
Satu Minggu berlalu, hubungan Reina dan Rico semakin renggang. Rico yang pulang selalu larut malam, sedangkan Reina selalu berpura pura tidur saat mengetahui Rico pulang.
Lalu, ketika pagi hari Reina selalu pergi lebih awal agar terhindar dari Rico.
Rico merasa ada yang aneh, dirinya selalu ingin menanyakan langsung pada istri nya. Namun sepertinya Reina sedang menghindari nya.
Siang ini, Rico berniat ingin menjemput istri nya pulang sekolah. Ia sudah mengatakan pada pak Harto bahwa ia akan membawa mobil sendiri untuk menjemput istrinya ke sekolah.
Pukul 1. 20 Rico sudah keluar dari kantor. Ia langsung mengemudi mobil nya menuju ke SMA tempat sang istri menimba ilmu.
Saat tiba di sekolah, Rico melihat banyak anak murid bertebaran keluar dari pagar sekolah.
Senyum senang pun terukir di wajah Rico. Dirinya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk bertemu dengan istri.
Mata itu terus memantau ke gerbang sekolah, namun istri nya tak kunjung terlihat.
Tak berapa lama, ketika sekolah mulai sepi.
"Bye Rei, Bye Adam" Sinta melambaikan tangan nya pada Reina dan juga seorang pria yang sangat Rico benci.
Cepat cepat Rico langsung keluar, di saat Reina dan Adam berdua berdiri di depan gerbang.
"Kamu belum di jemput Rei?" tanya Adam.
"Gak tahu ni, gak biasanya pak Harto lama datang" jawab Reina celingak celinguk mencari mobil jemputan nya.
"Reina!"
Gadis itu tersentak, Rico tiba-tiba datang dan menarik tangan nya.
"Hei om, jangan main kasar dong!" marah Adam ketika melihat Reina di tarik sedikit lebih kuat oleh Rico.
"Diem kamu! berani sekali yah kamu deketin kekasih saya!" bentak Rico menatap marah pada Adam.
"Mas, kamu apa apaan sih, kenapa malah marahin Adam" bela Reina.
Rico berbalik, menatap tidak percaya pada istri nya yang malah membela pria ini. Jangan jangan??.
"Kamu bela dia?? kamu sadar gak sih, dia sudah melakukan apa sama kamu??? dan kamu lupa dengan status kamu??"
"Aku gak lupa, dan mungkin kamu yang lupa!" balas Reina membalikkan perkataan Rico.
"Maksud kamu? kok malah kamu nyalahin aku sih? jelas jelas kamu-"
"Udah deh mas, aku capek. Aku mau pulang dan istirahat!" potong Reina.
__ADS_1
"Rei, aku pulang duluan yah" pamit Adam menatap lembut pada Reina, lalu menatap sinis pada Rico.
"Hati hati yah!" balas Reina. Lalu Reina meninggalkan Rico yang masih berdiri menatap bingung padanya.
Secara mendadak, wajah Rico berubah menjadi dingin dan datar.
Rico menyusul istri nya yang sudah masuk ke dalam mobil.
Reina langsung merebahkan tubuhnya di atas jok mobil, lalu memejamkan mata nya.
Sedangkan Rico hanya menahan emosi melihat sikap aneh istri nya.
Sesampainya di apartemen, Reina langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke lift tanpa menghiraukan Rico. Berbicara saja Reina tidak.
"Ada apa dengan gadis ini???"
Begitulah pertanyaan yang muncul di benak Rico.
Reina langsung menekan tombol lift sebelum Rico masuk ke dalamnya.
"Eh eh...." Rico berlari cepat kearah lift, namun sudah terlambat. Pintu lift sudah tertutup rapat dan membawa Reina naik ke atas.
"Astaga, aku di tinggal. Tu cewe kenapa sih!" dengus Rico sembari menekan tombol lift tidak sabaran.
Reina masuk ke dalam rumah, ekspresi nya masih sama seperti tadi. Datar dan dingin.
Menghidupkan shower, lalu ia berjongkok di bawah nya. Membiarkan air membasahi tubuhnya yang masih dibaluti oleh seragam sekolah.
Pikiran nya kacau, semua masalah masih masuk ke dalam otak nya. Foto foto yang selalu Liora kirimkan terbayang bayang di matanya ketika ia memejamkan nya.
Gadis itu menanggung semua nya sendiri, ia bahkan mencoba untuk membuang rasa yang baru tumbuh di hatinya.
Namun, bukan nya hilang, rasa itu malah semakin kuat menggerogoti hati nya. Setiap malam ia menangis merindukan Rico yang dulu perhatian dan seakan tak bisa tanpa dirinya.
Brak!! Brak!!
Mata Reina terbuka, secara spontan ia langsung menoleh kearah pintu yang di gedor oleh Rico.
"Reina!! apa kamu baik baik saja?" teriak Rico dari luar kamar mandi. Tersirat dari nada suaranya rasa kekhawatiran akan istri nya.
Reina acuh, ia menyelesaikan mandinya. Lalu keluar dari kamar mandi dengan santai.
Melihat Reina keluar dari kamar mandi, Rico langsung menghampiri nya. Memeriksa kondisi istri nya, apakah baik baik saja.
"Kamu terlalu lama di dalam kamar mandi, apa kamu tidak takut masuk angin? kalau kamu sakit siapa yang repot? siapa yang khawatir??" omel Rico.
__ADS_1
Reina menyingkirkan tangan Rico yang berada di bahunya.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri, kau tidak perlu repot repot mengurusi aku!" ucap Reina penuh penekanan. Ia melangkah menuju ke lemari besar, mengambil pakaian tidurnya, lalu memakainya ke dalam kamar mandi.
Gadis itu melewati Rico begitu saja.
"Kamu kenapa sih Rei? apa aku ada salah? kenap-" ucapan Rico belum selesai, tapi Reina malah menutup pintu dengan sangat keras.
Blam!
"Astaga!!!! begini sudahkah punya istri labil?" erang Rico tertahan, kedua tangan nya menarik kuat rambut nya.
Tidak, Rico menggeleng kuat. Ia tidak bisa membiarkan istrinya terus terusan begini.
Seketika bayangan Adam melintas di benak nya. Membuat Rico merasa semakin cemas dan takut kehilangan.
"Aku tak akan membiarkan kamu kembali padanya. Di saat hati ku sudah menjadi milik mu" gumam Rico penuh tekat.
Ia terus mondar mandir di depan pintu kamar mandi menunggu Reina keluar.
...----------------...
Di sebuah kamar besar, seorang wanita tertawa terbahak bahak saat melihat video Rico dan Reina bertengkar. Merasa seperti mendapatkan hiburan gratis.
"Terimakasih sayang, kau memang pria yang sempurna" ungkap Liora.
Yah, gadis itu adalah Liora. Wanita yang pernah menjadi special di hati Rico. Namun, setelah mengetahui kebusukan nya, Rico menjadi membencinya.
Sekarang, gadis itu merasa puas dengan kerja keras kekasihnya.
Mereka dengan sengaja menjebak Rico dalam sebuah hubungan kerjasama yang membuat waktu Rico tersita dan terus menerus membuat meeting di tempat tempat yang romantis.
Liora dengan licik mengambil foto Rico, lalu mengeditnya sendiri. Foto itu di jadikan bahan untuk merusak kepercayaan Reina pada Rico.
"Aku akan melakukan apapun demi kamu sayang, kamu cukup melayani aku dengan sempurna di setiap aku menginginkan nya" sahut pria itu.
Liora tersenyum menggoda, ia mengecup lembut bibir pria itu, lalu memeluk nya erat.
"Itu tidak perlu kau ragu kan sayang" balas nya.
Pria itu biasa saja, namun memiliki banyak relasi. Utusan perusahaan yang menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan Rico adalah teman kekasih Liora.
Sehingga dengan mudahnya pria itu meminta bantuan orang itu untuk mengadakan meeting di tempat tempat yang romantis.
Karena memang tidak merugikan dan mengakibatkan kedua perusahaan menjadi buruk, orang itu menyetujuinya. Ia selalu meminta Rico untuk mengadakan meeting di cafe, bar, dan terkadang di taman.
__ADS_1
...----------------...