
Di ruang tamu, Reina duduk dengan wajah datar. Kejadian sore ini sangat mengejutkan batin nya.
Rico datang, ia duduk di samping istri nya.
"Sayang, kamu kenapa?"
Reina masih diam, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Rico.
Merasa tidak ada respon, Rico mulai panik.
"Apa karena wanita itu?" Reina menoleh, namun masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Dia itu mantan aku "
"Yang kamu lamar berkali kali itu?" tanya Reina, barulah gadis itu bersuara. Meskipun pertanyaan nya menohok batin Rico.
Rico mengangguk pelan menjawab pertanyaan Reina, lalu Reina kembali menatap lurus ke depan.
Tidak tahu oleh Rico, jika di dalam hati Reina berkecamuk.
"Bagaimana mungkin aku bisa menggantikan wanita cantik itu? body nya, paras nya, wahhh jika saingan sama dia aku bisa kalah!" gumam Reina di dalam hati.
"Sayang, aku serius. Aku gak ada rasa lagi sama dia, aku cuma mau kamu. Istri aku!"
Rico mengambil kedua tangan Reina, lalu mengecup nya dengan tulus. Reina pun, mampu merasakan ketulusan itu.
"Aku tidak mau dia sayang, aku cuma mau kamu"
Reina menatap haru Rico, namun tetap saja di hatinya terasa aneh.
"Aku hanya tidak tahu Rico, kita bisa saling jatuh cinta atau tidak" sela Reina.
Rico menggeleng cepat, membantah ucapan istri nya barusan.
"Aku sudah jatuh cinta sama kamu sayang, sejak awal aku udah mulai suka. Dan dengan hati yang terbuka, cinta dengan cepat tumbuh" Rico berusahalah meyakinkan Reina.
"Benarkah? apa kau bersumpah akan selalu bersama ku?"
Reina mengangkat telapak tangan nya di depan Rico.
"Aku bersumpah honey, aku bersumpah!" ucap Rico yakin tanpa ada keraguan sedikit pun.
Melihat keseriusan Rico, Reina pun menjadi senang. Ia memeluk Rico erat.
"Makasih" lirih nya.
"No honey, kenapa kamu berterimakasih, aku yang harusnya berterimakasih padamu" balas Rico. Hatinya merasa lega, Reina akhirnya percaya dan mereka akan kembali normal.
Sejujurnya Rico memang sudah sangat jatuh hati pada gadis unik yang sejak mereka sah menjadi suami istri telah mengisi hatinya.
"Ih iya honey, gaya mu tadi sungguh luar biasa!" puji Rico.
Reina malah tersenyum senang, walaupun sebenarnya dia sempat malu karena tingkah nya itu.
Reina teringat dengan barang yang ia bawa tadi. "Aku tadi beli eskrim"
Reina langsung berlari keluar dari kamar, ia mencari kotak Eskrim yang ternyata terletak di atas sofa.
__ADS_1
Setelah mendapatkan nya, Reina kembali lagi ke kamar.
"Ini dia, aku tadi sempat berantem sama wanita ular itu"
"Wanita ular?" ulang Rico, ia tidak tahu siapa yang Reina maksud.
"Mantan kamu lah beb, yang wanita tadi. "
"Terus kenapa?"
"Tadi, dia itu menabrak aku. Tapi malah suruh aku berlutut minta maaf dia." ucap Reina menceritakan kejadian pada Rico.
"Terus kamu mau?"
"Yah kagak lah, aku gak mau Enak aja minta maaf. Aku mengajak nya untuk melihat cctv, supaya ketahuan siapa yang salah. Eh dia malah kabur"
Rico menatap Reina yang sedang seru menceritakan betapa kesal nya dirinya terhadap Liora.
"Kamu lucu yah sayang, kalo lagi kesal gitu"
"Jadi, kamu sejak tadi gak dengerin kau bercerita???" Reina malah menjadi merajuk.
"Tidak sayang, aku mendengar kan mu. Tapi aku tidak tertarik mendengar orang yang kamu ceritakan. Aku lebih tertarik melihat wajah cantik mu"
Blussh...
Reina tersipu malu, pipinya langsung memerah.
Untuk mengalihkan topik pembicaraan, Reina menghidangkan eskrim yang terdapat berbagai macam rasa dalam satu box di depan Rico.
"Ini ada banyak rasa Lo. Cobain deh, enak loh"
Saat Reina menyuap ke dalam mulutnya, Rico langsung menarik tengkuk istri nya dan menempelkan bibir mereka.
Reina kaget, mata nya membulat seperti bola. Tapi Rico malah menyedot habis eskrim yang ada di mulut Reina.
Rico melahap nya dengan santai, ia tersenyum melihat Reina yang masih melongo.
"Enak banget eskrim nya" kata Rico.
Cup~
Rico kembali mengecup bibir Reina, hingga kesadaran Reina kembali.
"Om!!!" teriak Reina menggeram, ia memukul mukul lengan Rico pelan.
Yang di pukul malah tertawa melihat ekspresi lucu istri nya.
"Kamu sangat lucu sayang "
"Kamu sangat jahil!" balas Reina.
Kedua nya sama sama tertawa, lalu menikmati eskrim hingga tak bersisa lagi.
...----------------...
Liora berdiri di depan jendela kaca apartemen nya. Pikiran nya melayang memikirkan Rico yang sudah memiliki seorang istri.
__ADS_1
"Huh, berani sekali kau mengkhianati aku Rico! Harus nya kau menikahi ku! tapi kau malah menikahi gadis ingusan itu!"
Liora menggeram marah, ia sangat sangat marah mengetahui fakta tentang Rico.
Ceklek.
"Nona, seseorang datang mencari anda"
"Siapa?" tanya Liora tanpa melihat kearah art nya.
"Dia tidak mau mengatakan siapa dirinya. Dia hanya mengatakan ingin bertemu dengan mu nona"
"Bilang saja, saya tidak ada"
"Saya sudah mengatakan itu nona, tapi dia tetap kekeh untuk menunggu nona"
Huff...
"Baiklah, saya akan menemui nya!"
"Baik nona"
Art itu mengangguk pelan, lalu pergi dari kamar Liora.
Sedangkan wanita itu malah tampak kesal dengan orang yang datang mengganggu waktu nya.
Liora berjalan menuju ke ruang tamu rumah nya. Di lihat nya seorang pria duduk di sofa dengan kepala menunduk.
"Siapa kau?"
Mendengar suara Liora, pria itu langsung mengangkat pandangan nya, lalu menoleh kearah Liora dengan senyum lebar.
"Akhirnya kau keluar juga!" pria itu beranjak mendekati Liora yang melangkah menjauh dari nya.
"Ngapain kamu di sini??? aku udah gak ada urusan lagi sama kamu!!!"
"Liora, " meraih tangan Liora. " Maaf jika aku salah Liora, aku gak akan ulangi lag. Aku mau perbaiki semua Liora. Aku mau kita mulai lagi dari awal Liora."
Liora menepis tangan pria itu,
"Tidak! Aku tidak mau!"
"Liora, aku tahu kamu masih cinta kan sama aku. Rico pasti tidak akan membuat mu luas Liora. Lagi pula, hanya aku yang bisa bantu kamu meraih impian kamu!"
Pria itu terus membujuk Liora, dia adalah pria yang selama ini bermain bersama Liora di belakang Rico.
Liora sengaja memanfaatkan Rico sebagai ATM. Sedangkan pria ini merupakan kekasih yang memang Liora cinta. Tapi, pria yang ia cinta adalah pria brengsek. Pria yang tidak cukup satu wanita.
"Aku sudah muak dengan mu Tio, aku sudah capek dengan sikap kamu yang selalu membuat aku sakit hati!"
"Tapi itu dulu sayang, sekarang aku hanya akan melihat kamu saja"
Tio berusaha memeluk Liora, namun di tolak.
Tio tidak patah semangat, ia berusaha untuk menarik Liora masuk ke dalam pelukan nya, dan mengecup keningnya sambil mengucapkan kata maaf.
"Maafin aku sayang, maaf, maaf...." Liora tidak menjawab, ia bingung dengan hatinya. Dia tidak mau kehilangan Tio, pria yang membuat jantungnya berdebar. Tapi, Liora juga tidak mau kehilangan ATM nya.
__ADS_1
...----------------...