
Di ruang kelas, tampak raut wajah tegang di setiap wajah siswa siswi yang penasaran dengan hasil ujian mereka.
Ujian kali ini adalah ujian semester ganjil di kelas 12 (3 SMA). Mereka yang ingin masuk ke perguruan tinggi harus mendapatkan nilai yang bagus. Agar test tidak terlalu banyak dengan mengambil jalur undangan.
"Rei, kira kira nilai aku bagus gak yah?" gumam Sinta gugup, ia takut di marahi oleh papa dan mama nya jika nilai nya jelek.
Jika nilai sinta turun, maka dia harus menuruti permintaan papa nya untuk masuk ke fakultas hukum.
Sedangkan Sinta menginginkan kuliah di fakultas seni. Untuk mendapatkan keinginannya, Sinta harus mendapatkan nilai yang bagus.
"Kamu kan sudah bekerja keras, aku yakin kamu bisa mendapatkan nilai 9 semua" kata Reina menyemangati.
Seorang guru masuk ke dalam ruang kelas IPA. Wajahnya berseri menatap murid murid yang langsung menyapa nya ketika masuk ke dalam kelas.
"Selamat pagi Bu!!!"
"Selamat pagi murid murid"
Bu guru menatap satu persatu wajah murid murid kesayangan nya. Selama dirinya menjadi wali kelas ini, tidak pernah satupun murid muridnya membuat masalah. Hal itulah yang membuat guru ini menjadi sayang pada setiap murid nya.
"Bu, bagaimana dengan hasil nilai kami?" ujar ketua kelas.
"Wah sepertinya kamu gak sabaran yah ketua kelas"
"Iya Bu, soal nya aku bingung mau masuk fakultas mana jika nilai ku jelek"
Sontak semua murid tertawa mendengar ucapan ketua kelas mereka.
"Sttt....Sudah sudah, ibu akan membagikan hasil ujian kalian"
Semua murid langsung diam, jantung mereka berdetak cepat saling bersahutan.
"Ketua kelas, maju ke depan. Bagikan semua hasil ujian ini pada teman teman mu"
"Baik Bu"
Ketua kelas langsung beranjak dari tempat duduknya, maju ke depan mengambil tumpukan kertas yang berisi dengan hasil ujian mereka.
"Wahhh guys, ini benar-benar mendebarkan" ujarnya.
Ketua kelas membagikan lembaran kertas hasil ujian. Semua mata pelajaran sudah tercetak di sana nilainya.
"Ini punya ratu smart kita" kata ketua kelas sembari memberikan lembaran nilai Reina.
"Makasih ketua kelas!!!" balas Reina menerima dengan senang hati.
__ADS_1
"Punya aku mana!!" desak Sinta dengan tidak sabaran.
"Ini nona, tidak sabaran banget yah" kata ketua kelas sembari memberikan hasil nilai Sinta
Seperkian detik kemudian, terdengar teriakan kegembiraan Sinta dan murid murid lain yang sudah melihat hasil ujian nya.
"Yeayyy!!!!! Nilai aku bagus semua!!!", sorak Sinta
Bu guru yang melihatnya ikut tersenyum bahagia.
"Selamat yah murid murid, nilai kalian bagus semua" ucap Bu guru bangga.
Semua orang tampak bahagia, namun tidak dengan Reina.
"Kok kamu diam saja Rei?" tanya ketua kelas heran.
Semua murid menjadi penasaran, mereka menatap Reina dengan berbagai dugaan.
"Nilai kamu turun?" tebak Sinta yang langsung merebut kertas itu dari tangan Reina.
"Gak kok Sin, nilai aku naik satu angkat saja" lirih Reina pura-pura sedih.
"Maksud kamu Rei?" ketua kelas menjadi bingung.
Ada satu murid yang berpikir keras mengingat nilai Reina yang sebelumnya. Saat otak nya mengingat berapa nilai Reina sebelum nya, seketika itu pula matanya melotot lebar.
"Njirr Reina, kamu bikin aku panik aja!"dengus Sinta mengembalikan kertas nilai Reina.
"Hahaha....Maaf deh" sesal Reina yang sudah terkekeh pelan.
"Selamat yah Reina, nilai kamu sempurna. " ucap Bu guru dengan sangat senang.
"Makasih Bu, yah walaupun nilai saya cuma naik 1" kata Reina masih pura pura sedih. Ia sangat suka mengerjai teman teman nya.
"Yaelah Reina. Mau di naikin berapa lagi nilai kamu???? orang rank nya cuma dari 1 Ampe 10." sahut yang lain.
Reina dan yang lain langsung tertawa bersama.
Tidak ada yang tahu, di dalam hati nya Reina menyimpan banyak kegundahan.
Di usianya yang baru 17 tahun, ia sudah memikirkan masalah rumah tangga. Meskipun di zaman dulu orang orang banyak yang nikah muda. Tapi kan sudah berbeda dengan zaman modern seperti sekarang.
kebanyakan anak anak yang masih berusia 17 tahun masih memikirkan dirinya sendiri, tidak seperti yang di alami Reina saat ini.
Materi memang tercukupi, tapi hati??? ia merasa sangat tertekan dengan semua ini. Apalagi dirinya mengetahui suaminya yang jauh lebih dewasa dari dirinya sedang berbohong.
__ADS_1
Hal yang lebih meyakinkan lagi adalah, mereka sudah melaju itu. Hubungan suami istri, hal yang tidak pernah Reina bayangkan.
Reina menatap lembaran nilainya, ia baru saja selesai memfoto nya, lalu mengirimkan pada kedua orang tuanya.
Reina yakin, jika mami sama papi nya pasti akan senang melihat nilai nya.
"Reina, kamu udah ngasih tahu kak Rico belum?" tanya Sinta.
Reina menggeleng, ia memaksakan dirinya untuk tersenyum di depan Sinta.
"Aku akan memberinya kejutan nanti siang"
"Benarkah? wahhh aku mau ikut yah!!" kata Sinta antusias.
Reina mengangguk ragu, tapi ia tetap terlihat ceria di depan sahabat nya.
Setelah selesai membagikan lapor sementara murid murid di setiap kelas nya. Pihak sekolah memberikan instruksi pada muridnya untuk pulang lebih awal.
Pihak sekolah ingin para siswa siswi nya memberikan kado dari hasil kerja keras anak anak mereka pada para orang tua.
Kringg!!!!!!!!!!!!
Bel langsung berbunyi nyaring menggemah di seluruh penjuru sekolah. Seketika itu, bak sarang lebah di pukul, siswa siswi langsung berhamburan keluar dari kelas dan bertebaran menurut tujuan masing-masing.
"Rei, baru jam 11. Kita langsung ke kantor mas Rico aja" usul Sinta setelah melihat jam nya.
"Boleh" jawab Reina.
Keduanya langsung bergegas meninggalkan sekolah dengan menggunakan mobil pribadi milik Sinta. Hari ini Sinta sengaja mengemudi sendiri agar bisa jalan jalan bersama Reina setelah pulang sekolah.
"Kira kira gimana yah reaksi kak Rico lihat istri nya dapat nilai sempurna??" gumam Sinta.
Reina tidak menyahut, ia tampak ragu. Meskipun di saat bersama dengan nya Rico selalu mengucapkan kata cinta, tapi Reina tahu bahwa Rico menyimpan sesuatu yang tidak ia tahu.
Selama menikah dengan Rico, ini kali pertama nya Reina datang ke kantor milik suaminya.
"Reina, kok kamu diam aja sih?" tanya Sinta sembari fokus dengan kemudinya.
"Gak kok Sin, aku gugup aja. " bohong Reina. Memang benar dirinya takut, tapi bukan takut Rico tidak suka dengan nilai nya atau apapun itu.
Reina hanya takut melihat sesuatu yang tidak pantas untuk dirinya lihat. Bahkan ia takut di saat hari kebahagiaan seperti ini dirinya malah merasakan sakit yang teramat mengerikan.
"Kamu gak usah gugup, aku yakin kak Rico pasti senang"
Reina mengangguk pelan, memilih fokus melihat ke depan, jalanan yang terlihat padat.
__ADS_1
...----------------...