
Reina masuk ke dalam kamar suaminya.
Saat pertama kali membuka pintu, aroma maskulin langsung berhamburan masuk ke dalam indra penciuman Reina.
"Wangi banget" batin Reina.
Reina sangat terpukau melihat kamar Rico yang sangat rapi. Perabotan dan lain lain tersusun rapi.
Sofa, ranjang, bahkan lemari berada pada tempat yang pas. Sehingga ruangan yang penuh dengan banyak barang dan perabotan terlihat luas. Padahal sebenarnya kamar ini sama besarnya dengan kamar milik Reina. Tapi Reina merasa kamar Rico jauh lebih luas dari kamarnya.
Cat dinding nya berwarna abu abu muda, terlihat ini adalah kamar cowo.
"Gak usah terpesona sama kamar aku"
"Uhk.." Rein terlonjak kaget, kehadiran Rico yang secara tiba-tiba hampir membuat jantung nya berhenti berdetak.
"Ih, kok om datang tiba-tiba gitu sih, kaget tahu!"
Rico hanya tersenyum melihat reaksi istri nya.
"Makanya Jan melamun honey"
"Aku gak melamun, om aja yang kaya jin. "
"hahaha...."
Rico tertawa renyah,lalu menarik pergelangan tangan Reina pelan menuju ke balkon kamar nya.
"Kemana?" protes Reina, tapi tetap mengikuti langkah Rico.
Reina kembali takjub, matanya terlihat berbinar saat melihat pemandangan hutan yang terlihat menghijau.
"Itu hutan yah?"
"Bisa di bilang begitu, tapi itu sebenarnya bukan hutan. Penghijauan di setiap rumah mewah" jelas Rico.
"Tapi terlihat seperti hutan"
"Yah, karena kita berada di tempat yang lebih tinggi dari mereka" jelas Rico.
Reina tersenyum, ia merasa tenang menatap hijaunya pemandangan. Udara juga terasa segar saat ia bernafas.
"Apa di daerah sini orang kaya semua?"tanya Reina penasaran.
"Tidak juga, tapi bangunan di daerah kota ini memang besar besar. Meskipun mereka adalah pembantu, rumah mereka akan besar juga. "
"Kenapa begitu?"
"Yah, karena di sini orang nya baik baik, saling tolong menolong. Dan satu lagi,daerah sini itu orang nya kenal semua. Tidak ada yang tidak saling tegur sapa. Semua berteman."
"Apa ini di sebut kota Damai?"tebak Reina.
"Yups, benar sekali honey"
Reina terus menatap pemandangan hijau itu, tanpa sadar Rico menatapnya dari samping.
Seulas senyum terbit dari sudut bibir Rico.
Reina tersadar jika Rico menatap dirinya.
__ADS_1
"Jangan menatapku seperti itu om, nanti om malah suka" canda Reina.
"Itu bukan masalah. Menyukai istri sendiri bukan lah hal yang aneh bukan?"
Deg.
Reina terdiam, ia tidak bisa mengucapkan apa apa lagi.
Mereka saling menatap, hingga tanpa sadar jarak diantara wajah kedua nya mulai menipis.
Rico menatap bibir ranum milik Reina, ia ingin kembali merasakan hangatnya bibir itu saat berada di dalam mulutnya.
Sedangkan Reina terdiam dan terkunci oleh dominasi Rico.
Saat hampir saja mereka bertemu, tiba-tiba.....
"Reina, Ri-"
Reina dan Rico tersentak kaget, keduanya langsung kaku dan saling menjauhkan diri.
"Ups, bunda ganggu yah. Yaudah lanjutin aja" kata Ana seraya cepat cepat keluar dari kamar Rico.
"Eh bunda" panggil Reina. Wajahnya merah padam menahan malu.
"Om sih, kan aku jadi malu!!!" gerutu Reina. Ia berlari menyusul Ana.
"Bunda tunggu!!!"
"Kok malah aku yang salah sih? kan suasananya pas. Harusnya kan bunda yang salah" gumam Rico. Ia malah ikut kesal, gagal merasakan hangatnya bibir Reina.
"Ahh...Sedikit lagi" lenguh Rico.
...----------------...
"Bunda" panggil Reina.
Ana menoleh, ia tersenyum lebar pada menantu nya itu.
"Loh, kok kamu turun sayang? Rico mana? gak jadi yah ???? bunda ganggu yah???" raut wajah Ana langsung berubah sedih.
"Eh nggak kok Bun, bukan gitu" balas Reina panik, melihat bunda mertuanya terlihat hendak menangis.
"Ada apa ini?" Dean memasuki ruang makan. Ana langsung menghampiri nya dan memeluk dirinya.
"Ayah, bunda tadi gak sengaja ganggu mereka yang ingin buat cucu. Terus Reina turun ke bawah, dan mereka gak jadi deh" rengek ana manja.
Reina tidak percaya, jika wanita yang sedang merengek manja pada suaminya itu adalah bunda mertuanya.
"Cup cup....Tenang sayang, ayah bakal selesaikan ini yah"
Dean melirik Reina, gadis itu malah terlihat gugup.
"Kenapa ayah?" tanya Reina gugup.
"Kenapa kamu turun Reina? harusnya kamu kan bareng Rico di kamar"
Reina menggeleng kuat, dirinya merasa ayah dan bunda mertuanya salah paham.
"Maaf ayah, tapi bunda salah paham. Aku sama mas Rico gak lagi ngapa ngapain" jelas Reina.
__ADS_1
"Bohong yah, tadi bunda liat sendiri kok" sela Ana.
Kedua mata Reina melebar, bunda mertuanya sangat pintar akting.
"Tapi bun-"
"Udah deh, kamu kembali aja ke kamar. Selesaikan usahanya!" Ana mendorong Reina agar segera kembali lagi ke kamar.
"Bunda, beneran aku sama mas Rico gak ngapa-ngapain " Reina masih berusaha untuk menjelaskan.
"Udah deh, kamu pergi sekarang aku bunda nangis!" ancam Ana.
Reina terpaksa menuruti kemauan bunda mertua nya. Ia kembali lagi ke kamar Rico.
Puk!
Dean dan Ana bertos riah, mereka berhasil membuat menantu mereka kembali ke kamar dan membuat cucu untuk mereka.
"Hihihi....Menantu kita polos juga yah Bun"
"Iya yah, lihat aja ekspresi bengong nya. Bikin gemas"
Ana dan Dean tertawa senang, mereka juga tidak sabar ingin menimang cucu. Meskipun mereka sebenarnya tahu bagaimana kondisi hubungan Rico dan Reina.
Keduanya terpaksa menikah hanya karena wasiat dari kakek mereka yang sama sama berjanji akan menikahkan cucu cucunya kelak.
Nah, semua cucu cucu nya sudah menikah. Hanya tersisa Rico dan Reina saja yang belum menikah. Selebihnya masih kecil kecil, dan ada yang besar tapi sudah berkeluarga.
...----------------...
Ceklek~
Rico yang duduk di tepati ranjang menoleh ke arah pintu masuk kamarnya.
Kening nya berkerut,kenapa istri nya kembali lagi ke kamarnya. Sedangkan tadi ia sedang mengejar bunda nya.
"Kok wajah nya masam gitu?" tanya Rico.
"Ayah bunda kamu aneh deh" lirih Reina bercerita.
"Emangnya mereka kenapa?"
"Masa yah, aku udah bilang kalo kita gak lagi ngapa ngapain. Tapi, bunda malah ngadu ke ayah, dan bilang kalo kita sedang buat cucu. Terus aku di paksa kembali ke kamar."
"Aneh kan?"sambung Reina.
Rico tersenyum menanggapi cerita istri nya, ia menarik Reina agar ikut duduk di samping nya.
"Kamu itu yah, polos banget. Bunda sama ayah tu ngerjain kamu, tapi kamu malah kaya gini. Yah mereka makin senang kah ngerjain nya"
"Maksudnya?" Reina masih belum paham, ia memperbaiki posisi duduknya menjadi menghadap ke Rico.
"Jadi aku di kerjai om? sama ayah dan bunda?"
Rico mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Istri nya.
"Ayah sama bunda ingin kita melakukan nya!" Kata Rico sengaja berbisik di telinga Reina. Membuat bulu Roma Reina seketika berdiri.
...Bersambung...
__ADS_1