
38
Ruang ICU itu masih tertutup rapat. Adit duduk setenang mungkin di sebuah kursi panjang yang berada di koridor, menghadap pintu ruang ICU. Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, matanya melihat ke atas. Pikiran kalutnya sedikit mereda setelah Nael mendapat penanganan darurat. Pencucian lambung akibat overdosis obat desperant.
“Huhhhh,” Adit menghembuskan napas ke udara.
Saat mereka sampai di rumah sakit, kondisi tubuh Nael sudah sangat lemas akibat gejala overdosis yang dialaminya. Dokter mengatakan padanya kalau nyawa cowok itu bisa saja dalam bahaya kalau gak segera mendapat penanganan yang tepat. Sekarang Nael sedang menjalani pencucian lambung untuk mengeluarkan obat-obatan itu dari perutnya. Sisa dari obat yang dibawanya sudah diserahkan ke dokter untuk dianalisis.
“Hahhhh,” helaan. “Apa yang sebenarnya sedang kulakukan?” Eluhnya.
Adit melirik pintu ruang ICU yang lampunya masih menyala. Dia sudah menghubungi keluarga Nael berkat ponsel yang ditemukannya di saku celana cowok itu. Kakek Nael yang mengangkat panggilan telepon meminta agar Adit menjaga cucunya sementara waktu, sampai sang kakek tiba di Indonesia.
Adit menyipitkan matanya, hanya ada empat kontak yang tersimpan di dalam ponsel Nael. Masing-masing bernama Kakek, MyLope, Dokter Erik dan BossG. Entah dua kontak yang lain, tapi Adit tahu kalau kontak bernama MyLope itu pastilah kontak Kena. Lekat Adit memandangi nomor kontak Kena yang sudah disalinnya ke ponselnya sendiri tanpa izin.
Sebuah senyum tersungging di bibir Adit.
“Sepertinya kita akan bertemu dalam waktu dekat,” bisiknya. “My Lope.”
# #
“Sayang sarapan!”
Panggilan mama nyaring sampai ke lantai dua, memasuki kamar anak-anaknya yang sedikit bercelah. Pintu kamar pertama yang terbuka adalah milik sang anak perempuan, lalu diikuti pintu kamar sang anak laki-laki.
Mata Kena menyipit melihat penampilan Rio, kakak yang resmi menganggapnya sebagai adik beberapa hari lalu. Rambut hitam yang acak-acakan, sepasang mata hijau yang setengah mengantuk, dan wajah sengak disertai sunggingan senyuman nakal. Rio membuat pose keren dengan percaya diri di depan Kena.
“Kakakmu ini memang ganteng, banget!” puji Rio ke dirinya sendiri.
Kena memutar jengah bola matanya, “Terserah lah,” balasnya menanggapi ke narsisan Rio.
Rio cengengesan, lalu dia menggandeng Kena turun ke ruang makan. Papa dan Mama yang melihat adegan langka keakraban kakak adik itu saling bertukar pandang. Rio yang gak pernah mau makan bareng di meja makan dan selalu meminta agar sarapannya diantar ke kamar, secara tiba-tiba turun ke ruang makan bersama Kena. Apa yang telah terjadi disaat kedua orang tua itu pergi bulan madu?
“Pagi ma pa,” sapa Kena langsung menempatkan diri di kursinya.
“Pagi sayang,” balas Papa dan Mama barengan.
“Pagi pa ma,” sapa Rio yang duduk di sebelah Kena.
Papa dan Mama diam sejenak. Keduanya gak menyangka akan mendapatkan sapaan pagi dari anak laki-laki mereka. Sekali lagi keduanya saling tukar pandang, lalu menatap khawatir ke arah Rio.
“Ma, kayaknya Rio sakit, coba Mama telpon dokter suruh ke rumah.” Kata Papa.
“Masak sih pa,” Mama ikut-ikutan dengan mengecek suhu kening Rio. “Emang agak panas sih pa,” kata Mama.
“Paaaaa Maaaaa!” keluh Rio yang merasa dipermainkan orang tuanya sendiri.
“Panggil aja pa, sakit beneran kok, sakit habis patah hati.” Gabung Kena cengengesan.
“WOI!” teriak Rio.
Rio hendak membekap mulut Kena, namun Mama keburu memeluknya erat. Membuat Rio tak berkutik.
“Ya ampun, kasihan anak mama. Pantas aja jadi manis gini, habis ditolak cewek rupanya.” Goda Mama seraya mengesun pipi Rio penuh kasih.
__ADS_1
“Oh shit. Aku belum nyerah okey,” kata Rio membela diri. “Mama terlalu dramatis,”
“Jadi siapa ceweknya?” tanya Papa penasaran.
Kena tersenyum nakal, “Valeia pa, kayaknya sekarang udah ke gaet sama kak Gero.” Terangnya ke Papa Mamanya.
“Valeia anaknya Colin?” tebak Mama. “Are you sure sayang? Valeia kecil yang tunangan sama Rio dulu kan,”
Rio mengalihkan pandangannya dari tatapan menyelidik sang Mama. Satu orang lagi yang butuh penjelasan tentang apa yang telah terjadi selama sebulan ini. Ukh, mengingatnya membuat mood Rio jatuh bangun. Sebaiknya dia gak cerita soal insiden dengan Kena karena bisa-bisa Mamanya menyeretnya ke kantor polisi. Melihat Mamanya yang gak tahu apa-apa- pasti om Colin, Papanya Valeia, belum ngasih tahu Mama soal pembatalan pertunangan itu. Rio bersyukur soal yang satu ini.
“Rio punya tunangan juga? Papa baru tahu,” Kata Papa yang sadar dengan seberapa minimnya pengetahuannya tentang anak laki-lakinya itu. Padahal sudah beberapa tahun mereka tinggal bersama.
Mama menempelkan pipinya ke pipi Rio, “Mama belum cerita ke Papa ya.”
“Kayaknya kita perlu agenda bulan madu kedua ma,” seloroh Papa membuat Mama tertawa riang menanggapi kode itu.
Alis Rio terangkat, tunggu, kalo Papa bilang juga berarti....
Rio langsung menoleh ke Kena yang tetap kalem menyantap sarapannya. Gak gak gak! Jangan bilang Kena juga punya tunangan sepertinya.
“Kena juga udah punya tunangan pa?” tanya Mama yang seakan mewakili perasaan Rio.
“Ekhem.” Papa berdehem, lalu melirik ke Kena. “Ya, bisa dibilang begitu.” Jawab Papa singkat, lalu segera mengalihkan topik setelah meneguk kopinya. “Ini sudah siang, ayo cepat sarapannya. Kalian harus sekolah kan,” Kilah Papa.
“Ini minggu pa,” terang Rio. Dia masih ingin membahas perihal tunangan Kena yang gak diketahuinya.
Krek. Kena bangkit dari duduknya dengan agak kasar sehingga membuat kursi yang didudukinya bergeser ke belakang dengan bunyi yang keras. Semua perhatian tertuju padanya. Gadis yang jadi topik pembicaraan itu dengan tenang meraih tas nya.
“Kena udah selesai. Pergi dulu pa ma,” pamit Kena seraya mengesun Papa dan Mamanya.
“Mau ketempat Nael.” Jawab Kena singkat seraya berlalu pergi.
Mama melirik ke Papa, pandangannya menyiratkan tanya. Barangkali Papa tahu siapa orang yang disebut Kena barusan.
“Tunangannya.” Jawab Papa menjawab isyarat tanya Mama.
Rio memandangi kepergian Kena yang terburu-buru itu. Pasti ada sesuatu hingga Kena menghindari topik bahasan soal tunangan misteriusnya. Rasanya agak gak adil, padahal Kena sudah tahu perihal pertunangan Rio dengan Valeia. Ternyata gak ada satupun yang Rio tahu tentang Kena, sang adik yang belum lama ini secara resmi dianggapnya sebagai adik.
Ck, sialan!
# #
39
“Kena?”
Panggilan itu menyapa Kena saat dia baru saja tiba di apartement Nael. Orang yang memanggil namanya itu baru pertama kali ini Kena lihat. Seorang cowok tinggi berkacamata dengan setelan semi casual tengah membawa buket bunga berwarna biru muda.
Kena mengerjapkan mata. Tunggu, apa cowok ini mau menembakku?
“Anandia Kena Altair, benarkan?” tanya cowok itu memastikan sekali lagi bahwa cewek yang berada di depannya ini adalah orang yang ditunggunya.
Agak ragu-ragu Kena buat membenarkan namanya itu, namun melihat tampang cowok di depannya yang sangat berharap kalo benar dia adalah Kena, membuat gadis itu menampik rasa curiganya.
__ADS_1
“Ya, benar.” Jawab Kena dengan senyuman simpul. “Apa kita kenal?” tanya Kena seraya menunjuk cowok itu dan dirinya sendiri.
“Hmmm,” cowok itu menatap Kena dari atas ke bawah. Mengerutkan sedikit alisnya lalu menyerahkan buket bunga yang dibawanya ke Kena. “Kiriman buatmu,”
Kena merasa aneh menerima buket bunga dari cowok yang gak dikenalnya. Untungnya itu buket bunga kiriman, bukan buket dari si cowok untuk menembaknya. Hahaa. Membaca nama pengirim yang tertera di kartu ucapan membuat Kena langsung sumringah.
Ini dari Nael!
Tumben cowok manja itu bisa bersikap sangat romantis dengan mengiriminya bunga.
“Makasih,” kata Kena pada cowok berkacamata yang belum menyebutkan namanya itu. “Timingnya pas banget,” pujinya.
Cowok berkacamata itu membenarkan letak kacamatanya yang melorot. Bukan timingnya yang pas, tapi memang dia sudah menunggu disana selama beberapa hari ini untuk menyerahkan buket bunga itu. Ini adalah permintaan dari sang pelanggan yang melarangnya mengirim buket ke rumah Kena, melainkan di alamatkan ke apartemennya dengan keyakinan kalo Kena pasti akan datang kesana. Meskipun waktunya gak pasti kapan. Dia gak bisa menyerahkan buket itu di sekolah karena bisa menarik banyak perhatian. Gak bisa juga meminta Kena datang sendiri buat mengambil buketnya.
Ahh, kenapa dia menyetujui permintaan pelanggan yang merepotkan itu. Naelion Sandhika. Harusnya dia tolak aja dari awal. Cowok itu kembali memperhatikan Kena yang tengah menciumi buket bunga yang diberikannya. Yah, gak rugi juga sih kalo bisa melihat pemandangan kayak gini.
“Apa masih ada yang lain?” tanya Kena melihat sang kurir yang gak pergi-pergi. Bukan berarti dia mau mengusirnya sih.
Cowok itu mengeluarkan sebuah surat dari tasnya lalu menyerahkannya ke Kena. Dia juga mengeluarkan laporan penerimaan pesanan untuk ditanda tangani. Terakhir dia mengeluarkan ponselnya dan memotret Kena yang tengah memeluk buket bunga beserta sebuah amplop berpita biru di tangannya.
Kena berkedip, “Buat apa yang barusan?” tanyanya bingung karena mendadak di foto.
“Bukti pengiriman.” Jawab cowok itu singkat seraya menempelkan ponselnya ke bibir, seakan mengecup foto itu. “Tugasku sudah selesai disini. Sampai jumpa...” MyLope.
Cowok itu melambaikan tangannya saat berbalik pergi. Kena masih diam tertegun bahkan setelah cowok berkacamata yang berperan sebagi kurir itu pergi dari hadapannya. Pesona cowok itu sempat membuatnya terpaku di tempat. Segera setelah logikanya kembali dia bergegas masuk ke apartement Nael.
“Astaga! Astaga!” rutuk Kena ke dirinya sendiri yang baru saja terpikat pada sang kurir. Wajahnya memerah, ini disebut pengkhianatan terhadap kekasihnya.
“Hahh!”
Kena meletakkan tasnya di lantai, lalu menjatuhkan dirinya sendiri ke kasur sambil tetap memeluk buket bunganya. Perasaan senangnya sedang melambung saat ini. Pertama kalinya Nael bersikap romantis, padahal biasanya cowok itu bertingkah manja dan kekanakan. Apakah ini isyarat kalo mereka akan mengekpost hubungan mereka ke publik?
Cukup lama Kena tersenyum-senyum sendiri membayangkan wajah Nael yang memesan buket ini untuknya. Kena lalu memperhatikan surat yang dia terima bersama buket bunga itu. Perlahan dia melepas pita biru yang mengunci surat. Dadanya berdebar ingin segera membaca isi surat yang ditulis Nael.
Baris pertama dalam surat itu menyapanya penuh cinta.
“Dear My Lope.”
# # #
Adit menoleh ke bangunan di belakangnya untuk terakhir kali. Dia memperhatikan foto yang baru diambilnya, lalu mengirimkan foto itu ke nomor sang pelanggan. Balasan diterima dengan cepat disertai bukti transfer yang menandakan kalo bisnis telah selesai dilaksanakan. Senyuman menghias wajah cowok yang kacamatanya agak melorot itu. Sigap dia membetulkan letak kacamata kesayangannya.
“Selesai.” Girangnya sembari merenggakan tubuh.
Beberapa hari ini sangat melelahkan baginya buat terus-terusan datang ke sana. Yah, bayaran yang diterimanya memang besar sih. Apalagi dapat berbicara dengan cewek yang menarik perhatiannya itu. Keberuntungan ada di pihak Adit.
Sekali lagi Adit menatap foto itu, senyumannya tersungging. Gak masalah kan kalo dia juga menyimpan foto itu sebagai kenang-kenangan.
“Dia pasti sedang membaca suratnya sekarang.” guman Adit.
Adit mendekatkan foto itu ke bibir. Kali ini dia benar-benar menciumnya dengan lembut. Ini akan sangat menyenangkan buat dinantikan besok lusa. Dia gak sabar ingin segera melihat ekspresi Kena secepatnya. Mimik wajah Adit berubah menakutkan.
“Pfft. Sampai jumpa lagi Kena.”
__ADS_1
# # #
..