
45
Minggu ujian yang menegangkan bagi semua murid akhirnya berlangsung. Sekolah yang biasanya ramai menjadi sunyi senyap. Ada barikade larangan lewat di setiap gedung yang memisahkan antara gedung kelas satu, dua dan tiga. Ada papan bertuliskan --dilarang berisik sedang ada ujian-- di gerbang masuk sekolah, bahkan sampai area parkir.
Anandia Kena Altair duduk termenung dikantin, sendirian. Istirahat pertama sedang berlangsung, jeda untuk mengisi energi sebelum ujian sesi kedua di hari itu.
“Hahh....”
Helaan Kena sampai menggema ke bangku sebelah, tempat duduk seorang cowok berkacamata yang sedari tadi mengamatinya tanpa Kena sadari.
“Hahh....” Helaan lagi.
Cowok berkacamata itu lama-lama merasa terusik oleh helaan Kena. Dibetulkannya letak kacamatanya yang melorot, ditutupnya buku pelajaran yang sedari tadi terbuka namun tidak dibacanya. Dia menoleh ke Kena, satu helaan lagi dan akan disapanya gadis itu.
“Hahh....” Helaan ketiga Kena terdengar.
Cowok berkacamata itu bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Kena, lalu duduk begitu saja di kursi yang tepat berdampingan dengan Kena. Bahunya hampir menempel dengan bahu gadis itu. Kena menoleh ke samping, bingung dengan identitas cowok yang tiba-tiba duduk mendekat padanya. Siapa?!
Sementara cowok berkacamata itu balas menoleh ke arah Kena, menatapnya intens. Siapapun yang melihat adegan tatap-tatapan itu pasti akan mengira kalau keduanya sedang bermesraan. Sebuah rumor yang akan memudahkan sang cowok untuk mendekati sang gadis.
Itulah yang diinginkan Adit, sang cowok berkacamata!
Lama mereka mengamati satu sama lain. Orang pertama yang bersuara adalah Kena. Sosok cowok di hadapannya ini terlihat sangat familiar. Dimana ia pernah melihatnya? Mata kena menyipit, keningnya berkerut gak senang. Wajah itu, tatapan itu, kacamata itu. Kena langsung teringat adegan yang gak ingin diingatnya. Adegan yang berkaitan dengan cowok itu. Di depan pintu apartemen Nael, sebuah buket bunga, dan sebuah amplop berisi surat tanda perpisahan. Kena lantas bangkit sembari menggebrak meja.
“KAU!” Pekik Kena, “Kurir itu!”
“Pfft,” Adit tersenyum, “Akhirnya kau ingat? Kukira kau gak akan sadar padaku,”
Meskipun butuh beberapa detik untuk menyadarinya, tentu saja Kena ingat sekalipun gak ingin mengingatnya. Moment menyakitkan yang sukar dilupakan.
“Apa yang kau lakukan disini?” selidik Kena.
Tidak mungkin kan Nael mengirimkan sesuatu lagi padanya.
“Apa kau gak ingin duduk dulu?” tanya Adit balik.
Agak ragu-ragu Kena kembali duduk di bangkunya. Saling berhadapan dengan cowok yang diketahuinya sebagai kurir itu. Mengamati satu sama lain, menelisik.
“Apa kau membenciku?” tanya Adit melihat reaksi berlebihan Kena.
Kena bersidekap, “Kau membuatku mengingat hal yang gak kusuka....”
“Ahh, maksudmu soal kiriman waktu itu. Hahaha,” Adit menyentuh kacamatanya. “Seingatku kau menyukai bingkisannya,”
Kena hendak protes, namun dia memang sangat bahagia saat menerima bingkisan dari Nael. Sebelum akhirnya dia tahu bahwa romantisme yang didapatkannya adalah sebuah tanda perpisahan.
Kena melengos, “Baiklah. Apa yang kau lakukan disini? Menjadi kurir lagi?” sindirnya.
“Sindiranmu sangat kejam.” Adit menatap mata Kena, “Aku juga sekolah disini tahu, lihat, aku pakai seragam.”
Adit memapangkan seragam yang dikenakannya sebagai bukti.
Memang benar kalau Adit memakai seragam cowok sekolahnya, ditambah ada pin penanda anak kelas dua di kerah bajunya. Anak kelas dua berarti seangkatan dengan Rio. Apa jangan-jangan teman sekelas Rio?
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Adit melihat diamnya Kena.
“Alasanmu mendekatiku,” jawab Kena dingin.
Adit tersenyum manis, “Karena aku tertarik padamu.”
Kena tak berkedip mendengar jawaban yang to the point itu. Alasan cowok berkacamata ini mendekatinya adalah karena tertarik padanya?
Gila! Mereka bahkan belum saling mengenal.
Kena mengacungkan dua jari tangannya, “Kita kan baru dua kali bertemu!”
__ADS_1
Adit mengedikkan bahu, “Gak juga, kan ada istilah cinta pada pandangan pertama.” Terang Adit percaya diri. “Lagipula aku kan juga pernah menembakmu dan ditolak olehmu, tidakkah artinya kita sangat dekat?”
“Kapan?!” tanya Kena kaget.
Adit bangkit dari duduknya, bukannya menjawab dia malah berjalan menjauhi Kena. Kena ingin menahannya tapi dentang bel masuk sudah berbunyi. Sesi ujian kedua akan segera dimulai. Sebelum semakin jauh berjalan, Adit menoleh ke belakang.
“Cobalah mengingatnya.” Kata Adit, “Adit.”
“Apa?” bingung Kena.
“Namaku Adit!” ulang Adit.
Setelah mengatakan itu Adit benar-benar berjalan pergi kembali ke kelasnya di gedung sebelah. Kena sempat terpaku sejenak, sebelum bergegas kembali ke kelasnya di gedung yang lain. Saat ini bukan waktunya bagi Kena untuk memikirkan seorang cowok yang mengaku bernama Adit, yang pernah menembak serta ditolak olehnya. Ujian lebih penting!
Meskipun begitu, hatinya merasa tak tenang dengan kehadiran dan pernyataan Adit.
“Hahh, ck!” kesal Kena.
46
Gadis itu sempat menahan napasnya saat sosok cowok berkacamata yang diketahuinya merupakan anak MIPA A melintas di sampingnya. Tadi saat melihat cowok itu dari kejauhan, gadis itu langsung berinisiatif bersembunyi. Menyembunyikan dirinya sendiri di balik pilar agar tak terlihat. Namun, bahkan setelah melakukan semua itu, usahanya tetap sia-sia.
Rencananya, dia akan muncul tiba-tiba untuk mengagetkan cowok itu dari belakang. Dia sudah mengendap-endap, tapi tetap saja ketahuan.
Adit berhenti berjalan, diam ditempatnya, menghela napas pasrah, lalu menoleh ke belakang. Menatap sosok yang berada di balik pilar dibelakangnya.
“Kau gak berpikir kalau aku gak akan melihatmu kan?” tanya Adit sarkas, “Kalau iya, itu bodoh banget. Puspa....”
Puspa menggembungkan pipinya cemberut, yah, dia tak berharap akan berhasil sih. Sebab cowok didepannya itu punya tingkat kepekaan yang tinggi untuk hal-hal gak berguna. Padahal kalau saja kepekaan itu digunakan untuk merasakan hal yang lain, yang ada di dekatnya, pasti hubungan mereka gak akan seburuk sekarang.
“Sejak kapan kau disana?” tanya Adit lagi. Curiga.
Puspa keluar dari persembunyiannya, lalu mendekati Adit. Berjalan beriringan dengan cowok kacamata itu.
“.............” Adit melirik ke Puspa, “Baguslah.”
Seakan tidak ingin rahasianya diketahui, Adit bersyukur gadis itu tidak mendengarkan percakapannya dengan Kena tadi. Namun dugaan Adit salah. Puspa berjalan sedikit cepat di depan Adit lalu berhenti. Membuat Adit reflek ikut berhenti.
“Kau sedang mendekatinya?” tanya Puspa halus tanpa berbalik menatap Adit.
Adit menatap serius punggung Puspa, “Siapa?” tanyanya balik.
“Kena. Anandia Kena Altair.” Jawab Puspa frontal. “Kau tertarik padanya atau hanya ingin bermain-main dengannya?”
“..........”
Tidak adanya jawaban dari Adit membuat Puspa semakin yakin dengan tebakannya. Awalnya itu hanyalah dugaan, insting wanita, yang kini benar menjadi nyata.
“Yah, aku gak sedang mencampuri urusan privasimu sih. Itu bukan gayaku,” Puspa tersenyum simpul, “Aku hanya agak penasaran dengan pembicaraan kalian.”
Adit menyentuh bingkai kacamatanya, “Apa ada hubungannya dengan selingkuhanmu itu?” sinisnya. Bukan berarti Adit juga tidak memiliki dugaan terhadap pertanyaan Puspa yang tiba-tiba itu.
“Bisa dibilang begitu, atau hanya rasa keingintahuanku aja.” Jawab Puspa yang berharap suaranya tidak terdengar sedingin hatinya. “Kau gak akan mengatakan apapun ya....”
“Bukankah bukan gayamu mencampuri urusan orang lain.” Kilah Adit, “Aku pernah bilang agar kau putus aja dengan cowok itu. Kenapa kau tetap mempersulit dirimu sendiri,”
“Karena aku menyukainya.”
Hening.
“Kalau begitu, gak ada lagi yang bisa kita bicarakan.”
Adit berbelok ke arah kelasnya sendiri. Tadinya dia ingin mengantarkan Puspa sampai ke kelas MIPS E dilantai dua, tapi di urungkannya niat itu. Alhasil Adit malah meninggalkan Puspa di depan tangga sendirian.
Puspa, gadis itu tidak bisa dimengerti jalan pikirannya oleh Adit. Kenapa seseorang bisa begitu senang dan setia padahal hanya dianggap selingkuhan oleh cowok yang punya banyak kekasih lainnya.
__ADS_1
Bukan menjadi satu-satunya, melainkan hanya salah satunya!
“Cinta katanya,” guman Adit meremehkan, “Bodoh.”
# # #
Masih di depan tangga menuju lantai atas, Puspa menggigit bawah bibirnya sendiri. Akhir-akhir ini dia merasa berubah menjadi orang lain. Tidak seperti dirinya yang biasanya, kenapa dia peduli pada hal kecil seperti itu.
“Hahh....” Helaan.
Kalau saja Adit melihat tampang kacaunya saat ini, cowok itu pasti tidak akan berhenti menceramahinya.
“Untung saja aku membelakangimu,” guman Puspa, “Hahaha.”
“Apa yang lucu?”
Puspa menoleh ke kiri, disumber suara ada seorang cowok blasteran bermata merah sedang tersenyum melihatnya.
“Apa yang bikin lo ketawa?” tanyanya lagi, “Sa...yang....”
“Gero sayang!” sapa Puspa.
Gero memeluk Puspa dari belakang, lalu menempelkan pipinya ke pipi gadis itu. Mengusap-usapkannya dengan manja. Tadi Gero tidak sengaja melihat Puspa saat mengintip keluar kelasnya. Jadi dia menghampiri, dan berniat mengantarkan Puspa ke kelasnya di lantai dua.
Saat Gero mendekatinya, gadis itu sedang berguman lalu tertawa ringan. Ekspresi yang belum pernah Gero lihat, membuatnya tertarik untuk tahu apa penyebab yang membuat gadis itu tertawa.
“Jadi?” tanya Gero lagi, menuntut jawaban.
“Hmmm, aku sedang mengingat kencan kita?” Jawab Puspa yang lebih bernada tanya.
“Pfft, apa itu....” Canda Gero. “Ayo, kuantar ke kelasmu. Sebentar lagi guru pengawas akan muncul!”
“Haha, muncul dari mana?”
“Well, bisa aja tiba-tiba muncul kayak hantu. Huuuuu....” Gero menempatkan tangannya sebatas muka. Dia membuat gerakan seram untuk menakut-nakuti Puspa.
“Gero sayang, itu gak lucu!” kata Puspa sembari mencubit manja pipi Gero.
“Hahahaha. Ayo.” Gero mengenggam jemari Puspa, menautkannya ke jemarinya, lalu membimbingnya menaiki tangga. Mengantarkan sampai ke kelas MIPS E dilantai dua.
Dari pintu kelas MIPA A, Adit menatap dingin pada kedua sosok yang berjalan bergandengan tangan ke lantai dua itu. Bibirnya bergerak samar seakan tengah mengutuk mereka, atau hanya salah satunya.
Dia berniat untuk berbalik dan mengantarkan Puspa, namun kehilangan timing yang pas untuk menyela mereka.
Firasatnya sudah curiga saat melihat Gero yang mendadak keluar kelas padahal sebentar lagi pengawas ujian datang. Benar saja, cowok blasteran itu menghampiri Puspa lalu bermesraan dengannya. Sangat tidak menyia-nyiakan kesempatan berduaan!
“Hahh!” kesal Adit.
Tapi tak ada yang bisa dia lakukan pada keputusan Puspa yang tetap masih mau jadi salah satu ceweknya Gero.
“Padahal masih ada.....”
Bibir Adit langsung terkatup. Apa yang hendak dia katakan barusan. Memangnya dia siapa sampai menasehati orang lain?
Adit melengos, lalu berbalik duduk di bangkunya. Fokuslah ke ujian! Otaknya menanamkan sugesti kuat agar tidak memikirkan yang lainnya.
Dia sudah pernah kehilangan kesempatan menjadi perwakilan olimpiade kimia tahun ini. Jangan sampai dia juga kehilangan kesempatan menjadi juara umum sekolah.
Meskipun begitu, dia masih sedikit kepikiran saat Gero balik ke dalam kelas. Adit melirik kesal, lantas dia menggeleng. Melepas kacamatanya dan memijat pelan bagian diantara kedua matanya.
“Aku bisa gila karenamu,” racau Adit. “Hahhh......” keluhnya.
# # # #
TBC.
__ADS_1