"Jatuh Cinta Lagi"

"Jatuh Cinta Lagi"
mimpi buruk


__ADS_3

Dion yang masi fokus keperkerjaanya pun larut dan tiba tiba mendengar teriakan dan tangisan dari kamar pribadi nya ia


Dion pun masuk dan menghidupkan lampu


"ciaa kenapa" menepuk pelan pipi Clarista


Clarista tidak menjawab karna matanya masi terpecam, keringat dingin bercucuran didahi Clarista dan wajah nya yang begitu pucat membuat Dion menjadi panik ia ingin memanggil Dokter. suara isak tangis Clarista pun terdengar lagi


"*MAMA JANGAN TINGGALIN CIA"


"PAPA JAHAT "


"PAPA GAK SAYANG CIA LAGI"


"CIA BENCI PAPA*"


mendengar itu Dion langsung memeluk Clarista ingin menenangkan gadisnya itu


"cia tenang nya sayang"mengelus rambut Clarista dan mencium dahi Clarista, pelukan dari Dion berhasil membuat Clarista mulai tenang,


Dion yang masi khawatir dengan Clarista pun hanya bisa memberikan ketenangan ke Clarista


hampir seharian bersama Clarista ia bisa melihat Clarista yang bisa meyembuyikan beban nya dibalik senyum nya itu


Entah mengapa ia merasa harus menjaga Clarista dan ada di samping nya terus dan tidak mau Clarista terluka, bahkan melihat Clarista ia merasa gagal menjaga Clarista


dan satu kalimat yang bisa dia ucapkan


"dia benar benar ingin memiliki gadis itu sepenuhnya menjaga dengan sepenuh raga ya"


pasti bagi orang lain yang mendengar nya beranggapan sangat lebay tapi Dion tak masalah karena dia memang mau seperti itu entah lah Dion pun tak tau,

__ADS_1


*


*


suara legukan dari Clarista pun meyadar kan Dion dari lamunan nya itu tangan nya berhenti mengusap rambut Clarista karena gadis itu langsung duduk seperti orang linglung muungkin dia masi belum sadar pikir dion


"sudah bangun hm" tanya dion lembut dan ingin menahan tawa melihat wajah Clarista yang begitu lucu dan rambut berantakan Clarista kecantikan gadis itu tidak luntur meski ia baru bangun tidur benar-benar alami batin Dion.


"aku dimana" ucap clarista lirih sambil melihat ke kiri dan ke kanan ia tak sadar jika dari tadi tangan kanan nya masi digenggam begitu erat oleh Dion


dan ketika melihat hanpone Clarista pun langsung membuka nya bukan dengan sidik jadi nya melainkan dengan angka pasword yang begitu mudah bahkan dion tidak terpikir jika hanya menekan angka 212121 mudah sekali batin Dion meringis mengingat kebodohan ya sendiri,


Clarista yang merasa ia tak sendiri pun melihat ke samping kirinya


"kak" gumam Clarista begitu pelan tapi Dion masi bisa mendengar nya


"apa tadi cia mimpi buruk lagi" mendengar itu Clarista terdiam.


"di kantor kakak?" tanya Clarista mengulang perkataan Dion tadi dan Dion hanya mengangguk


"kenapa gak dijawab" tanya dion lagi


"hmm iya tadi cia mimpi itu lagi" mendengar itu Dion sempat bingung apa gadis ini sering mimpi seperti itu batin Dion


Clarista merasa haus dan melihat tas nya dan dia mengambil lalu membuka dan mengambil minuman berkaleng bersoda itu


"dimana- dimana minum air putih, bukan minuman yang gak sehat kayak gitu" gerutu Dion yang khawatir dengan Clarista yang jarang sekali mengkonsumsi air putih


Clarista tidak memperdulikan berkataan dion ia tetap meminum meski bersoda ia malah suka


"cia" panggil Dion lagi karna melihat Clarista begitu cepat menghabiskan minum yang tidak sehat itu. " itu gak sehat kalau di konsumsi setiap hari" gerutu Dion lagi dia juga kesal karena Clarista malah ingin meminum minuman kaleng nya lagi

__ADS_1


"karna gak sehat makanya cia suka kak" jawab Clarista yang ingin membuka minuman kaleng nya itu


"jangan bicara seperti itu cia" langsung merampas minuman kaleng dari tangan Clarista


"kenapaa si kak"ngeram Clarista bahkan om Davis nya tidak marah bukan tidak marah hanya saja Davis tidak tau jika. Clarista sering meminum minuman tidak sehat itu


"cia" panggil dion lagi dari tatapan nya mengarti kan jika dia butuh penjelasan Clarista


"cia berharap cia punya penyakit berbahaya yang bisa membuat cia menyusul mama" mendengar perkataan Clarista membuat Dion kaget "maksud kamu apa berharap kayak gitu" suara Dion begitu kesal


"cia mau ikut mama cia gak mau jadi beban bagi om **Davis dan om rayen" jawabnya sambil mengalih kan pandangan karena tak berani dengan menatap Dion yang sedang menatapnya begitu tajam


"papa juga kayak nya benci banget sama cia, bahkan cia udah sering ngelukain diri cia sendiri tapi kenapa cia masi hid..." perkataan Clarista yang begitu lemah terpotong dengan ucapan Dion " cia gak boleh bilang kayak gitu Davis dan rayen gak perna nganganggap cia ituu sebagai beban, papa cia juga sayang banget sama cia dan cia gak boleh ngelukain diri lagi" ucap dion sambil menatap Clarista begitu dalam**


"gak cia itu beban kak, dan mungkin papa akan peduli kalau cia udah mati" Dion langsung memeluk Clarista yang begitu furtasi dan bahkan ini pertama kalinya Clarista mencurahkan isi hatinya


"cia mau bunuh diri kayak mama" guman nya begitu pelan dan masi didengarkan oleh Dion


mendengarkan itu Dion langsung merenggakan


pelukan nya "enggak cia gak boleh kayak itu ingat cia mama kamu bakalan sedih kalau cia ngelakuin hal bodoh kayak gitu, masi banyak yang peduli sama kamu dan kamu gak perna jadi beban" Clarista hanya mendengarkan perkataan Dion mata nya sudah memerah menahan tangis


"menangislah cia" ucap dion melihat Clarista yang menahan tangisan nya. Clarista hanya menggeleng ia Tak ingin menangis Didepan lelaki kecuali kedua om om nya.


"menangislah itu akan membuat beban pikiran mu berkurang" bisikan ditelinga dari dion hampir membuat tangisan nya pecah.


"aku tau kau begitu sakitt mengingat mama mu bunuh diri karna papa seling.." perkataan Dion terpotong karna isak tangis Clarista yang tak dapat iya bendung lagi....


ia betul-betul menangis jika di ingatkan dengan kematian sang mama yang begitu tragis


begitu sakit rasanya melihat gadis yang selalu tersenyum ceria itu menangis begitu pilu

__ADS_1


maaf kalau cerita ya ngebosenin😪


__ADS_2