
" Sebaik-baiknya harpan adalah,
yang di gantungkan pada sang pemilik semesta,
bukan kepada sesama manusia "
( Anne Lazuardy)
" Tidak bisa bermain kasar, kita bermain halus "
Setelah berhasil menahan kepergian Daniel, Zee semakin posesif, dan membuat Daniel semakin muak di buatnya.
Diam - diam Daniel menghubungi Anne, tapi tidak pernah di jawab sama sekali, semua panggilan dan pesan - pesan yang dia kirimkan, seolah di abaikan.
Daniel akhirnya menghubungi Sean, hanya Sean yang mengetahui seluk beluk kehidupan Anne.
Sekali, dua kali, panggilannya tidak di jawab, sampai panggilan ketiga kalinya, barulah terdengar suara parau saudaranya.
"Ya Dan?" Mendengar suara Sean yang seperti menahan sakit, Daniel jadi bertanya.
"Apa kamu sakit Sean?"
"Tidak, aku hanya sedikit lelah".
"Tapi, suaramu itu..
"Hanya sedikit serak," Timpal Sean cepat. " Apa ada hal penting yang mau kamu bicarakan ?"
"Ehmm, tidak ada. Aku hanya ingin tahu tentang..
"Anne! Benar bukan tebakanku?"
"Sayangnya benar sekali." Terdengar suara kekehan Sean dari seberang telphone.
"Semoga dia tidak menendang dirimu lagi, seperti kemarin Dan."
"Bukan aku yang dia tendang, tapi Zee."
"Zee? Kenapa Anne bisa ada bersama Zee?"
"Aku membawanya ke peternakan, ternyata Zee ada di sana."
"Kamu yakin, kalau yang melukai Zee itu Anne? Maksudku, menendangnya begitu?" Sean sangat tidak mempercayai semua ucapan Daniel.
"Ya, memang begitu kenyataannya, Anne mendorong Zee dari atas tangga."
"Tidak mungkin!" Suara Sean terdengar naik intonasinya. "Walaupun dia gadis barbar, tapi dia tidak akan tega, walau yanya membunuh seekor semut, kamu tahu sendiri wanita silicon itu seorang drama queen kan? Jangan katakan kalau kamu sedang di bodohi dia!"
Deg
Daniel merasakan dadanya penuh sesak.
"Sekarang Anne di mana ? Bisakah aku bicara dengan dia sebentar?"
__ADS_1
"Dia.....tadi pergi dari sini."
"Apa kamu sudah gila, kamu tidak mengusir dia kan ? Jawab aku Dan?"
"Aku tadi sedikit emosi, tapi tidak menyuruhnya pergi secara langsung"
"Tidak menyuruhnya pergi, lalau apa?"
"Aku memberikan dia uang beberapa ratus dolar, ku bilang akan cukup untuk pulang ke rumahnya, tapi dia meninggalkan semua uang pemberianku".
"Itu sama saja dengan mengusirnya, dasar bodoh."
"Sean, apa dia ada saudara atau temannya di sini?"
"Aku tidak tahu"
"Sean. Aku tahu, aku salah, kumohon Sean. Adakah teman atau saudaranya di sini?"
"Tidak perlu mwngkhawatirkan dia Dan, dia akan baik - baik saja, urus saja urusanmu sendiri!"
Tutt
Sean mematikan sambungan telphonenya sebelah pihak. Daniel yang kesal, melempar benda pipih di tangannya ke sembarang arah.
Daniel berjalan cepat, tujuannya mencari keberadaan Zee. Daniel berhenti di depan kamar Zee yang pintunya sedikit terbuka, dia melongok ke dalam, lamat-lamat terdengar suara Zee, sepertinya sedang bicara entah dengan siapa.
"Aku tidak akan bepergian beberapa hari ini, ada Daniel bersamaku"
"Kali ini tidak, kemarin aku sudah menyingkirkan penghalangku"
"Penghalang, maksudmu"
"Beberapa minggu lalu, aku tidur dengan Daniel, dan dia menyebutkan nama seorang perempuan. Setelah aku memcari tahu, ternyata dia hanya seorang anak kecil."
"Lalu?"
"Gadis itu datang kesini, dan aku menyuruh orang untuk menyekapnya, tapi dia bisa melumpuhkan orang suruhanku."
Daniel yang mendengarkan pembicaraan mereka, hanya mengepalkan tangannya, menahan emosi.
"Ò my god Zee, kau bisa berhadapan dengan hukum, kalau bertindak berlebihan begitu. Andai Daniel tau, habislah dirimu."
"Ahh sudahlah, tidak ada yang tahu. Kau tahu, tadi pagi saat aku hampir menarik dia dari atas tangga, aku terpleset, jadi ku bilang saja, aku di dorong dia dari atas tangga. Dan si bodoh itu mempercayainya." Zee tertawa puas. Sedangkan temannya menatapnya ngeri.
Daniel berlalu dari kamar Zee, mungkin Zee ada benarnya, dia sangat bodoh. Karena dengan mudahnya bisa di bohongi mentah-mentah. kalau mateng enak kali bang, di makan😁
Dua kali sudah, dia melakukan kebodohan, dan sepertinya kali ini, kesempatan untuk berbaikan sangatlah tipis.
Apa yang harus dia lakukan? Anne pun sudah pergi entah kemana. Hanya ada rasa sesal di dalam hatinya.
♡♡♡♡♡
Tiga bulan kemudian.
__ADS_1
Anne dan teman-temannya, sedang berada di tempat yang jauh dari keramaian. Bahkan Sean yang selalu beralasan sibuk, ikut dalam rombongan mereka.
Hanya sekedar melepas lelah dan menghindari hiruk pikuk ibu kota barang sejenak. Beberapa kali Sean mengambil foto mereka, terutama dirinya bersama Anne dan Ken. Bahkan ada beberapa yang langsung di posting, di akun media sosialnnya.
Sean sangat senang, dia bisa melihat senyum dan tawa Anne seperti dulu lagi, setelah dramanya bersama Daniel, saudaranya. Sean terduduk, pandangannya seolah berputar, mungkin karena banyak pikiran, bathinnya.
Ken berlari menghampirinya, dan memegang pundak Sean. "Sean, Sean...apa kau baik-baik saja, wajahmu sangat pucat." Ken mengguncang bahu Sean.
Sean hanya mampu menggeleng, kepalanya semakin berdenyut, dan seluruh badannya seperti tidak bertulang. "Anne, kemarilah." Ken berteriak memanggil Anne.
"Sean kamu kenapa?" Anne menyentuh kening Sean. "Apa obatmu di minum?" Tanya Anne. Sean menggeleng.
"Obat apa?" Ken menatap Anne tajam.
"Ehh, itu...obat, obat sakit kepala Sean. Sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit." Lanjut Anne.
"Sean sakit apa Anne ? Jawab aku ?"
Anne membisu, dia bingung harus menjawab apa.
"Dokter bilang...
"Apa kata dokter Anne?"
"Sean kanker otak, stadium akhir." Jawab Anne pelan.
Tubuh Ken luruh mendengar ucapan Anne, sahabat terbaiknya sakit, dan dia tidak mengetahuinya sama sekali.
"Sejak kapan Anne ? Apa tante Mira tahu?" Wajah Anne memucat. Ken mengangguk.
"Kita kembali sekarang". Anne mengangguk.
Daniel sangat gelisah, perasaan tak tenang sama sekali. Beberapa kali dia menghubungi Sean, tapi tak pernah ada jawaban.
Daniel memeriksa akun media sosial saudaranya, di sana nampak beberapa foto yang di unggah beberapa jam yang lalu.
Terlihat wajah manis Anne, berhadapan dengan wajah pucat Sean. Daniel beberpa kali memperhatikan wajah Sean, kenapa dia sepucat itu, pikirnya.
Beberapa lagi foto Sean,Ken dan Anne, sepertinya mereka sangat menikmati liburannya. Daniel mengelus wajah manis Anne, dia sangat merindukan liliput judesnya.
Ada rasa tidak suka dalam hatinya, melihat Sean begitu dekat dengam gadis itu. Apa dia cemburu ?.
"Kapan kita seperti ini Anne?"
Drrttt...drrttt....drrttt...
Handphone yang di genggamannya bergetar, nama Sean tertera di layarnya. Daniel segera menjawab panggilan tersebut.
"Sea..
"Rumah sakit X, cepat sekarang". Suara itu..
__ADS_1