ADIK KAKAK

ADIK KAKAK
Episode 18 'TRAP!'


__ADS_3

29




“Lo kenapa?” tanya Gero melihat sikap aneh Rio yang tiba-tiba tertunduk.



Rio segera menegakkan kepalanya, “Gak, bukan apa-apa.” Apa benar ini bukan hal yang serius? “Disini terlalu panas,” alihnya seraya melihat ke langit yang terik oleh matahari. “Apa mereka belum selesai ngantri?”



“Kayaknya udah,” kata Gero seraya menunjuk dengan dagunya pada dua orang cewek yang sedang berjalan mendekati mereka dengan dua eskrim di tangan masing-masing. Untunglah kedua cewek itu masih punya hati membelikan serta dua cowok yang menunggu kepanasan ini.



“Kena sayaaang, gue sekarat nungguin lo. Sampai hati gue rasanya bakal meleleh.” Kata Gero manja, di dekapnya Kena lalu mengambil salah satu eskrim yang dibawa cewek itu.



Rio menatap gak senang, melihat itu Valeia merasa tertekan namun dia buang muka dan tetap mendekati Rio. “Untukmu,” katanya seraya menyodorkan eskrim yang dibawanya ke dada Rio tanpa menatap cowok itu.



Rio sempat tertegun, dengan canggung dia mengambil eskrim itu. “Makasih,” ucapnya tersenyum simpul.



Ah, ini adalah eskrim caramel kesukaannya. Kesannya terhadap Valeia bertambah. Dia sendiri merasa canggung berhadapan dengan cewek itu setelah kabar pembatalan pertunangan tempo hari. Dan Valeia pasti juga merasa canggung dengannya, namun cewek itu menyikapi masalah mereka secara dewasa. Rio merasa gusar, hanya dirinya yang bertingkah kekanakan disini.



Gero berbisik di telinga Kena, “Gue lagi jadi pangeran tampan yang baik hati, lo mau kan bantuin gue baikan ma kakak lo yang gak peka itu?”



Kena menyipit, “Kak Gero marahan ma kak Rio?”



“Bukan gue tapi lo, my future wife. Gue gak mau calon kakak ipar dan istri gue berantem gak jelas kayak gini. Kerjaan OSIS jadi berantakan berkat dia. Nyawa gue juga terancam buat dengerin curhatannya. Ini demi umur panjang suamimu yang tampan ini.” Gero menempelkan pipinya ke pipi Kena, “Bantuin gue?” tanyanya menatap ke mata Kena.



Kena terdiam, lalu menatap ke sang kakak yang merepotkan. Dia memang berencana untuk meluruskan masalahnya dengan Rio, itulah kenapa dia menyetujui usulan kencan ganda ini. Gak ada salahnya memenuhi keinginan Gero.



“Yup, lo setuju.” Kata Gero cepat bahkan sebelum mendengar jawaban Kena. “Traktir gue kalo urusan lo udah selesai, oke cintaku...”



Gero melepaskan Kena dan berlari ke arah Valeia. “Kena yang jaga!” teriaknya. Dengan gesit dia meraih tangan Valeia, menggandengnya, membawanya lari menjauh dari sana sambil tertawa-tawa.



Saat melintasi Rio dia mengedipkan mata, “Sekarang gue serahin ke lo,” bisiknya. Tanda kalau mulai sekarang Rio harus menyelesaikan sendiri masalahnya.



Rio dan Kena yang tertinggal disana berdua berdiri dengan canggung. Keduanya saling menatap.

__ADS_1




30





“Kena yang jaga!”



Valeia tertegun mendengar teriakan itu, apalagi mendapati dirinya yang ditarik paksa oleh Gero. Cowok blasteran itu membawanya berlari meninggalkan Rio dan Kena. Dia terlalu terkejut hingga menjatuhkan eskrim yang berhasil dibelinya setelah lama mengantri.



Mengesampingkan soal itu, kini mereka hanya berdua!



Gero tengah menggandeng tangannya, ada rasa tegang dalam genggaman itu. Valeia menatap ke depan, punggung Gero yang baru disadarinya cukup lebar untuk menutupi tubuhnya dari pancaran matahari terlihat dewasa. Telinganya sedikit memerah, mungkin karena panas matahari. Dan Gero agak lebih tinggi dari Rio, bahkan sejak mereka memasuki SMA. Pertumbuhannya cukup drastis untuk seseorang yang mementingkan penampilan.



Bagaimana bisa Valeia baru memperhatikan hal-hal kecil itu sekarang? Dan saat ini dia merasa ingin tahu seperti apa ekspresi yang ditampilkan Gero?



Wajah Valeia memanas, ini gak seperti dirinya. Apakah dia baru sadar karena selama ini matanya selalu tertuju pada Rio? Lalu karena hubungannya dengan Rio goyah, dia jadi mulai memperhatikan keberadaan cowok lain?




Tapi perasaan lain Valeia gak menyatakan keberatan pada tindakan Gero yang mengenggam tangannya. Bahkan dia agak menikmatinya, hingga dia sesaat gak peduli dengan apa yang dilakukan Rio dan Kena setelah mereka meninggalkannya.



Gero masih belum melepaskan genggamannya pada Valeia. Dia enggan untuk melakukan hal itu. Gak ada rencana konkrit yang dia buat selain memisahkan diri dari Rio dan Kena. Dia hanya membawa Valeia berlari tanpa arah sejauh mungkin dari sana. Dia merasakan keringat mulai membanjiri tangannya. Pikirannya mulai meracau kemana-mana. Bagaimana jika Valeia merasa jijik dengan tindakannya ini?



Gadis itu masih belum menampik tangannya, tapi gak bisa terus begini. Dia harus mencari tempat yang se-enggaknya sepi. Lalu setelah itu...setelah itu....



Arrgh! Gue gak berani lihat wajahnya! Pekik Gero dalam hati.



Dia harus meminta kompensasi yang besar dari Rio dan Kena. Pasti!




#


__ADS_1



“Gero? Kita mau kemana?!” tanya Valeia setengah teriak. Dia lama-lama lelah berlarian gak jelas begini.



Mendadak Gero berhenti, membuat Valeia langsung menabrak punggungnya. Valeia mengerang sakit, diusap-usapnya hidungnya yang berbenturan dengan punggung Gero yang ternyata lumayan keras. Gero masih memunggungi Valeia. Genggaman tangannya juga belum dilepas, bahkan semakin terasa erat seakan dia takut jika dia melepaskan gadis itu sekarang, semuanya akan kembali seperti awal. Mereka hanya akan menjadi sebatas teman, dan Gero hanya sebagai mengagum rahasia yang memandangi pujaan hatinya bersama cowok lain.



Ini adalah moment yang tepat untuk memperjuangkan cinta pertamanya sekali lagi. Gero tahu dengan melakukannya dia akan menjadi cowok brengsek kedua setelah Rio. Hatinya menolak untuk berhenti. Kena pasti akan mengerti dengan keputusannya, lagipula Gero tahu kalau Kena sudah mengetahui jika dia gak serius dengannya. Mereka hanya bermain-main, kenyataannya Kena sudah memiliki tunangan yang tidak diketahui sosoknya.



Ah, dia belum sempat memberi tahu kenyataan itu pada Rio!



Gero menarik napas perlahan, mengumpulkan keberanian untuk menatap Valeia dan bicara tentang perasaannya. Ini lebih sulit dari pada menghadapi pacar-pacarnya yang lain. Sekali lagi Gero menarik napas.



“Ada yang mau gue katakan,” mulainya berusaha agar suaranya gak pecah.



Deg! Deg!



Valeia merasa tubuhnya membeku, jangan katakan kalau saat ini dia sedang menghadapi kenyataan terburuk dari pemikirannya. Punggung Gero terlihat semakin tegang, nyaris bergetar. Ah, seberapa besar keberanian yang cowok playboy itu kumpulkan untuk bicara padanya?



Valeia berharap Gero gak mengatakan persis dengan apa yang dia pikirkan sekarang. Itu akan membuat perasaannya terhadap Rio semakin goyah. Dalam hati dia merasa ingin mendengarnya juga, tapi...tapi....



Lho, kenapa perasaannya terhadap Rio bisa goyah hanya dengan sebuah pengakuan dari cowok lain?



Gero bahkan belum mengatakan apapun. Bisa saja dia salah paham dengan tindakan Gero. Kenapa dia begitu yakin dengan pemikiran bodoh itu? Apakah perasaannya memang sedangkal itu?



Nyut!


Eh?!



Dadanya terasa sakit?





####


..

__ADS_1



__ADS_2