
Lelah kan ?
Tapi kenapa kamu masih ingin berjuang ?
Kenapa, harapan apakah yang kamu gantung kan ?
Anne menaikan tangannya yang di genggam Daniel. "Aku berharap waktu berhenti berputar sejenak." Desisnya pelan.
Daniel mengelus lembut tangan Anne, yang di genggamnya. Di dalam hati, diapun berharap yang sama. Hatinya semakin bimbang, haruskah dia egois ?.
"Ayo!" ucapnya sambil menarik tangan Anne, mereka berdua, berjalan beriringan, layaknya pasangan. Membuat siapapun yang melihatnya, akan menoleh dua kali.
"Kenapa mereka melihat kita seperti itu sih?" gumam Anne pelan.
"Mereka iri mungkin," Daniel menjawab dengan tak acuh.
"Kamu nguping omonganku yaa?"
"Tidak. Tapi pendengaranku masih bagus!"
"Ck, kita mau kemana?"
"Maunya kemana?" Anne menghela nafas lelah, manusia satu ini, kalau di tanya, pasti balik nanya.
"Cafe seberang saja ya!"
Akhirnya mereka menyebrangi jalan, menuju ke arah cafe. Daniel dengan posesif menggandeng Anne, seolah takut hilang.
"Makan dulu ya, aku tau, kamu itu suka makan?" Daniel menyentil hidung mungil Anne, yang terlihat memerah karena kepanasan.
Anne nyengir, dia memang doyan makan.
"Iya baiklah, kita makan apa hari ini?"
"Apa saja yang kamu mau"
Daniel memperhatikan cara makan gadis di hadapannya, gak ada sedikitpun jaga image gitu, pikirnya.
Dia makan dengan tenang, dan masa bodo dengan sekitarnya, dia memakan semua yang terhidang di meja.
"Anne" Anne menoleh ke arah Daniel.
"Kenapa ? Mau?" Anne menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Daniel. Daniel menerima suapan Anne dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Kamu gak takut gemuk?"
"Nggak, biasa saja"
"Biasanya kan perempuan, selalu menjaga makanan, takut gemuk katanya?" Ucap Daniel sambil menatap mulut Anne yang penuh makanan.
"Katanya siapa?"
"Yaa____begitulah yang sering ku dengar!"
"Itu kan katanya, entah kata siapa" Anne masih dengan mode acuh tak acuhnya.
"Hemm, menurutmu bagaimana?"
"Gak gimana-gimana tuh, biasa saja. Kalau udah bawaannya gendut mah, gendut aja, walaupun diet melulu. Buktinya aku makan terus, gak tinggi dan gak gendut tuh." Anne merentangkan tangannya dan memperlihatkan tubuhnya yang mungil.
Daniel terbahak mendengar ucapan Anne. Ada benarnya juga, gadis itu selalu makan banyak, tapi badannya masih mungil saja.
Anne melotot karena di tertawakan seperti itu.
•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Tidak salah memang, jika manusia selalu berharap dan bermimpi.
Sehingga mengikis our hope for the almighty creator god.
Bukankah Allah berkata : don't ever hope in your fellow human beings ?.
Berharaplah hanya kepada Allah semata, supaya engkau tidak kecewa.
Daniel dan Anne meninggalkan cafe, dan segera kembali ke rumah sakit, dengan membawa minuman dan makanan ringan pesanan Mira.
"Hai Dan" Suara manja yang sangat Anne benci. Zee datang menghampiri mereka, dengan satu keranjang buah di tangannya. Dan dengan manjanya dia bergelayut di tangan Daniel, mirip koala, begitu bathin Anne.
Anne segera berlalu meninggalkan dua sejoli tersebut, dengan perasaan yang tak bisa dia ungkapkan. Hanya helaan nafas beratnya yang mewakili, seluruh isi hatinya.
"Kenapa anak kecil itu ada di sini Dan?"
"Harusnya aku yang tanya, kenapa kau berada di sini?"
"Aku, aku mau menjenguk saudaramu!"
"Tidak perlu repot-repot, lagi pula kau tidak akan bisa masuk ke sana." Daniel berlalu meninggalkan Zee. Dia berharap Zee akan pergi, dan tidak mengikutinya.
__ADS_1
Zee yang tak mau menyerah, dia berjalan cepat mengikuti Daniel. "Dan, tunggu aku!"
Anne yang tiba lebih dulu ke ruangan Sean, segera memberikan bawaannya pada Mira. "Tante makan dulu ya " Mira menoleh dan mengangguk ke arahnya.
"Kamu sudah makan Anne?"
"Sudah, tadi sama Daniel"
"O iyaa, kemana dia?"
"Euhmm..tadi ketemu temannya di depan"
Mira hanya ber 'oh' ria mendengar jawaban Anne.
Anne menghampiri brankar Sean, dan duduk di sebelahnya, memperhatikan tubuh pria itu, yang terlihat semakin kurus. Anne meraih jemarinya dan mendekatkan ke pipinya.
"Cepatlah sembuh, jangan terbaring di sini terus, apa kau tidak bosan, berada di dalam ruangan terus hm?"
Sean tidak bergeming, pandangan matanya semakin kabur, dan seluruh badannya seolah menjadi jelly. Walaupun dia mendengar semua ucapan Anne, tapi dia tidak bisa berbuat apapun, hanya tetesan air matanya yang mengungkapkan segala emosi dan perasaannya yang tak bisa dia ungkapkan.
"Jangan menangis, aku ada di sini, menemanimu" Anne mengusap air mata Sean yang terus meleleh.
Sedangkan Daniel, hanya menatapnya dari balik pintu. Dia sangat bingung !!
Antara memilih perasaannya dengan menyakiti saudaranya, atau membiarkan saudaranya bahagia dengan menyakiti orang yang mereka sayang.
Apa yang harus aku lakukan ? Kenapa kita harus menyukai gadis yang sama ?
"Kenapa kita gak masuk sih?" Tanya Zee yang heran, karena dari tadi mereka hanya mengintip di balik pintu.
Daniel menghela nafas, kemudian membuka pintu ruang rawat Sean dengan lebar. Zee dengan antusias memasuki ruangan tersebut.
Tiba di dalam, dia terkejut melihat Anne berada di sana juga, apa lagi terlihat begitu akrab dengan keluarga Daniel. "Apa perjodohan mereka sudah di lakukan? Kenapa gadis itu berada di sini juag?" Bathinnya. sepertinya dia akan bertanya lagi pada Daniel nanti.
Anne hanya meliriknya sekilas, tatapan permusuhan mereka terlihat jelas di matanya. Hanya saja Anne lebih suka mengabaikannya, lagi pula ini di rumah sakit, masa iya dia ngajakin tawuran, sedangkan Zee, menatapnya penuh kebencian.
Bahkan Mira, sampai harus bolak balik melirik ke arah mereka bertiga, bukan dia tak paham, apa yang ada di pikiran mereka, hanya saja dia tak ingin terjadi keributan.
Jika di suruh memilih, Mira tentu saja akan memilih Anne sebagai anggota baru di keluarganya, dari pada Zee, walaupun dia tau, Zee bukanlah anak dari keluarga sederhana, tapi bila melihat reputasi gadis itu, Mira bergidik.
Zee menyapa Mira dan menyodorkan bawaannya, yang di balas wanita paruh baya tersebut dengan ucapan terima kasih. Zee melihat Anne yang begitu akrab dengan Mira, dan sesekali Daniel pun tersenyum manis ke arah gadis itu. Cemburu kah dia ? Tentu saja, bukan hanya rasa cemburu saja, tapi juga rasa tidak suka pada gadis yang terlihat biasa-biasa saja di matanya, dia merasa heran, apa kelebihan gadis itu, sampai Daniel selalu berdekatan dengannya, sedangkan dirinya, harus menggunakan segala cara untuk menarik perhatian Daniel.
Karena merasa di acuhkan, akhirnya Zee berpamitan, dia keluar dengan perasaan dongkol. Tadi dia datang dengan taxi online, berharap saat pulang Daniel akan mengantarnya pulang, tapi apa daya, Daniel bahkan tidak memperdulikannya, malah anteng dengan seorang perempuan bertubuh mungil, kalau perempuan itu lebih cantik dan lebih seksi darinya, mungkin dia akan paham, tapi yang dia lihat malah sebaliknya, apa yang di cari seorang Daniel dari perempuan seperti itu?.
__ADS_1
"Lagi-lagi gadis brengsek itu"