
Reina terus melangkah cepat, mengabaikan teriakan Sinta yang sejak tadi memanggil namanya.
"Reina!!"
Sinta terus mengejar Reina yang berjalan semakin cepat, bahkan ia sudah setengah berlari.
Reina keluar dari gedung kantor Rico, ia langsung melambaikan tangan nya pada taxi yang akan melewati nya.
"Taxi!!!"
Cepat cepat Reina membuka pintu mobil Taxi, lalu masuk ke dalam sebelum Sinta berhasil mengejarnya.
"Jalan pak!" titah Reina.
"Baik nona" supir mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya.
"Hei, jangan jalan dulu!!! berhenti!!!!!"
Sinta terengah mengejar Reina yang sudah melaju pergi dengan taxi.
"Kencang banget tu cewe larinya" gumam Sinta di sela sela nafasnya.
Setelah nafasnya sedikit mulai stabil, Sinta kembali berlari kearah mobil nya dan langsung mengemudi mengejar taxi yang membawa sahabat nya.
Sedangkan di dalam taxi, Reina menangis dalam diam. Air matanya mengalir begitu deras seperti air terjun di tepi jurang.
Sesekali supir taxi melihat kearahnya melalui spion.
"Kenapa aku menangis!" gerutu Reina menghapus air matanya dan menatap kesal pada pada air mata yang membasahi jarinya.
Supir taxi mengkerut heran, bagaimana mungkin gadis itu kesal pada air matanya sendiri.
Karena sudah cukup lama berkendara, supir taxi tidak tahu kemana tujuan gadis yang sedang ia tumpangi itu.
Akhir nya sang supir memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf nona, kemana saya harus mengantar anda?" tanya supir taxi yang melirik Reina dari spion.
"Jalan mawar, belokan patah no 10!" jawab Reina singkat.
Supir mengangguk mengerti, lalu ia memutuskan untuk fokus mengemudi. Meskipun tangisan Reina kadang membuatnya sedikit penasaran dan juga heran.
"Huh, sudah tahu dia tidak bisa melupakan mantan nya! masih aja berharap kamu!" maki Reina memukul kepala nya dengan cukup kuat.
Supir taxi kaget, " Kenapa di pukul kepalanya non? apa gak sakit?"
"Sakit lah pak! saya aja nyesel mukul nya!" jawab Reina ketus.
"Lah, terus kok masih di pukul?"
"Yah bagaimana lagi, orang hati saya lebih sakit dari pukulan di kepala saya!" jawab Reina sesegukan.
"Walah? berat kasus nya ini" gumam pak supir melirik ngeri pada Reina.
__ADS_1
"Hikss....Hiks...Kenapa sih, semua laki laki itu brengsek!" Teriak Reina memaki ntah pada siapa.
"Gak semuanya non, contohnya saya!" sela pak supir narsis.
"Alah, bacot aja. Laki laki tak ada yang beres, bisa nya cuma bikin sakit hati!" maki Reina lagi.
"Lah itu kan karena nona sedang sedih, marah. Coba lagi kasmaran, pasti gak bakal ngomong kaya gitu" sahut pak supir lagi, membuat Reina menatapnya sinis.
"Yah ialah pak, kalo saya lagi kasmaran, gak mungkin saya nangis Seperti ini. Ah sudah lah, bapak gak usah jawab kalo saya ngomong!" ketus Reina.
"Lah bagaimana gak jawab non, ucapan nona malah seperti menghina saya juga"
"Kapan saya menghina bapak!"
"Yah, tadi. Nona bilang semua laki aku itu brengsek. Lah, saya kan laki laki non" jelas pak supir.
"Yaudah anggap aja bapak cewe!"
"Gak bisa gitu non, ini punya batang!!"
"Kan anggap saja, bukan beneran!!" geram Reina .
Bukan nya meredakan sedih, pak supir malah membuat Reina menjadi semakin geram.
Pak supir hendak membalas ucapan Reina lagi, tapi ia mengurungkan niatnya karena mereka sudah tiba di tempat tujuan.
"Sudah sampai non!" ucap pak supir memberitahu.
Reina menoleh ke jendela kaca mobil,benar saja mereka sudah sampai di rumah besar milik papi dan mami Reina.
"Berapa pak?"
"100 RB aja nona,"
Reina mengeluarkan dompetnya, lalu memberikan 2 lembar uang tukaran 50.
"Makasih yah non!!" ucap pak supir.
Namun Reina tidak membalasnya , ia sudah turun dari dalam taxi, lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Kebetulan saat itu bi Nana ada di rumah. Hari ini jadwal bi Nana membersihkan rumah besar yang tidak di huni oleh siapapun.
"Bi!!!!!" lirih Reina memanggil art rumah nya yang sudah bertahun tahun bekerja di keluarga Reina.
Bi Nana yang sedang menyiram bunga menoleh ke belakang. Matanya melebar ketika melihat Reina berjalan cepat kearahnya.
Tangan bi Nana yang sedang memegang selang, langsung melepaskan selang lalu merentangkan kedua tangannya menyambut majikan yang sudah di anggap seperti anak sendiri bagi bi Nana.
"Hiks....Bi Nana" gumam Reina, seketika air mata Reina keluar lagi. Baju bi Nana sampai basah terkena air mata Reina yang begitu deras nya meluncur.
"Non, kenapa? kok nona muda menangis??? tuan mana???"
Bi Nana melepaskan pelukan Reina, lalu menghapus air mata yang terus mengalir deras.
__ADS_1
"Bi, dia jahat bi. Pria itu jahat!!!!" adu Reina.
Bi Nana mengerti, saat ini nona mudanya tengah berantem dengan suaminya.
"Sttt..... Nona tenang yah, jangan menangis terus. Masalah rumah tangga itu biasa kok non, nona jangan sedih yah" bujuk bi Nana menenangkan Reina.
Reina memeluk bi Nana lagi, menumpahkan semua kesedihan di hatinya.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, barulah Reina menceritakan semua yang terjadi dari awal.
"Bi, jangan sampai mami papi tahu yah. Aku gak mau buat mereka khawatir." pinta Reina.
Bi Nana mengangguk cepat, ia tidak akan mengadu pada majikan besarnya.
"Huhhh...Kenapa bisa yah non. Tuan seperti itu" ujar bi Nana.
"Yah, mau bagaimana lagi bi, mereka sudah bersama bertahan tahun. Aku hanya orang baru yang memisahkan mereka!"
"Gak lah non, ini kan juga bukan keinginan nona muda. Jadi nona tidak bersalah dalam kasus ini." jelas bi Nana sesuai kemampuan nya.
"Yaudah bi, aku mau ke kamar dulu yah. Mau istirahat "
"Iya non, nanti makan malam bi bangunin yah"
"Iya bi"
Reina bersiap ingin beranjak ke kamar nya, tapi ia kembali berbalik.
"Siapapun yang nyariin aku, bilang aku gak ada ke sini yah bi. Aku bakalan tidur di kamar mama papa" tutur Reina.
Bi Nana hanya bisa mengangguk mematuhi apa yang nona mudanya katakan.
...----------------...
Di kantor, Rico merasa tidak bisa tinggal diam.Ia harus menemui istrinya dan membicarakan semua ini bersama.
"Aku harus menemui nya!"
Rico segera bangkit, ia bergegas keluar dari kantor.
"Mau ke mana?" tanya Andrew yang bertemu dengan Rico di depan ruangan nya.
"Aku harus mencari Istri aku!" jawab Rico tanpa berhenti ataupun menoleh pada Andrew
"Aku ikut!!!!!" sahut Andrew berlari mengejar Rico.
"Reina, tunggu aku. Aku akan menjelaskan semuanya pada mu!!" batin Rico. Ia mulai menjalankan mobil yang bermula pelan menjadi sangat cepat.
Andrew yang duduk di samping nya merasa ketakutan, Rico nak kesetanan terus menginjak pedal gas semakin kencang.
"Ya Tuhan, selamatkan aku. Aku belum menikah, ataupun punya pacar. Semoga aku gak mati" gumam Andrew mengencangkan pegangan tangan nya pada belt pengaman.
Rico melirik acuh, ia tidak peduli dengan ocehan sahabat nya.
__ADS_1
...----------------...