
Reina POV
Aku tidak tahu, bagaimana akhir dari cerita rumah tangga ku yang di dasari oleh perjodohan.
Tidak ad cinta, tidak ada kasih sayang. Hanya bermodalkan percaya kepada kedua orang tua.
Pagi ini, aku bangun pagi pagi sekali. Ku rasakan sebuah tangan memeluk erat perut ku.
Aku yang tidur membelakangi nya, merasakan hembusan hangat dari suami ku. Yah, dia adalah Rico, pria yang selalu memeluk ku saat tidur sejak kami sah menjadi suami istri.
Sikapnya tidak buruk, dia baik, perhatian. Terkadang dia juga mampu membuat ku tersipu malu.
Rico adalah pria dewasa yang sangat sangat cocok berumah tangga. Berbeda dengan ku yang masih labil.Bahkan aku bingung dengan perasaan ku sendiri yang masih memikirkan Adam.
Tapi, aku perjelas lagi yah. Sejak Adam kasar pada ku, dan juga soal pengkhianatan nya. Rasa itu mulai memudar. Di ganti dengan rasa yang baru tumbuh dari sikap manis Rico.
Pagi ini, dia lebih lama bangun dari aku. Biasa nya dia yang membangunkan aku.
ku tatap wajah tampan nya yang terlihat damai dalam tidur nya. Bulu mata nya yang lentik, dan juga alis yang tebal, membuat salah satu tangan ku tergerak untuk mengelus nya.
Semakin lama, tangan ku semakin nyaman berada di pipinya.
Hati ku berdebar, jantung ku berdetak cepat. Aku takut ia bisa mendengarkan nya, pasti aku akan merasa sangat malu.
Di saat aku sedang asik mengelus pipi nya, tiba-tiba mata yang tadi tertutup perlahan mulai terbuka.
Aku terkejut, segera kutarik tangan ku yang masih berada di pipinya.
Namun, Rico menahan nya.
"Morning baby"
Jleb.
Seketika pipi ku terasa panas saat mendengar suara serak, khas bangun tidur milik nya.
"Sejak kapan om bangun?" tanya ku pelan. Bukan nya menjawab, om itu malah mencium bibir ku.
Cup~
Reina POV End
Dag Dig Dug
Jantung Reina berpacu kuat, jarak wajah Rico yang sangat dekat dengan dirinya membuat gadis itu merasakan hangatnya hembusan nafas Rico.
"Jangan panggil aku Om honey, Aku tidak tua"
"Tapi om sudah dewasa dan jauh lebih tua dari ku"
"Tetap saja, aku tidak tua dan tidak boleh kamu panggil dengan panggilan om! ok!"
"Lalu aku harus memanggil mu apa?"
"Huh, lagi lagi kau bertanya sayang." dengus Rico dengan wajah merajuk nya.
__ADS_1
"Panggil aku sayang, atau mas, atau Abang"
Reina menggeleng, ia merasa panggilan itu sedikit menggelikan.
"Tidak cocok dengan mu om"
Cup!
Lagi dan lagi, Rico mencium nya. Reina melotot marah
"Kau pikir bibir ku ini apa huh? seenak nya menyambar kapan pun kau inginkan." Suara Reina terdengar besar, ia benar-benar marah saat ini.
Tapi, Rico malah terlihat biasa saja. Ia menikmati wajah marah istri nya.
"Itu hukuman untuk mu, jika terus memanggil ku om"
"Tapi kau kan memang o-" Reina cepat cepat menutup bibirnya dengan telapak tangan ketika hampir memanggil Rico dengan panggilan om.
"Aku tidak akan membiarkan bibir ku dinodai terus!" dengus nya.
"Hehe.." Rico terkekeh pelan, istri nya benar benar lucu.
"Aku akan mengganti hukuman nya, eh bukan, aku akan menambah nya!" ralat Rico.
Reina tidak terima, ia hendak bangun dari tidurnya dan menjauhkan tubuh nya dari Rico. Tapi, pria cerdik itu malah sengaja menahan lengan Reina, sehingga gadis itu kembali terbaring di samping nya.
Rico menggerakkan tubuhnya untuk menindih setengah tubuh istrinya.
"Bukan hanya mengecupnya saja, aku akan melakukan hal yang lebih dari yang kamu bayangkan honey"
Dengan segala Rico meniup pelan wajah Reina.
Reina berusaha berontak, melepaskan diri dari jeratan suami mesum nya.
"Om....." teriak Reina tidak tahan lagi, jantung nya terasa seperti akan meledak. Reina berpikir ia harus segera menjauh dari Rico.
"Kau yang meminta nya honey!!"
Sekejap mata, bibir Rico dan Reina langsung menempel.
Meta Reina melebar, ia berusaha mendorong dada Rico. Namun tenaga nya terlalu kecil untuk melakukan nya.
Melihat perlawanan Reina, membuat Rico semakin gila. Ia menarik tangan Reina, lalu menguncinya di atas kepalanya.
Cup!!
"Hemm....." teriak Reina tertahan, yang terdengar malah seperti Geraman.
Semakin lama, semakin lembut. Rico menikmati bibir istri nya dengan sangat halus.
Sengatan listrik mulai terasa mengaliri tubuh keduanya. Perlawanan pun mulai melemah. Tangan yang tadi di kunci, kini malah terlepas dan mengalungkan ke leher jenjang Rico.
Di sela sela pangutannya, Rico menerbitkan senyum manis. Ia senang merasakan istri nya yang mulai menikmati permainan nya.
Bug...Bug...
__ADS_1
Reina memukul dada Rico saat ia merasa oksigen di paru paru nya mulai menipis.
"Huhh....Hufffha...." Reina menghirup udara serakus mungkin. Nafasnya saling beradu dengan hembusan nafas Rico.
"Gila, kau mau membunuh ku om!!!" decak Reina masih dengan nafas tersengal-sengal.
Cup!!!!
"Andai aja sekarang hari Minggu, akan ku pastikan kau sudah terbaring lemas sayang" bisik Rico setelah mengecup bibir Reina.
Lalu, Rico segera bangkit dari atas tubuh Reina. Ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk menyelesaikan sesuatu yang akan segera meledak jika tidak segera ia kendalikan.
Sementara Reina masih terbaring di atas ranjang dengan nafas yang masih memburu.
Tatapan matanya lurus ke langit langit kamar.
"Apa yang baru saja terjadi?" pikir Reina.
Ia melirik ke arah jam dinding, sekarang jam menunjukkan pukul 6.15 .
"Waktunya bersiap ke sekolah!" gumam Reina, ia dengan gontai segera beranjak dari kasur menuju ke lemari besar, tempat penyimpanan pakaian nya.
Sembari menunggu Rico selesai mandi, Reina menyiapkan semua keperluan sekolah nya hari ini.
...----------------...
Setelah selesai mandi, dan bersiap ke sekolah. Reina keluar dari kamar, lalu menuruni tangga menuju ke ruang makan.
Rico sudah standby duduk manis dengan koran dan secangkir kopi menemani.
Rico melirik Reina yang duduk di depan nya dengan wajah menekuk.
"Ada apa?" tanya Rico.
Reina tidak menjawab, istri mungil nya itu malah melempar tatapan tajam kearahnya.
"Selamat pagi nona muda. Wahhh pagi pagi begini sudah manyun manyun aja yah" sapa bi Nana.
"Tau tuh bi, bukan nya menyambut hari dengan cerah, eh malah membuat mendung dan menurunkan hujan" timpal Rico, membuat Reina semakin kesal.
"Aku tidak selera, aku mau berangkat sekolah!"
Reina langsung beranjak meninggalkan meja makan.
"Eh eh, kok merajuk?" heran bi Nana menatap kepergian Reina bingung.
"Hehehe... Ada sedikit kesalahpahaman diantara kami bi" cengir Rico.
"Oohh...Pantesan nona muda cemberut"
"Yaudah bi, saya mau nyusul Reina dulu. Malah makin merajuk nanti, jika saya lama lama di sini"
"Eh iya tuan. Ehmm...Bawa ini untuk nona makan di sekolah"
Bi Nana memberikan sandwich yang ia simpan di dalam kotak makan secara terburu-buru pada Rico.
__ADS_1
"Makasih bi" ucap Rico, lalu bergegas menyusul Reina.