
"Rumah sakit X ? Apa maksudnya?"
Walaupun dalam keadaan bingung, akhirnya Daniel pergi ke rumah sakit tersebut. Sepanjang perjalan pikirannya sangat kalut. Dia mendengar suara gadis itu terisak dan juga seperti ketakutan. Apa yang terjadi dengannya dan juga Sean ?.
Sampai di rumah sakit, dengan tergesa-gesa berjalan, sambil terus menghubungi nomor HP Sean, tapi nihil, panggilannya tak ada yang menjawab.
Antara kesal dan penasaran.
Daniel mendatangi bagian informasi, dan bertanya, apakah ada pasien yang baru masuk atas nama Sean Luchester ? Setelah mengetahui keberadaan Saudaranya, dengan langkah semakin cepat Daniel menuju ke ruang rawat yang di tempatinya itu.
Daniel memasuki lift, yang tiba-tiba saja waktu dan berjalannya lift terasa sangat lambat. Sungguh, kalau boleh memilih, inginnya Daniel berlari dari pada terkurung di dalam tabung tersebut.
Ribuan pertanyaan silih berganti, berputar-putar di kepalanya, rasa khawatir dan penasaran pun semakin membuat dadanya terasa penuh sesak.
Sampai di lantai yang di tunjukan nurse tadi, Daniel segera berlari keluar dari dalam lift, dan mencari kamar inap yang di pakai Sean.
Dari kejauhan dia melihat seorang gadis dan pria seumuran Sean, sedang berbincang dengan dokter dan juga beberpa orang nurse. Daniel semakin cepat berlari dan menghampiri mereka.
Nampak Anne seperti membungkuk pada dokter di hadapannya, dan segera memasuki ruangan yang berada di belakangnya. Dokter dan rombongannyapun berlalu.
"Apa kau temannya Sean?" Daniel bertanya dengan terengah-engah.
"Iya"
"Kamu pasti Ken ya?!"
"Iya, maaf saya tidak mengenal anda".
"Saya Daniel, kakak Sean. Ada apa sebenarnya ? Apa dia kecelakaan, atau terjatuh di sana?"
Ken hanya terdiam mendengar begitu banyak pertanyaan dari laki-laki di hadapannya.
__ADS_1
"Ada apa?" Daniel mengguncang kedua bahu Ken.
"Eh..anu, itu...sebaiknya saya antar ke ruangan dokter yang memeriksanya tadi saja". Walaupun Ken seorang dokter, akan tetapi diapun seorang manusia biasa, dia sangat bingung dan tidak tega harus menyampaikan berita yang pastinya akan membuat siapapun yang mendengarnya akan shock berat.
"Saya mau melihat adik saya dulu". Jawab Daniel, sambil membuka ruangan tempat Sean berada. Terlihat di atas brankar, Sean terbaring dengan wajah pucat pasi, sedangkan di sampingnya nampak Anne sedang memegang tangannya yang di pasangi selang infus.
Daniel menghampiri mereka, dia berdiri di memandangi Sean yang terpejam. Daniel mengusap bahu Sean, seolah ingin memberi tahu, kalau dia ada di dekatnya.
Melihat tangan seseorang mengusap bahu Sean, Anne menoleh dan menatapnya sekilas.
Daniel menatap mata sembab Anne, sepertinya gadis itu menangis terus menerus, sampai matanya memerah.
Daniel menghampiri Anne yang duduk di sebelah Sean, dan merengkuh tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya. Tangisannya yang sedari tadi tertahanpun, tanpa bisa dia cegah, akhirnya semakin menjadi. Anne menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Daniel.
"Setttt...jangan menangis lagi".
"Aku takut, keadaan Sean semakin parah". ucapnya di sela isak tangisnya. Daniel mengusap punggung rapuh gadis itu, berharap tangisannya mereda. Anne memeluk tubuh Daniel dengan erat, seolah rasa takutnya akan berkurang atau bahkan memghilang.
"Haahh....
"Sean seperti ini sejak kapan?"
"Sejak...sejak awal kuliah dulu, dia sering sakit kepala. Tapi dia tidak mau di bawa ke dokter". Daniel memejamkan mata, ada rasa marah, tapi marah karena apa ? Ada rasa sesak yang semakin menghimpit. buliran air matanya menetes perlahan.
"Dia tidak pernah sekalipun ke dokter?"
Anne mengangguk. "Kemarin, waktu ikut ke New York, aku memaksanya untuk periksa, dan dia mau. Tapi....keadaanya sudah sangat buruk". Bukan hanya Anne, Daniel dan juga Ken pun ikut terisak. "Dokter bilang sudah tidak ada harapan lagi, sudah stadium akhir".
"Selain kalian berdua, siapa lagi yang tahu keadaan Sean?" Anne menggelengkan kepalanya.
"Dia bilang akan segera memberi tahukan tante Mira. Tapi kurasa belum".
__ADS_1
"Ken, bukankah seorang dokter ? Apa kau tau, apa yang terjadi dengan Sean?"
"I iya, aku memang dokter, dokter umum tepatnya, bukan spesialis. Aku tahu Sean sakit, tadi".
"Tadi?" Ken mengangguk.
"Maafkan aku, maaf, aku tidak berani memberi tahu tante". Anne semakin terisak, sedih dan takut. Sedih melihat sahabatnya terbaring tak sadarkan diri, takut kalau hal buruk akan menimpanya.
Daniel mengelus lembut punggung Anne, yang tampak terguncang karena tangisannya.
" angan menangis lagi, aku akan menemui dokter dulu, dan menghubungi orang rumah".
Anne mengangguk dan melepaskan pelukannya, Anne sekilas melihat kemeja yang di pakai Daniel basah, oleh air matanya.
Daniel dan Ken meninggalkan ruangan Sean.
"Buka matamu Sean, bangunlah...."
Anne mengelus tangan Sean, yang semakin terlihat pucat. Sesekali Anne mengguncang bahu dan tubuh Sean, berharap pria tersebut membuka matanya dan bangun.
"Kau bilang tidak akan membuatku sedih kan, bangunlah Sean, jangan tidur terlalu lama".
"Bangunlah.....buka matamu sebentar saja Sean".
"Kau sudah berjanji, tidak akan pergi jauh dariku Sean, bangunlah, jangan menakuti seperti ini, ku mohon Sean, bangunlah".
Anne masih terus berbicara, berharap Sean mendengarnya dan terbangun. Sampai dia tertidur dengan bersimbah air mata.
*Udah dulu ahh, emak baper 😭😭😭😭
__ADS_1