
" Apaa ? Bicara dengan perempuan itu, yang sopan dikit napa ."
" Badan datar dari atas ke bawah begini, ngaku-ngaku perempuan ? Kamu mau tahu, perempuan itu pembawaannya halus lembut, tidak barbar seperti dirimu!" jawab Daniel dengan ekspresi wajah yang teramat sangat menyebalkan di mata Anne.
Dengan wajah merah padam Anne melemparkan bantal dan guling ke arah Daniel, dia betul-betul marah, karena lagi-lagi merasa terhina, dengan orang yang sama.
" Dasar brengsek, sebaiknya keluar kamu " desisnya.
Daniel berlalu meninggalkan Anne di dalam kamar. Dia merasa bingung, dengan kedekatannya yang mendadak, dengan gadis yang nota bene sudah di tolaknya mentah - mentah. Di tambah, dia baru mengetahui, kalau informasi yang selama ini dia terima salah besar, ternyata gadis itu, berbeda dengan apa yang dia pikirkan.
Dia bukanlah gadis yang suka hura-hura dan berpesta, seperti gadis kalangan atas lainnya, dia sangat berbeda. Hanya saja....dia juga terlalu polos, untuk gadis seusianya.
Daniel kembali ke ruangannya, dan menelphone seseorang.
" Sean.."
" Hai bro, apa kamu masih betah di sana ?" Terdengar suara riang Sean
" Ya sepertinya begitu "
" Ada apa ?"
Daniel menghela nafa sberat.
" Aku melihat dia, dia ada di sini, sangat dekat".
" Siapa ?"
"Gadis itu "
" Gadis yang mana ? Gadismu sangat banyak dan aku tidak tahu, yang mana yang kamu maksud"
" Anne, sahabatmu, dia ada di sini, bersamaku Sean ."
"Apaa, kenapa berada di Sidney, harusnya dia berada di peternakan."
" Peternakan ? Dia ada di sini, di hotel milik kita."
Sejujurnya Sean merasakan hatinya bertalu-talu, apa dia merasa cemburu ? Ntahlah.
" Dan,...tolong jaga dia, walaupun dia agak sedikit barbar dan urakan, tapi dia benar-benar masih polos, dan belum tersentuh siapapun, kamu faham ucapanku kan Dan?"
Daniel termenung mendengar kata demi kata yang Sean ucapkan.
" Ya aku mengerti. Semalam, kudengar dia menghajar seorang pria sampai pingsan ."
__ADS_1
" Sudah ku duga , jangan heran, dia memanng seperti itu" Sean sepertinya tidak kaget lagi mendengar hal seperti ini.
" Menduga apa ?"
" kamu tau, jika orang yang mengenalnya, pasti tidak akan pernah mencari masalah dengan dia, bukan karena nama keluarganya, tapi karena dia sangat...kamu taulah, di tambah dia menguasai ilmu bela diri dan sangat mengerti soal senjata. Cristian selalu mengajari dia hal-hal seperti, jadi kamu juga harus berhati - hati."
Daniel sampai cengo, mendengar penuturan Sean barusan.
" Tadi...aku juga terkena tendangannya, dan pahaku membiru sampai sekarang ." Jawab Daniel pelan.
" Hahahahaaaa....aku saja yang sudah lama mengenalnya, tidak pernah kena tendang tuh" Sean malah menertawakan saudaranya.
" Dia tidak memiliki uang sepertinya." Lanjut Daniel.
" Iya aku tau, dia pasti tidak memiliki uang yang cukup, karena Tuan Evander pasti memblokir seluruh keuangannya. Itu hal biasa juga Dan!"
" Ck, sepertinya kamu sangat tau dan faham betul siapa dia, dan bagaimana keadaannya ." Daniel terdengar sangat kesal, mendengar Sean yang begitu banyak tau, tentang Anne.
" Ayolah Dan, hampir setiap hari aku bersama dia, kalau dia pergi tanpa izin begitu, berarti daddy nya memblokir seluruh fasilitasnya, sudah rahasia umum bagi kami. Nanti kalau tidak menghubungiku, pasti dia akan menghubungi Ken, untuk minta bantuan."
Daniel hanya ber 'oh' ria mendengar penuturan Sean.
"Ken, siapa lagi Ken?"
" Kupikir dia...
" Kamu pikir dia anak manja, yang suka foya-foya dan pesta, terus keluar masuk club, begitu kan?!
Skakmat.
"Hemm, ya"
"Buang jauh-jauh pikiranmu itu Dan, dia berbeda, sangat beda."
"Sean, apa kamu menyukainya?"
Sean terkejut bukan main, mendengar Daniel bertanya seperti itu.
"Suka...ya, aku menyukainya, sejak pertama bertemu dulu, Tapi ya itu...
"Kenapa?" Daniel semakin penasaran.
"Mungkin kami hanya cocok menjadi sahabat saja, dia tidak pernah menganggap aku, atau Ken, melebihi sahabatnya, begitulah."
Legaa...
__ADS_1
Itulah perasaan Daniel sekarang.
Seulas senyum tersungging di bibirnya.
Setelah bicara panjang lebar dengan saudaranya, Daniel segera menutup panggilannya. Dia kembali berjalan ke arah kamar Anne, kamar dia tepatnya.
Perlahan Daniel membuka pintu kamar itu, dia menatap sekeliling, sepi.
Daniel melangkah masuk, dan mendapati seseorang yang di carinya sedang terlelap.
Daniel menghampiri tempat tidurnya, dan duduk dengan menaikan sebelah kaki. Dia merapikan helai-helai rambut yang menutupi wajah Anne.
Daniel mengelus pelan pipi cubby Anne, dan turun membelai bibir mungilnya yang berwarna pink.
Daniel mencium kening Anne dengan sangat lembut dan lama.
Ada perasaan hangat di hatinya.
Daniel naik ke atas tempat tidur, dan berbaring saling berhadapan dengan Anne.
Entah sudah berapa lama, dia menatap wajah yang sedang terlelap damai, di hadapannya.
Brukkk...
Tiba-tiba saja kaki mungil menimpa badannya, dan menjadikan dirinya sebagai guling. Daniel tersenyum melihat cara tidur gadis itu, tidak ada manis - manisnya sama sekali.
Anne menggeliat, matanya beberapa kali mengerjap, dan perlahan terbuka. Dia sangat terkejut saat membuka mata, yang pertama di lihatnya adalah wajah Daniel, yang sedang tersenyum kepadanya. Dan juga tubuhnya saling menempel. Dan yang paling membuatnya malu adalah, dia yang mendekap pria itu, bukan hanya tangannya, tetapi juga kakinya, yang melingkari badan besar itu.
Anne segera menjauhkan tubuhnya, dari tubuh Daniel. "Apa kamu lapar ?" Daniel bangkit dan bersandar. Anne hanya mengangguk, tanpa mau melihatnya. Dia sangat malu.
"Kenapa tidak mau melihatku?"
"Biasa saja tuh"
"Benarkah, padahal tadi meluk sangat erat, kenapa sekarang malu-malu hm?"
Wajah Anne semakin memerah, menahan malu.
"Bangunlah, kita mencari makananan untukmu"
Anne hanya menurut, apa yang Daniel ucapkan, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Daniel membawanya ke cafe yang berada di hotel tersebut, dan memesan banyak makanan untuk mereka berdua.
"Ouw..jadi seperti ini yaa, kelakuan seorang putri Lazuardy"
__ADS_1