
1
“Rio, ini Kena. Mulai sekarang dia jadi adik kamu, jagain dia ya....”
Anak laki-laki itu menatap kesal gadis kecil yang dikenalkan padanya sebagai adik. Dia gak suka punya adik, apalagi anak perempuan. Kenapa Mama nya malah membawa anak perempuan ini setelah menikah? Kenapa juga mereka harus serumah?
Dia kesal. Marah. Dalam hatinya takkan pernah mau mengakui gadis kecil itu sebagai adiknya. Gak akan!
“RIO GAK MAU PUNYA ADIK!” teriaknya seraya menjauh dari tempat itu.
“Sayang!” panggil sang Mama cemas.
“Tenang aja, namanya juga anak-anak.” Kata sang Suami yang baru saja menikahinya.
Gadis kecil itu menatap bingung kepergian anak laki-laki yang resmi jadi kakaknya. Sebenarnya apa yang salah dengan dirinya hingga membuat sang kakak kabur? Apa dia terlalu menyeramkan? Apa sang kakak tahu rahasianya dan ketakutan?
Tidak, itu mustahil.
Dia gak suka padaku karena aku anak perempuan, itu saja.
Terserahlah. Aku gak peduli.
“...kakak yang merepotkan...”
# # # #
__ADS_1
2
Hari ini rumah yang letaknya agak jauh dari rumah-rumah lainnya itu terlihat sibuk. Enam tahun telah berlalu sejak rumah itu mendapat penghuni baru yang cenderung pendiam. Rumah yang biasanya tenang dan damai itu kini dilanda keributan akut.
Sepasang suami istri penghuni rumah tengah hilir mudik dari kamar pribadi mereka ke ruang tengah ditonton anak perempuannya. Sang anak merasa heran, tak mengerti kenapa acara bulan madu bisa serepot ini?
Ya, orang tuanya akan mengadakan bulan madu kedua setelah enam tahun menikah. Sekalian merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Jadi selama sebulan kedepan, pasangan itu akan ada di paris dan beberapa kota lainnya untuk bulan madu.
“Sayang, maaf ya harus ninggalin kalian berdua sendirian. Mama janji akan bawain oleh-oleh buat kalian.” Ucap sang Mama sambil memeluk anak perempuannya.
“Papa bisa panggilin budhe buat jagain kalian,” saran sang Papa.
“Gak usah pa, Kena gak takut kok. Papa Mama have fun aja disana oc!” tolak sang anak.
“Kalo kakak kamu udah bangun suruh makan ya, mama udah siapin sarapan buat kalian berdua.”
Anak itu memandang kepergian Sedan yang membawa orang tuanya sampai tak terlihat lagi. Ia melambai dan tersenyum. Lalu bergegas masuk rumah.
“..hohoho...have fun Ma Pa. Kena disini juga bakalan have fun,” gumam Kena tersenyum misterius. “Akhirnya cuma ada aku. Yes, bisa maen sampe malem!” riangnya jingkrak-jingkrak.
“...heh, dasar bocah...”
Kena berhenti berjingkrak dan mencari sumber ledekan yang diarahkan padanya. Setan mana yang berani ngatain dia bocah barusan? Bukankah cuma ada dia di rumah? Lalu siapa yang barusan ngomong?
Matanya lalu menangkap sosok yang berdiri di tangga dengan tampang jengah menatapnya. Rambut hitam, mata hijau, wajah sengak. Siapa ni cowok? Mirip kakaknya.... Ah, benar! Cowok itu memang sang kakak yang baru bangun tidur. Mereka jarang bertemu meski tinggal satu atap, jadi gak heran kalo terkadang ia lupa kalo punya kakak bernama Rio.
__ADS_1
Namun Rio bersikap gak peduli, dia cuek melewati sang adik dan menuju dapur. Berhubung Kena juga mau sarapan, terpaksa ia menguntit di belakang. Mereka seakan tak mengakui keberadaan satu sama lain.
Rio membuka kulkas dan melongok melihat isinya. Dia mengambil cake sisa semalam, juga kaleng soda yang tinggal setengah, sisa semalam juga. Sambil melahap kedua benda itu nyaris bersamaan, dia menoleh ke sang adik yang sedang makan dengan tenang tanpa mempedulikan keberadaannya. Rasanya ada yang beda hari ini, tapi apa?
“Mama Papa mana?” tanyanya setelah tahu apa bedanya hari ini dengan hari biasanya. Namun, mendadak dia mengetahui hal yang lebih penting. Dia barusan ngajak adiknya ngobrol, ini bertentangan dengan prinsip. “...lupakan....”
Kena berhenti mengunyah, ia menatap sang kakak bingung. Ada apa dengan sang kakak yang biasanya cuek? Ah, terserahlah.
“Pergi bulan madu, ke paris, mungkin ke mesir juga.” Jawab Kena acuh.
“Oh.” Jawaban tak terduga itu malah membuat Rio terkesiap.
Ada apa dengan adiknya yang biasanya cuek? Dia memang nyaris gak pernah melihat sang adik yang gak diakuinya sebagai adik karena dia gak suka punya adik, apalagi perempuan. Tapi kalo diperhatikan, adiknya ini manis juga.
Bodoh! Aku barusan mikir apaan sih?! Kesal Rio lebih ke diri sendiri.
“Mama udah nyiapin sarapan,” Kena menunjuk makanan dimeja dengan garpunya.
Rio hanya menatapi makanan itu. Dia lapar, tapi makan bareng sang adik yang gak diakuinya sebagai adik itu menentang prinsipnya. Biasanya sang Mama akan nganterin makanannya ke kamar, tapi sekarang Mamanya gak ada. Apa yang harus dia lakukan?
Sementara Rio berdebat dengan pikiran absurdnya, Kena sudah selesai makan dan cabut dari dapur. Melihat itu Rio langsung menempatkan diri di meja makan. Perutnya sudah sangat lapar!
Kena tersenyum miris melihat sang kakak, “...kakak yang merepotkan...”
# # #
__ADS_1
TBC.