
5
“Haaah,”
Rio meletakkan gelas yang isinya barusan masuk ke tenggorokan dengan lesu. Ia sangat haus setelah ribuan kali menolak permintaan Gero yang mau menginap. Mana mungkin dia ngijinin cowok playboy itu nginep dirumah yang ada Kena-nya. Walau ia sempat kepikiran mau menggunakan Gero buat mengerjai Kena, tapi bahaya kalo tu anak ngadu ke bokap nyokap.
“Haaaah,”
Sekali lagi ia mengeluh seraya meninggalkan dapur. Untuk mencapai kamarnya harus melewati kamar kena dulu, jadi ia lega saat melihat kamar itu tertutup. Mungkin Kena sedang keluar. Namun sayup-sayup terdengar suara musik mengalun dalam kamar itu. Sikap kepo Rio bangkit, dengan hati-hati ia mengintip kedalam kamar yang tak terkunci mengabaikan prinsip pantang bertemu Kena.
Dalam kamar itu, sang adik yang gak dianggap adik, tengah jingkrak-jingkrak ria dengan alunan musik berjudul Tokyo Do. Tingkah kekanakannya tanpa sadar membuat senyum simpul di wajah Rio. Kena memutar tubuhnya girang, tak sengaja matanya bertemu dengan mata Rio yang tanpa izin sudah memasuki wilayah privasinya. Dia berhenti joget dan segera mematikan music Mp3 yang jadi temannya dugem.
Rio langsung sigap dengan tampang yang di cuek-cuek kan, walau dalam hati ia ngenes karena ketahuan ngintip. Tapi lucu juga bisa ngeliat sisi lain adiknya yang gak dianggap adik. Tapi sekarang ia harus bersikap cool, ini masalah prinsip!
“Dasar bocah,” olok Rio bersidekap.
__ADS_1
“Bocah heh?” Sinis Kena, mendadak senyum misteriusnya muncul melihat tampang sengak sang kakak. “Kita lihat siapa yang bocah.”
Kena menarik dan mendorong Rio ke kasur, lalu memposisikan diri di atas tubuh cowok itu. Dimainkannya rambut sang kakak, dia juga membelai pipinya yang ternyata sangat halus. Rio merasa seluruh sarafnya menegang, pikirannya ngelantur kemana-mana. Dan beberapa detik kemudian ia benar-benar bleng!
Kena menciumnya, tidak, sang adik me-lu-mat bibirnya. Sensasi panas nan lembut dapat terasa, tapi ini salah dan meski ia tahu ada yang salah, raganya tak kuasa melawan. Pikirannya telah dikhianati oleh tubuhnya sendiri.
Kena terus me-lu-mat bibir itu, merasakan sensasi panas dan kekarnya tubuh Rio. Ini salah, dia tahu, tapi mereka saudara tiri. Jadi baginya gak masalah karena sejak awal sang kakak juga gak pernah menganggapnya sebagai adik. Dia hanya ingin mengerjai kakaknya yang sengak itu, namun raganya gak bisa berbohong kalo saat ini dia menginginkannya.
# # # #
Ini masalah prinsip!
Tapi entah kemana prinsip itu sekarang. Mungkin sudah hanyut dilautan mimpi, mungkin juga menguap akibat panas yang menjalar ke otaknya. Atau sudah tersengat aliran listrik yang aneh ini. Ia tak bisa berpikir, bernafas pun susah.
Hanya kenyamanan misterius yang terasa. Aneh, kenapa dosa selalu terasa manis? Kenapa kesalahan selalu terasa indah? Dunia gak sedang terbalik, jadi sepertinya ialah yang sedang kacau.
__ADS_1
Rio menyentuh bibir yang belum lama ini mendapat kejutan dari sang adik yang gak dianggap adik. Ciuman pertamanya telah direnggut paksa dan bodohnya ia menikmati itu. Adiknya yang misterius. Sebenarnya sejak kapan ia membenci gadis itu? Sejak awal....
Kenapa ia membenci gadis itu? Kenapa ia gak bisa menganggapnya sebagai adik?
Mungkin karena perasaan bersalah yang masih menghantuinya. Perasaan bersalah karena telah menghilangkan sang calon adiknya dulu. Ya, dulu ia pernah sangat ingin punya adik, saat keluarganya masih utuh. Ia merengek ke orang tuanya supaya diberikan adik perempuan. Dan orang tuanya mengabulkan hal itu, namun ia sendiri telah merenggutnya. Janin itu menghilang akibat goncangan disaat nyokapnya menggendongnya ke rumah sakit. Ia sakit panas. Meski ia sembuh, harga yang harus ia bayar sangat besar. Mama nya keguguran dan saat mengetahui hal itu Papa nya tengah dalam perjalanan pulang, hingga mobilnya menabrak pembatas jalan akibat shock dan tewas seketika menyusul adiknya.
Semua kesalahannya, ia yang telah menghancurkan keluarganya sendiri. Dan itu membuatnya menolak keberadaan adik baru saat nyokapnya menikah lagi. Harusnya ia senang karena akhirnya punya adik perempuan yang selalu ia inginkan, tapi ia gak bisa. Ia gak ingin mengalami hal serupa dulu, ia gak ingin kehilangan lagi. Gak akan!
Lalu sekarang harus ia kemanakan perasaan bodoh ini?
“Cih..dasar bocah....” rutuknya ke diri sendiri.
# # # #
TBC.
__ADS_1