya mendesah pelan, kemudian mengikuti langkah Daniel.


Bukan suasana seperti ini yang di harapkannya, ingin rasanya Anne kabur ke kutub utara saja, dari pada harus terjebak dala situasi yang sangat canggung begini.


Daniel berjalan tanpa acuh padanya, Anne pun berusaha untuk tidak mempedulikannya, walau dadanya terasa sangat sesak.


"Dan, Daniel." Seorang pria berlari-lari ke arah mereka, sambil memanggil Daniel.


"Drew, sedang apa kau di sini?" Tanya Daniel ketus.


"Oh, ayolah bro, ini rumah sakit umum. Bukan tempat pribadi. Aku menjenguk saudaraku yang sakit, kau sendiri sedang apa?" Tatapan Drew beralih pada Anne, yang berdiri di sebelah Daniel. "Hallo gadis manis, sedang apa berduaan sama om om di sini."


Plakk


Daniel memukul bahu Drew dengan keras.


"Kau ini kenapa, main pukul saja?"

__ADS_1


"Kau yang kenapa, apa aku setua itu sampai di panggil om om?"


"Kau menolak tua yaa, lihat dia, sangat mungil dan manis sekali, kalian seperti om dan keponakan. Sini dek sama abang saja, jangan sama dia ya." Drew mengulurkan tangannya, hendak menyentuh tangan Anne. Tapi dengan cepat Daniel menarik Anne ke dalam pelukannya.


Drew mendengus melihat keposesifan Daniel.


"Jangan sembarangan menyentuh anak orang" Bentak Daniel.


"Aku hanya mau menyentuh tangannya, dari pada kau, main peluk anak orang saja,"


Anne memutar bola mata jengah, menyaksikan perdebatan unfaedah dua pria di hadapannya.


"Dia tidak menolak ku peluk!" Jawab Daniel semakin ketus. Walaupun dia acuh tak acuh, tapi dia tak rela jika gadisnya di sentuh orang lain.


"Mungkin terpaksa. Iya kan dek, kamu terpaksa kan?"


Anne hanya diam, tak menimpali ucapan pria itu. Dia memang suka berada di pelukan Daniel, rasanya hangat dan sangat nyaman.


Melihat Anne mengacuhkan perkataan Drew, Daniel merasa berada di atas angin.


"See, she never refused me." Ucapnya.


Drew berdecak kesal. "O iya, kalian berdua sedang apa di sini ? Apa ke dokter kandungan yaa ? Kamu di hamili dia ya dek?" Ucap Drew, dengan tatapan di buat sekhawatir mungkin pada Anne.


"Dasar gila. Memang perempuan bisa hamil, hanya karena sering di cium?" Daniel semakin kesal, dengan tingkah dan ucapan Drew, yang sering tidak di filter.


"Ouh...jadi kalian sering berciuman ya?" Tanya nya penuh selidik.


Daniel dan Anne saling tatap.


"Dan, mungkin tante sudah menunggu kita" Anne buka suara, dia ingin cepat-cepat menjauhi Drew, dari pada terus-terusan di cecar pertanyaan absurd pria itu.


"Sorry Drew, kami harus pergi sekarang,"


"Kalian mau kemana ? Dan sedang apa di sini?"


"Sean di rawat lagi di sini, sekarang kami mau membeli minuman, ada pertanyaan lagi?" Rasa-rasanya tensi dara Daniel naik dengan sangat cepat.


"Oh..kupikir kalian periksa kandungan hehee..."


Daniel mengusap wajahnya kasar, mendengar ucapan Drew yang lumayan kencang, sampai beberapa pengunjung dan nurse melirik ke arah mereka. Anne hanya menghela nafas, dan mengusap-usap lengan Daniel yang sedikit emosi.


"Baiklah-baiklah, kalian berdua boleh pergi, nanti aku akan mampir ke ruangan Sean." Setelah bicara Drew langsung ngeloyor tanpa permisi.


Anne sampai bengong, melihat pria itu. "Sudahlah, ayo, dia memang begitu, seĺalu berisik di manapun." Daniel menarik Anne, untuk segera keluar dari sana.


Anne melirik tautan jemari Daniel dengan jemari tangannya, Kalau bisa, rasanya Anne ingin sekali menghentikan waktu. Supaya dia bisa meraskan rasa hangat dan nyaman ini, lebih lama.


"Kenapa melamun ? Jangan pikirkan perkataan Drew, dia memang seperti itu, selalu blak-blakan,"


"Ti tidak, aku tidak memikirkan itu,"


"Terus kenapa melamun begitu," Daniel menatap wajah mungil Anne penuh selidik.


Anne menaikan tangannya yang di genggam Daniel. "Aku berharap waktu berhenti berputar sejenak." Desisnya pelan.

__ADS_1


             


__ADS_2