
Anne duduk di tepian tempat tidur. Sekarang dia bingung tujuh putaran, sembilan belokan. uang pas-pasan, posisi jauh dari ibu kota, kalau harus kembali, naik apa coba ? Naik odong - odong gitu. Gak mungkin kan Esmeralda😑.
Dia mengeluarkan ponselnya dan mencari seseorang yang sekiranya mau menolongnya keluar dari sana. Punya banyak teman, tapi kalau lagi susah biasanya kan, teman itu jadi beberapa biji doang.
Anne mengabsen satu persatu temannya, akhirnya cuma ada lima yang ada dalam daftar, yang bisa menolongnya.
"Jill" desisnya dengan sedikit binar di matanya.
Anne segera mencari nama tersebut di kontak ponsel miliknya. Setelah ketemu, dia segera menghubunginya.
"Jill" Suara Anne sangat parau, karena menahan tangis.
"Ada apa ? Kenapa ?" Terdengar suara riweh di seberang sana.
"Kamu di mana hiks...Jill ?"
"Masih di tempat kakekku, ada apa ?"
"Peternakan sapi ?" Wajah Anne semakin berbinar.
"Iya, kakekku kan hidupnya di peternakan Anne, kamu kenapa ?"
"Jemput aku Jill, aku tidak punya uang huaaa....."
"Huwaaatt, anak Lazuardy belangsak melarat begitu, sampai tak punya uang. Kamu di pecat jadi anak mommy sama daddy kamu ya?"
"Sembarangan. Aku kesasar di peternakan orang, tak jauh dari tempatmu."
"Di mana, sekarang ku jemput"
"Kiana."
Tuutt...
Panggilan tetiba mati, Anne melongo, bukannya nolongin, ehh malah panggilan telphone aja di putusin sembarangan. Syakiit enenk mbak syaakkiittt😭.
Hari semakin siang, Anne masih tidak beranjak dari tempatnya. Sedangkan Daniel ? Entahlah, sedari tadi Anne tidak melihatnya lagi. Masa bodo, kelaut saja kau bang. Begitu pikir si Anne.
Braakkk
Pintu kamarnya di buka dengan kasar, terlihat Daniel memasuki kamar, dengan wajah super datar, menahan emosi.
__ADS_1
"Kupikir kamu sudah pergi dari sini, ternyata masih ada rupanya."
Jlebb
Lagi-lagi, hati Anne mencelos. Anne hanya diam tidak menanggapi provokasi Daniel.
Terlihat Daniel membuka bagpacknya, dan mengeluarkan dompet. Dia mengambil beberapa lembar uang dan menyodorkannya pada Anne.
Anne menatap nanar tangan Daniel yang memegang uang tersebut. Hatinya bagai di remas-remas.
"Kamu tidak memiliki uang kan ? Ini, kurasa cukup untuk pulang ke rumahmu."
Anne memalingkan wajahnya, dia tidak sudi mengambil satu sen pun uang pria itu.
Dengan kesal Daniel melemparkan uang tersebut, ke pangkuan Anne. Kemudian berlalu keluar meninggalkan kamar.
Anne melihat uang yang di berikan Daniel, mengambilnya dan menyusunnya dengan rapi. Kemudian meletakannya di atas nakas. "Bodohnya aku hahahaaa..." Anne tertawa di antara derai tangisnya. Rupanya dia terlalu berharap, berharap akan memiliki hubungan yang baik, dengan orang yang sudah jelas-jelas tidak menginginkannya.
( efek kelamaan jomblo simbaktuh)
Drrtt...drrttt...
Anne melirik ponselnya, nampak di layar nama Jill tertera. Dengan menahan isak, Anne menjawab panggilan Jill. "Iya Jill."
Tak jauh dari pintu masuk peternakan, nampak sebuah mobil Ford Ranger warna hitam, yang kacanya separuh terbuka, terlihat lambaian tangan dari arah kursi kemudi, Anne segera berlari menghampiri mobil tersebut.
Dari arah sampingnya nampak SUV yang kemarin membawanya, sang pengemudi nampak heran melihat Anne berlari menghampiri mobil di seberang jalan.
"Anne, Anne." Daniel berteriak, tapi teriakannya di abaikan Anne.
"Anne tunggu, jangan pergi dulu." Daniel keluar dari mobilnya dan berlari ke arah Ford Ranger yang di naiki Anne. Daniel menggedor kaca jendelanya terus menerus. "Anne, buka sebentar, aku mau bicara."
Tapi usahanya sia-sia saja, Anne mengabaikan Daniel, mobil itu pergi begitu saja, meninggalkan Daniel yang masih terus berteriak memanggil Anne.
"Kamu harus menjelaskan sesuatu padaku, kurasa." Ucap Jill hati - hati.
Anne hanya terdiam, sambil sesekali menarik nafas berat.
"Baiklah, kita mulai dari.....kenapa kamu berada di sini?" Tanya Jill.
"Aku kabur, setelah perjodohan gagal itu" jawabnya datar.
__ADS_1
"Siapa laki-laki tadi ? Dan kenapa kalian bisa tinggal di sana?"
"Itu sepupu Sean, calon tunanganku, yang kemarin menolaku. Aku tidak tau kenapa bisa ikut dia ke sini hiks hiks..." tangisan Anne terdengar pilu.
"Kamu kabur dari rumah, teruuuss kamu ikut sama orang itu ? Orang yang sudah menolakmu Anne, apa kamu tidak waras? Benar - benar, kurasa otakmu sedikit bergeser!"
Tangisan Anne semakin kencang, Jill semakin bingung. Si Anne kalau sudah begini, hilang sudah barbar nya.
"Berhentilah menangisi kebodohanmu itu, nanti orang kira, aku menganiaya anak di bawah umur."
Mendengar omelan Jill, tangisannya bukan berhenti malah semakin menjadi.
Ckiiitttt...
"Aww...kenapa di rem mendadak?"
"Karena kamu berisik, hentikan dulu tangisanmu itu."
Anne mencebikan bibirnya, sambil menahan isakannya.
Jill hanya menggelengkan kepalanya, dia bingung dengan gantungan kunci di sebelahnya ini. Padahal nilai akademiknya warbiyasaahh, jiwa sosialnya boleh di acungi empat jempol sekaligus, bahkan dia sanggup adu jotos sekalipun, tapi kalau udah soal hati, o'on nya gak ketulungan.
Anne tertidur, dengan mata sembab, hidung mungilnya tampak merah seperti cherrie. Jill mengusap kepala teman kecilnya. "Nasibmu malang sekali, belum pernah jatuh cinta, sekalinya jatuh sama orang gila." Jill menghela nafas panjang.
•
Sementara Daniel, sedang termenung sendirian di dalam kamar, yang semalam di tempatinya bersama Anne, dia memandangi nakas, di sana terlihat beberapa lembar uang, yang tadi dia lemparkan ke pangkuan Anne.
Dia akui, memang tadi sangat kelewatan, Daniel sangat kesal, dia tak menyangka kalau Anne akan berbuat seperti itu.
Daniel terus memikirkan, siapa orang yang membawa Anne pergi, dia tidak bisa melihat jelas ke dalam mobil itu, karena kacanya gelap.
Apa dia seorang laki-laki ? Bukankah sahabat laki-laki Anne hanya Sean dan Ken, lalu...yang tadi siapa ?" Daniel mengacak rambutnya dengan frustasi. Karena emosi sesaatnya, Anne pergi begitu saja.
Daniel mengambil bagpack miliknya, dan segera keluar dari kamar.
"Dan, kamu mau kemana ?"
"Zee." Daniel menarik nafas lelah. "Aku harus segera pergi, masih banyak kerjaan"
"Kamu tega, lihat yang di perbuat gadis itu padaku, dan kamu mau pergi begitu saja ?"
__ADS_1
Zee menunjuk kaki dan tangannya yang di balut perban. Daniel berdecak kesal, dia sangat benci terjebak dalam situasi seperti ini. Zee tersenyum licik, melihat Daniel akhirnya duduk di sofa.
" Tidak bisa bermain kasar, kita bermain halus "