
"Kamunya juga suka di mesumin kok!" Daniel tertawa, melihat wajah Anne yang merona merah, menahan malu.
"Tertawalah sampai kamu puas."
Tawa Daniel semakin terbahak, sedangkan Anne hanya mendengus kesal.
"Jadi...kita akan duduk di dalam mobil semalaman, begitu kah?" Dengan wajah judesnya Anne menatap Daniel.
Daniel tersenyum samar, dia sangat suka melihat wajah imut Anne yang sedang kesal. Dengan gemas, tangannya mencubit pipi chubby Anne. "Awww...kenapa suka sekali nyiksa anak orang," Teriak Anne kesal.
"Kamu imut, kalau lagi marah!" Anne melirik Daniel, dan tersenyum miring. Dengan cepat tangannya mencubit pinggang Daniel, sekuat yang dia bisa.
"Aarrgghh, apa yang kau lakukan?" Daniel yang hendak menjalankan mobilnya, langsung terhenti, dan mengusap-ngusap pinggangnya. "Sakit Anne"
"Sama, pipiku juga sakit" Balas Anne.
Daniel mengulurkan sebelah tangannya, dan mengelus pipi Anne yang nampak memerah, karena di cubitnya tadi.
"Gak mau jalan juga ? Aku lapar!" Rengek Anne.
"Baiklah, kita pergi makan dulu" Anne menghela nafas lega, akhirnya mereka akan keluar juga, kalau lebih lama di sana bisa- bisa dia khilaf dua kali.
"Kenapa senyum-senyum hm?" Anne terkejut, dan menatap Daniel sekilas.
"Tak apa hehee.." bohong Anne, dia malu ketahuan melamun.
"yakin ? Apa ingat yang tadi ya?!" Goda Daniel.
"Please deh, gak usah di ingatin lagi,"
"Hahahaa...baiklah, O iya Anne, boleh tanya sesuatu?"
__ADS_1
"Heum ? Apa?"
"Soal...hubunganmu dengan Sean, apa kalian hanya berteman saja?" Daniel dengan hati-hati bertanya pada Anne.
"Iya, dia adalah sahabat terbaiku, aku hanya punya beberapa teman baik saja, salah satunya Sean!" Anne menjawab pertanyaan Daniel, dengan binar bahagia di wajahnya.
"Yakin ? Tidak ada perasaan lebih?"
"Perasaan lebih ? Maksudnya apa?"
"Euhmm...maksudku, apa tidak pernah terpikir, misalkan kalian pacaran begitu?" Daniel menghela nafas lega, setelah pertanyaan yang selalu mengganjalnya bisa di ucapkan.
"Hehehee...aku dengan Sean? pacaran maksudmu ? Yang benar saja. Aku tidak menampik, kalau Sean itu tampan, baik, sangat baik malah, (Jauh lebih baik darimu ngebathin doang) dan dia bukan seorang playboy!" Anne menekankan kata playboy, sambil melirik tajam ke arah Daniel. "Tapi dia bukan tipe ku, kalau ada sama dia, seperti sedang bersama kak Archie atau kakakku yang lain!" Yaah sejujurnya, memang seperti itulah perasaan Anne pada Sean.
Dia tidak menutup mata, dan dia tidak bodoh-bodoh banget, dia juga tau, kalau Sean menyukainya melebihi seorang sahabat, tapi dia tidak mau memberikan harapan palsu.
Daniel menyimak setiap kata yang di ucapkan Anne dengan takzim. Tidak ada kebohongan dari setiap kata-katanya, ada rasa lega di hatinya, seolah baru keluar dari lorong gelap nan sempit, dadanya terasa lapang, dan nafasnya terasa ringan.
"Apa kau tau Anne, kalau Sean...
"Kupikir kau juga menyukainya," Daniel meraih jemari Anne, dan menggenggamnya.
"Kata orang aku bodoh, karena tidak menyukai Sean, tapi mau gimana lagi, perasaan itu kan tidak bisa di paksakan. Sean dan Ken, mereka berdua sama, tapi aku menganggap mereka tak lebih dari itu. Bahkan Jill pernah memarahiku, karena tidak pernah mau menerima salah satu dari mereka,"
"Jill ? Siapa Jill?"
"Euhmm, dia juga teman kami, dia tinggal di peternakan, di Darwin. Apa kau ingat, waktu aku kabur dari sana dan di jemput mobil hitam ? Yang menjemputku Jill!"
"Ouh i see, pantas saja aku tidak menemukan, padahal aku mencari dirimu kemana-mana. Ternyata Ada yang nyembunyiin ya?"
"Lagi pula siapa yang mau lama- lama denganmu, nuduh orang sembarangan, pake bentak- bentak segala. Kamu pikir aku mau diam saja di dekatmu, huh? walaupun aku tidak punya uang, aku tidak akan mau berdekatan denganmu," Emosi Anne mendadak terpancing, mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat berada di peternakan.
__ADS_1
"Maaf, aku memang salah," Anne menatap Daniel dengan datar.
"Dengar ya, walaupun di antara teman-temanku aku paling urakan dan katanya barbar, aku tidak pernah mencelakakan orang lain, maaf maaf saja, aku tidak segila itu!" Anne mendengus kesal, dan membuang tatapannya keluar jendela mobil, lebih baik menatap jalanan dari pada menatap Daniel.
Daniel menarik jemari Anne, dan menciumnya dengan lembut. "Maaf, aku memang salah, karena hanya mendengar omongan dari sepihak saja."
Aduh bang, lumer hati adek, bang, lumeeerrr
Hilang sudah rasa kesal dan emosinya. Degupan di dadanya semakin menjadi, mendapat perlakuan manis dari pria yang di sukainya. Anne baper pemirsaahh
Anne manarik tangannya, yang masih di genggam Daniel, dan di tempelkan di pipi pria itu. "Se sebaiknya, fokus nyetirnya, aku belum mau mati muda, aku belum pernah punya pacar, apa lagi nikah," Ucapnya sambil menghela nafas panjang.
"Ok, baiklah Daniel mengelus surai lembut Anne sebentar, dengan bibirnya yang terus menyunggingkan senyum, yang terlihat teramat sangat manis, di mata Anne.
Anne menelan ludahnya dengan susah payah, "Pria mesum ini, senyumannya aja udah bikin sport jantung, jangan di lihat jangan di lihat, abaikan Anne abaikan, jangan sampai khilaf lagi dan lagi". Anne merafalkan mantra penolak baper di hatinya.
"Pantas saja banyak perempuan rela antri, ternyata dia sangat tampan." Anne bergumam sendiri.
"Siapa yang tampan?"
"Haaahhh.....kamu....kenapa sih, seneng banget nguping ucapan orang!"
"Gak nguping Anne, kamu bicaranya keras tau gak?"
Anne mendelik. "Cepetan jalan, dari tadi kita diem di sini, betah banget ya?"
Setelah berdebat gak jelas, akhirnya Daniel menjalankan mobilnya, keluar dari basement rumah sakit. Sesekali matanya melirik Anne yang duduk anteng di sebelahnya.
Daniel tersenyum, melihat pipi chubby kemerahan Anne, seperti pipi anak kecil. Tangannya di ulurkan dan mengusap pelan pipi Anne.
Si mesum ini, bikin jantung gue gak sehat aja, untung ganteng. Sabar ye jantung, jangan berdegup kenceng-kenceng, nanti dia denger lagi, gak elegan banget kalau sampai terdengar sama dia.
__ADS_1
"Kenapa melamun hm? Pipimu lucu ya, seperti pipi anak - anak Anne!"
"Siapa yang melamun? Jangan pegang - pegang." Anne menepis tangan Daniel yang mengelus pipinya.