
35
“Hei, kau baik-baik aja?”
Kekhawatiran itu membawa seorang cowok berkacamata untuk mendekati seorang cowok lain yang tengah merintih kesakitan. Sang cowok berkacamata berjongkok di depan cowok lain itu dan menyadari kalau cowok yang tengah kesakitan di depannya adalah teman sekelasnya sendiri. Naelion Sandhika.
“Kau gak apa?” ulang cowok itu seraya menatap Nael. “Ini aku, Adit, kau ingat?”
Sang cowok berkacamata, Adit Raendy, memegang wajah Nael untuk memastikan apakah cowok itu masih sadar. Wajah pucat Nael sudah basah oleh air mata, membuat Adit semakin cemas akan kondisi cowok itu.
“Hei, Nael!” panggilnya lebih keras, berharap Nael mendengarkan suaranya dan sedikit tersadar.
Nael masih meringkuk di lantai beton. Dia terus menerus memukul dadanya sendiri, menangis histeris dan meracau gak jelas. Susah payah Adit memegangi tubuh Nael agar gak langsung tergeletak di lantai. Diluar perkiraannya, ternyata berat tubuh Nael lebih ringan dari berat rata-rata cowok pada umumnya. Dengan jarak yang dekat itu Adit bisa mencium bau obat-obatan dari Nael. Dia juga melihat sebuah kotak kecil yang tergeletak dengan isinya yang berhamburan di dekat Nael.
“Kena. Anandia Kena Altair.”
Nael melihat wajah Adit lalu kembali meracau mengucapkan nama Kena. Di matanya sekarang yang terlihat adalah sosok Kena, bukan Adit. Ucapan Nael yang memanggil nama orang lain saat menatapnya membuat Adit menyerngit. Apalagi nama yang diucapkan Nael adalah nama seorang cewek. Adit tahu siapa cewek yang dimaksud karena pernah beberapa kali melihatnya di sekolah. Meskipun dia sendiri gak terlalu akrab dengan cewek itu.
“Apa yang harus kulakukan?” bisik Nael lirih. “Hiks hiks hiks. Apa yang harus kulakukan....”
Nael lalu mendekap erat dan membenamkan kepalanya pada Adit. Cowok berkacamata itu menaikkan kacamatanya dengan gusar, menanggapi situasi macam apa yang sedang dialaminya sekarang. Semua ini membuatnya mengingat hal yang selalu ingin dilupakannya. Padahal tadi dia hanya gak sengaja melihat seorang cowok yang berlarian ke samping toko miliknya. Takut ada hal buruk terjadi dia pun langsung mengunci toko dan menyusul cowok itu. Siapa sangka kalau cowok itu ternyata adalah Nael. Dan siapa yang tahu tentang apa yang telah dialami Nael sampai jadi semenyedihkan ini. Adit gak bisa gak bersimpati pada Nael.
Dia bisa merasakan lengan Nael yang semakin erat mendekapnya seraya meracau memanggil nama Kena. Dengan canggung Adit membalas dekapan itu lalu mengusap lembut kepala Nael.
“Gak papa, tenanglah....” ucapnya lembut.
Saat ini Adit berharap gak ada seorang pun yang melihat adegan mirip bromance yang sedang dialaminya, ini bisa menjadi aib seumur hidup!
“Hahh, terserahlah....” gusarnya pasrah. Yang lebih penting sekarang adalah membawa Nael ke rumah sakit.
Nael sudah gak sadarkan diri setelah Adit mengusap kepalanya. Dengan cekatan Adit segera menggendong Nael menuju pinggir jalan, lalu memanggil taksi online. Dia juga menghubungi pihak rumah sakit terdekat. Saat taksi yang dipanggil datang, mereka bergegas pergi. Selain wajah pucat dan napas yang sepenggal-penggal, Nael juga kelihatan kurang makan. Sepanjang perjalanan Adit berusaha agar cowok itu tetap aman dengan memeriksa napasnya. Dia juga harus memikirkan cara untuk menghubungi keluarga Nael, atau setidaknya orang yang mengenalnya.
“Mungkin pihak sekolah tahu nomor keluarganya,” pikir Adit.
Adit memperhatikan wajah Nael dengan seksama, dalam keadaan gak sadarkan diri pun Nael seakan memanggil nama Kena melalui gerakan bibirnya. Rasa penasaran memasuki pikiran Adit. Dia semakin ingin tahu tentang cewek bernama Kena ini. Ada beberapa rumor yang belakangan muncul disekolah. Tentang adik kelas dan senior yang memperebutkan ketua OSIS. Dia mendengar rumor gak enak ini dari beberapa anak cewek di kelasnya. Sebagai seorang ketua kelas Adit gak terlalu memusingkan masalah rumor seperti itu karena gak penting baginya. Tapi sekarang lain cerita.
Segala hal yang berhubungan dengan cewek itu kini membuatnya penasaran. Apakah cewek itu sesuai dengan rumornya? Ataukah rumor itu hanya di besar-besarkan saja?
Mungkin, Kena bisa sedikit menghiburnya dari melalui hari-hari yang membosankan ini. Hari-hari monoton yang membuatnya muak.
“Anandia Kena Altair.” Ucap Adit dengan nada yang dingin. Mimik wajahnya saat mengucapkan nama cewek itu terlihat mengerikan.
# # #
36
Saat mata mereka bertemu hal pertama yang dipikirkan Valeia adalah hatinya terasa tertusuk. Ada rasa nyeri yang menggeliat di dadanya. Secara reflek Valeia melepaskan genggaman tangan Gero, agak sedikit menghentaknya. Dia ingin mengatakan sesuatu, seolah sedang mencari alasan untuk menjelaskan situasinya saat ini. Namun kata-kata itu gak mau keluar dari tengggorokannya seakan tertahan disana. Bahkan ketika Valeia ingin memanggil nama Rio sekeras mungkin, hanya sebuah panggilan lirih yang terucap darinya.
“Rio...,” lirih Valeia seakan meminta maaf kepada sosok yang tengah melihatnya di kejauhan.
Sebuah panggilan kecil itu tertangkap oleh pendengaran Gero. Gero langsung menoleh mengikuti arah pandang Valeia. Di sana sosok Rio terlihat olehnya dengan sangat menyedihkan. Gero adalah orang brengsek nomor dua setelah Rio, jadi saat Valeia melepaskan paksa genggaman tangannya, Gero gak punya hak untuk mengeluh atau kembali menarik genggaman itu. Namun hentakan kecil itu membuat Gero merasakan penolakan yang sangat besar hingga mampu membuatnya ingin mengalihkan paksa pandangan Valeia ke arahnya. Tapi Gero gak memiliki hak buat ngelakuin hal itu. Dalam pikirannya dia juga merasa telah mengkhianati sohib terbaiknya selama ini.
Sejak awal Gero tahu kalau sebenarnya Rio juga menyukai Valeia terlepas dari perjodohan orang tua mereka. Bisa dibilang kalau cinta Valeia dan Rio gak bertepuk sebelah tangan. Gero sangat tahu, namun hati kecilnya menolak buat mengakui hal itu. Dia gak bisa menerimanya begitu aja. Gero sudah sangat lama memendam perasaan terhadap Valeia. Meskipun selama ini dia selalu menerima penolakan dari gadis yang dicintainya itu.
Gero sampai menerima semua cewek yang menembaknya hanya untuk membuat Valeia merasa cemburu. Walau yang dia lakukan itu sangat kekanakan dan gak pernah berhasil, sebab Valeia sama sekali gak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman. Saat dia memiliki kesempatan lain untuk mendekati Valeia sekarang, dia gak ingin melepaskannya. Meskipun harus merusak persahabatannya dengan Rio, dia gak akan menyerah. Sampai Valeia sendiri yang mengatakan dengan jelas padanya agar menyerah. Sampai saat itu Gero akan melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk membuat Valeia berada disisinya.
Sekali lagi, Gero adalah orang brengsek nomor dua setelah Rio. Jadi Gero akan memerankan peran itu sebaik mungkin sampai akhir.
# #
__ADS_1
Rio gak mengatakan apapun dan berbalik pergi. Melihat itu Valeia langsung menyusulnya, namun tangannya tertahan oleh pegangan Gero. Cowok blasteran itu ingin meminta agar Valeia tetap tinggal disini. Dia ingin Valeia lebih memilihnya dibanding Rio. Tapi Gero gak kuasa mengatakannya dan membuat Valeia terluka.
“Biar aku yang nyusul Rio,” kata Gero seraya menenangkan Valeia.
Valeia mengangguk setuju setelah terdiam beberapa saat. Saat ini mungkin lebih baik kalau Gero saja yang bicara pada Rio. Lagipula Valeia gak tahu apa yang harus dia katakan nanti saat dia berhadapan dengan Rio secara langsung. Hatinya belum siap buat memberikan penjelasan.
“Tunggu disini, gue nanti bakal antar lo pulang. Gue gak akan lama, lo gak perlu cemas soal Rio. Gue yang bakal jelasin ke dia.” Kata Gero menampilkan senyum andalannya yang menawan.
Vaelia memandangi sosok Gero yang pergi dengan berat hati. Dia berharap semoga kedua cowok itu gak berantem. Namun harapannya itu gak bakal terjadi sesuai keinginannya. Gero dan Rio memulai perang dingin pertama mereka dalam sejarah persahabatan yang lama itu. Semua demi mendapatkan Valeia.
# #
Rio berjalan sangat cepat sampai membuat Gero harus berlari agar bisa menyusulnya. Gero meraih baju Rio lalu menariknya sekuat tenaga. Rio tertarik ke belakang hingga hampir jatuh ke pelukan Gero. Kedua cowok itu saling bertatapan dengan intens.
“Lepas!” perintah Rio seraya menepis tangan Gero yang masih mencengkeran baju belakangnya dan menahan tubuhnya yang tadi hampir jatuh.
“Oke, oke.” Gero segera menjauhkan diri dari Rio dengan kedua tangan setengah terangat ke atas tanda kalau dia gak ingin bermusuhan hanya karena udah megang Rio.
“Gue udah bilang ke lo kalo gue bakal nembak cewek yang gue suka. Dan lo udah setuju,” mulai Gero mengingatkan kesepakatannya dengan Rio sebelumnya. “Gue suka sama Valeia dari dulu, walau gue sempet nyerah setelah nembak dia pertama kali dan ditolak. Dulu gue bisa relain Valeia sama lo, tapi sekarang gak bisa lagi.”
Rio mengepalkan tangannya geram, “Kenapa lo gak nyerah aja selamanya?” katanya sarkas, meskipun dia tahu kalo dia gak berhak menanyakan hal itu.
“Gue udah liat lo belasan kali nyakitin Valeia,” kata Gero membuat Rio tertusuk oleh kenyataan pahit itu. “Kalo lo gak bisa bahagia-in dia, gue yang bakal bahagia-in dia.”
“Dan Kena?” tanya Rio masih menahan amarahnya.
“Lo tahu gue dan Kena gak ada hubungan apa-apa selain satu komplotan. Harusnya gue yang nanya, gimana perasaan lo ke Kena sekarang?” sanggah Gero gak kalah sarkas.
Buk!
Gero tersungkur di jalan. Tanpa aba-aba Rio menonjok dengan keras, tepat di pipi Gero. Ada rasa darah di bibir Gero yang luka akibat pukulan mendadak itu. Gero meringis menatap wajah Rio yang terlihat menyeramkan dengan posisi tangan yang masih terkepal.
“Lo udah nonjok gue barusan, sialan!” kesal Gero dengan senyum yang gak kalah menyeramkan.
Gero bangkit dan langsung menonjok Rio. Tepat di muka sebanyak dua kali, membuatnya terhempas ke jalan. Itu adalah hitungan hutang yang harus Rio bayar karena jadi orang brengsek pertama sebelumnya. Sekarang mereka impas.
Rio menyentuh rahangnya yang nyilu akibat pukulan straight dari Gero. Sohib yang sebentar lagi akan resmi jadi rival cintanya itu memukul tanpa pandang bulu. Namun hatinya merasa agak lega setelah menerima pukulan itu.
“Aku gak akan relain Valeia gitu aja,” jelas Rio yang terkapar di jalan.
“Gue juga,” balas Gero.
Rio tertawa kecil, “Jangan lupa sama cewek-cewekmu yang banyak itu,” ingatnya.
Gero tersenyum, “Jangan khawatir, gue bisa beresin mereka dengan cepat. Atau lo bisa ambil mereka dan biarin gue bahagia sama Valeia.”
“Bahkan dalam mimpi pun aku gak bakal biarin itu,” tegas Rio.
Gero hanya angkat bahu lalu berbalik pergi, dia melambaikan tangannya sebagai tanda sampai jumpa besok. Masih ada yang harus Gero lakukan, jadi dia gak bisa lama-lama meladeni Rio.
Melihat itu Rio langsung duduk tegak. “Mau kemana kamu?”
Gero berhenti, “Kemana lagi? Jelas mau mengantar tuan putri pulang ke rumah.” kata Gero bangga.
Rio terdiam, yah dia gak bisa begitu aja muncul di hadapan Valeia sekarang dan mengantarnya pulang setelah dia dengan keegoisannya berjalan pergi tadi. Kebodohan lainnya yang sangat memalukan.
“Antar dia sampai rumah dengan aman.” Kata Rio akhirnya.
“Tanpa lo bilang juga bakal gue lakuin, tenang aja, gue pastiin tuan putri bakal nyaman sama gue.” Kata Gero memanas-manasi Rio. “Sampai dia lupa kalo lo itu ada,” tambahnya sebelum berlalu.
__ADS_1
“Sialan! Kembali kesini lo! Woy, Gero!” teriak Rio gak terima.
Gero sudah berjalan menjauh dari sana mengabaikan teriakan Rio yang seperti ibu tiri itu. Dia gak bakal melewatkan kesempatan buat nganter Valeia pulang, kali aja nanti dia bakal di kenalkan pada orang tua Valeia. Dan siapa tahu orang tuanya suka sama cowok blasteran yang tampan sepertinya lalu mengangkatnya sebagai menantu menggantikan Rio. Dengan harapan itu Gero kembali ke tempat dia meninggalkan Valeia tadi. Semoga aja Valeia masih berada disana menunggunya.
# #
Senyum Gero langsung sumringah saat melihat kalau gadis yang dicintainya masih menunggunya di tempat terakhir mereka bersama. Melihat kedatangan Gero, Valeia langsung bangun dari duduknya dan bergegas menghampiri cowok itu. Ekspresi wajah gadis itu mengisyaratkan pertanyaan tentang bagaimana pembicaraan Gero dengan Rio.
Valeia jelas penasaran dengan apa yang terjadi diantara kedua cowok yang dikenalnya itu. Sejak tadi dia menunggu kedatangan Gero dengan gelisah, namun bekas kebiruan dan luka di bibir Gero membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya. Tanpa dikatakan pun Valeia tahu kalau kedua cowok itu baru saja berantem. Secara refleks Valeia menyentuh bagian bibir Gero yang terluka, membuat cowok itu tersentak kaget.
“Kalian benar-benar,” sangat membuatku khawatir. Kata-kata sederhana itu tak mampu Valeia selesaikan.
Gero tersadar dari rasa kagetnya, diraihnya tangan Valeia yang sedang menyentuh lukanya itu dengan lembut. Agak membungkuk dia mengecup jemari mungil Valeia, membuat gadis itu sesaat terpesona. Mereka saling bertatapan.
“Lo khawatir ma gue?” tanya Gero sedikit menggoda. “Gue seneng lo akhirnya mau merhatiin gue,”
Valeia menggingit bibir bawahnya sendiri, kata-kata Gero menusuk perasaannya. Dengan canggung digenggamnya jemari Gero. “Maaf,” ucapnya.
“Jangan minta maaf, gue bakal ngerasa bersalah kalo lo bilang gitu.” Gero menempelkan keningnya di genggaman itu. “Buat kedepannya, tolong terus perhatiin gue ya...” pinta Gero setengah memohon.
Valeia gak menjawab. Namun hatinya merasa, mungkin ini saatnya dia harus melepaskan Rio dan mulai mempertimbangkan menjalin hubungan dengan cowok lain. Gero sudah menunjukkan cintanya pada Valeia dengan jelas. Perasaan Valeia terhadap Rio yang mulai goyah itu, membuatnya berharap Gero dapat membantunya melupakan Rio. Melupakan kenangan yang membuatnya bahagia dan terluka.
“Cukup sedih sedihnya, ayo pulang.” Kata Gero setelah cukup lama mereka berdiam disana.
Valeia dengan patuh mengikuti Gero, membiarkan cowok blasteran itu tetap mengenggam tangannya. Mereka berdua meninggalkan taman bermain dengan perasaan yang berat. Sesuai janjinya dengan Rio, Gero mengantar Valeia dengan aman sampai ke rumahnya. Ini bukan kali pertama buat Gero pergi ke rumah Valeia. Sebelumnya dia juga pernah mondar-mandir di gerbang luar rumah itu hanya untuk mencari kesempatan berpapasan secara kebetulan dengan Valeia. Mengingat itu membuat Gero agak kepikiran. Akan sangat memalukan kalo Valeia tahu kelakuannya yang seperti stalker waktu itu. Walau sebenarnya Valeia sendiri sudah tahu kejadian itu tanpa sepengetahuan Gero.
Mengingat apa yang pernah Gero lakukan di depan kediamannya membuat Valeia tersenyum kecil.
“Apa yang lucu?” tanya Gero bingung.
“Ah, bukan apa-apa.” Gak mungkin Valeia cerita kalau dia memata-matai Gero yang mondar-mandir di depan kediamannya.
Gero agak menerengkan kepalanya ke samping. Gerbang kediaman Valeia sudah ada di depannya, apa kali ini dia akan diundang masuk? Ah, tapi gak mungkin dia meminta masuk di kencan pertama mereka. Yah, meskipun kencan kali ini gak bisa sepenuhnya dibilang kencan yang sebenarnya.
“Masuk gih, gue anter lo sampe sini aja.” Kata Gero mengalah pada egonya.
Valeia mengangguk, “Bye bye Gero,” ucap Valeia.
Valeia hendak berbalik namun dia sadar kalau Gero masih belum melepaskan genggaman tangannya. Gero malah menarik Valeia ke dalam dekapan, membuat Valeia tertegun. Suasana berubah hening.
“Gero?” tanya Valeia lirih.
Gero menepuk dua kali punggung Valeia, “Sampai jumpa besok. Gue bakal nunggu sampai lo siap ngasih jawaban ke gue.” Bisik Gero setenang mungkin, meskipun detak jantungnya gak beraturan.
Gero melepas pelukannya, menatap Valeia sebentar seraya tersenyum lalu berbalik pergi sambil melambaikan tangan. Valeia menatap kepergian Gero dalam diam. Barusan dia hampir menahan napas karena terlalu kaget pada tindakan Gero.
Astaga! Astaga! Astaga! Pekik hati Valeia.
Gontai Valeia berjalan masuk ke rumahnya. Wajahnya sudah sangat merah sekarang. Dia gak bakal bisa tidur tenang malam ini, apalagi dia bakal ketemu lagi dengan Gero besok. Rio juga.
“ARRGGHHH!!” jeritnya frustasi.
Pelayan rumah yang melihat tingkah Valeia hanya geleng-geleng kepala. Apa sekiranya yang membuat nona mudanya jadi histeris seperti itu? Namun pelayan itu gak bertanya dan hanya membiarkan Valeia menjerit-jerit gak jelas di dalam kamar sampai nona muda itu terlelap sendirinya.
Raden Ayu Roro Valeia Ardhyoningrat Colin baru saja akan memulai kisah cinta yang sesungguhnya pada tahun keduanya di SMA.
# # #
.
__ADS_1