
44
Rio mengintip dari celah pintu kamar Kena. Sang adik yang sudah secara resmi dianggapnya adik itu tengah tidur-tiduran di kasur. Mendekap bantal membelakanginya. Sudah lebih dari seminggu berlalu sejak ia menjemput Kena dari apartement Nael. Meskipun terlihat baik-baik saja tapi Rio tahu Kena masih belum merelakan perasaannya. Kesedihan itu juga mempengaruhi perasaan Rio.
Apa yang bisa kulakukan untukmu?
Rio kembali ke kamarnya sendiri. Melihat ke gitar yang gak pernah disentuhnya sejak SMP menghias di dinding kamarnya. Tangan Rio mengusap gitar itu. Ditempelkannya keningnya ke badan gitar berharap bisa mendapatkan inspirasi cara menghibur Kena. Saat dirinya patah hati dulu, Kena membantunya bersemangat dengan kata-kata bijak. Namun Rio gak pandai menasehati orang terkait masalah percintaan. Kisah cintanya sendiri berantakan karena keleletannya memahami perasaan sendiri. Bagaimana ia mau menasehati orang lain sementara dirinya adalah orang brengsek pertama sebelum Gero.
“Apa aku minta Gero kesini?” tanya Rio pada diri sendiri.
Gak! Rio segera menggeleng. Saat ini ia dan Gero adalah rival! Lagipula Rio ingin melakukan sesuatu yang akan berkesan bagi Kena. Sesuatu yang spesial untuk orang yang spesial di hatinya. Sebagai seorang kakak yang baik tentu saja sudah seharusnya memperlakukan adik sendiri sebaik mungkin.
Ehem, sebagai kakak!
Rio mengambil gitarnya, mulai mempersiapkan rencana menghibur Kena. Sebuah gitar, sebuah leptop beserta speaker, dan tekat yang bulat.
“Hem, sepertinya ini bisa.” Katanya puas setelah menimbang-nimbang.
Rio berdiri sejenak di depan pintu kamar Kena. Berdoa dalam hati agar rencana yang disiapkan ala kadarnya ini bisa berhasil. Dadanya deg degan. Menarik napas beberapa kali untuk menahan kegrogiannya, Rio menempakkan jemarinya pada senar gitar.
Ting...!
Bunyi gitar dipetik satu kali satu nada. Rio membuka pintu kamar sang adik yang sudah dianggapnya adik itu dan masuk menghampirinya. Diiringi suara music akustik yang syahdu. Suara yang menawan itu mulai menyanyikan lagu romantis. Rio beraksi!
“You say you are fine, but i see behind. Behind those eyes...”
Kena menoleh ke belakang. Rio tengah memetik senar gitar sembari menyanyikan sebuah lagu milik Sia berjudul hurt with me yang telah di cover dengan suara cowok. Muka Kena gak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut dan senangnya. Apa cowok ini sedang menghiburnya?
“You play a game, by the rigid rules. But you cheated yourself...”
Kena terus menatap mata Rio yang berbinar.
“There ain’t nothing you can say. To scare me away. I got history too. And it’s never too late
To share a secret today. I’ll reciprocate. Baby, i got you...”
Rio berlutut dengan satu kaki di depan Kena. Menampilkan senyum paling menawan yang gak pernah ditampilkannya dihadapan cewek lain.
“So hurt with me. I’ll hurt with you. Baby, you know we can hurt together...”
Kena duduk di depan Rio. Masih di atas kasur sembari memeluk kedua lututnya. Kedua tangannya dilipat di atas lutut, menyangga pipi kanannya. Mata Kena fokus pada sosok Rio yang tiba-tiba menjadi sangat tampan.
“I’ve been where you’ve been. I’ve seen what you’ve seen. So hurt with me. We can hurt together....”
Rio masih melanjutkan aksinya meskipun sempat goyah oleh senyuman Kena yang mendadak mengarah padanya.
__ADS_1
“Come hurt with me. Come hurt with me. Come hurt with me. Come hurt with me.....”
Tersihir suasana yang sangat romantis ini, Kena semakin merasakan hasrat yang anehnya menyenangkan baginya. Dihadapan sang kakak yang sudah resmi menganggapnya adik, Kena ingin bersikap manja.
“Sejak kapan kau jadi romatis?” sindir Kena.
“Ehem, sejak hari ini?” goda Rio.
“Aku gak tahu kalo kau punya suara yang bagus?”
Rio mengedikkan kedua bahunya, “Sekarang kamu tahu, kakakmu yang ganteng ini punya banyak bakat.”
“Pfft, apaan sih.”
Kena semakin tersenyum, Rio juga tersenyum. Kedua kakak adik itu saling tatap, hingga lama kelamaan terasa ada keganggalan disana. Music yang masih mengalun beserta penyanyi yang masih membawakan lagu dengan penuh penghayatan.
Kejanggalan yang membuat Kena tersadar.
“Haahahahahahaha!”
Kena menyembunyikan wajahnya dengan malu saat menyadari kejadian paling epik yang sedang dilakukan oleh Rio saat ini. Seorang Rio!!!
“Lipsing?”
# #
Rio menghentikan petikan senarnya, “Ehem.”
“Are you seriously?” Tanya Kena memastikan, “Hahahahaha!”
Senyuman di wajah Rio masih bertahan meskipun dirinya sangat malu hingga semu kemerahan muncul di kedua pipinya.
Diantara jutaan cowok di muka bumi ini bisa jadi Rio adalah salah satu yang paling gak bisa main gitar bahkan bernyanyi. Gitar yang dimilikinya hanyalah pajangan semata. Rio memang sempat belajar gitar saat masuk SMP dulu karena menurutnya cowok yang bisa main gitar itu keren. Jadi dia mengikuti Gero ke kursus music hanya untuk mendapati kenyataan kalau dirinya buta nada. Sejak saat itu dia menyerah untuk belajar gitar dan fokus ke pelajaran sekolah.
Sebenarnya sejak awal tadi dia hanya berpura-pura bernyanyi dengan menggerakkan bibirnya sesuai lirik lagu. Juga berpura-pura memetik senar gitar agar semakin terlihat nyata. Padahal dia sudah merasa sangat keren saat berakting tadi. Sekarang rasa malu mulai merasuki sanubarinya.
Kalo Gero melihat adegan ini, pasti cowok playboy itu akan merongrong Rio dengan ejekan-ejekan sadis sampai nanti kelulusan SMA. Meskipun sebenarnya Gero sudah tahu kalau Rio itu buta nada. Tapi tetap saja jangan sampai aib ini diketahui orang lain!
Hanya boleh Kena seorang.
“Kau memang sangat berbakat ya, kakakku yang ganteng!” kata Kena, gelak tawanya masih nyaring terdengar. “Hahahahahaha!”
“Senang kalau kamu bisa ketawa,” kata Rio tanpa sadar. “Aku sedih kalau kamu sedih.”
Kena menghentikan tawanya mendengar kata-kata Rio barusan. Sejenak keduanya hening, hanya terdengar suara music dari speaker di kamar Rio yang masih belum dimatikan. Kena tahu kalau Rio bermaksud baik. Kekhawatiran seorang kakak kepada adiknya yang putus cinta. Namun, ada rasa menggelitik di hati Kena yang ingin segera meloncat keluar tanpa bisa dikendalikannya.
__ADS_1
“Kamu gak lagi nembak aku kan?”
Rio tertegun mendengar pertanyaan Kena. Dia hanya perlu menjawab tidak sebagai jawaban dari pertanyaan itu. Namun bibirnya tak mau bergerak. Suaranya tertahan di kerongkongan, menolak untuk keluar.
Kena dan Rio saling pandang.
Pertanyaan itu dilontarkan oleh Kena hanya sebagai candaan, tapi setelah melihat reaksi Rio yang malah bungkam, Kena langsung sadar akan hal bodoh yang baru saja dilakukannya. Bisakah dia menarik pertanyaan itu kembali?
“Kak? Jangan bilang kak Rio masih naksir sama aku?” lanjut Kena menetralisir keadaan, “Pftt...hahaha...aku becanda. Kan kak Rio naksirnya sama kak Valeia,”
Rio segera tersadar dari khayalannya, “Ah, iya. Kukira kamu yang masih naksir sama aku.” Goda Rio balik.
“.......................” kali ini Kena yang bungkam.
Menyadari kebodohannya Rio langsung salah tingkah. Bodoh dia menggali kuburannya sendiri.
“Hahah, kamu kan udah milik orang, mana berani aku merebutmu.” Kata Rio setenang mungkin. Walaupun orang yang memiliki Kena sudah pergi entah kemana, meninggalkan gadis itu sendirian disini.
Ada rasa tidak senang saat dirinya sendiri mengatakan hal itu, hati Rio sesak. Perasaan aneh yang menggelitik perutnya. Rio gak ingin tahu apa jenis perasaan itu. Dia takut kalau itu adalah sesuatu yang diketahuinya.
Rio mengusap lembut kepala Kena, “Kakak ingin kamu merasa baikan seperti saat kamu menyemangatiku dulu. Kamu bisa cerita apapun ke aku. Aku kan Kakakmu yang paling tampan sedunia,”
“Makasih kak,” kata Kena sembari tersenyum.
Ada baiknya jika mereka berdua membiasakan diri memanggil dengan sebutan ‘kakak’ dan ‘adik’ mulai saat ini. Agak aneh memanggil Rio ‘kakak’ tapi kalo tidak begitu Kena akan lupa kalau cowok tampan didepannya ini adalah kakaknya sendiri. Saat lupa bisa saja Kena akan menyerang Rio lagi seperti sebelumnya.
Ah, Kena teringat bibir lembut Rio.
“Ayo turun makan siang. Kita harus menyimpan energi sebanyak-banyaknya untuk menghadapi ujian senin depan.” Kata Rio mengingatkan.
Rio berdiri dari posisinya yang sedari tadi berlutut. Kakinya kram karena memangku gitar cukup lama. Rio menyenderkan gitarnya ke meja kecil di sisi tempat tidur Kena. Lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah sang adik.
“Ayo...” ajak Rio.
“Yah?”
Kena mengedipkan matanya beberapa kali. Kata familiar apa yang baru saja didengarnya dilontarkan oleh sang kakak. Ingatannya mencari kata itu karena firasatnya mengatakan kalau itu adalah sesuatu yang penting, sangat penting.
“Ah, Ujian. UJIAN!!” teriak Kena bangkit dari kasur. “OLIMPIADE!!!”
“Iya ujian semester,” kata Rio memperjelas.
Senin depan adalah waktu ujian semester pertama. Lalu olimpiade nasional tingkat SMA se Indonesia. Kena benar-benar telah melupakan hal yang sangat penting yang sudah dipersiapkannya sejak bulan lalu. Otaknya terlalu sibuk mengurus masalah cinta-cintaan. Menghabisakan banyak waktu hanya untuk memastikan perasaannya pada orang lain yang sekarang sudah balik ke Inggris meninggalkannya.
“Sialan.” Rutuk Kena pada dirinya sendiri.
__ADS_1
# # #