
"Ck, dasar tidak sopan, merusak mood saja." Anne meletakan sendoknya, dan meneguk minumannya sampai tandas.
Daniel hanya diam, lebih tepatnya pura-pura tidak mendengar.
"O iya, jadi dimana aku tidur ? Apa di kandang sapi seperti katamu?!"
"Aku akan mengantarmu ke kamar"
Anne menggeser kursinya, dan segera berdiri.
"Anne habiskan makananmu dulu"
"Aku sudah tidak berselera untuk makan"
"Jangan seperti ini, kita tamu di sini." Daniel mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat.
"Dan aku tidak pernah memintamu, untuk membawaku bertamu ke rumah orang. Lagi pula kalau tuan rumahnya modelan tadi, siapa yang bakalan suka hm?"
Savage.
Daniel sampai tersedak mendengar kata-kata Anne. Memang dia yang membawanya tadi, tadi dia terlalu senang saat mendengar gadis itu menyukai sapi. Dia membawa Anne ke sini dengan tujuan, untuk lebih dekat dengan gadis itu. Tapi sepertinya gadis yang dia dekati, tidak seperti gadis - gadis lainnya, yang akan meneteskan air liur hanya dengan melihat senyumannya saja.
Dengan kesal Daniel beranjak dari kursinya, dan membawa Anne ke sebuah kamar.
"Kamu bisa tidur di sini"
"Kupikir di kandang sapi." Sepertinya Anne sengaja membuat tensinya naik. Dan itu berhasil. Daniel pergi meninggalkan Anne dan membanting pintu di depan wajah gadis itu.
Anne hanya menghela nafas lelah. Salahnya apa coba, kenapa harus pake acara banting bantingan segala.
•
Daniel pergi keluar dan duduk di teras kayu, dia menyalakan sebatang rokok, dan menghisapnya dengan kasar.
Tiba - tiba seseorang memeluknya dari belakang, tanpa menolehpun Daniel tau, siapa yang memeluknya itu.
" Jangan mengangguku Zee "
"Kamu tidak merindukanku Dan ? Bukankah kamu datang jauh-jauh kesini untuk menemuiku ?"
__ADS_1
Zee mengambil rokok di jari tangan Daniel, dan meletakannya di atas asbak. Dia berjalan memutari Daniel, dan duduk di pangkuan pria itu. Tangannya di kalungkan di leher Daniel.
Zee ******* bibir tipis Daniel. Melihat Daniel tidak meresponnya, tangan Zee gentayangan (setan kali, gentayangan) mengelus rahang Daniel, bahkan pinggulnya sedikit di gerak-gerakan, Zee berharap membangunkan sesuatu di bawah sana.
"Apa kamu tidak merindukanku ? Kita sudah seminggu lebih tidak bertemu Dan."
Daniel mengusap wajahnya kasar. Apa benar dia merindukan Zee, sampai harus datang jauh-jauh ke tempat wanita itu berasal.
Lalu Anne ? Apa dia hanya di jadikan alasan saja, supaya bisa datang kesini?.
Daniel memegang pinggang Zee, dan menurunkannya dari atas pangkuannya, kemudian meninggalkannya sendirian.
"Tch, pasti gara-gara gadis sialan itu."
Daniel kembali ke kamar yang di tempati Anne, dia membuka pintu secara perlahan, tidak sekasar tadi.
Di lihatnya Anne sedang memperhatikan gadjet di tangannya.
Daniel menaiki tempat tidur, dan berbaring di sebelah Anne.
"Kenapa tidur di sini ?" Tanya Anne heran.
Anne hanya mendesah kesal, dia meletakan benda pipih di tangannya, dan berbalik membelaknagi Daniel.
Melihat Anne memunggunginya, Daniel memeluknya dari belakang, seperti guling.
Anne sedikit berontak, dia sangat risih di buatnya. Jangan kan tidur pelukan sama pria, lha wong ciuman saja, dia baru merasakannya waktu di cium Daniel saja. Tapi sekarang lihatlah, dia bahkan tidur berpelukan dengan pria asing yang baru beberapa kali di temuinya.
"Diamlah, tidur!" Titah Daniel. Anne langsung terdiam, dia juga sudah lelah lahir bathin, sedari kemarin kurang tidur. Akhirnya tertidur, entah karena merasa nyaman atau saking lelahnya, hanya dia yang tahu.
Daniel menopang kepalanya dengan tangan, dan memperhatikan Anne, gadis itu biasa saja, tidak ada yang istimewa, lalu...kenapa dia harus repot-repot membawanya sejauh ini ? Apa benar yang di katakan Zee tadi, dia membawa Anne hanya karena kasihan, bukan karena hal lain.
•
Suara-suara binatang terdengar memenuhi pendengaran Anne, yang sedang tidur pulas. Perlahan-lahan kesadarannya pulih, dan matanya mengerjap.
"Eunghh" suara lenguhannya terdengar memnuhi ruangan. Anne berniat menggeliat, tetapi badannya terasa sangat berat dan kaku.
Anne melotot, kemudian dia meraba badannya. Dia memdesah legaa....dia masih berpakaian lengkap, berarti tidak terjadi sesuatu.
Saking fokusnya dengan pikirannya sendiri, Anne tidak sadar kalau segala tingkahnya di perhatikan Daniel, yang masih memeluk tubuhnya.
__ADS_1
"Sepertinya kamu berharap terjadi sesuatu ya?" Bisiknya di telinga Anne.
"Apa maksudnya? kalau mau mesum, sana sama pacarmu saja, jangan di sini."
"Sayangnya aku tidak punya pacar, apa kamu mau jadi pacarku ?" Daniel menaik turunkan alisnya, menggoda Anne.
Anne menatap Daniel dengan berani, apa pria ini sudah gila, kemarin kan dia, yang menolaknya mentah-mentah. Apa dia semalam jatuh dari tempat tidur, dan kepalanya terbentur.
"Siapa yang mau jadi pacarmu? Malas betul. Apa semalam kepalamu terbentur sesuatu, sampai - sampai lupa, kalau kamu sudah menolaku bukan? Jangan lupakan itu!"
Daniel tertawa sumbang, mendengar jawaban Anne, sungguh di luar perkiraannya. Daniel mendekatkan wajahnya, ke wajah Anne, dan mengecup bibir mungil yang sedang cemberut itu.
"Morning kiss. Maafkan aku, aku hanya kaget, waktu mau di jodohkan mendadak seperti kemarin." katanya sambil nyengir.
"Maaf yaa....? enak betul bilang maaf. dan bisa tidak, jangan mencium perempuan sembarangan seperti itu, aku jadi terlihat seperti wanita murahan saja." dengus Anne kesal.
Sepertinya Anne harus terbiasa dengan tingkah Daniel, yang suka menciumnya secara tiba-tiba. Anne melepaskan badannya dari pelukan Daniel, dan beranjak dari atas tempat tidur. "Aku mau melihat sapi." Gumamnya sambil berlalu ke kamar mandi.
Anne melewatkan acara sarapan pagi, dia lebih memilih keluar, menghirup udara segar, sambil memperhatikan sapi dan domba yang bergerombol di padang rumput. Sejujurnya, dia malas bertemu perempuan menor itu lagi.
Anne duduk santai di atas tangga, yang tak begitu tinggi.
Tiba-tiba..
"Aahh...Daniel tolong aku...hiks hiks....
Anne melotot ke arah bawah tangga, di lihatnya perempuan menor itu jatuh terduduk di bawah sana dengan kaki sedikit tergores nampaknya. Kemudian dia melirik ke belakangnya, terlihat Daniel berlari dan menuruni tangga.
"Dia mendorongku." Anne menelan ludahnya yang mendadak terasa seperti duri. Daniel menoleh ke arahnya, dengan tatapan yang sangat tajam.
"Apa yang kamu lakukan Anne?"
"Aku, aku kenapa?" Anne gelagapan.
"Kenapa kamu mendorong Zee dari tangga ? Aku tau kamu itu sangat barbar dan tidak tau aturan, tapi aku tidak menyangka, kalau kamu akan mencelakakan orang lain seperti ini."
Jlebb
Sepertinya jantung Anne langsung berhenti berdetak, mendengar kata-kata Daniel yang begitu menusuk. Tanpa terasa setitik dua titik air matanya turun tanpa permisi.
" A ak.....
__ADS_1