(Bukan) Pengantin Impian

(Bukan) Pengantin Impian
30


__ADS_3

"Haaahh...kamu....., kenapa seneng banget sih, dengerin orang bisik-bisik!"


"Ouhh, emang tadi kamu berbisik yaa?"


"Iyaa"


"Yakin?"


"Ck, ahh sudahlah, capek ngomong sama kamu, buang-buang energi!"


"Kamu tadi bicara jelas lho, bukan berbisik,"


"Masa sih?"


"Kalau berbisik mana mungkin aku bisa dengar, iya kan?"


Anne menatap Daniel cengo, kayak nya dia tidak boleh sering-sering berdekatan dengan pria mesum ini, bisa keseringan meracau dia, kan gak lucu, tetiba saja dia sering bicara sendiri.


"Sudah, ayo kita turun"


Anne mengikuti Daniel keluar dari mobil, dan merekapun memasuki sebuah restaurant.


"Kita mau makan di sini?" Tanya Anne.


"Kamu gak suka ya?" Daniel balik bertanya, sambil menatap Anne penuh selidik.


"Nggak gitu, hanya saja...sudahlah ayo masuk" Anne nyelonong, mendahului Daniel. Perasaan gue gak enak banget nih !!


Mereka memasuki Amu* Gourme* Restaurant, yang berada di daerah Jakarta Selatan ini.


Anne beberapa kali mengusap tengkuknya, perasaannya kok gak enak ya. Tapi senyuman manisnya tak lepas dari bibir mungilnya. Tangannya di gandeng Daniel dengan posesif.


Setelah mendapatkan meja kosong untuk mereka berdua, Daniel dan Anne sibuk memesan beberapa menu makanan.


Restoran fine dining ini menjadi pilihan Daniel, untuk makan berdua bersama Anne. Resto yang penuh dengan kemewahan di setiap sudutnya, dengan menu makanan ala Prancis yang diolah langsung oleh Chef kenamaan yang hasil karyanya dipuja di Indonesia. Di Amu* Gourm** Restaurant ada banyak ruangan yang mencerminkan kepribadian untuk setiap acaranya. Soal makanan, Amu* Gourme* Restaurant tidak perlu ditanyakan lagi, Poached Lombok Langouste with Bufala Mozzarella Terrine yang menggunakan kerang dari Lombok jadi salah satu best menu di sini. Untuk signature menu-nya, ada Escargot a la Bourguignonne yang sukses jadi favorit penikmat fine dining di Jakarta Selatan. (Jadi ngiler gue😋)


"Kenapa harus masuk ke sini sih, kita kan cuma makan sebentar saja!" Anne melirik Daniel sekilas.


"Ya udah, kita lamaan aja di sini, mau ya?" Jawab Daniel dengan tatapan lekat ke arah wajah imut Anne.


"Gak mau." Anne manjawab dengan cepat. Dia tidak mau lama-lama berdekatan dengan Daniel, bisa ketularan mesum kan bahaya.


"Padahal di sini suasananya bagus lho!" Daniel memasang wajah cemberut. Anne terkekeh melihat ekspresi wajah Daniel. Pipi pria itu sangat merah, saking putih kulitnya.


"Ternyata kulitmu lebih putih dariku ya?" Anne memperhatikan wajah Daniel dengan teliti.


"Baru sadar, kemarin-kemarin kemana saja?" Anne memutar bola mata jengah. Nyesel dia memuji kulit Daniel yang putih halus mulus.


"Kalau di pakai....


Ucapan Anne terhenti, saat beberapa waiters datang, membawa menghidangkan pesanan mereka.

__ADS_1


"Kenapa sebanyak ini ? Apa ada orang lain yang ikut makan ya?"


"Tidak ada, hanya kita berdua saja!"


"Kamu lapar banget ya Dan ? Sampai pesan makanan sebanyak ini?"


"Aku pesan buat kamu, kamu kan makannya banyak!"


"Tapi kan gak sebanyak ini!" Anne sewot sendiri. Daniel terkekeh geli melihat Anne yang sewot gak karuan.


"Pokoknya kamu juga harus makan yang ban....


"Lho, kalian ada di sini?" Suara seorang pria yang terdengar halus dan lembut memotong ucapan Anne.


"Kakak ? kok kakak ada di sini?" Anne terkejut bukan main, udah kyak yang ketangkap lagi selingkuh aja.


"Kamu ini, ini kan tempat makan umum Anne, masa kakak gak boleh ke sini!"


"Hai Arc" Daniel melambaikan tangannya pada orang yang baru saja datang, dia adalah Archie, kakak Anne.


Archie hanya membalasnya dengan mengangkat sebelah tangannya, dan kembali fokus pada adiknya.


"Ini apa Anne?" Archie menyentuh bawah dagu Anne yang terlihat memerah.


Dueerrr....


Anne sampai gelagapan, dia lupa, kalau pria mesum di hadapannya tadi, bukan hanya mencium bibirnya saja, tapi juga lehernya, dan meninggalkan kissmark di sana.


Daniel terbatuk-batuk sambil membuang muka. Sedangkan Anne hanya mengelus tengkuknya yang terasa sangat dingin.


"Sampai segitunya, emang di garuk pake apa?"


"Ya pake tangan kak, masa pake kaki. Kakak ke sini sama siapa?" Anne berusaha mengalihkan pertanyaan kakaknya.


"Tadi ada beberapa client, daddy juga ikut"


Deg


Wajah Anne memucat. "Daddy ? Sekarang di mana kak?"


"Di sini ada apa?". Seorang pria paruh baya, yang masih terlihat tampan dan lebih muda dari usianya, datang menghampiri mereka.


"Hehee..daddy di sini juga ya?" Anne merutuki kebodohannya, kenapa dia tak menolak saja, ajakan Daniel tadi.


"Kalian cuma berdua?" Tanya tuan Evander sambil menatap putrinya dan daniel bergantian.


"Iya, kami hanya berdua saja!" Daniel yang melihat anne gelagapan, cepat-cepat menjawab pertanyaan tuan Evander.


"Mau pulang sama daddy Anne?"


"Dad, makannya juga belum mulai, masa udah di ajak pulang."

__ADS_1


"Kalian baru datang ? Udah jam sembilan lho!"


Anne menghela nafas malas.


"Daddy sama kakak pulang aja, aku mau makan dulu. Tadi abis dari rumah sakit dad, jadi kemalaman!" Ucapnya sambil cemberut. Dalam hati mah dag dig dug, semoga daddy nya tidak melihat tanda di lehernya juga.


"Ya sudah kalau tidak mau pulang bareng daddy, kalian jangan pulang terlalu malam" Tuan evander mengusap puncak kepala Anne dengan sayang. "Dan, jangan terlalu malam pulangnya," Kemudian dia berlalu.


"Iya om." Daniel mengangguk dengan hormat.


Archie menghampiri adiknya, dengan smirk di wajahnya. "Anne, bilangin ke dia, kalau buat tanda jangan di tempat terbuka begini." Stelah berbisik pada adiknya, Archie berlari kecil, mengejar daddy nya.


Anne sampai menyemburkan minumannya, dan terbatuk hebat. Daniel yang panik segera menghampirinya. "Kamu ini kenapa ? Apa gak bisa minum pelan-pelan,"


"Bukan kesedak minuman!"


"Terus kesedak apa?"


"Itu, ehh...kakakku, melihat ini tadi." Anne menunjuk ke arah lehernya, yang ada tanda merahnya. "Dia bilang, kalau kamu mau buat lagi jangan di tempat yang terlihat begini."


Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Anak ini entah polos, entah bagaimana. Daniel mencium puncak kepalanya, dan kembali ke tempat duduknya.


"Makanlah, ini sudah malam"


"Heumm"


Daniel menatap Anne yang hanya bergumam, dengan wajah cemberut.


"Kenapa lagi ? Kok cemberut?"


"Memang kalau buat yang seperti ini, harus di mana biar tidak terlihat?" Anne menunjuk kismark di lehernya pada daniel.


"Uhuck..uhuck...." Daniel melotot tajam. "Anne, usiamu berapa?"


"21 tahun, dan aku baru lulus kuliah!" Daniel mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. Manusia di depannya ini sudah cukup dewasa kan ? Tapi otaknya kayak baru lima tahun. "Kenapa dengan umurku?"


"Tidak ada, mau tau aja. Berarti kita hanya beda 4 tahun yaa?"


"Ku pikir usiamu sudah 30 tahun?" Anne menatap lekat wajah daniel.


"Apa wajahku setua itu ? Perasaan aku lebih muda dari usiaku!"


"Mimpi" Anne kembali menatap wajah pria di hadapannya.


"Benarkan ? Aku masih muda dan tampan ? Kamu saja ngeliatin sampai segitunya!"


"Gak usah kepedean, siapa juga yang bilang kamu tampan?"


"Kamu barusan" Rasanya Anne ingin sekali melemparkan Daniel ke empang. Daniel menghampiri Anne, dan mengeluarkan smartphone dari saku celananya. "Kita udah kayak couple kan!" Anne hanya bisa melongo, melihat Daniel yang narsis bukan main. Mana pake acara selfie bareng pulak.


"Daniel..."

__ADS_1


Anne mendelik, suara yang sangat dia benci. Terlihat beberapa perempuan berpakaian minim, menghampiri mereka berdua.


Aura permusuhan terlihat jelas di mata Anne. "Mau neriakin dia pelakor, tapi dia kan belum nikah. Mau bilang petucor, pan tunangannya juga maren di cancel. Mau bilang pepacor, dia dan Daniel juga tidak pacaran" Anne hanya bisa merutuki status tak jelasnya.


__ADS_2