
25
Gero sudah menunggu di tempat itu sejak pagi. Berputar-putar gak jelas di sekitar kediaman Ardhyoningrat Colin. Berharap motif gak sengaja papasannya berhasil menahan langkah Valeia. Namun menjelang siang, gak ada tanda sang Raden Ayu keluar dari kediamannya. Agak putus asa dia, tapi nyalinya masih belum kuat buat menekan langsung interkom rumah itu.
“Harusnya tadi gue pura-pura jadi pengantar paket,” batinnya
Sementara itu, Valeia dari layar notepadnya dapat dengan jelas melihat tingkah konyol Gero. Dia bahkan menghitung kalau cowok blateran itu sudah mengitari area sekitar rumah sebanyak 15 kali. Apa yang sedang dilakukan cowok blasteran itu di kediamannya? Menunggunya keluar?
Tadi Valeia memang sudah bersiap untuk keluar rumah, namun setelah mendengar sang security mengatakan kalau ada orang mencurigakan di sekitar rumah mereka. Valeia mengurungkan niatnya, tapi siapa tahu ternyata orang yang dimaksud adalah temannnya sendiri, Fagero Hubert. Sang cowok blasteran yang terkenal lolicon dan playboy.
“Sekarang 16 kali,” hitung Valeia sambil tertawa kecil.
Dia dengan sengaja meminta saluran cctv depan. Khusus untuk memantau Gero yang saat ini terlihat putus asa. Setelah putaran yang ke 17 kali, Gero bergerak meninggalkan kediaman Valeia. Melihat kepergiannya Valeia merasa agak kecewa. Bukan berarti dia punya perasaan terhadap cowok blasteran itu. Hanya saja sebersit rasa yang sukar dijelaskan singgah. Dan ingatannya saat Gero menembaknya dulu mengendap memasuki pikirannya.
“Apa dia belum menyerah?” guman Valeia.
Namun entah kenapa dia merasa antara canggung dan senang oleh bayangan itu.
“Tapi aku sudah punya Rio,” ulangnya dihati.
Dan seketika juga dia harus menghadapi kenyataan kalau kisah cintanya dengan Rio bisa hancur sewaktu-waktu. Dia masih belum mengetahui perasaan Rio yang sebenarnya terhadap dirinya. Karena dulu gak seorangpun dari mereka menolak perjodohan yang telah diatur keluarga mereka. Lantas setelah keputusan sepihak dari Valeia, masihkah Rio akan melihatnya dan peduli padanya seperti selama ini?
Dia sendiri juga gak yakin.
Mempertimbangkan Gero sekarang hanya akan terlihat seperti pelampiasan saja.
“Maaf,” batin Valeia mengakhiri pikiran rumitnya.
__ADS_1
# # # #
26
Ruang OSIS adalah sebuah ruangan yang biasanya digunakan untuk kegiatan OSIS dan tempat ngumpul anak-anak OSIS. Namun ke-tiga orang yang berada didalamnya sekarang bersikap seolah gak saling kenal. Masing-masing sibuk menghindari satu sama lain.
Pagi ini Rio mendapat panggilan khusus dari Ayah Valeia terkait masalah pertunangannya dengan gadis itu. Valeia mengajukan pembatalan perjodohan mereka secara sepihak. Lalu saat dia menjelaskan masalah itu ke Gero, cowok blasteran itu dengan santai mengatakan kalau saat kejadian Rio menembak Kena, Valeia juga ada disana dengannya.
“Paman gak tahu apa masalah kalian, tapi paman harap kalian bisa menyelesaikannya secara baik-baik,” kata Mr. Colin. “Ini demi mendiang ayahmu juga,” lanjutnya mengingatkan alasan pertunangan harus tetap dilakukan.
Rio menatap sendu, “Rio tahu paman,” jawab Rio. “Nanti Rio bicarakan dengan Valeia, ini juga salah Rio gak merhatiin dia dengan lebih baik. Paman gak perlu khawatir dengan pertunangan itu, Rio tetap akan melanjutkannya. Papa juga pasti berharap kalau keluarga kita tetap menjalin hubungan baik.”
Pertanyaan itu menusuk hati Rio, apa dia mencintai Valeia? Dia gak tahu perasaan sayangnya terhadap gadis itu bisa diartikan cinta atau bukan. Atau perasaan cintanya terhadap Kena adalah cinta sebagai laki-laki ke perempuan atau bukan. Sebelum dia menyatakan perasaannya ke Kena, dia menganggap hubungannya dengan Valeia adalah hal yang normal.
“Rio sayang sama Valeia,” jawab Rio setengah ragu dengan jawabannya sendiri.
“Kalau kamu sendiri belum yakin, paman gak akan memaksamu. Meskipun paman bilang pertunangan itu demi papa mu juga, tapi paman tetap berharap kalian menikah karena cinta.” Kata Mr. Colin.
“Maaf paman, Rio masih butuh waktu buat jawab pertanyaan paman,”
“Paman mengerti, tetaplah baik-baik sama Valeia. Kalau kamu sudah memutuskan jawabannya, kamu bisa hubungi paman. Paman sudah anggap kamu sebagai anak sendiri, jangan ragu buat ngomong sama paman.”
“Ya, makasih paman.”
Rio memandangi layar ponselnya cukup lama, begitu larut dalam pemikirannya sendiri. Dia gak sadar kalau dua orang lainnya sedang memandanginya dengan prihatin. Valeia melirik ke Gero, memberi isyarat tanya dengan bibir seksinya. Dia tahu kalau ayahnya pasti sudah menghubungi Rio terkait masalah pembatalan pertunangan mereka. Entah apa jawaban Rio, tapi melihat orang yang disukainya itu menunjukkan ekspresi terbebani melukai perasaannya. Walau bisa saja saat ini Rio malah sedang memikirkan Kena.
__ADS_1
Gero mengerjap-ngerjapkan mata, sejenak dia merasa salah fokus terhadap tindakan Valeia. Siapa yang gak akan tergoda pada body bohai gadis itu. Daya pikatnya sungguh membuat orang melapangkan dada untuk menerima kenyataan kalau gadis itu sulit dimiliki. Setelah menenangkan hati dia balas menjawab dengan mengangkat bahunya, tanda kalau dia gak tahu harus bagaimana menyikapi kelakuan Rio sekarang.
Valeia memutar bola matanya, lalu mengisyaratkan agar Gero memulai obrolan apapun itu. Dia menatap garang ke Gero agar cowok itu bergegas mengambil tindakan.
Gero menyerngitkan kening, ingin menolak tapi gak kuasa melawan kegarangan tatapan Valeia. Pasrah dia berjalan mendekati Rio, lalu memasang wajah sok imut di depan sohibnya itu, mencari perhatian. Dia bukannya gak tahu apa yang dipikirkan Rio sekarang, masalah Kena, masalah Valeia, dan masalah perasaannya sendiri yang gak jelas. Ini sudah hari ke-tiga Kena gak pulang ke rumah. Wali kelasnya juga mengatakan kalau gadis itu absen sakit untuk seminggu ini. Orang tua Rio akan segera pulang minggu depan. Ayah Valeia menanyakan kebulatan perasaannya. Valeia membatalkan pertunangan dengannya. Dan sebagai ketua OSIS dia diminta pihak sekolah untuk mengurus perserta olimpiade yang akan segera dilaksanakan. Belum lagi tugas OSIS lainnya yang seakan gak pernah habis.
“Lo masih marah ke gue?” tanya Gero memulai topik secara acak. Dia masih ingat kalau kemarin sudah membuat Rio kesal.
Rio menyerngit gak senang, “Masih nanya?” sindirnya, yah walau gak sepenuhnya itu kesalahan Gero. Karena tindakan Gero menyembunyikan kenyataan kalau Valeia juga menyaksikan kebodohannya menembak Kena saat itu adalah pilihan yang bijak.
“Mau gue panggilin cewek buat ngehibur lo?” tawar Gero yang langsung mendapat tatapan tajam dari Valeia. Punggung gue kenapa rasanya jadi dingin gini?
Rio juga menatap Gero tajam, “Udah bosan hidup ya?” ancamnya.
“Becanda,” kata Gero seraya mengangkap kedua tanggannya tanda menyerah. “Kalo lo khawatir ma Kena kenapa gak telpon aja?”
Rio langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Masalahnya dia gak bisa nelpon Kena setelah kejadian pernyataan cinta kemarin. Dia mana ada muka buat menelponnya, menanyakan kabarnya dan menyuruhnya pulang. Dia malu sekaligus takut kalau adik yang gak dianggapnya adik itu menolak panggilan telponnya. Kalau dia bersikeras melakukannya bisa-bisa nomor ponselnya akan diblokir.
Melihat respon Rio yang dramatis Gero langsung mengerti. Kalau terus seperti ini mereka hanya akan menyulitkan banyak orang. Tugas OSIS yang harusnya diselesaikan hari ini saja masih menumpuk di atas meja dan baru disentuh seperlimanya. Demi kebaikan bersama, Gero harus bertindak!
“Gimana kalo kita double date aja?”
# # # #
**
__ADS_1