ADIK KAKAK

ADIK KAKAK
Episode 19 'Persetan Prinsipmu!'


__ADS_3

31


Kedua orang yang ditinggalkan berjalan beriringan menuju area permainan yang sepi pengunjung. Mereka memutuskan untuk memasuki rumah miring dan berdiam di salah satu ruangannya. Kena berpegangan pada pagar pengaman yang terbuat dari besi. Rio berdiri gak jauh di sebelahnya, bersandar di tembok yang miring. Seorang staf yang sedang mengganti bingkai foto nyengir saat melihat mereka berdua. Staf itu melirik penuh arti lalu pergi meninggalkan ruangan.


Rio berusaha gak menghiraukan sindiran tidak langsung itu. Mungkin sebelum mereka datang, sudah pernah ada pasangan-pasangan lain yang menjadikan tempat ini sebagai tempat pacaran. Lokasi dan suasananya memang mendukung sih. Remang-remang, berada di pojok taman dan lumayan sepi. Berbeda dengan rumah kaca di sebelah yang ramai dengan teriakan-teriakan dari orang yang terperangkap di dalamnya.


Rio menarik napas pelan. “Dimana kau tidur beberapa hari ini?” tanyanya pada Kena setenang mungkin. Dia gak ingin merusak moment baik ini dengan ke-egoisannya sendiri.


“Di rumah seseorang yang kukenal,” jawab Kena ambigu.


Gak mungkin Kena mengatakan kalau dirinya menginap di apartemen Nael beberapa hari ini. Bisa-bisa Rio langsung menyeretnya pulang ke rumah dan mengurungnya di kamar!


“Apa kau makan dengan benar?”


“Apa itu yang ingin kakak katakan?” tanya Kena balik.


Rio menatap langit-langit ruangan yang rendah dengan gelisah. Bukan hanya itu yang ingin dia ketahui, tapi mendengar keadaan Kena yang baik-baik saja setelah pergi dari rumah membuatnya sedikit lega. Setidaknya salah satu kekhawatirannya menghilang.


Kena melirik ke Rio, kakak yang gak pernah menganggapnya sebagai adik itu terlihat lebih kurus dari terakhir kali dia melihatnya. Penampilan Rio memang masih keren, hanya saja ada sedikit lingkaran hitam samar di bawah matanya yang sayu. Apakah Rio makan dengan benar? Apakah Rio tidur dengan cukup?


Kena menepis pemikiran sesaat itu. Dia mengalihkan pandangannya pada langit-langit ruangan itu mengikuti Rio, “Aku makan dengan baik, tidur dengan baik, dan gak mengalami kesusahan. Bagaimana denganmu?” tanyanya.


“Aku gak baik-baik aja,” Rio tersenyum samar. “Yang ku katakan waktu itu, maaf, aku sudah egois. Tapi, entah gimana aku mau kamu tahu perasaanku.” Rio bergerak gusar, “Soal Valeia, yah, dia berencana membatalkan pertunangan kami. Masih belum pasti, dan aku sudah janji ke ayahnya kalo pertunangan itu bakal tetap berjalan.”


“.................”


Ah, ternyata kabar yang Kena ketahui dari Nael benar. Valeia memang membatalkan pertunangannya dengan Rio. Lalu kenapa, lagipula Rio gak ada niatan buat menyetujui pembatalan itu. Dia bahkan terang-terangan menolaknya.


Tak ada tanggapan berarti dari Kena malah membuat Rio semakin gusar. Dia memasukkan telapak tangannya yang mendingin ke dalam saku celananya.

__ADS_1


“Papa dan mama akan pulang senin besok, apa kau gak ingin pulang ke rumah juga?” tanya Rio mengalihkan topik pembicaan. “Pulanglah. Aku bakal sibuk dengan kerjaan OSIS, jadi kau gak perlu khawatir akan merasa canggung di rumah. Aku bakal menginap di sekolah selama beberapa hari. Dan tentang pernyataanku...,”


Jangan terlalu dipikirkan. Itu yang ingin Rio katakan, tapi bibirnya terkunci oleh hatinya. Gimanapun dia tetap ingin mendengar jawaban Kena. Ditolak atau diterima, Rio ingin mendengarnya sendiri dari Kena.


“Mau ciuman denganku?”


Rio reflek menoleh menatap ke arah Kena, memastikan pendengarannya tidak salah. Dia terkejut dengan kata-kata yang barusan terlontar dari mulut adik yang gak dianggapnya adik itu. Namun ekspresi Kena gak menunjukkan apapun. Apakah dia memang salah dengar?


“Apa?” tanya Rio gak yakin pada pendengarnnya sendiri.


“Jawaban dari pernyataanmu, mungkin dengan berciuman kita bisa tahu perasaan kita masing-masing. Karena aku juga gak tahu jawabannya,” kata Kena.


Kena sudah memikirkan ini beberapa kali. Ciuman pertamanya dengan Rio yang sudah mengoyahkan perasaannya, meskipun awalnya dia hanya ingin mengerjai kakaknya itu. Ciuman keduanya yang merupakan paksaaan membuatnya berpikir kalau menjalin hubungan percintaan dengan Rio gak bisa diterima, meskipun mereka hanyalah saudara tiri. Kali ini dia ingin memastikannya sekali lagi, bagaimana perasaannya terhadap Rio. Karena itu, mungkin saja ini akan jadi ciumannya yang terakhir dengan Rio. Sebelum dia menempatkan diri sepenuhnya sebagai seorang adik, dan Rio menempatkan diri sebagai seorang kakak.


Berciuman dengan Kena? Rio nyaris menampar dirinya sendiri setelah mendengar ide gila itu. Memang ini bukanlah kali pertama mereka berciuman, tapi tetap saja dia merasa terbebani. Jika mereka melakukannya sekarang, dia bisa kehilangan akal sehatnya sekali lagi. Tapi dengan melakukannya mereka bisa memastikan perasaan satu sama lain. Haruskah dia menerima ide gila ini? Bagaimana dengan prinsipnya?


“Apa kau punya ide yang lebih baik?” tanya Kena lagi karena Rio gak mengatakan apapun. Dia juga mempertimbangkan banyak hal sebelum membuat keputusan ini. Setidaknya dia gak ingin membuat idenya sia-sia. Rio sendiri terlihat gak mempunyai ide yang bisa diajukan.


Kena menghela napas, mendekati Rio, lalu menarik kerah bajunya. “Persetan dengan prinsipmu!”


Seketika suasana menjadi hening. Kepala Rio dipenuhi perasaan dejavu saat Kena mencuri ciuman pertamanya dulu. Namun bukan sensasi bergairah yang dirasakannya saat ini, melainkan perasaan bersalah.


Hatinya terluka.


32


“Persetan dengan prinsipmu!”


Seketika suasana menjadi hening. Kepala Rio dipenuhi perasaan dejavu saat Kena mencuri ciuman pertamanya dulu. Namun bukan sensasi bergairah yang dirasakannya saat ini, melainkan perasaan bersalah.

__ADS_1


Hatinya terluka.


Sosok yang muncul di pikirannya bukanlah Kena. Bibir gadis itu memang manis seperti yang terakhir diingatnya. Dekapan yang hangat dan sentuhan lembut yang menempel di bibirnya menunjukkan betapa ahlinya sang adik yang gak dianggap adik itu berciuman. Kena pasti pernah melakukannya dengan cowok lain, itulah yang sempat dipikir Rio. Pasti ada cowok lain yang pernah berciuman dengannya.


Tapi anehnya Rio gak merasa cemburu. Dia mungkin merasa marah dan penasaran dengan siapa cowok Kena sebelumnya, tapi gak ada perasaan cemburu yang bercampur di hatinya.


Justru perasaan bersalahlah yang bersarang disana. Perasaan menjadi pengkhianat, perasaaan terluka oleh perbuatannya sendiri, perasaan rindu yang membuatnya ingin segera berlari ke sosok yang terus membayang di matanya.


Valeia.


#


“Persetan dengan prinsipmu!”


Kena mencium paksa sang kakak yang merepotkan. Seakan ingin memastikan sejelas-jelasnya perasaannya sendiri, dia melumat bibir yang agak kering itu. Otaknya memproses dengan cepat. Perasaan seperti apa yang diinginkannya terhadap Rio.


Adegan yang begitu intim itu, gairah yang hambar. Dia gak merasa menginginkan Rio lebih dari sebatas...pelampiasan?


Kena terlalu lama ditinggalkan sendirian oleh seseorang yang sangat berharga untuknya. Dia melampiaskan segala ketegangan itu pada Rio. Dan saat orang itu sudah kembali perasaannya berubah, bukan ke Rio tapi ke orang lain. Nael.


Ah, akulah yang ternyata brengsek.


Kena meninggalkan Nael di apartemen sendirian, hanya meninggalkan pesan kalau dia akan pergi ke taman bermain bersama teman-temannya. Apakah Nael sudah membaca pesannya? Apakah Nael sudah bangun dari tidur? Apakah Nael sudah sarapan? Apakah Nael mencari keberadaannya saat baru membuka mata?


Bisakah cowok itu hidup tanpa dirinya? Bukan, tapi bisakah Kena hidup tanpa Nael?


Bukan sosok Rio, gak pernah menjadi Rio yang berharga di hatinya. Kena membuka matanya, menyayangkan ciuman hambar yang sedang dilakukan. Menghela, menyadari kebodohan yang seharusnya sudah jelas di depan mata. Hatinya, pandangannya, hidupnya, hanya tertuju pada Nael.


Aku ingin bertemu dengannya!

__ADS_1


# # # #


.


__ADS_2