
"Apa aku boleh, mengambil sesuatu yang sudah ku tolak sebelumnya"
Entah apa yang merasuki Daniel.
Tetapi dia akan berjuang, berjuang demi masa depannya, dengan gadis impiannya.
Ehh ehhh.....tunggu, gadis impian ? Sejak kapan ? Hanya Daniel dan tuhan yang tahu. 😏
Daniel memasuki kediaman Luchester dengan senyum mengembang di wajahnya, bahkan sang kakek yang berpapasan dengannya sampai heran. Apa dia kesambet di jalan tadi, begitu pikir si kakek.
Daniel berhenti sejenak, menatap sang kakek yang keheranan. Dia ingin bicara, akan tetapi mengingat saudaranya sedang terbaring lemah, dia mengurungkannya, dan akhirnya berlalu meninggalkan kakeknya yang semakin kebingungan, melihat tingkah cucunya.
Dia masih tersenyum, bahkan setelah berada di dalam kamarpun, Daniel masih tetap mempertahankan senyumannya.
Sadar bang sadar, jangan senyum-senyum sendiri, ngeri akutuh 😏.
Sebulan kemudian.
Akhirnya Sean sudah membuka kedua matanya, dia bangun dari tidur panjangnya.
Seluruh keluarganya sangat bahagia, begitu juga dengan Anne. Sayangnya Daniel tidak berada bersama mereka, dia sedang berada jauh di seberang benua, untuk mengurus pekerjaannya.
Mereka silih berganti mengunjungi Sean, dan menemaninya. Bahkan Anne menjadi betah tinggal di rumah, tidak kabur-kaburan seperti biasanya.
Hari ini, mereka berkumpul di ruang rawat inap Sean, mereka menjemput Sean pulang, setelah di nyatakan kondisinya membaik.
"Aku senang Sean, akhirnya kita berkumpul lagi." Anne memeluk tubuh kurus Sean, sementara Ken membantu Mira, merapikan barang-barang.
Sean tersenyum, dia bersyukur masih bisa melihat orang-orang tercintanya. Matanya nampak berkaca-kaca.
"Apa ada yang sakit Sean." Anne panik, melihat Sahabat mata sahabatnya itu, begitu sendu.
"Tidak ada. Aku hanya terlalu bahagia, bisa melihat kalian lagi." Mira menghampiri mereka, dan memeluknya.
"Mama juga sangat bahagia, melihatmu bangun sayang." Sean merangkul mamanya dengan erat. "Maafkan mama Sean, mama sampai tidak tahu, kalau kamu sakit seperti ini."
"Kenapa minta maaf, mama tidak salah. Yang salah Sean sendiri, tidak pernah mau terbuka."
"Baiklah, sudah selesai semua, ayo kita pulang." Ucapan Ken seolah menyadarkan mereka.
Ken membantu Sean untuk berpindah ke kursi roda. "Biar aku yang mendorongnya Ken." Anne segera berdiri di belakang Sean.
"Baiklah." Ken meraih tas bawaan Sean, sedangkan Mira berjalan di sebelah Sean.
"Papa mana mam?"
"Tadi papamu mengurus administrasi dulu, mungkin menunggu di depan."
"Aku tidak melihat Daniel, dia kemana?"
"Daniel harus kembali ke Australia, ada sedikit masalah di sana, mungkin besok dia sudah berada di rumah."
Mendengar nama Daniel di sebut-sebut, jantung Anne berdegup kencang, beberapa hari tidak melihat pria mesum itu rasanya seperti....ada yang kurang. "Jadi dia ke Australia lagi ? Apa mungkin sambil ketemuan sama pacarnya itu ya?" Bathin Anne.
Memikirkan itu, dadanya terasa seperti di himpit benda berat. Sesak.
"Kenapa seperti ini rasanya ? Ayolah Anne, jangan menyukai dia."
__ADS_1
Melihat Anne yang anteng melamun, Ken memegang tangannya. "Ada apa Anne?"
"Ehh ? Ouh tak apa hehee..."
"Tidak apa-apa, tapi anteng melamun." Anne tersenyum, senyuman yang terlihat aneh di mata Ken.
"Siapa yang melamun?" Tanya Sean mengejutkan mereka berdua.
"Tidak ada hahahaa..." jawab mereka kompak.
Sean pulang bersama kedua orang tuanya, sedangkan Anne bersama Ken, mobil mereka beriringan meninggalkan rumah sakit, yang sebulan belakangan ini, jadi rumah ke dua bagi Sean.
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, mereka tiba di mansion keluarga Luchester. Mereka di sambut tuan Jhon Luchester, yang sudah berdiri dengan tongkat kebesarannya, di depan pintu masuk.
"Grandpa." Sean memanggil sang kakek, yang berjalan menghampirinya. Tuan Jhon merangkul cucunya, yang terlihat sangat kurus.
"Akhirnya kamu pulang nak."
"Iya grandpa, tapi sayang Daniel tidak di rumah."
"Dia harus menyelesaikan pekerjaannya dulu, jadi tidak ikut menjemputmu." Sean mengangguk, mendengar ucapan kakeknya. "Istirahatlah, jangan terlalu lelah."
Anne dan Ken yang memperhatikan interaksi antara cucu dan kakeknya, nampak tersenyum bahagia, semoga Sean bisa sembuh dan bisa terus bersama bersama mereka. Itulah harapan dan keinginan mereka.
•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
"Bukankah hari ini Sean pulang ke rumah ? Apa mereka sudah menjemputnya?" Daniel bergumam sendiri, dia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, dan pulang ke rumah.
"Semoga besok bisa pulang ke rumah, dan dia sudah berada di sana." Lanjutnya.
Daniel rindu rumah, dan juga....gadis mungilnya. Sudah beberapa hari tidak melihatnya, rasanya sangat rindu.
Pukul lima sore, Daniel tiba di tanah air. Dan segera meminta sopir yang menjemput untuk secepatnya pulang kerumah.
Tiba di kediaman keluarganya, dengan berlari-lari Daniel memasuki mansion. Sepi, itulah yang dia lihat saat memasuki bangunan tersebut.
Daniel berlari menaiki tangga, saat memasuki lorong ke arah kamarnya, dia melihat Anne yang baru keluar dari kamar Sean.
Dengan cepat Daniel menyeret tubuh mungil Anne, dan membawanya masuk ke kamar dia.
"Hei, apa-apaan kau ini ? Aku ini bukan karung beras, main seret saja." Anne yang terkejut, ngomel panjang lebar.
"Diamlah, aku hanya mau begini sebentar." Daniel memeluk tubuh mungil Anne, dan menghirup aroma shampoo dari rambutnya dengan rakus.
"Akk.. kuuhh...ti..dakk bisa nhaafaas.." suara Anne tersendat-sendat, karena wajahnya terbenam dada bidang Daniel.
Daniel mengurai pelukannya, dia menatap Anne yang megap-megap. "Maaf."
"Heumm" Anne memalingkan wajahnya, yang terasa panas, karena tatapan intens Daniel.
Daniel memegang dagu Anne, dan mendongakan wajahnya, ke arah dia. Seolah memindai wajah mungil di hadapannya, mata Daniel menelusurinya hampir setiap inci.
Anne mengerjapkan matanya, dan berusaha menahan debaran di jantungnya, yang semakin menjadi-jadi.
"Aku merindukanmu." Anne hampir melompat tak percaya, kalau Daniel baru saja mengucapkan kata rindu, padanya.
"Apa?"
__ADS_1
"Aku merindukanmu". Ulangnya, di telinga Anne.
Anne terpaku, masih tak mempercayai pendengarannya. "Ohh."
"Hanya OH saja, tidak mau menjawab yang lain Anne?" Daniel tersenyum miring.
"Oh, anu...itu hehe..kurasa kamu perlu istirahat dulu, pasti capek." Anne menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sangat malu rasanya.
"Capeku sudah hilang, dari tadi."
"Emang datangnya udah lama ya?"
"Baru saja."
"Barusan katanya, capeknya udah hilang dari tadi kan?"
"Iya sudah hilang, waktu lihat kamu."
Blush
Wajah Anne langsung merona.
Daniel tersenyum, melihat wajah gadisnya merona.
"Sudah hampir malam, maaf aku harus pulang dulu." Anne berusaha sebisa mungkin, untuk tidak bertatapan dengam Daniel.
"Ku antar ya." Sahutnya sambil memegang bahu Anne.
"Ehh, tidak, tidak perlu." Anne berusaha menolak tawaran Daniel.
"Besok aku tidak mau mendengar, berita anak kecil yang kesasar dan hilang." Bisik Daniel
"Apa" Anne melotot garang.
Cup
Daniel mengecup bibir mungilnya, Anne terbelalak, dia lupa kalau sedang berhadapan dengan manusia mesum.
Anne berusaha melepaskan kungkungan Daniel, tapi bukan terlepas, sekarang malah dia terduduk di pangkuan pria itu.
Daniel membuatnya terduduk, di pangkuannya, dan memeluk pinggang Anne dengan erat.
"Jangan begini, nanti ada yang masuk."
"Pintunya ku kunci." cengir Daniel.
Daniel mencium bibir mungil Anne, yang berwarna pink. Bibir yang selalu menjadi candunya akhir-akhir ini. Anne terdiam saat ciuman lembut itu, berubah menjadi lumatan.
Pikirannya berteriak menolak, tapi bibirnya berkhianat, malah membalas perlakuan Daniel.
Anne mengerang, merasakan sesuatu hal yang baru pertama kali bagi dia. Sedikit demi sedikit, kesadarannya mulai menurun.
"Ahhh...Dhaann..ap..apahh..y yang kau..lakukukan"
Anne tidak mengerti, maksudnya apa coba.
Tok tok...
__ADS_1